
Mayumi termenung melihat rekaman yang diberikan oleh Damian tadi pagi. Dia bahkan tidak serius memperhatikan rekaman itu karena pikirannya sedang kusut. Mayumi bahkan enggan makan begitu dia kembali, sungguh dia menjadi iri melihat kemesraan Damian dan Ainsley.
Tidak seharusnya dia ikut dalam kencan mereka, seharusnya dia diam di rumah saja agar rasa iri hati tidak muncul dan memenuhi hatinya. Sejujurnya dia iri karena dia sudah lama tidak bersama dengan kekasihnya. Mereka sudah tidak bertemu selama beberapa tahun bahkan mereka sudah lama tidak perah bermesraan.
Dia benar-benar merindukan kekasihnya tapi sekarang, kekasihnya justru tertangkap. Entah kekasihnya masih hidup atau tidak, dia sungguh tidak tahu. Mayumi menghela napas, ponsel yang dia letakkan diambil. Sebaiknya dia berusaha menghubungi kekasihnya walau dia tahu tidak akan pernah bisa terhubung lagi karena ponsel kekasihnya sudah tidak aktif.
Mayumi membaringkan diri dan menangis, kenapa orang yang dia sayangi harus pergi darinya satu persatu? Rasanya tidak adil untuknya, kenapa dia harus mengalami hal seperti ini?
"Kenapa? Kenapa kau kembali Ke Jepang? Padahal aku sudah memperingatimu tapi kenapa kau masih juga kembali ke sana?" tanya Mayumi. Dia menangis terisak, merindukan kekasihnya juga merindukan ayahnya.
Di luar sana, Damian sudah kembali. Damian terlihat senang, itu karena dia sudah melewatkan hari yang indah bersama dengan Ainsley. Jager Maxton sudah menunggu karena ada hal penting yang ingin dia bicarakan pada putranya.
"Dad, mana Mayumi?" tanya Damian karena dia tidak melihat Mayumi.
"Di dalam kamarnya," jawab Jager dengan nada tidak senang.
"Apa dia sudah makan?"
"Damian, pergilah mandi dan setelah itu temui aku karena ada yang ingin aku bicarakan padamu!" ucap ayahnya.
"Baiklah," Damian berlalu pergi. Entah apa yang ingin ayahnya bicarakan tapi dia rasa, ayahnya ingin membicarakan hal serius dengannya.
Damian mandi dengan cepat, karena dia tidak ingin membuat ayahnya menunggu. Setelah selesai, Damian mencari ayahnya yang sudah menunggunya di dalam kamar. Sepertinya tebakannya benar, ayahnya pasti akan membicarakan hal penting jika di dalam kamar karena dia tahu, ayahnya tidak mau ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"Apa yang ingin Daddy bicarakan?" tanya Damian.
"Kemari, duduk denganku!"
Damian mendekati ayahnya dan duduk di sampingnya. Jager terlihat serius, dia harus memperingati Damian agar kejadian yang dialami olehnya dulu tidak dialami oleh Damian.
"Ada apa, Dad?"
"Aku ingin kau berhati-hati, Damian."
"Aku selalu berhati-hati, Dad."
"Aku tahu, tapi dengarkan aku. Aku tidak mau kau mengalami apa yang aku alami dulu yaitu dikhianati oleh sahabat baikku walau aku tahu, Ainsley bukan gadis biasa tapi aku ingin kau berhati-hati pada Mayumi."
"Apa maksud Daddy?" Damian memandangi ayahnya dengan serius, apa ayahnya mencurigai Mayumi?
"Aku hanya ingin kau berhati-hati, Damian. Kita tidak tahu apa yang ada di hatinya, orang yang terlihat baik belum tentu baik. Aku tidak mau Mayumi memanfaatkan kebaikan yang kau berikan sehingga kebaikan itu berbalik menyerangmu juga Ainsley. Walau Ainsley bisa menjaga dirinya sendiri tapi sebagai lelaki dan juga sebagai pacarnya kau harus menjaganya. kau boleh berbuat baik pada Mayumi tapi jangan terlalu berlebihan. Kau paham, bukan?"
"Aku tahu, Dad. Terima kasih atas nasehat yang telah Daddy berikan. Sebagai sahabat aku hanya tidak tega tapi aku tahu batasannya. Aku tidak akan melakukan hal di luar batas apalagi sampai membuat Ainsley salah paham dan marah karena persahabatan yang terjalin di antara kami!"
"Bagus!" ucap Jager. Setidaknya putranya tahu apa yang dia lakukan.
"Aku senang kau selalu waspada dan aku senang hubunganmu dengan Ainsley sudah berjalan lebih maju."
"Apa maksud Daddy?"
"Hm, tidak ada!" jawab ayahnya. Jangan sampai putranya tahu jika dia berada di jembatan dan melihat mereka saat mereka sedang berciuman.
"Dad, apa kau pura-pura ke rumah Vivi?" tanya Damian curiga.
"Sembarangan! Aku memang pergi ke rumah adikmu! Sana pergi, ajak Mayumi makan malam. Jangan sampai dia sakit!"
"Apa dia belum makan?"
"Sudah sana pergi!" usir ayahnya.
"Tapi Dad, dari mana Daddy tahu hubunganku dan Ainsley sudah lebih maju?"
"Rahasia!" jawab Jager. Biarkan putranya yang penasaran sekarang.
"Dad, kau tidak mengintip, bukan?" tanya Damian curiga.
"Sembarangan! Aku belum jadi cicak jadi kau tidak perlu khawatir! Aku juga tidak akan mengintip saat kau membawanya ke dalam kamar!' ucap ayahnya.
"Ck, Daddy sembarangan! Aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu!"
"Kenapa? Coba katakan padaku?" Jager jadi ingin tahu.
"Dad, alangkah baiknya hal itu dilakukan setelah menikah agar kami tidak cepat bosan dengan hubungan kami."
"Kenapa jadi Daddy yang tidak sabar?" Damian melihat ayahnya dengan teliti.
"Hm, aku sudah tidak sabar memiliki menantu perempuan jadi jangan lama-lama," jawab ayahnya.
"Kami baru mulai pacaran, Dad. Jadi aku ingin menikmati masa pacaran kami sebentar."
"Baiklah, tapi jangan terlalu lama!"
"Aku tahu, Daddy tidak perlu khawatir," ucap Damian.
"Bagus!" Jager tersenyum, dai menang.
Damian keluar dari kamar karena tidak ada yang mereka bicarakan lagi, dia tahu ayahnya mengkhawatirkannya dan dia tidak akan membuat ayahnya khawatir. Pintu kamar tertutup, Jager bersorak senang di dalam sana.
"Yes, aku menang!"
Damian kembali membuka pintu saat mendengar sorakan ayahnya, "Ada apa, Dad? Apa Daddy menang lotre?" tanya Damian sambil memandangi ayahnya.
"Hm, tidak! Sana pergi ajak Mayumi makan malam!" ucap ayahnya.
Damian mengernyitkan dahi, mungkin dia salah dengar. Pintu kembali di tutup dan setelah itu dia melangkah pergi. Jager diam saja tapi beberapa detik kemudian dia kembali bersorak.
"Yes, aku menang. Persiapkan dirimu tua bangka, kau harus menari di acara pernikahan mereka nanti!"
Jager benar-benar senang, dia bahkan berjoget karena dia menang dari Jacob. Sepertinya dia harus membuat kostum konyol untuk mengerjai si tua bangka itu. Kapan lagi dia bisa mengerjai mafia yang paling ditakuti pada jamannya?
Di luar sana, Damian menghampiri kamar Mayumi dan mengetuk pintu kamarnya dengan pelan.
"Mayumi, ayo keluar makan," panggilnya.
Mayumi beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri pintu. Ketika pintu terbuka, Mayumi memeluk Damian sambil menangis.
"Dam-Dam, kau tidak akan meninggalkan aku, bukan?" tanyanya.
"Apa maksudmu?"
"Semua yang aku cintai meninggalkan aku, ayahku, kekasihku, mereka pergi meninggalkan aku. Kau tidak akan meninggalkan aku, bukan?" tanya Mayumi lagi sambil menatap ke arahnya dengan tatapan memohon.
"Tidak, aku akan selalu ada untukmu sebagai teman! Hanya teman, tidak lebih!" jawab Damian.
"Aku sudah senang walau kau hanya anggap aku teman, thanks Dam-Dam." Mayumi mengencangkan pelukannya, sekarang hanya Damian saja yang dia punya dan dia harap Damian tidak meninggalkannya.
"Ayo kita makan, nanti kau sakit!" Damian melepaskan tangan Mayumi yang melingkar di tubuhnya, "Lain kali jangan memeluk aku seperti ini, aku tidak mau Ainsley melihat dan salah paham!" ucapnya lagi.
"Maaf," Mayumi tampak menunduk dan menggigit bibir.
"Tidak apa-apa, lain kali jangan diulangi lagi. Ayo pergi makan," ajaknya seraya melangkah pergi.
Mayumi memandangi punggungnya, kenapa Damian terasa jauh sekarang? Dia sudah tidak seperti dulu lagi karena dia merasa Damian semakin jauh darinya.
Damian juga mengajak ayahnya untuk makan bersama, mata Jager tidak lepas dari Mayumi, sungguh mereka harus mewaspadai gadis itu dan malam itu tanpa sepengetahuan mereka, informan yang diutus oleh Aland Winstond sudah mendapatkan petunjuk penting.
Walau Damian sudah menutup informasi tentang ayahnya tapi informasi lain bisa didapatkan apalagi sang informan sudah tahu organisasi apa yang dipimpin oleh Jager Maxton dulu. Setelah melakukan penelitian sekian lama, tentu secara diam-diam akhirnya informasi penting dia dapatkan dan informasi itu akan diberikan pada Aland malam ini.
Aland terlihat sudah tidak sabar, dia menunggu sang informan di tempat yang sudah ditentukan agar putranya tidak tahu. Setidaknya informan putranya belum mendapatkan apa pun karena kejadian rekannya yang mati membuat informan yang digunakan putranya bergerak lambat.
Sang informan tiba, membawa sebuah map berisi informasi yang dia dapatkan. Sang informan menghampiri Aland dan meletakkan map yang dia bawa ke atas meja.
"Ini informasinya," ucap sang informan.
"Apa yang kau dapatkan?"
"Aku sudah mencari dengan susah payah dan akhirnya aku menemukan jika Jager Maxton memiliki seorang putra dan putri."
"Lalu? Apa hubungannya?" tanya Aland tidak mengerti.
"Tuan Windstond, kau bisa menemui salah satu dari mereka jika kau ingin bertemu dengan Jager Maxton tapi aku sarankan kau tidak menemui putrinya karena jika kau menyinggungnya maka kau harus siap menghadapi orang yang ada di baliknya!"
Aland mengangguk dan mengambil map yang ada di atas meja. Map dibuka, informasi mengenai putra dan putri Jager Maxton berada di sana beserta alamat mereka. Aland melihat informannya kembali, apakah dia harus pergi menemui putra Jager Maxton? Sepertinya harus dia lakukan karena dia tidak punya pilihan apalagi dia harus menemukan anak haram putranya terlebih dahulu sebelum putranya yang menemukan anak itu.