Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Permintaan Maaf Keluarga Windstond



Setelah dari ruangan Mayumi, Ainsley dan Damian pergi ke ruangan di mana keluarga Windstond menjalani perawatan. Mereka dirawat dalam satu ruangan, Damian menempatkan mereka dalam satu ruangan karena dia tidak mau menjenguk mereka dari satu ruangan ke ruangan lain dan menghabiskan waktunya apalagi mereka tidaklah penting baginya.


Keadaan mereka sudah baik-baik saja, walau sempat kritis akibat hampir kehabisan darah tapi kondisi mereka sudah membaik. Mereka sangat bersyukur karena mereka masih hidup tapi sekarang, entah bagaimana mereka harus menunjukkan wajah mereka pada orang yang telah menolong mereka.


Keadaan Harry lebih parah, wajahnya di perban akibat luka yang dibuat oleh Sherly. Sepertinya dia harus menjalani operasi wajah. Jangan sampai orang-orang melihat wajahnya yang dihancurkan oleh Sherly. Harry terlihat termenung, dengan banyak pikiran. Kejadian yang mereka alami benar-benar sebuah tamparan keras bagi mereka.


Sekarang mata mereka sudah terbuka lebar, sudah saatnya mereka berubah. Mereka benar-benar mendapat karma atas apa yang telah mereka lakukan.


"Sherly kurang ajar, beraninya dia melakukan hal ini pada kita?" ucap Renata, dia sungguh masih tidak bisa menerimanya.


"Padahal kita begitu baik padanya selama ini, tapi kenapa dia memperlakukan kita seperti ini?"


"Kau sudah tahu bukan, dia melakukan hal ini karena sakit hati!" ucap Aland.


"Dia yang salah, kenapa harus membalas dendam?" ucap Renata kesal.


"Sudahlah, tidak perlu ribut. Yang penting kita selamat dan mulai sekarang, kita harus intropeksi diri," ucap Carl pula.


"Aku harap, kau yang intropeksi terlebih dahulu, Dad," ucap Harry.


"Pria itu, jika tidak ada dia mungkin kita sudah mati di gudang tua itu!" ucap Harry lagi, matanya menerawang menatap langit ruangan.


Renata menunduk, begitu juga dengan Carl. Mereka tidak menyangka jika Damian akan datang untuk menyelamatkan mereka padahal Damian bisa menutup mata dan pura-pura tidak tahu.


"Kau harus meminta maaf padanya, Carl," ucap Aland. Anak yang selalu mereka hina sebagai anak seorang ja*ang, membuktikan pada mereka jika dia tidak membenci mereka sekalipun mereka sudah menghinanya berkali-kali.


"Apa yang kakek katakan sangat benar, Daddy harus meminta maaf padanya begitu juga dengan kita. Selama ini kita selalu menghina dirinya dan lihatlah? Kita bagai di tampar karena sifat kita. Kita juga harus berterima kasih karena dia sudah mau datang menolong kita padahal dia bisa mengabaikan kita!" ucap Harry. Walau wajahnya sakit saat dia berbicara tapi dia ingin mereka semua intropeksi diri dan meminta maaf pada Damian.


Carl diam, begitu juga dengan Renata. Kejadian yang mereka alami bagaikan sebuah pukulan keras bagi mereka semua. Selama ini Damian hanya diam, tapi mereka yang terlalu takut dan mempermalukan diri mereka sendiri.


Suasana hening, mereka tampak memikirkan kesalahan yang telah mereka lalukan. Saat itu, pintu ruangan terbuka. Seorang perawat masuk ke dalam bersama dengan Damian dan Ainsley yang mengikuti perawat itu. Mereka saling pandang, mereka bahkan tidak berani melihat ke arah Ainsley.


Sang perawat memeriksa keadaan mereka satu persatu, Damian dan Ainsley berdiri agak jauh dari mereka. Harry melihat ke arah mereka berdua, sepertinya dia juga harus meminta maaf pada Ainsley karena sudah mengganggunya selama ini.


Suasana jadi menegangkan setelah perawat pergi, Damian diam saja, begitu juga dengan yang lain karena mereka tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. Ainsley menyenggol lengan suaminya, dia harap Damian bisa mencairkan suasana tapi sesungguhnya Damian merasa canggung, entah harus memulai dari mana dia sendiri tidak tahu karena mereka asing baginya.


Ainsley kembali menyenggol lengan suaminya, lirikan mata juga dia berikan. Apa mereka sedang mengikuti lomba siapa yang paling tahan lama tidak bicara?


"Hm, bagaimana keadaan kalian?" tanya Damian. Jika tidak ada istrinya sudah dia tinggalkan mereka sedari tadi.


"Keadaan kami baik-baik saja, terima kasih kau sudah menolong kami padahal kami?" ucapanĀ  Aland terhenti karena Damian sudah menyela ucapannya.


"Tidak perlu dibahas, aku bukan tipe pendendam."


"Kau memang berbeda dengan kami. Aku yakin pria yang membesarkan dirimu sangat bangga memiliki dirimu," ucap Aland.


"Memang, aku selalu ingin membuatnya bangga sebab itu aku tidak pernah mempedulikan kalian saat kalian menghinaku dan ibuku!"


"Nak, kami minta maaf untuk hal itu," ucap Aland.


Carl menunduk, memang dia yang salah waktu itu karena telah mengabaikan Sayuri dan tidak menginginkan anak itu.


"Kami ingin minta maaf, tapi kenapa kau begitu sombong?" teriak Renata kesal.


"Bisa kau diam?!" Carl menatap istrinya dengan tatapan tajam.


"Semua ini memang salahku, tidak seharusnya aku memperlakukan Sayuri dengan tidak adil. Aku bahkan memfitnah dirinya, tidak mau bertanggung jawab dan memintanya untuk menggugurkan dirimu saat itu. Aku memintanya melakukan hal itu karena aku panik, aku takut keluargaku tahu apa yang aku lakukan. Tidak ada jalan lain selain memintanya melakukan hal seperti itu," ucap Carl sambil menunduk.


"Tidak perlu basa basi, yang sudah terjadi tidak bisa dirubah. Lagi pula aku sangat berterima kasih padamu karena berkat hal itu, aku menemukan seorang ayah yang begitu luar biasa dan yang bisa aku banggakan pada semua orang!"


"Aku memang bersalah, aku minta maaf," ucap Carl.


"Ucapan maafmu terdengar aneh bagiku karena selama tiga puluh tahun lebih, tidak sekalipun kau mencari keberadaanku bahkan saat kau tahu keberadaanku, kalian menghinaku dan ibuku!"


"Ayahmu sudah minta maaf, kenapa kau begitu sombong?" teriak Renata lagi karena dia kesal.


"Mom, bisakah kau diam?" Harry tampak kesal.


Renata membuang wajah dan tampak menggerutu, memang mereka yang salah tapi tetap saja, anak itu dilahirkan oleh jal*ng yang dibeli oleh suaminya.


"Nak, kami minta maaf. Seharusnya kami tidak menghinamu dan ibumu. Seharusnya kami menemui dirimu secara baik-baik sebagai keluarga," ucap Aland.


"Aku tidak membenci kalian, Kakek. Tidak karena yang aku benci adalah orang yang telah mengabaikan ibuku dan kalian? Aku tidak membenci kalian sama sekali tapi kalian tiba-tiba datang, mencariku dengan tujuan-tujuan kalian. Tidak cukup dengan hal itu, kalian juga menghina ibuku padahal perbuatan itu tidak sepenuhnya kesalahan ibuku. Kalian yang membuat jurang pemisah antara aku dan kalian. Kalian takut akan keberadaanku tapi aku, tidak menginginkan apa pun yang kalian miliki!"


Mereka kembali menunduk, mengingat apa yang telah mereka lakukan dan mereka merasa malu akan hal itu apalagi Renata dan Carl, mereka yang paling takut Damian mengambil apa yang mereka miliki dan menggantikan posisi Harry padahal sudah jelas, anak itu tidak menginginkan apa pun.


"Sebab itu kami minta maaf padamu," ucap Harry.


"Kami sudah keterlaluan terhadapmu, maafkan kami. Aku juga ingin minta maaf padamu, Ainsley. Maaf aku telah mengganggu dirimu. Aku sadar sekarang, cinta tidak harus selalu memiliki dan ini akan menjadi pelajaran berharga untukku," ucapnya lagi.


Ainsley tersenyum dan memeluk pinggang suaminya, syukurlah mereka mau berdamai. Dia senang melihatnya dan dia harap Damian mau memaafkan mereka.


"Nak, maukah kau memaafkan kami? Mulai sekarang, kita menjadi keluarga. Kami tidak akan menghina dirimu lagi, kau bisa pulang ke rumah kapan pun kau mau. Kami akan menyambut kedatanganmu dengan baik, sebagai keluargamu," ucap Aland.


"A-Aku juga minta maaf atas perbuatanku," ucap Renata. Walau dia enggan dan malu, tapi dia yang paling takut Damian menyingkirkan Harry.


"Maafkan kami, aku akan menebus kesalahan yang aku lakukan selama tiga puluh tahun belakangan," ucap Carl pula.


Semua melihat ke arah Damian, berharap dia mau memberi maaf agar mereka bisa memulai hubungan baru sebagai keluarga. Damian menghela napas, walau awalnya tidak menyenangkan tapi sekarang mereka sudah mau berubah, itu jauh lebih baik walaupun dia tidak mengharapkan mereka tapi tidak ada salahnya memaafkan mereka terutama ayahnya.


"Baiklah, sudah aku katakan, aku bukan tipe pendendam. Jika kalian masih menghinaku dan ibuku, maka lupakan. Aku sudah memiliki keluarga sesungguhnya yang jauh lebih baik dari pada kalian," ucap Damian.


"Kami berjanji tidak akan melakukan hal itu," ucap Aland.


Damian mengangguk, rasanya canggung tiba-tiba punya keluarga baru. Semoga ayahnya tidak kecewa padanya karena dia telah memaafkan mereka dan dia juga berharap, ibunya menerima keputusannya karena dia memaafkan pria yang mencampakkan mereka. Walaupun dia sudah memaafkan mereka tapi baginya, ayahnya yang sesungguhnya tetaplah Jager Maxton.


Harry tampak lega, semua menjadi lebih baik. Dia harus bisa menerima Ainsley menjadi adik iparnya. Mulai sekarang dia harus melupakan Ainsley. Semoga saja suatu saat nanti, dia menemukan seorang gadis yang tidak jauh berbeda dengan Ainsley.