
Angel merasa kesal pada Andrean memutuskan mengunjungi salah satu rumah sakit milik temannya di kota itu.
Teman Angel merupakan seorang psikiater juga anak dari pemilik rumah sakit tempatnya praktik.
Dia membutuhkan teman untuk berbicara dan mengurangi rasa galaunya. Mungkin dia akan bisa cepat melupakan si pria dingin bernama Andrean itu.
Entah apa yang ada di pikiran Angel. Dia memang marah dan kecewa, namun di lain sisi dia masih menyayangi Andrean.
Ya bagaimana mungkin dia bisa menghilangkan rasa cintanya dalam waktu singkat sedangkan sejak kuliah dan mengenal Andrean diam-diam Angel sudah menaruh rasa kagum.
Hingga lama kelamaan Angel merasakan kagum itu kian merekah menjadi perasaan mencintai lawan jenis. Berkali-kali Angel berusaha abai namun dia kalah juga. Dia terlalu terbawa perasaannya dan rela bertahan dan merendahkan ego-nya untuk mendekati Andrean terlebih dahulu.
Sayangnya cinta itu tak berbalas bahkan dia mendapatkan kata-kata dari Andrean yang tentu akan sangat menusuk saat di dengar siapa pun.
Di lorong rumah sakit yang terlihat sepi itu Angel terus berjalan cepat. Bukan karena takut di kejutkan sang suster ngesot dan teman-temannya yang mungkin kisahnya sering kita dengar selama ini jika ada di rumah sakit.
Namun karena Angel sudah tak sabar ingin meluapkan kekesalannya pada sang teman.
"Pa, gimana ini. Anak kita hamil. Laki-laki itu orang miskin. Masa kita punya menantu seperti itu?"
"Tenang Ma. Papa punya ide. Nanti suruh Shakilla dandan yang cantik dan ikut ke restoran. Papa akan atasi ini"
"Memangnya pria itu mau dengan Shakilla?"
"Mau tidak mau tetap dia tidak akan bisa menolak jika dia bangun tidur sudah satu ranjang dengan Shakilla. Apalagi jika setelah itu kita bilang Shakilla hamil"
"Pa..."
Sekilas Angel mendengar pembicaraan unfaedah itu saat menuju ke ruangan teman sejawatnya yang beda negara praktek itu.
"Gila. Masih jaman ngejebak orang ya. Licik banget" Gumam Angel lalu berjalan cepat untuk menemui sang teman.
Tiba di ruangan sang teman tanpa mengetuk pintu langsung saja Angel masuk. Sebelumnya mereka memang sudah berjanjian di waktu itu sehingga tak ada pasien yang di tangani sang teman.
"Hei *****!" Sapa Wina yang lalu cipika-cipiki dengan Angel.
"Hei! Sorry ganggu ya" Ucap Angel sambil tersenyum.
"Ya anggap saja Aku ngurus pasien patah hati" Ucap Wina sambil menertawai Angel.
"Sialan kau ini. Teman lagi galau malah di ledek" Ucap Angel kesal.
"Siapa suruh bodoh! Udah tau dari dulu dia masih cinta sama perempuan lain, tapi masih saja mau kau tunggu! Bodoh!" Ucap Wina yang puas menertawakan sang temannya yang galau itu.
Angel hanya bisa diam di tertawakan sang teman. Meskipun kesal namun apa yang di katakan Wina itu benar. Angel yang memilih terus bertahan dan mencoba, ya siapa tahu Andrean bisa luluh dengan perjuangan Angel.
Namun ternyata wajah cantik Angel tak secantik nasib cintanya. Dia tetap tidak bisa merubuhkan dinding hati Andrean yang dingin dan terus menyembunyikan Linny di dalamnya.
"Udah-udah jangan galau. Mau minum kopi atau teh?" Tawar Wina sambil tersenyum.
"Kopi aja" Jawab Angel singkat.
Keduanya berbicang hingga waktu berganti malam. Angel di antar oleh temannya setelah sempat melipir ke salah satu cafe untuk makan malam.
Begitu Angel tiba di hotel Alexxander dia segera menuju ke restoran di hotel tersebut. Niat hati ingin diet malah di batalkan karena hatinya yang kacau dan merasa butuh makanan manis.
Angel menuju ke restoran dan memesan choco lava cake untuk dia nikmati sendiri. Setelahnya dia menuju ke toilet untuk mencuci tangan sebelum kembali ke kamar.
"Pa. Yakin ini aman? Apa boleh begini?"
"Tenang saja. Andrean orang yang baik. Dia orang kepercayaan CEO Kim. Masa depannya bagus. Dia tidak akan curiga kalau kita menjebaknya saat Shakilla sudah hamil"
"Tapi Pa. Bagaimana jika ada yang tahu?"
"Tenang, waiters yang memasukkan obat itu sudah Papa kasih uang. Dia gak akan berani ngomong, Ma. Mending Mama pesankan kamar untuk Shakilla dan Andrean"
"Tapi perasaan Mama gak enak Pa"
"Tenang. Andrean kalau menolak itu akan mempengaruhi nama baik CEO Kim, dia kan asisten kepercayaannya"
Mata Angel melotot horor mendengar percakapan suami istri itu. Mereka orang yang sama yang tak sengaja Angel dengar percakapannya siang tadi di Rumah sakit.
Merasa tindakan kedua orang tua itu sangat buruk membuat Angel membuntuti mereka hingga akhirnya Angel berhasil menyelamatkan Andrean dari situasi yang menjebak itu.
.
Dan kini.... Angel yang terjebak. Dia terjebak di antara ingin bersama Andrean namun juga tau jika perbuatan yang akan mereka lakukan itu salah.
Apalagi Andrean terang-terang berkata tidak menyukai Angel dan Angel bukan siapa-siapa baginya. Tapi sentuhan Andrean kini malah semakin memabukkan.
Sungguh mengerikan efek obat yang di minum Andrean tanpa dia sadari itu. Atau memang Andrean se-liar itu tapi selalu dia tahan keinginan dan hasratnya?
Entah sejak kapan pakaian atas Angel sudah terbuka semua. Dia sudah bertelanjang dada di hadapan Andrean.
Andrean tampak menyentuh dan menyesap dengan rakus dada Angel tanpa ampun hingga erangan sensual Angel pun terdengar jelas.
"Ah~ Dre.. Stop it" Ucap Angel menahan gairahnya yang kian memuncak di sentuh oleh Andrean.
Andrean berhenti dan menatap mata Angel dengan dalam. Melihat tatapan Andrean yang begitu hangat membuat Angel tidak bisa lagi menolak Andrean.
Keduanya kini sama-sama polos. Andrean tampak berusaha memasuki milik Angel dengan kasar. Reaksi obat di tubuhnya membuat Andrean tidak bisa menahan desakan itu.
"Akh! Sakit!" Angel berteriak menahan sakit di inti tubuhnya.
Tangan Angel terus berusaha mendorong Andrean untuk menjauh dari tubuhnya akibat rasa sakit saat selaput daranya terkoyak dengan kasar
Ya Angel masih gadis. Namun tidak lagi saat ini.
Kuku Angel mengores punggung Andrean saat Angel menahan sakitnya itu.
Andrean terhenti, sejenak otaknya menyadari apa yang dia lakukan itu salah. Dia sudah mengambil kehormatan Angel.
Namun tubuhnya tidak ingin berhenti. Andrean menyicipi setiap inci tubuh Angel dan dengan kasar Andrean terus mencumbunya.
Angel hanya pasrah dan diam di perlakukan kasar begitu. Seolah dia seperti benda mati tak bernyawa dan hanya pelampiasan karena Andrean tak sedikit pun memperlakukannya dengan lembut ataupun menyebut namanya.
Tubuh Andrean hanya terus memacu kasar hingga berkali-kali Andrean membuang ****** ***** itu di dalam tubuh Angel.
Waktu menunjukkan pagi sudah tiba. Perlahan Andrean membuka matanya. Masih terasa berat kepalanya akibat efek semalam.
Tak lama kesadarannya terkumpul. Andrean melihat ke sekeliling ruangan mencari Angel.
"Gel!! Angel!!!" Teriak Andrean panik.
Andrean melihat bercak darah di atas tempat tidur dan dirinya yang juga masih dalam kondisi tanpa busana.
Andrean mencoba masuk ke dalam kamar mandi berharap Angel ada di sana namun nihil. Dan hal yang baru dia sadari juga koper Angel sudah tidak ada di kamar itu.
"Argh! Sial!!!" Teriak Andrean kesal.
Akibat pria gila itu membuat Andrean harus meniduri temannya sendiri. Dan yang lebih gawat wanita itu sudah dia sakiti hatinya. Bahkan kini dia juga yang mengambil kehormatan Angel.
Andrean mencari ponselnya dan mencoba menghubungi Angel.
Sia-sia, wanita itu tidak mau mengangkat teleponnya.
Andrean langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum menuju ke kantor. Setidaknya dia ingin menenangkan pikirannya agar tidak semakin kalut.
Tiba di kantor mood Andrean sangat buruk. Melebih apapun dan auranya tampak mengerikan membuat semua karyawan takut melihatnya.
"Ke mana kau semalam? Mama bilang kau tidak pulang dan tidak memberi kabar setelah bilang mau makan malam dengan rekan bisnis perusahaan"
Ucap Sisilia yang tanpa ijin masuk ke ruangan Andrean.
Andrean menatap Sisilia dengan wajah yang masih kacau dan bingung.
"Kau ngamar???"
.
.
.