
Alamat Jager Maxton sudah berada di tangan, Harry akan pergi ke rumah pria itu hari ini. Dari pada ayah dan kakeknya yang pergi dan membuat keributan, lebih baik dia yang menyelesaikan permasalahan itu. Dia juga ingin tahu bagaimana rupa anak ayahnya yang dilahirkan oleh wanita lain jika memang ada.
Harry berangkat, siap menyelesaikan permasalahan keluarganya. Dia harap semua permasalahan bisa segera selesai agar ayah dan kakeknya tidak berdebat lagi dan dia harap, pria yang bernama Jager Maxton itu bisa memberikan petunjuk.
Dia yakin semua akan selesai jika diselesaikan dengan kepala dingin. Tapi apakah demikian? Sepertinya dia harus menyiapkan hati saat bertemu dengan Ainsley dan Damian di rumah itu nanti.
Sementara Harry dalam perjalanan menuju rumah Jager Maxton, Ainsley masih lari pagi bersama Mayumi. Mereka berdua berlari sambil berbincang dan terkadang mereka berhenti dan duduk di kursi taman yang mereka lewati untuk beristirahat.
Mereka sedang duduk bersama saat itu, Mayumi sengaja mengajak Ainsley keluar agar hatinya tidak semakin panas karena melihat Ainsley dan Damian berduaan di dalam kamar. Berdua seperti ini jauh lebih baik, dia bahkan merasa senang.
"Boleh aku tahu, bagaimana kau dan Damian bisa bertemu?" tanya Mayumi sambil melirik ke arah Ainsley.
"Hm, sebenarnya kami sudah seperti keluarga. Adiknya adalah istri kakakku, sebab itu kami bisa mengenal dan dekat. Tapi selama ini hubunganku dengan Damian seperti keluarga saja," jawab Ainsley.
"Lalu? Kenapa kalian tiba-tiba berpacaran?" tanya Mayumi dengan ekspresi ingin tahu.
Ainsley tersenyum, dia juga tidak tahu. Semua mengalir begitu saja tanpa mereka sadari.
"Hei, kenapa tidak menjawab? Aku jadi penasaran!" tanya Mayumi lagi.
"Entahlah, semuanya terjadi begitu saja. Damian membantu aku dari pria yang selalu mengejarku lalu dia menyebut aku sebagai pacarnya. Dari sanalah hubungan kami jadi dekat."
"Wah, ternyata Damian punya saingan," ucap Mayumi.
"Tidak juga, kau sendiri bagaimana? Apa kau dan kekasihmu tidak tinggal bersama?"
Mayumi menunduk ketika mendengar pertanyaan Ainsley, dia terlihat sedih sampai membuat Ainsley tidak enak hati. Tidak seharusnya dia bertanya demikian.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud?"
"Tidak apa-apa," sela Mayumi. Gadis itu berusaha tersenyum untuk menutupi rasa sedihnya.
"I'm sorry," ucap Ainsley lagi.
"Nan demo nai," Mayumi kembali tersenyum.
(Tidak apa-apa)
"Aku sudah menjalin hubungan dengannya selama bertahun-tahun, Damian tahu hal itu. Bahkan kami bertiga adalah teman baik. Kekasihku yang selama ini berada di Jepang harus pergi ke Korea karena pekerjaannya. Sesungguhnya aku tidak suka menjalin hubungan jarak jauh tapi dia berjanji akan membawa aku ke Korea dan mengajak aku tinggal di sana bersama dengannya," Mayumi menghentikan ucapannya, air matanya tiba-tiba menetes.
Sungguh dia sangat merindukan kekasihnya yang sudah lama tidak bertemu. Dan sekarang, dia tidak tahu bagaimana keberadaan kekasihnya. Apa dia masih hidup, atau sudah mati. Seandainya dia tahu akan jadi seperti ini, maka dia sudah mengikuti kekasihnya pergi ke Korea sejak lama.
"I'm sorry, aku tidak bermaksud membuatmu menangis," Ainsley mengusap punggung Mayumi untuk menghiburnya.
"Tidak apa-apa, kau beruntung Ainsley karena Damian mencintaimu," Mayumi menghapus air matanya, rasa cemburu itu muncul lagi di hati.
"Hei, apa yang kau katakan? Walau Damian mencintaiku tapi dia sahabatmu. Tidak dia saja, aku juga sahabatmu, Mayumi. Aku dan Damian, pasti akan membantumu. Percayalah jika kami bisa menemukan kekasihmu yang hilang tanpa kabar."
"Thanks, Ainsley," senyum Mayumi kembali mengembang. Tidak seharusnya dia merasa cemburu dan iri pada Ainsley.
"Damian beruntung mencintai gadis sebaik dirimu," ucapnya lagi.
"Apa yang kau katakan? Aku sama sepertimu dan sama seperti yang lain. Ayo kita kembali, sudah mulai panas," ajak Ainsley.
Mayumi mengangguk, mereka kembali berlari dengan santai sambil berbincang menuju rumah Damian. Setidaknya hubungan persahabatan mereka semakin terjalin apalagi Mayumi menyadari jika dia tidak pantas menyimpan rasa cemburu dan benci pada Ainsley karena dia merasa gadis itu telah merebut Damian apalagi sejatinya, dia dan Damian adalah sahabat baik bukan pasangan kekasih.
Seharusnya dia senang Damian sudah mendapatkan wanita yang sudah lama dia inginkan, bukankah dia harus bergembira akan hal itu? Dengan adanya pemikiran itu, Mayumi bisa menyingkirkan rasa benci dan cemburu yang ada di hatinya tapi sayang, tidak lama lagi dia akan menghadapi dilema dan harus membuat pilihan yang berat di mana persahabatan mereka akan diuji.
Selagi mereka kembali, Harry sudah tiba di depan rumah Damian. Harry memandangi rumah belantai tiga itu sejenak dan setelah itu dia turun dari mobil. Beberapa anak buah Jager menghampiri pagar saat melihat Harry berjalan mendekat.
"Aku ingin bertemu dengan Jager Maxton," jawab Harry tanpa basa basi.
Anak buah Jager yang berjaga, memandangi Harry dari atas sampai ke bawah. Mereka sudah mendapat perintah dari Damian untuk tidak membiarkan siapa pun masuk begitu saja apalagi orang yang bernama Windstond tapi mereka melihat Harry dengan serius, karena wajah Harry sedikit mirip dengan Damian.
"Ada urusan apa?" tanya anak buah Jager lagi.
"Ada yang ingin aku bicarakan dan ini penting! Bisakah kalian membiarkan aku masuk?" tanya Harry. Matanya sudah menatap anak buah Jager dengan tajam. Apa mereka kira dia adalah penjahat?
"Katakan siapa namamu? Kami tidak menerima sembarangan tamu!"
"Katakan padanya, Harry Windstond ingin bertemu."
"Windstond? Bos kami tidak menerima tamu yang bernama Windstond lagi!"
"Ck, ayolah. Aku ada urusan penting dengan Jager Maxton!" Harry mulai terlihat kesal. Kenapa begitu sulit untuk menemui pria itu? Memangnya siapa Jager Maxton? Dia bukan pejabat, bukan juga mantan presiden tapi kenapa sulit ditemui?
"Sebaiknya pergi, jangan membuang waktu kami!" anak buah Jager berlalu pergi, sedangkan Harry berteriak di depan pagar.
"Hei, ijinkan kami bertemu dengannya!" dia benar-benar tidak terima diabaikan seperti itu.
Teriakan Harry didengar oleh Damian dari dalam sana, dia ingin melihat tapi saat itu dia sedang mengoles obat di lebam yang terdapat di tubuh ayahnya.
Harry benar-benar marah, semua itu pasti gara-gara kakek dan ayahnya. Seharusnya mereka bekerja sama jika memang ingin menemukan anak itu dan sekarang lihatlah, dia bahkan tidak diijinkan masuk.
"Hei, biarkan aku masuk!" teriak Harry tapi anak buah Jager mengabaikan dirinya.
Harry memaki bahkan menendang pagar, dia kembali berjalan menuju mobil sambil memaki. Sepertinya tidak semudah yang dia bayangkan. Harry membuka pintu mobil dan hendak masuk ke dalam tapi niatnya terhenti saat tanpa sengaja melihat Ainsley dan Mayumi sedang berjalan menuju arahnya.
Harry mengernyitkan dahi, apa yang Ainsley lakukan di sana? Pintu mobil kembali ditutup, dia terlihat senang karena bisa bertemu gadis pujaan hatinya di sana. Harry tersenyum dan mendekati Ainsley, sedangkan gadis itu terkejut melihatnya. Apa yang dilakukan oleh Harry di sana?
"Ainsley, kenapa kau ada di sini?" tanya Harry dengan ekspresi wajah senang.
"Kau sendiri, apa yang kau lakukan?" tanya Ainsley pula.
"Ada urusan sedikit, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu. Kenapa kau ada di sini? Rumahmu bukan di sini, bukan?" Harry melihat sana sini, mencari kediaman Ainsley.
"Aku sedang di rumah pacarku!" jawab Ainsley dengan sinis seraya menarik tangan Mayumi.
"Apa?" Harry tampak terkejut.
"Tunggu Ainsley, aku ingin berbicara denganmu," cegah Harry sebelum Ainsley mendekati rumah Damian.
"Tidak mau, pergi sana!" tolak Ainsley sinis.
"Please, sebentar saja!" Harry meraih tangan Ainsley. Dia benar-benar ingin berbicara dengan gadis itu dan mencari tahu tentang pacarnya.
"Tidak mau, lepaskan tanganku!" Ainsley sudah terlihat kesal karena Harry memaksa seperti biasa.
"Ikut aku sebentar, please," Harry berusaha menarik tangan Ainsley agar ikut dengannya.
Ainsley ingin protes, tapi pada saat itu terdengar suara Damian yang berdiri dibelakang pagar di mana anak buahnya sedang membuka kunci untuknya.
"Lepaskan tangannya!" Damian menatap Harry dengan tatapan tajam.
Harry memutar langkah, matanya terbelalak melihat pria itu. Pegangan tangannya terlepas, Ainsley menarik Mayumi dan berlari mendekati Damian.
Harry memandangi Damian dengan tatapan tajam. Kenapa pria itu ada di rumah Jager Maxton, apa maksud semua ini dan kebetulan macam apa ini?