
Malam mereka belum berakhir, setelah dari restoran, Damian dan Ainsley pergi menikmati waktu mereka berdua di tempat lain. Tentu saja mereka memilih pantai karena di sana nyaman untuk menghabiskan waktu, mereka berdua duduk di atas hamparan pasir dan memandangi laut malam.
Jas Damian sudah dikenakan di bahu Ainsley karena udara malam yang begitu dingin. Mereka berpegangan tangan sambil memandangi deburan ombak yang menerjang bibir pantai. Ainsley bersandar di lengan Damian, rasanya enggan pulang dan malam itu cepat berakhir.
"Dam-Dam, kenapa kau tidak pernah berpacaran?" tanya Ainsley memecahkan keheningan di antara mereka.
"Aku sibuk mengurusi ibuku yang sedang sakit."
"Tapi kau masih bisa berpacaran, bukan?"
"Yeah, tapi tidak ada yang mau denganku," jawab Damian.
"Tidak mungkin!" Ainsley memandanginya dengan tatapan tidak percaya.
Damian tersenyum dan merangkul bahu Ainsley sehingga gadis itu kembali bersandar di bahunya.
"Aku tidak punya siapa-siapa selain ibu dan ayahku, Ainsley. Ayahku tinggal di sini, dia sudah mengajak kami untuk pindah kemari tapi ibuku tidak mau karena dia mau menghabiskan masa tuanya di tanah kelahirannya. Mommy sakit stroke selama bertahun-tahun. Dia hanya bisa berbaring di atas tempat tidur dan sebagai anak satu-satunya yang dia miliki, aku bertanggung jawab mengurus ibuku," jelas Damian.
"Tapi tidak mungkin tidak ada gadis yang tertarik denganmu, bukan?"
"Memang ada, tapi mereka hanya sebatas menyukaiku sebagai teman."
"Kenapa?" Ainsley semakin ingin tahu.
"Kau tambah penasaran, Nona," Damian mengusap kepalanya dan mencium dahinya.
"Aku ingin tahu semua tentangmu Damian, semuanya. Kau sudah tahu semua tentangku, bukan? Jadi aku juga ingin tahu semua tentangmu!"
"Baiklah, dengar," ucap Damian seraya memandangi deburan ombak yang tidak jauh dari mereka.
"Karena aku harus bekerja dan ibuku stroke, jadi tidak ada yang menjaganya di rumah. Aku terpaksa membawa ibuku ke kantor menggunakan kursi roda. Beruntungnya bosku tidak melarang jadi aku bisa bekerja sambil menjaga ibuku."
"Oh my God, kau serius?" Ainsley benar-benar tidak percaya mendengarnya. Pasti berat apalagi untuk seorang lelaki, dia saja belum tentu bisa melakukan hal itu.
"Tentu saja aku serius, aku hanya punya satu ibu dan dialah yang begitu menyayangi aku selain ayahku. Aku ingin berbakti padanya selama dia masih hidup, itu sebabnya aku tidak punya waktu untuk berpacaran karena aku harus bekerja dengan giat dan merawat ibuku yang sakit. Lagi pula tidak ada yang mau berpacaran denganku dan aku juga tidak punya waktu untuk melakukan hal itu."
"Kau hebat, Dam-Dam," ucap Ainsley.
"Oh ya?"
"Hm, jika aku berada di posisimu, aku belum tentu bisa melakukan apa yang kau lakukan," Ainsley memeluk lengannya, entah kenapa dia jadi merindukan ibunya.
"Sebab itu, sayangi ibumu selama dia masih ada," ucap Damian.
"Thanks atas nasehatnya."
Damian tersenyum, mereka kembali menikmati laut malam dan angin dingin yang berhembus. Suasana begitu sunyi, hanya terdengar suara deburan ombak sesekali. Ainsley masih bersandar di bahu Damian dan memejamkan mata, dia sangat bahagia bisa mencintai Damian.
"Maafkan aku yang tidak bisa apa-apa," ucap Ainsley.
"Hei, apa maksud ucapanmu?"
"Aku hanya merasa malu, masak saja aku tidak bisa sedangkan kau?"
"Ck, aku mengatakan hal ini bukan untuk menyidirmu!"
"Aku tahu."
"Bagaimana jika jalan-jalan sebelum pulang?" ajak Damian seraya mengecup punggung tangan Ainsley.
"Boleh, aku juga bosan duduk di sini saja!"
Damian mengulurkan tangannya, untuk membantu Ainsley bangkit berdiri. Mereka berjalan di sepanjang sisi pantai sambil berpegangan tangan dan tentunya sambil berbincang, membicarakan bagaimana kehidupan Damian selama berada di Jepang.
Ainsley menghentikan langkahnya karena high heel yang dia pakai dipenuhi banyak pasir, sepertinya dia harus membuka sendalnya agar dia bisa kembali berjalan.
"Ada apa?" Damian menghampirinya karena Ainsley menghentikan langkahnya.
"Banyak pasir," jawab Ainsley.
"Biar aku bantu!" Damian berjongkok di depan Ainsley dan membantunya membuka high heel yang dia pakai dan setelah itu mereka kembali berjalan. Mereka masih berpegangan tangan, sedangkan high heel Ainsley dibawa oleh Damian.
"Ainsley, besok aku akan menjemputmu makan siang," ucap Damian.
"Benarkah?"
"Yes, aku tidak mau ada yang mengganggumu!"
Damian menghentikan langkahnya, high heel yang dia bawa dijatuhkan di atas pasir dan setelah itu, Damian memeluk pinggang Ainsley dan mengusap wajahnya.
"Mulai besok, aku tidak akan membiarkan Harry mengganggumu lagi."
"Apa kau akan memukulnya jika dia datang?" tanya Ainsley seraya memeluk leher Damian.
"Yes, aku akan memukulnya tanpa ragu!"
"Tapi aku merasa kau sedikit mirip dengannya."
"Ck, jangan sembarangan!" ucap Damian.
"Oke, baiklah. Aku mengganggap kau berkata demikian karena kau sudah tergila-gila denganku, Nona!"
"Enak saja!" Ainsley memukul bahu Damian dengan pelan, sedangkan Damian terkekeh.
"Sudah malam, ayo pulang," ajaknya.
"Hm," Ainsley mengangguk dan memejamkan mata saat Damian mendekatkan wajah mereka dan memberikan ciuman di pipinya.
Bibir Damian berpindah, dari pipi menuju bibirnya. Mereka saling pandang saat bibir mereka berdua sudah menempel dan setelah itu, mereka berciuman dengan mesra. Entah sudah berapa kali mereka melakukannya tapi mereka begitu menikmatinya apalagi tidak ada pengganggu yang saat itu sedang penasaran, sungguh dia sangat ingin tahu dan orang itu tak lain dan tak bukan adalah Jager Maxton.
Damian mengajak Ainsley kembali karena hari sudah semakin malam, dia mengantar Ainsley terlebih dahulu sebelum dia pulang. Dia tahu ayahnya pasti sedang penasaran tapi biarkan ayahnya seperti pembersih lantai otomatis saat ini.
Mobil yang dia bawa sudah berhenti karena mereka sudah tiba di rumah Ainsley. Ainsley sangat senang karena dia sudah melewati malam luar biasa bersama dengan Damian begitu juga dengan Damian.
"Thanks, Dam-Dam," ucap Ainsley sebelum dia turun daru mobil.
"Besok siang aku jemput, oke?"
Ainsley mengangguk, senyumnya mengembang saat Damian mencium pipinya dan mendaratkan kecupan ringan di bibir.
"Masuklah, sudah malam."
"Thanks untuk malam menyenangkan ini," Ainsley memberikan sebuah ciuman sebelum dia turun dari mobil. Ainsley melambaikan tangannya saat Damian membawa mobilnya pergi dan setelah mobil Damian keluar dari pintu pagar, Ainsley berlari masuk ke dalam rumah dengan wajah gembira.
"Akhirnya kau kembali, bagaimana dengan malam kalian, Sayang?" Kate menghampiri putrinya, dia sudah menunggu sedari tadi.
"Mom," Ainsley berlari menghampiri ibunya dan memeluknya.
"I love you," ucapnya.
"Wah, ada apa ini?"
"Aku sangat menyayangi Mommy," Ainsley semakin memeluk ibunya dengan erat.
Kate tersenyum dan mengusap kepala putrinya, "Mommy juga menyayangimu, Sayang," ucapnya.
Ainsley tersenyum, dia benar-benar bangga memiliki ibu yang luar biasa dan tidak hanya itu saja, dia sangat bahagia memiliki keluarga yang begitu menyayanginya.
Sementara itu, Damian sudah tiba di rumah. Dia terlihat sangat senang karena acara kencan mereka berjalan dengan lancar. Rumah sudah gelap, sepertinya ayahnya dan Mayumi sudah tidur. Syukurlah, dia kira ayahnya akan menunggunya dan menjadi pembersih lantai otomatis.
Damian masuk ke dalam rumah dan menyalakan lampu, dia berjalan menuju dapur sambil membuka dasi pitanya.
"Sudah pulang!"
Damian terkejut saat mendengar suara ayahnya, dia berjalan menuju ruangan keluarga yang masih gelap dan menyalakan lampu. Damian kembali terkejut melihat ayahnya duduk di sana dan melihat ke arahnya.
"Oh my God, Dad! Kau bagaikan hantu penunggu rumah!" ucap Damian. Apa yang sedang lakukan ayahnya di kegelapan?
"Aku belum mati, bagaimana mungkin aku bisa jadi hantu!" ucap ayahnya.
"Apa yang Daddy lakukan? Kenapa belum tidur lalu kenapa menunggu dalam kegelapan?"
"Menunggumu pulang, apa lagi!"
"Dad, aku bukan anak kecil!"
"Hei, aku hanya ingin tahu, apa kau berhasil?"
"Ya ampun Dad, kenapa kau begitu penasaran?"
"Sudah, jawab saja! Kau berhasil atau tidak?"
"Daddy ingin tahu?" Damian jadi ingin menggoda ayahnya.
"Tentu saja, cepat katakan padaku! Jangan buat orangtua ini tidak bisa tidur karena panasaran!" ucap ayahnya.
"Oh, pinggangku!" keluh Damian tiba-tiba sambil memegangi pinggangnya.
"Ada apa?" tanya ayahnya heran.
"Sepertinya aku terlalu bersemangat," jawab Damian.
"Hei, apa yang kalian berdua lakukan?"
"Ck, sepertinya besok harus cuci mobil!" Damian berjalan menuju kamarnya, meninggalkan ayahnya yang semakin penasaran.
"Damian, jawab dulu, apa yang kalian lakukan?" tanya ayahnya sambil sedikit berteriak.
"Dad, kau seperti tidak pernah melakukannya saja!" jawab Damian sambil menahan tawanya.
"Oh tidak, apakah mereka?" Jager tampak berpikir, apakah yang dia pikirkan saat ini benar? Tapi tidak mungkin secepat itu.
"Damian, jangan buat aku semakin penasaran!" teriak Jager. Seharusnya dia mengikuti Damian secara diam-diam dan mengintip mereka dari balik semak-semak atau dari bawah kolong meja. Jika dia melakukan hal itu setidaknya dia tidak akan penasaran seperti ini.
Damian masuk ke dalam kamarnya dan terkekeh, semoga saja ayahnya tidak masuk ke dalam kamarnya saat tengah malam seperti hantu hanya karena penasaran.