Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Sekarang Kita Adalah Buronan



Anna begitu senang, itu terlihat dari senyumnya yang terukir di bibir. Selama di perjalanan menuju rumah keluarga Ainsley, Anna melirik ke arah Harry sesekali. Dia benar-benar tidak menyangka, jika Harry akan menciumnya.


Harry cuek saja, dia tidak mempedulikan Anna karena dia fokus pada mobil yang sedang mengikuti mereka. Dia kira itu hanya pengendara lain, tapi semakin lama membuatnya semakin curiga jika mobil itu memang mengikuti mereka.


Ini pertama kali dia pergi ke rumah Ainsley, tapi dia tahu tempatnya. Harry membelokkan mobilnya, tapi dia semakin fokus pada mobil yang ada di belakang mereka.


"Ada yang mengikuti kita," ucap Harry.


"Apa?" Anna berpaling, melihat ke arah belakang dan benar saja sebuah mobil mengikuti mereka.


"Oh my God, pasti itu pengawal Daddy," ucap Anna.


"Apa? Apa maksudmu?" Harry melirik ke arah Anna sejenak. Dia sungguh tidak mengerti apa maksud wanita itu.


"Selamat, Harry," senyum Anna semakin makin manis, "Sekarang kita adalah buronan," ucapnya.


"Hei, apa maksud ucapanmu?" Harry masih belum mengerti.


"Aku sedang diburu oleh pengawal ayahku dan jika mereka adalah pengawal ayahku berarti mereka sudah melihat dirimu. Jadi aku rasa kau juga akan diburu oleh mereka, Harry," ucap Anna lagi.


"Sial!" Harry mengumpat, "Kau membuatku dalam masalah!" ucapnya lagi.


"Sorry," Anna jadi merasa bersalah. Dia harap dua pengawal ayahnya tidak menangkap Harry dan memukulnya karena dia curiga dengan rencana sang ayah. Ayahnya pasti akan melakukan apa pun agar dia gagal mendapatkan pria yang dia sukai.


"Sekarang bagaimana? Apa aku harus melenyapkan mereka?" tanya Harry.


"Wow, jangan! Mereka pengawal yang terlatih, apa kau bisa menyingkirkan mereka? Lagi pula ayahku akan sangat marah jika pengawalnya sampai terbunuh," ucap Anna.


Harry melirik ke arah Anna, jika begitu tidak ada salahnya menakuti mereka, bukan? Sepertinya dia bisa meminta bantuan Damian. Akan dia lakukan jika kedua pengawal itu bertindak di luar batas.


"Aku minta maaf, aku tidak bermaksud melibatkan dirimu. Aku lupa jika mereka selalu mengawasi aku, mereka pasti melihat kita keluar dari apartemen tadi," Anna semakin merasa bersalah.


"Sudahlah, apa waktu itu kau menghindari kejaran mereka?"


"Waktu itu?" Anna memandangi Harry, apa Harry melihatnya melarikan diri dari kejaran dua pengawal ayahnya?


"Yeah, sewaktu pergi dari cafe tanpa sengaja aku melihat seorang gadis buta berlari dengan lincahnya tanpa menabrak apa pun."


Anna terkekeh, ternyata Harry melihatnya. Dia jadi malu, dia sungguh tidak menyangka Harry melihatnya melarikan diri seperti orang gila waktu itu.


"Jadi, bagaimana kita bisa menghindari kejaran mereka?" Anna melihat ke belakang untuk melihat mobil pengawal ayahnya.


"Setelah ini kita lihat mereka masih berani mengikuti kita atau tidak!" Harry membawa mobilnya semakin cepat, begitu juga yang dilakukan oleh pengawal ayah Anna. Mereka berniat mencegat Anna dan Harry lalu memukul Harry sampai babak belur sebagai peringatan jika Harry tidak boleh berada di sisi Anna.


Mereka harus melakukan sesuai perintah, jika tidak ada Harry maka Marco bisa mendekati Anna tanpa gangguan dan menunjukkan perasaannya pada Anna selama Anna berusaha mengejar cintanya. Saat Anna sudah memiliki perasaan pada Marco, maka pernikahan mereka yang sudah terencana akan berjalan dengan mudah sebab itu kedua pengawal itu bertugas memberi peringatan kepada Harry agar dia menjauhi Anna.


Mobil dibawa semakin cepat, mereka memasuki wilayah sepi karena tidak terdapat rumah disekitar daerah itu. Anna melihat sekeliling dan tampak heran, apa mereka tidak salah jalan?


"Harry, kenapa kau lewat jalan ini? Apa kau sengaja memancing mereka?"


"Tidak, tujuan kita memang di sini!"


Anna semakin heran, matanya menatap lurus ke depan dan kembali melihat sekeliling yang bagaikan sebuah taman. Matanya kembali melihat ke depan di mana sebuah rumah megah berdiri sendiri. Tidak ada bangunan lain selain rumah megah itu, mata Anna bahkan melotot melihat bangunan yang hampir seluas stadion sepak bola. hal itu wajar karena rumah itu dibuat agar semua keluarga Smith bisa muat saat mereka semua berkumpul.


"I-Itu rumah keluarga Aisnley?" tanya Anna tidak percaya.


"Yeah," jawab Harry singkat.


"Oh my God, siapa sebenarnya Ainsley?"


"Kau akan tahu nanti!"


Mobil yang dibawa oleh pengawal Anna berhenti, mereka mulai sadar jika mereka tidak boleh lanjut mengejar. Kamera cctv di mana-mana, mereka juga tahu itu bukan kawasan adu balap dan kawasan untuk memukul seseorang. Mereka memutuskan untuk berhenti karena mobil Harry terus jalan mengarah ke arah rumah megah yang ada di depan sana. Sepertinya mereka akan ke rumah itu dan memang, Harry membelokkan mobilnya memasuki pekarangan rumah tapi sebelum itu, dua orang menahan mobilnya untuk diperiksa.


Anna menelan ludah, kedua orang yang menahan mereka terlihat lebih menakutkan dari pada dua pengawal ayahnya. Sepertinya Ainsley memang bukan orang biasa.


Harry menurunkan kaca mobil saat salah seorang penjaga itu menghampiri mereka.


"Ada perlu apa?"


"Kami sudah membuat janji dengan Ainsley," jawab Harry. Sungguh dia tidak menyangka rumah itu di jaga dengan ketat.


"Nama?" penjaga itu kembali bertanya.


"Harry, katakan Harry dan Anna ingin menemuinya."


Si penjaga mengangguk, dia berjalan pergi dan berbicara dengan seseorang menggunakan talkie walkie.


"Tiba-Tiba bulu romaku meremang," ucap Anna seraya mengusap lengan.


"Aku juga," ucap Harry.


"Serius?" tanya Anna tidak percaya.


"Aku hanya bercanda."


"Menyebalkan," Anna menoleh, untuk melihat pengawal ayahnya dan benar saja mereka sudah tidak mengejar bahkan mereka sedang menghubungi ayah Anna saat itu untuk memberi laporan.


Harry dan Anna dipersilahkan untuk masuk, Ainsley sudah menunggu kedatangan mereka. Ternyata tidak keluarganya saja, keluarga Edward juga ada. Kedua kakak iparnya juga berada di rumah, itu sebabnya Ainsley meminta Anna datang pada hari itu.


Aisnley menunggu mereka di depan pintu, mata Anna tidak lepas dari rumah megah yang berdiri di hadapannya.


"Oh, God. Kakiku lemas," ucap Anna saat dia turun dari mobil.


"Awas jika kau pingsan, aku akan menyerahkan kau pada pengawal ayahmu!" ancam Harry.


"Jangan! Aku lebih suka kau membawaku ke kamarmu dan membaringkan aku di atas ranjangmu!"


Harry menggeleng, pintu mobil di tutup. Mereka melangkah bersama mendekati Ainsley yang sudah menunggu mereka sedari tadi.


"Aku ingat ada seseorang yang memiliki kekuasaan seperti ini, aku tidak begitu tahu tapi ayahku bilang tidak boleh menyinggung orang ini dan tidak boleh cari gara-gara dengannya," ucap Anna.


"Oh ya?" Harry melirik ke arahnya sekilas.


"Sungguh, tapi aku tidak tahu siapa orangnya bahkan waktu itu aku sempat mengikuti ayahku yang diundang ke acara pernikahan salah satu putra dari orang itu," Anna memandangi rumah itu kembali, jangan-jangan Ainsley adalah bagian dari orang yang dimaksud oleh ayahnya.


"Kenapa begitu lama?" tanya Ainsley.


"Sorry, kami makan terlebih dahulu," jawab Anna.


"Tidak apa-apa, ayo, semua sudah menunggu!" Ainsley menarik tangan Anna masuk ke dalam rumah, sedangkan Harry mengikutinya dari belakang.


Di luar sana, dua pengawal memutar mobilnya untuk kembali sesuai dengan perintah ayah Anna. Entah siapa yang sedang ditemui oleh putrinya, dia tidak boleh membuat keributan di wilayah orang lain sehingga menimbulkan masalah dan mengancam posisinya saat ini.


Tapi bukan berarti kedua pengawal itu akan berhenti, mereka sudah melihat wajah Harry dan mulai sekarang tidak saja harus menangkap Anna, mereka juga bertugas untuk memberi Harry pelajaran.