
Tanpa Anna sadari, Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Dia dan Harry sibuk bekerja sampai lupa waktu. Di ruangan itu sunyi dan nyaman, dia benar-benar berkonsentrasi mengerjakan pekerjaannya. Bahkan beberapa sketsa sudah dia buat yang akan dia perlihatkan pada keluarga Ainsley besok.
Anna mengangkat kedua tangannya ke atas, untuk merenggangkan otot tangannya. Sepertinya dia sudah harus pergi, karena dia harus menemui Marco. Sebenarnya malas, tapi ya sudah. Mereka juga sudah lama tidak bertemu, berbincang sebentar sebagai sahabat tidak menjadi soal. Lagi pula dia ingin tahu, kenapa Marco tiba-tiba kembali.
Sketsa yang dia buat dirapikan, Anna melihat sketsa itu satu persatu karena dia akan memperbaikinya di rumah jika ada yang kurang. Setelah semua selesai di rapikan, Anna beranjak, tempat makan juga tidak lupa dia ambil.
"Terima kasih kau telah mengijinkan aku bekerja di sini, Harry," ucap Anna.
"Hm," jawab Harry sambil melihatnya sekilas.
"Aku pulang dulu, ini alamat rumahku," Anna memberikan sebuah kertas di mana alamatnya sudah tertulis di sana.
"Aku tunggu besok," ucapnya lagi sambil tersenyum.
Harry mengambil kertas itu, matanya tidak lepas dari Anna. Ini baru jam empat, apa Anna sudah tidak sabar untuk bertemu dengan pria yang bernama Marco? Tidak, dia semakin aneh saja. Tidak seharusnya dia mempedulikan hal ini.
"Tidak perlu khawatir, aku pasti datang. Jika kau mau aku akan meminta seseorang mengantarmu pulang," ucap Harry basa basi.
"Terima kasih atas niat baikmu, Harry. Aku mau pergi ke restoran untuk menemui seseorang."
"Restoran?" Harry pura-pura tidak paham.
"Yang tadi menghubungi aku, dia mengajak aku makan di restoran," jawab Anna, dia juga menyebutkan nama restorannya.
Harry hanya mengangguk dan terlihat cuek. Anna mau bertemu dengan siapa untuk apa dia mempedulikannya?
"Jika begitu aku pergi dulu, besok jangan lupa!"
"Aku tahu!" ucap Harry.
Anna tersenyum dan melambaikan tangan, dia keluar dari ruangan Harry dengan perasaan senang. Dia sungguh tidak menduga Harry mau menjemputnya ke rumah, sepertinya dia harus berterima kasih pada Marco akan hal ini. Setelah Anna pergi, Harry tampak tidak konsentrasi. Padahal masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan.
Dia benar-benar benci dengan keadaan ini tapi rasa penasaran memenuhi hati. Harry mengusap wajah dan memaki dalam hati, sebaiknya dia pergi saja dan melanjutkan pekerjaannya di rumah. Laptop dimatikan, jas juga digunakan. Hari keluar dari ruangannya dan pergi ke suatu tempat, dia mengabari ibunya jika dia akan pulang malam agar keluarganya tidak khawatir.
Anna pergi menuju restoran menggunakan sebuah taksi, sepertinya dia terlalu cepat datang tapi itu tidak masalah, dia akan menunggu kedatangan Marco sambil makan apa saja yang ingin dia makan dan Marco yang akan membayarnya nanti.
Dua jenis salad sudah berada di atas meja, itu baru permulaan. Sambil menikmati saladnya, Anna melihat-lihat anggur terbaik yang ada di restoran itu. Dia akan memilih yang paling mahal tentu dengan kualitas terbaik, janji tetaplah janji. Anggur itu akan dia nikmati dengan Harry nanti karena dia berencana mengundang Harry makan malam berdua di rumahnya tentu dengan alasan sebagai ucapan terima kasih, semoga saja Harry tidak menolak.
Anna menunggu kedatangan Marco cukup lama, dia sampai terlihat kesal. Seperti biasa, dia tahu Marco pasti akan terlambat karena pekerjaannya. Itu sebabnya dia tidak suka politikus. Dua jenis saladnya bahkan sudah habis, anggur yang dia pesan sudah tinggal setengah botol.
Anna melihat jam, jika sampai setengah jam lagi Marco tidak datang maka dia akan pergi. Dia benar-benar terlihat kesal dan tidak menyadari jika ada yang mengikutinya dan juga makan di restoran itu. Sepasang mata tidak lepas darinya, dia tidak mengikuti, tidak. Dia hanya ingin makan. Apa pun alasannya yang jelas dia ada di sana dan matanya tidak lepas dari Anna.
Rasa penasaran benar-benar bisa membunuh, dari pada penasaran setengah mati lebih baik dia melihat secara langsung dan tentunya pria itu Harry. Dia sudah berpengalaman menjadi penguntit dan mengikuti Anna yang belum lama menjadi penguntit tidaklah sulit.
Sungguh dia tidak mau seperti itu tapi Anna sengaja memancingnya dengan cara mengatakan restoran apa dia akan bertemu dengan pria yang bernama Marco. Dia akui, gadis itu pintar mengacaukan suasana hatinya. Seharusnya Anna pergi saja tanpa mengatakan nama restoran itu, dengan begitu dia tidak akan berada di sana.
Peduli setan dengan ucapan orang-orang, dia berada di sana untuk menuntaskan rasa penasarannya pada pria yang bernama Marco. Dia ingin lihat, seperti pria yang ingin Anna temui. Harry duduk begitu jauh, agar Anna tidak tahu. Tidak, karena itu sangat memalukan jika Anna melihatnya berada di sana.
Dia bahkan mengajak seorang teman, anggap dia bertemu dengan temannya di sana. Walau dia dan temannya serius berbincang tapi matanya tidak lepas dari Anna apalagi seorang pria menghampiri Anna dengan terburu-buru saat itu dan dialah Marco.
"Sorry, Anna. Ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan," ucap Marco.
"Ck, selalu seperti ini. Sebab itu aku tidak suka politikus!" ucap Anna tanpa basa basi.
Marco diam saja, jadi Anna tidak suka dengan politikus? Karena ayahnya duta besar tentu Anna tidak suka. Marco tersenyum, walau Anna tidak suka tapi dia tetap akan berusaha karena dia sudah dididik ke jalan itu oleh kedua orangtuanya.
"Kau lihat? Saladku sudah habis, anggur ini tinggal setengah karena kau begitu lama!"
"Oke, aku sungguh minta maaf. Apa tidak ada pelukan selamat datang untukku?" tanya Marco seraya membuka kedua tangannya lebar.
"Ck, baiklah. Dasar kau pria sibuk menyebalkan!" Anna beranjak dan menghampiri Marco. Tentu dia memeluk Marco tanpa ragu dan itu pelukan untuk sahabat tapi seseorang merasa panas melihat mereka berpelukan.
"Aku merindukanmu, Anna," ucap Marco sambil memeluk Anna erat.
"Aku tidak! Lepas, jangan sampai ada yang salah paham!" pinta Anna.
Marco melepaskannya dengan berat hati, Anna kembali duduk sambil merapikan penampilannya tanpa tahu ada yang sedang menatap ke arahnya dengan tajam.
"Apa kau akan lama tinggal di sini?" tanya Anna basa basi.
"Yeah, kepulanganku untuk mengejar wanita yang aku sukai dan menikah dengannya," jawab Marco tanpa basa basi karena dia memang ingin Anna tahu jika dialah gadis yang dia sukai.
"Wow, selamat berjuang," ucap Anna tanpa curiga.
Marco tersenyum, tentu dia akan berjuang untuk mendapatkan Anna. Siapa pun pria yang menjadi lawannya, dia tidak akan kalah.
"Lalu kenapa kau tinggal di samping rumahku? Apa rumahmu kurang besar?"
"Aku pindah ke sana supaya aku bisa dekat dengan gadis yang aku sukai, Anna."
"Wah, siapa gadis itu?" Anna benar-benar tidak menaruh curiga sama sekali karena baginya, mereka adalah sahabat.
"Kau akan tahu nanti!" ucap Marco sambil tersenyum.
"Baiklah, selamat berjuang tapi kau tidak boleh mengganggu aku. Oke? Aku juga sedang mengejar pria yang aku sukai jadi kau tidak boleh mengganggu!"
"Seperti apa pria yang sedang kau kejar, Anna?"
"Kebetulan besok dia mau datang ke rumahku, jika kau punya waktu maka aku akan mengenalkan dirinya padamu!" jawab Anna sambil tersenyum.
"Aku menantikannya, Anna. Aku ingin lihat pria seperti apa yang sedang kau sukai," Marco juga tersenyum. Dia juga ingin melihat siapa pria yang sedang dikejar oleh Anna. Apa pria itu lebih baik darinya? Jika pria itu biasa saja maka dapat dia kalahkan dengan mudah tapi tanpa mereka tahu pria itu berada di restoran itu bersama dengan mereka.
Harry duduk sendiri karena sahabatnya sudah pergi. Matanya tidak lepas dari Anna dengan perasaan tidak menentu. Ini tidak benar, tidak seharusnya dia datang dan melihat. Sepertinya dia sudah melakukan hal konyol dan ini memalukan. Sebaiknya dia pergi, bukankah dia tidak tertarik dengan Anna Cedric?
Harry beranjak, pergi dari restoran. Lebih baik dia pulang karena semakin dia ingin tahu, semakin dia terjerumus. Walau ada rasa aneh dan penasaran tapi dia mengabaikannya dan melangkah pergi.