Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Tantangan Untuk Anna



Anna hampir kehabisan napas setelah berlari begitu lama untuk menghindari kejaran dua pengawal ayahnya. Dia bahkan bersembunyi agar dia tidak tertangkap. Jangan sampai hal itu terjadi karena dia tahu, ayahnya tidak akan melepaskan dirinya.


Niatnya untuk menjadi stalker dan mengikuti Harry gagal. Padahal dia sudah sangat ingin tahu mengenai pria itu begitu banyak. Anna mengintip, dari persembunyian. Dia masih memantau dua orang yang mengejarnya dan masih mencari keberadaannya.


Mereka berdua benar-benar tidak menyerah, Anna jadi kesal. Ponsel dikeluarkan, Anna ingin protes pada ayahnya karena sudah melanggar perjanjian. Sang ayah terdengar santai saja, dia memang sengaja memerintahkan dua pengawal itu agar putrinya mengalami kesulitan dan pulang.


"Dad, kenapa kau memerintahkan para pengawal itu untuk menangkap aku?" tanya Anna dengan suara pelan.


"Oh, mereka berdua tidak ada pekerjaan jadi mereka Daddy tugaskan untuk menangkapmu!" jawab sang ayah dengan santai.


"Jangan bercanda, Dad. Cepat perintahkan mereka kembali!"


"Tidak bisa, mereka berdua akan terus mengejarmu sampai mereka menangkapmu dan membawamu pulang!"


"Daddy curang! Bukankah aku punya waktu satu bulan?"


"Yes, kau memang punya waktu satu bulan dan mereka akan mengejarmu selama satu bulan!"


"What the hell?!" Anna hampir berteriak. Apa ayahnya tidak sedang bercanda? Bagaimana dia bisa mendekati sang pujaan hati jika dia dikejar oleh dua pengawal itu?


"Daddy jahat!" ucap Anna kesal.


"Itu tantangan untukmu. Jika kau bisa menghindari kejaran mereka dan membawa pria yang kau sukai dalam waktu satu bulan maka Daddy akan membatalkan pernikahan itu."


"Apa? Daddy jangan keterlaluan!" teriak Anna, tapi gadis itu menutup mulutnya dengan cepat dan kembali mengintip keluar. Jangan sampai dia ketahuan.


"Itu hukuman karena kau kabur dari rumah dan menolak menikah!" ucap sang ayah seraya mengakhiri pembicaraan mereka.


"Dad ... Dad!" Anna berusaha memanggil tapi pembicaraan mereka sudah berakhir.


"Sial!" Anna mengumpat, dia kembali mengintip sejenak. Sepertinya selain berpura-pura buta, dia harus menyamar dan berpura-pura gila agar dapat terhindar dari kejaran dua pengawal itu.


Untuk saat ini lebih baik dia kembali. Besok dia akan menyamar agar tidak ketahuan dan besok peran stalkernya sudah harus di mulai. Anna kembali mengintip, dan setelah merasa aman, gadis itu mengendap-endap. Dua pengawal itu masih mencari keberadaannya dan setelah merasa aman, Anna segera mengambil langkah seribu.


Sebuah taksi bahkan diberhentikan dengan terburu-buru. Anna kembali ke rumah sahabat baiknya karena saat itu dia menumpang di sana.


Anna masuk ke dalam, teriakannya terdengar karena dia terkejut melihat sahabat baiknya sedang bercumbu dengan sang kekasih di sofa. Sahabat baiknya juga berteriak, adegan mereka terpaksa berhenti karena Anna masuk secara tiba-tiba.


"Bisakah kalian melakukannya di kamar?" Anna melewati mereka dan tampak kesal.


"Kenapa kau cepat kembali?" sahabat baiknya sibuk memakai baju dan juga terlihat kesal.


"Aku dikejar olah pengawal Daddy!"


"Benarkah?" sahabatnya tampak tidak percaya.


"Yeah, dan mereka akan meneror aku selama satu bulan!" Anna menjatuhkan diri di ranjang karena saat itu mereka sudah berada di dalam kamar.


"Bukankah ini sudah sedikit keterlaluan? Lihat aku, bebas!" ucap sang sahabat.


"Ayolah, aku sudah memberikanmu saran begitu lama. Dari pada mengejar pria itu lebih baik nanti malam ikut aku dan pacarku pergi. Kita akan berpesta dan kau bisa mencari pacar di sana!"


"Tidak mau!" tolak Anna.  Karena tidak ada orangtuanya, sang sahabat hidup dengan bebas. Pesta alkohol dan se*ks bebas, itu saja yang dia lakukan setiap hari.


"Baiklah jika kau tidak mau. Lebih baik aku melanjutkan adeganku yang tertunda. Tutup telingamu rapat-rapat, jangan sampai kau bermimpi menerkam pria itu!" goda sahabatnya.


"Keluar sana, menyebalkan!" sebuah bantal di lempar, sahabat baiknya keluar sambil tertawa.


Anna menggeleng, lebih baik dia mencari tahu lebih banyak tentang pria yang dia sukai dari pada pergi ke pesta yang dipenuhi dengan perbuatan tidak senonoh.


Gadis itu beranjak, lebih baik dia pergi mandi. Lagi pula selama ini dia dididik dengan baik oleh kedua orangtuanya, sebab itu dia tidak terlalu tahu bagaimana kehidupan di luar sana. Dia memang gadis polos yang baru saja belajar memberontak. Jika saja bukan karena pernikahan mendadak yang disetujui oleh kedua orangtuanya, dia tidak mungkin melarikan diri dari rumah.


Sesungguhnya dia juga pelanggan cafe di mana dia selalu melihat Harry. Lambat laun dia mulai tertarik dengan keberadaan pria itu walau Harry tidak menyadari keberadaannya. Datang ke tempat itu tidak saja untuk menikmati kopi dan kue yang enak tapi dia mulai memiliki tujuan lain karena dia mulai jatuh hati dengan Harry secara diam-diam.


Niatnya hanya ingin menjadi pengagum rahasia tapi karena desakan orangtua, mau tidak mau dia harus bertindak. Cinta pertamanya tidak boleh lepas dan harus dia dapatkan.


Anna keluar dari kamar setelah selesai mandi, dia melangkah menuju dapur sambil mencari keberadaan sahabat baiknya. Anna semakin mendekati dapur, di mana kamar sahabatnya juga tidak jauh dari sana. Langkah Anna terhenti karena teriakan sahabat baiknya akibat percintaan panasnya dengan sang kekasih. Dia memang sengaja agar Anna mendengar dan untuk memanasi Anna.


"Sialan, semoga otakku masih waras tinggal di sini selama satu bulan!" ucap Anna kesal apalagi sahabatnya semakin menjerit dengan kencang.


Anna memaki dan melangkah pergi, sebaiknya dia segera kembali ke dalam kamar. Air hangat sudah diambil, Anna melangkah dengan terburu-buru karena dia tidak tahan mendengar suara jeritan sahabatnya. Dia bahkan memasang earphone dan mendengarkan musik dengan suara keras. Sepertinya sahabat baiknya selalu melakukan hal itu dengan sang pacar.


Laptop dinyalakan, waktunya mencari tahu. Di cafe sudah tidak aman karena kedua pengawal ayahnya pasti akan mencegatnya di sana lagi. Foto Harry yang baru saja dia ambil secara diam-diam sudah muncul di layar laptop, Anna menghubungi sahabatnya yang lain karena dia ingin meminta bantuannya.


"Bisa tidak?" tanya Anna pada sahabatnya yang adalah seorang pria.


"Beri aku waktu sepuluh menit, kau akan tahu semua tentang pria ini."


"Oke, jika kau berhasil maka kau boleh makan sampai puas dan itu gratis!" Anna terlihat senang.


Dia menunggu karena sahabatnya sedang mencari tahu semua tentang Harry dari foto yang dikirimkan oleh Anna. Bagi seorang hacker seperti dirinya, tidaklah sulit mencari data seseorang selama data tidak disembunyikan.


Waktu sepuluh menit terasa begitu lama bagi Anna. Selama menunggu matanya tidak henti melihat foto Harry. Semakin dilihat, dia semakin menyukai pria itu.


Setelah sepuluh menit menunggu, akhirnya yang dia inginkan sudah didapatkan.


"Aku sudah mendapatkan semua yang kau inginkan, jangan lupa dengan janjimu!" ucap sahabatnya.


"Pasti akan kau dapatkan, thanks," Anna mengakhiri pembicaraan mereka karena dia sudah tidak sabar melihat data Harry.


Earphone dilepaskan, mata Anna sudah sibuk membaca informasi tentang Harry bahkan dia terlihat begitu bersemangat.


"Harry Wristond," gumam Anna, dia kembali membaca dengan serius. Ternyata pria itu memiliki sebuah perusahaan. Ini bagus, mulai besok dia akan mencari pria itu di perusahaannya.


"Oke, Anna. Demi suami masa depan, mulai besok kau harus berjuang! Siapa pun tidak akan bisa menghalangi, sekalipun dua pengawal Daddy!" Anna terlihat bersemangat. Semoga besok kedua pengawal itu tidak mengganggunya tapi dia akan membawa perlengkapan perang untuk melawan mereka dan melarikan diri dari mereka jika terdesak.