
Ketika Jager Maxton dan Carl sedang adu tenaga, salah satu anak buahnya menghubungi Damian secara diam-diam dan mengatakan jika ayahnya berkelahi dengan tamu yang tiba-tiba datang. Anak buahnya melakukan hal itu karena dia takut terjadi hal yang tidak mereka inginkan terhadap bos mereka. Jangan sampai mereka disalahkan nantinya.
Damian terkejut begitu mendapat laporan dari anak buahnya dan mengajak Ainsley pulang kerena saat itu, mereka memang sedang berdua. Mayumi bahkan dia tinggalkan di kantor, dia akan meminta seorang anak buahnya untuk menjemput Mayumi nanti. Dia sudah tidak sabar melihat keadaan ayahnya apalagi rasa khawatir menyelimuti hati, dia bahkan terlihat tidak tenang karena ayahnya tidak pernah berkelahi. Entah siapa yang telah membuat ayahnya marah yang pasti, dia tidak akan memaafkan orang itu jika sampai terjadi sesuatu pada ayahnya.
Kesehatan ayahnya tidak begitu baik, entah orang gila mana yang mencari perkara pada orang tua tapi dia tidak tahu, jika ayah kandungnya yang berkelahi dengan ayahnya. Semoga saja dia tidak kecewa dan sakit hati setelah mendengar semua itu dari ayahnya nanti.
Damian membawa mobilnya dengan cepat, wajahnya terlihat khawatir, rasanya sudah tidak sabar untuk cepat sampai di rumah.
"Dam-Dam, ayahmu pasti baik-baik saja," Ainsley memegangi tangan Damian dan menenangkannya.
"Aku benar-benar mengkhawatirkannnya. Ayahku sudah lama tidak berkelahi, aku takut dia terluka."
"Siapa yang berkelahi dengannya?" tanya Ainsley ingin tahu.
"Entahlah, aku juga tidak tahu orang gila dari mana yang datang menantang Daddy. Aku hanya khawatir ada musuh lama yang datang karena ada yang mencari keberadaan Daddy belakang ini."
Ainsley tersenyum dan mengusap lengan Damian, dia tidak tahu apa yang sedang terjadi tapi dia harap ayah Damian baik-baik saja.
Mereka sudah tiba, Damian turun dengan terburu-buru tapi dia tidak melupakan Ainsley. Damian membawa Ainsley masuk ke dalam rumah sambil memegangi tangannya. Dia tampak terkejut ketika melihat rumah berantakan, sedangkan ayahnya duduk di kursi. Seorang pelayan sedang mengobati luka di wajahnya saat itu, Jager terkejut melihat Damian pulang bersama dengan Ainsley. Siapa yang memberi tahu?
"Dad, apa yang terjadi?" Damian melepaskan tangan Ainsley dan berlari menghampiri ayahnya dengan cepat.
"Tidak apa-apa, kenapa kau kembali dan jangan meninggalkan Ainsley! Banyak pecahan kaca bagaimana jika kakinya terinjak!" ucap ayahnya.
"Tidak apa-apa, Uncle. Bagaimana keadaan Uncle?" tanya Ainsley seraya berjalan mendekati mereka.
"Aku baik-baik saja dan keadaanku akan semakin baik jika diobati oleh gadis cantik sepertimu!"
"Ck, Daddy tidak perlu menggombal!" Damian meminta pelayan yang sedang mengobati luka ayahnya untuk pergi karena dia yang akan melakukannya.
"Dad, ada apa sebenarnya? Kenapa kau berkelahi?"
"Pria itu membuat aku marah, itu sebabnya aku menghajarnya apalagi aku memang ingin melakukannya sejak lama!"
"Oh ya? Siapa yang membuat Daddy begitu marah? Biar aku yang memukulnya agar dia tahu, jika dia tidak boleh memukul Daddy."
"kau mau memukulnya?" Jager memandangi Damian dengan lekat.
"Tentu saja, aku tidak akan memaafkan orang yang telah memukul Daddy jadi katakan padaku, siapa yang telah berani melakukan hal ini?"
Jager tersenyum, tidak sia-sia dia mengakui Damian sebagai putranya dan membesarkannya. Orang yang menyia-nyiakan Damian, merekalah yang rugi.
"Dad, kenapa kau tersenyum?" Damian memandangi ayahnya dengan heran dan setelah itu, Damian hendak beranjak untuk menyimpan kotak obat.
"Aku berkelahi dengan ayahmu!"
Ucapan ayahnya menghentikan langkah Damian, dia berbalik untuk memandangi ayahnya, sedangkan Ainsley tampak terkejut.
"Apa yang Daddy katakan tadi?" tanya Damian
"Ayahmu datang tadi dan aku berkelahi dengannya," jawab ayahnya lagi.
Air muka Damian berubah, dia terlihat tidak senang dan marah. Walau dia tidak pernah mau tahu siapa ayah kandungnya, tapi dia tidak terima pria itu memukuli ayahnya.
"Untuk apa dia datang, Dad?"
"Tidak saja dia yang datang, Damian. Kakekmu juga datang tadi pagi."
Kedua tangan Damian sudah mengepal, dia tidak peduli mau kakeknya, ayahnya atau siapa pun itu yang datang yang pasti dia tidak terima ayahnya dipukuli seperti itu.
"Katakan padaku, di mana mereka?" Damian sudah terlihat marah dan dikuasai emosi.
"Kau akan mencari mereka?" Jager memandangi putranya dengan serius, apa Damian akan mencari mereka setelah tahu mereka datang mencarinya? Apa Damian akan kembali pada mereka?
"Ya\, aku tidak terima Daddy dipukuli seperti ini jadi aku akan mencari baj*ngan itu dan membalas setiap luka yang Daddy dapatkan!" Damian meletakkan kotak obatnya dengan kasar\, dia akan mencari baj*ngan itu dan memberi pelajaran.
"Damian, kau mau pergi ke mana?" teriak ayahnya saat Damian melangkah pergi.
"Ainsley, hentikan dia! Aku tidak mau dia pergi memukul ayahnya karena aku yang memukul ayahnya terlebih dahulu!" pinta Jager.
Ainsley mengangguk dan setelah itu, dia berlari untuk mengejar Damian yang sudah melangkah menuju pintu untuk memanggil beberapa anak buahnya.
"Dam-Dam, tunggu!" Ainsley berteriak, tapi Damian terus melangkah.
"Dam-Dam, tunggu! Kau mau pergi ke mana?" pinta Ainsley lagi.
"Tolong jaga ayahku, Ainsley."
"Tidak, tunggu!" Ainsley menahan tangan Damian sehingga Damian menghentikan langkahnya.
"Dam-Dam, apa yang ingin kau lakukan?" Ainsley tersenyum dan mengusap wajahnya.
"Memukul baj*ngan itu!"
"Tapi dia ayahmu, apa kau mau memukulnya?"
"Dia bukan ayahku, ayahku yang ada di dalam sana!" jawab Damian kesal.
"Hei, kenapa kau marah?"
"Sorry," ucap Damian seraya memeluk Ainsley. Tidak seharusnya dia marah di depan Ainsley.
"Selama ini aku tidak pernah mau tahu siapa ayah kandungku karena aku tidak peduli dengannya tapi hari ini, beraninya dia datang dan memukul ayahku? Aku tidak terima dia menyakiti orang yang aku sayangi!"
"Bukankah sekarang sudah waktunya kau tahu, Dam-Dam?"
"Maksudmu?"
Ainsley tersenyum, dia tahu Damian pasti marah karena ayah kandung yang tidak pernah menginginkannya telah melukai orang yang telah berperan sebagai ayahnya selama ini bahkan orang itu sudah dia anggap sebagai ayahnya sendiri.
"Dari pada kau pergi memukul ayahmu yang tidak menginginkanmu, lebih baik kau melihat keadaan ayahmu yang ada di dalam sana. Kesehatannya lebih penting, bukan? Dia pasti memukul ayah kandungmu karena membelamu. Sudah saatnya kau tahu siapa ayah kandungmu, Dam-Dam. Lebih baik kau mencari tahu, kenapa ayah dan kakekmu tiba-tiba datang menemui ayahmu. Mereka pasti punya motif tertentu sehingga mereka tiba-tiba datang."
Damian memandangi Ainsley\, sedangkan Ainsley tersenyum. Benar yang Ainsley ucapkan\, setelah dia memukul ayah kandungnya\, lalu apa? Lebih baik dia melihat keadaan ayahnya dari pada mencari baj*ngan itu. Dia juga harus tahu kenapa baj*ngan itu tiba-tiba datang menemui ayahnya.
"Kau benar, aku jadi emosi karena melihat keadaan ayahku. Sungguh aku tidak terima ayahku dipukuli seperti itu."
"Aku mengerti, ayo masuk ke dalam. Ayahmu bilang dia tidak mau kau pergi memukul ayah kandungmu apalagi dia yang memukul terlebih dahulu."
Damian mengangguk dan memeluk Ainsley dengan erat, sebenarnya dia masih sangat marah. Bagaimana jika adiknya tahu ayah mereka dipukuli? Adiknya pasti akan marah apalagi yang memukuli ayah mereka adalah ayah kandungnya.
Mereka kembali masuk ke dalam, menghampiri Jager sambil berpegangan tangan. Jager senang melihat putranya kembali, dia benar-benar berharap putranya tidak bertemu dengan ayah dan kakeknya karena dia tahu, hanya sakit hati yang akan didapatkan oleh Damian nanti dan dia tidak mau Damian mendengar dia dipanggil anak haram dan mendengar ibunya dipanggil jal*ng oleh keluarga Windstond.
"Bagaimana keadaanmu, Dad?" tanya Damian.
"Aduh.... duh, badanku semua sakit, wajahku dan dadaku, uh...," Jager meringis sambil memegangi dadanya tapi matanya melirik ke arah Ainsley.
"Jika begitu ayo kita ke rumah sakit," Damian terlihat khawatir. Jika terjadi sesuatu pada ayahnya, adiknya pasti akan murka dan dia tidak akan melepaskan orang yang telah melukai ayahnya sekalipun orang itu ayah kandungnya.
"Tidak usah, aku akan baik-baik saja jika Ainsley menemaniku malam ini."
"Dad, apa maksudmu?"
"Aku akan menginap untuk menemani Uncle," ucap Ainsley.
"Aha, akhirnya. Tenang saja, aku tidak akan mengintip kalian saat di dalam kamar."
"Daddy!" teriak Damian.
Ainsley tertawa, sedangkan Jager tersenyum lebar. Dia tidak boleh menyia-nyiakan kondisi dan situasi untuk semakin mendekatkan mereka berdua.
Damian berlalu pergi untuk menghubungi dokter pribadi ayahnya, karena dia ingin tahu keadaan ayahnya. Jika keadaan ayahnya memang tidak apa-apa maka dia akan mencari tahu, siapa ayah kandungnya. Yang Ainsley katakan sangat benar, sudah saatnya dia tahu, siapa ayah kandungnya dan untuk apa pria itu datang menemui ayahnya.