Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Aku Tidak Bisa



Anna tampak putus asa, jika dia memiliki ponsel dia sangat ingin menghubungi Harry untuk terakhir kalinya. Dia ingin mendengar suara pria itu, berbicara dengannya sejenak dan tentunya dia ingin memberi Harry kabar agar Harry tidak mengkhawatirkan dirinya.


Dia tidak ingin membuat Harry khawatir tapi di mana dia bisa mendapatkan sebuah ponsel? Hanya duduk diam dan menangis di dalam kamar tidak akan menyelesaikan masalah. Sebaiknya dia mencari akal untuk membujuk Marco supaya dia bisa menghubungi Harry.


Tidak, dia rasa Marco tidak akan memberikannya sebuah ponsel. Harapan yang dia miliki satu-satunya hanya sang ibu, dia yakin ibunya masih memiliki hati nurani dan tidak tega melihat keadaannya.


Anna menghapus air matanya dan turun dari atas ranjang, dia harus tetap berjuang. Setidaknya dia ingin menghubungi Harry. Sebaiknya dia berpura-pura sakit untuk mengulur waktu dan agar dia bisa berbicara dengan ibunya secara pribadi. Anna masuk ke dalam kamar mandi, diare adalah alasan yang paling bagus untuk mengulur waktu. Marco tidak mungkin mau pengantinnya mencret di celana ketika sedang mengucapkan janji suci. Jika pria itu tidak keberatan maka dia akan memuji keberaniannya.


Suara langkah kaki terdengar, Anna mengangkat gaun pengantinnya yang lumayan berat dan berlari ke kamar mandi dengan terburu-buru. Semoga saja itu kedua orang tuanya tapi yang masuk ke dalam adalah Marco. Marco membawa semangkuk sup untuknya, da tidak mau lambung Anna sakit karena belum makan.


"Anna?" Marco tampak heran karena Anna tidak ada di atas ranjang.


"Anna!" Kini dia melangkah cepat, jangan katakan Anna melarikan diri.


Anna diam saja, sial. Dia kira itu kedua orangtuanya tapi ternyata itu adalah Marco. Tapi dia tetap harus menjalankan rencana, dia akan pura-pura sedang diare.


Marco kembali memanggil, dia berjalan menuju jendela untuk melihat keadaan. Jangan katakan Anna tidak mengindahkan peringatannya karena dia tahu Anna gadis yang nekad.


"Anna!" suara teriakan Marco menggelegar memenuhi ruangan.


"A-Aku di dalam kamar mandi!" Anna berteriak dengan suara seperti orang menahan rasa sakit dan tentunya suara itu dia buat-buat agar Marco percaya dengan kebohongan yang akan dia ucapkan.


"Ada apa, Anna? Kenapa kau terdengar seperti sedang kesakitan?" Marco menghampiri kamar mandi dan berdiri di depan pintu.


"Pe-Perutku sakit," ucap Anna.


"Kenapa? Apa kau baik-baik saja?" tanya Marco khawatir.


"Ti-Tidak!" ucap Anna. Lambungnya memang sakit karena dia belum makan sedari siang dan kebetulan dia ingin buang angin jadi Anna duduk di closet agar saat dia buang angin suaranya terdengar dramatis supaya Marco mendengar.


"Jika begitu aku akan membawakan obat untukmu," ucap Marco dan pada saat itu, terdengar suara mengerikan seperti petasan dan ya, itu suara kentut Anna yang panjang seperti kereta api. Suaranya benar-benar dramatis karena menggema di dalam closet.


Anna menutup wajahnya, sesunguhnya dia sangat malu tapi peduli setan yang penting tidak di hadapan Harry. Marco tampak shock mendengarnya tapi dia tidak mengatakan apa pun sampai suara mengerikan itu berhenti.


"Apa kau baik-baik saja, Anna?"


"Perutku sakit, Marco. Apa ibuku sudah datang?" Anna pura-pura meringis dan setelah itu suara mengerikan itu kembali terdengar karena perutnya sudah kosong sejak siang.


"Aku akan segera kembali membawa obat dan aku akan memanggil ibumu saat dia sudah datang," ucap Marco seraya melangkah mundur.


Anna tampak lega, setidaknya angin di dalam perutnya sudah berkurang. Saat terdengar suara pintu tertutup, Anna keluar dari kamar mandi. Semoga saja dia kentut lagi saat di hadapan pendeta agar Marco malu. Karena Anna lapar, tanpa ragu dia menikmati sup yang dibawa oleh Marco tapi itu tidaklah cukup.


"Sial, dasar pelit. Sudah tahu aku belum makan dari siang tapi hanya memberikan aku semangkok sup!" gerutu Anna kesal.


Di luar sana, Marco meminta seseorang membeli obat untuk Anna. Jangan sampai acara pernikahannya batal karena suara petasan yang Anna keluarkan. Dia tidak curiga karena dia mendengar suara mengerikan itu. Marco hendak menghubungi orangtua Anna kembali tapi mereka sudah tiba tentu sambil adu mulut karena ibu Anna tidak tahu mengenai masalah itu.


Dia sudah memarahi suaminya di sepanjang jalan. Dia sungguh tidak percaya suaminya begitu tega memaksa putri mereka untuk segera menikah dengan Marco. Dia benar-benar kecewa tapi dia tidak bisa melakukan apa pun. Dia harap Anna punya rencana untuk melarikan diri dari pernikahan yang dipaksakan itu.


Marco sangat senang melihat kedatangan mereka. Akhirnya yang dia tunggu dan akhirnya acara pernikahannya bisa segera terlaksana.


"Aku sudah menunggu kalian," ucap Marco sambil tersenyum.


"Kalian benar-benar sudah keterlaluan!" ucap ibu Anna. Matanya menatap Marco dengan tajam dan tentunya dia kecewa.


"Sudah aku katakan, jangan ikut campur dalam permasalahan ini!" ucap suaminya.


"Aku ingin menemui Anna, di mana dia?"


"Anna ada di kamar," jawab Marco.


"Semoga kalian mendapat ganjaran atas perbuatan kalian!" dengus ibu Anna karena dia benar-benar kesal dan tidak terima putrinya dipaksa seperti itu.


Marco tidak menjawab, dia meminta seseorang membawa ibu Anna ke dalam kamar di mana Anna berada. Anna sangat senang melihat kedatangan ibunya, dia harap ibunya mau bekerja sama.


"Mom, kenapa kalian memperlakukan aku seperti ini?" tanya Anna dengan nada kecewa.


"Maaf, Sayang. Mommy benar-benar tidak tahu dengan rencana ayahmu dan Marco. Mommy juga tidak terima kau diperlakukan seperti ini!" ucap ibunya dan dia juga kecewa.


"Bagaimana ini, Mom. Aku tidak mau menikah dengan Marco!" Anna memeluk ibunya, dia sangat membutuhkan jalan keluar untuk permasalahan itu.


"Tidak, aku tidak bisa!" Anna menggeleng. Dia harus memikirkan keadaan Harry dan keluarganya.


"Kenapa tidak bisa? Jika kau tidak ingin menikah dengannya maka kau harus melarikan diri dari sini!" ucap sang ibu tidak mengerti.


"Aku sangat ingin, Mom. Tapi aku tidak bisa!" Anna melangkah mundur dan duduk di sisi ranjang.


Ibunya tampak heran dan menghampiri putrinya. Kenapa tidak bisa? Apa yang sedang diragukan oleh putrinya?


"Kenapa, Anna? Apa Marco mengancammu?" tanya ibunya curiga.


"Benar, dia mengancamku. Aku sangat benci dengannya. Dia akan menghabisi keluarga Harry jika aku berani kabur dan membantah ucapannya, dia bahkan berkata akan membunuh Harry di depan mataku. Aku tidak bisa sembarangan melarikan diri jika aku tidak mau hal itu terjadi!"


"Harry?" tanya ibunya lagi. Sepertinya pria itulah yang disukai oleh Anna.


"Bagaimana ini, Mom? Aku benar-benar tidak mau menikah dengan Marco karena yang aku sukai adalah Harry!" Anna memeluk ibunya dan menangis.


"Marco benar-benar keterlaluan, ayahmu juga sama!" ibunya semakin geram.


"Mom, pinjamkan aku ponsel. Aku mau menghubungi Harry dan mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya aku berbicara dengannya," pinta Anna.


"Baiklah," ibunya hendak mengambil ponsel tapi pada saat itu terdengar suara langkah kaki di luar sana dan Anna menebak itu adalah Marco.


"Cepat, Mom. Jika itu adalah Marco katakan aku sedang diare dan berada di kamar mandi!" gaun sudah diangkat, dia akan segera melarikan diri setelah ibunya memberi ponsel.


Suara langkah kaki semakin mendekat, Anna langsung lari setelah mendapatkan ponsel dari tangan ibunya. Semoga saja dia punya kesempatan untuk menghubungi Harry. Pintu kamar mandi tertutup saat Marco masuk ke dalam. Ibu Anna menatap pria itu dengan tajam, sekarang dia juga jadi benci dengan pria itu.


"Aunty, di mana Anna?" tanya Marco.


"Dia bilang dia sedang diare!" jawab ibu Anna sinis.


"Hm, jika dia sudah selesai, ajak dia keluar karena acara pernikahan sudah akan dimulai!" mata Marco melihat ke arah kamar mandi, semoga obat yang dia minta segera datang agar diare Anna bisa diatasi.


Anna menguping dari balik pintu, dia tampak lega saat mendengar suara pintu tertutup. Anna berjalan menuju closet dan duduk di sana, di dalam kamar mandi lebih Aman untuk menghubungi Harry. Tanpa membuang waktu Anna menghubungi Harry, semoga ini bukan terakhir kali dia berbicara dengan pria itu.


Harry sedang di dalam perjalanan saat itu, sebuah nomor tidak dikenal membuatnya enggan menjawab tapi sebaiknya dia tidak mengabaikannya.


"Hallo."


"Harry, ini aku," Anna begitu senang mendengar suaranya.


"Anna?" Harry tampak terkejut, matanya melirik ke arah Damian yang berada di sisinya.


"Maafkan aku, Harry. Kau harus terlibat masalah karena aku," ucap Anna.


"Apa maksud ucapanmu?" tanya Harry tidak mengerti.


"Mungkin ini terakhir kalinya kita bicara karena sebentar lagi aku akan menikah dengan Marco."


"Jangan coba-coba melakukan hal itu! Diam di sana, aku sudah hampir tiba dan aku akan membawamu pergi dari sana!" ucap Harry.


"Apa? Jangan! Kau tidak boleh datang!" cegah Anna.


"Kenapa? Apa kau benar-benar ingin menikah dengan Marco?"


"Tidak! Aku tidak mau mencelakaimu dan keluargamu, aku tidak mau melibatkan kalian karena Marco ingin melukai kalian!"


"Konyol! Apa dia pikir dia bisa berhasil hanya dengan beberapa orang yang dia bayar?"


"Jangan, Harry. Aku tidak mau kau terluka dan aku tidak mau melibatkan keluargamu!" ucap Anna sambil menangis.


"Tidak perlu khawatir, tunggu di sana baik-baik dan ulur waktu sebisa mungkin. Aku pasti akan membawamu pergi dari sana dan menendang baj*ngan itu!"


"Tapi kau akan gagal, Harry. Aku tidak bisa melihatmu mati di tangan Marco!" ucap Anna karena dia tahu rumah itu dijaga begitu ketat.


"Trust me, Anna. Aku akan segera tiba dua puluh menit lagi," ucap Harry meyakinkan.


Anna belum menjawab, sebaiknya dia mempercayai Harry. Hanya dua puluh menit saja, bukan? Seharusnya dia bisa mengulur waktu sampai Harry datang untuk membawanya pergi. Suara Marco kembali terdengar di luar sana, tapi ibunya berkata Anna belum selesai. Anna kembali menguping, sepertinya Marco membawakan obat diare dan jika demikian, dia harus benar-benar pintar mengulur waktu agar dia tidak berakhir menjadi istri Marco.