Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
In The Black Market



Damian menapaki kakinya ke pasar gelap malam itu dan ini pertama kali untuknya. Dia mendatangi tempat itu bersama tiga anak buahnya. Dia tidak mengatakan pada ayahnya jika dia akan datang ke pasar gelap tapi dia mengatakan pada ayahnya jika dia sedikit sibuk sehingga dia akan pulang terlambat. Itu dia lakukan agar ayahnya tidak tahu jika dia mendatangi tempat itu.


Tentu tujuannya datang ke tempat penuh dosa itu untuk mencari informasi mengenai orang yang sedang mencari keberadaan ayahnya. Sebelum orang itu menemukan keberadaan ayahnya, dia yang harus menemukan orang itu terlebih dahulu. Walau dia sudah menyembunyikan semua informasi mengenai ayahnya, tetap saja mereka harus waspada.


Dia tidak mau ayahnya dalam bahaya apalagi dia khawatir jika orang yang mencari ayahnya adalah musuh lama ayahnya yang menyimpan dendam apalagi dia tahu, ayahnya telah banyak melakukan bisnis gelap dan juga membunuh orang sewaktu masih muda.


Damian datang bersama dengan anak buahnya yang memberikan laporan waktu itu. Pasar gelap adalah tempat berbahaya tapi dia tidak takut. Sang anak buah membawanya menuju sebuah bar di mana sahabatnya berada karena informasi itu dia dapatkan dari sahabatnya. Mereka melewati rumah bordil dan melewati para wanita yang sedang menjajakan diri.


Para wanita j*lang itu mengerumuni Damian, menawarkan harga. Mereka menggoda Damian dan memperlihatkan buah dada mereka yang tidak ditutupi oleh apa pun. Damian menolak dan melangkah maju, sedangkan anak buahnya menghalau para wanita penghibur itu.


Bar yang mereka tuju sudah dekat, Damian mendapat tatapan banyak mata karena dia orang baru yang baru terlihat di tempat itu. Sebagian dari mereka sudah memegangi gagang pistol karena mereka curiga jika Damian adalah pihak berwajib yang sedang bertugas dan menyamar.


Mereka waspada, tapi Damian masuk ke dalam bar bersama dengan anak buahnya dan lagi-lagi, pengunjung bar melihat ke arahnya. Mereka juga terlihat waspada karena mereka berasumsi jika Damian bukan polisi yang sedang menyamar maka dia adalah pemain baru yang hendak berbisnis di tempat itu.


Anak buahnya mengantar Damian di mana sahabatnya sudah menunggu, malam ini orang itu akan menunjukkan pada Damian siapa yang sedang mencari informasi tentang ayahnya dan tentunya orang itu mendapat bayaran setimpal untuk informasi yang dia berikan.


"Bos, ini temanku," ucap sang anak buah.


"Katakan padaku apa yang kau tahu!" ucap Damian.


"Pasti!"


Sebuah kursi ditarik dan Damian duduk di sana, dia bahkan memesan minuman dan pada saat itu seorang pemain bisnis haram yang memperhatikannya sejak tadi menghampiri Damian karena dia ingin menawarkan barang. Di pasar itu, siapa cepat maka dia yang akan mendapatkan pelanggan.


"Hei, anak muda! Apa kau orang baru?" tanya orang itu tapi Damian hanya melihatnya dan tidak menjawab.


"Tuan, kami tidak melakukan bisnis," ucap sang anak buah.


"Ayolah, aku punya barang bagus jika kau mau!"


"Sudah kami katakan, kami tidak melakukan bisnis!" sang anak buahnya mengeluarkan pistol sehingga orang itu melangkah mundur.


"Oke.. oke, calm down," orang itu mengangkat tangannya dan berlalu pergi sambil menggerutu.


"Yang mana orangnya?" tanya Damian pada sahabat anak buahnya.


"Tunggu sebentar lagi, mereka akan segera muncul. Mereka berpencar dari bar satu ke bar yang lain untuk mencari informasi."


Damian mengangguk dan sambil menunggu, Damian meneguk minuman yang sudah dia pesan dan matanya melihat tempat itu dengan teliti. Dia tidak menyangka jika ayahnya selalu hilir mudik di tempat itu, apakah ayahnya bertemu dengan ibunya di sana? Sepertinya dia harus menanyakan hal ini nanti.


Sepuluh menit mereka telah menunggu tapi orang yang mereka cari belum terlihat, lima belas menit, dua puluh menit akhirnya orang itu masuk dan berjalan menghampiri bartender. Orang itu seperti pengunjung biasa dan tidak terlihat mencurigakan sama sekali.


"Itu orangnya," tunjuk sahabat anak buahnya.


"Apa hanya pria itu?" tanya Damian.


"Rekan lainnya berpencar dan pria itu selalu ada di sini untuk mencari informasi mengenai Jager Maxton."


"Baiklah, kau mendapatkan bayaranmu," ucap Damian dan setelah itu dia beranjak mendekati targetnya.


Damian duduk di samping sang target, pura-pura sebagai tamu seperti yang lain agar targetnya tidak curiga, Dia bahkan memesan segelas bir pada bartender cantik yang sedang sibuk meracik minuman.


"Kau sepertinya orang baru?" tanya sang target tiba-tiba.


Damian melihat ke arah target sambil tersenyum dan setelah itu, Damian meneguk birnya sebelum menjawab.


"Tidak, aku sudah lama," dustanya.


"Oh ya? Apa kau menjalani bisnis ilegal?


"Tidak juga!"


"Lalu?"


Damian tersenyum dan meneguk birnya kembali, " Aku penjual informasi!" jawabnya.


"Menarik, apa kau bisa memberikan informasi untukku?" tanya si target.


"Tergantung informasi yang kau inginkan dan bayaranmu, Tuan!"


"Aku akan bayar berapa pun yang kau minta asal kau bisa memberikan informasi yang aku cari!" jawab sang target.


"Jika begitu ikut denganku!" Damian meneguk birnya sampai habis dan setelah itu dia meletakkan dua puluh dolar ke atas meja. Damian berjalan pergi dan memberi sebuah kode pada anak buahnya, sedangkan sang target mengikutinya.


Ketiga anak buahnya mengikuti secara diam-diam, sedangkan Damian membawa pria itu menuju sebuah gang gelap. Dia harus berakting sebaik mungkin agar targetnya tidak curiga.


"Katakan padaku, informasi apa yang ingin kau dapatkan?" tanya Damian ketika mereka sudah berada di gang gelap.


"Aku ingin tahu keberadaan Jager Maxton."


"Wah, informasi ini sedikit sulit!" ucap Damian pura-pura.


"Berapa pun yang kau minta, aku akan memberikan informasi ini padamu!"


"Hng, bagaimana jika aku meminta nyawamu sebagai bayarannya?" tanya Damian.


"Apa maksudmu?" orang itu menatap Damian curiga.


"Aku bilang...," Damian menarik pistolnya


"Sh*it!" umpat sang target tapi pistol yang ada di tangan Damian sudah menempel pada dahinya.


"Katakan padaku, siapa yang membayarmu untuk mencari Jager Maxton!"


"Ini rahasia!"


"Kau mau mengatakannya atau kepalamu berlubang!" ancam Damian.


"Sekalipun kau mengancam tapi aku tidak bisa mengatakannya karena ini misi rahasia!"


"Baik,ini pilihanmu!" Damian hendak menembak tapi anak buahnya memberi laporan melalui earphone yang terpasang di telinga.


"Bos, ada yang datang!" lapor sang anak buah dan benar saja tiga penjahat teri sudah berdiri di depan gang karena mereka hendak melakukan transaksi.


"Tolong ada polisi!" teriak sang target dan teriakannya itu memancing ketiga orang yang ada di depan gang. Ketiga orang itu berteriak, sehingga memancing para penjahat yang ada di pasar gelap itu karena polisi adalah hal tabu di sana dan jika benar ada polisi, maka akan dipastikan polisi itu tidak akan pernah kembali.


"Sial!" umpat Damian dan dia menembak orang yang sedang dia tahan tanpa ragu.


Letusan pistol yang berbunyi semakin memancing para penjahat, mereka berlari mendekati arah datangnya suara tembakan apalagi tembakan-tembakan lain menyusul karena Damian menembaki ketiga orang yang sedang menembakinya.


Anak buahnya juga membantu, mereka menembaki orang-orang yang berlari ke arah mereka tapi jumlah mereka semakin banyak. Damian masih bersembunyi menghindari peluru yang tiga orang itu tembakan, dia harus menyelesaikan mereka dengan cepat dan pergi dari tempat itu.


Pistol sudah terisi penuh dan sudah terangkat, Damian menarik napasnya dan setelah itu, dia keluar dari persembunyiannya. Ketiga orang itu kembali menembak, begitu juga Damian. Dia terus berlari maju sambil menembaki mereka bahkan dia juga berlari ke atas tembokĀ  untuk menghindari peluru.


"Bos, semakin ramai!" teriak anak buahnya.


"Pergi!" perintah Damian.


Anak buahnya melangkah mundur sambil menembak, mereka tidak mungkin menang melawan ratusan penjahat yang sedang menembaki mereka dari persembunyian. Damian sudah selesai menembaki ketiga orang itu, dia keluar dari gang sambil menembak orang-orang yang menghujaninya dengan timah panas.


"Bos!" teriak ketiga anak buahnya.


Damian melangkah mundur, menghampiri sang anak buah yang sudah siap dengan senjata peledak di tangan mereka. Setelah Damian sudah lebih dekat, senjata peledak ditembakan ke arah penjahat yang sedang bersembunyi di balik mobil-mobil yang ada.


Tiga peluru peledak melesat ke arah tiga mobil dengan kecepatan tinggi dan tidak lama kemudian, tiga ledakan terjadi. Para penjahat yang bersembunyi terpental, begitu juga mobil yang meledak. Mobil itu melambung tinggi dalam keadaan terbakar lalu jatuh ke atas tanah dan kemudian kembali meledak.


Para penjahat berhamburan, sedangkan Damian dan ketiga anak buahnya menyaksikan hal itu dari jarak yang lumayan jauh. Sangat disayangkan, padahal tinggal sedikit lagi dia akan mengetahui siapa yang mencari ayahnya tapi semua itu jadi kacau gara-gara tiga orang yang memergokinya.


Walaupun gagal, setidaknya kedatangan perdananya sudah mengacaukan tempat itu.