
NOTE : BAB INI MENGANDUNG ADEGAN KEKERASAN DAN MAFIA! MOHON TIDAK UNTUK DITIRU! KHUSUS 18+! HARAP MEMPERHATIKAN USIA LAYAK BACA!
"Hallo"
"..."
"Benarkah? Om di mana?"
"..."
"Aku segera ke sana sekarang"
Mobil Linny bergerak menuju ujung kota tempat tinggalnya. Wajah Linny tampak tersenyum kecil namun terpancar aura mengerikan. Sepertinya sesuatu sudah membuatnya sangat puas.
Linny tiba di sebuah rumah yang tampak minimalis berlantai dua. Rumah itu terletak di ujung kota bahkan masuk ke dalam jalan yang kiri kanannya penuh banyak pohon-pohon rindang yang tampak menyeramkan bagi orang biasa.
Linny disambut beberapa pengawal berbaju hitam yang tampak menyeramkan.
"Selamat datang Nona Linny. Tuan ada di ruang bawah" Sapa salah satu pengawal lalu mengantarkan Linny turun ke ruang bawah tanah rumah itu.
"Hei sayang. Kau sudah tiba?" Sapa Om Donald yang tampak menyalakan cerutu-nya sambil memperhatikan seseorang disiksa di dalam sel buatan miliknya.
Wajah orang itu tampak penuh luka lebam pukulan bahkan darah mengalir di seluruh tubuhnya. Orang itu mengangkat kepalanya melihat kehadiran Linny. Wanita yang tampak cantik namun auranya mengerikan saat menatap tajam.
"Dia Agus, orang yang sudah menyiksa MILIKMU hingga bertahun-tahun dan membuatnya kecanduan dengan terong lemah dan konyol itu" Ucap Om Donald sambil terkekeh memikirkan masih ada makhluk yang kelainan **** dan menjebak yang lainnya turut menjadi seperti dirinya.
"Oh, jadi ini manusia laknat itu? Apa boleh aku melihat dia di siksa algojo mu Om?" Tanya Linny dengan senyum yang sangat mengerikan.
"Siksa yang bagaimana lagi? Siksaan yang seperti itu tidak cukup?" Tanya Om Donald heran dengan perkataan Linny. Siksaan apa lagi yang Linny harapkan terjadi pada Agus.
Meskipun Linny seorang wanita, Om Donald paham betul mental Linny jauh lebih kuat dari pria mana pun setelah semua hal yang menimpa hidupnya.
Linny bahkan sesungguhnya lebih sadis dari pada dirinya yang hanya akan melenyapkan orang langsung tanpa banyak bermain-main. Tapi Linny berbeda, melihat cara Linny yang hampir membunuh Carlos sudah menunjukkan wanita itu tidak kenal kasihan terhadap orang yang mencoba melukai atau menyentuh apa pun yang ada padanya.
"Alfa. Panggil Sean kemari" Titah Linny.
"Baik Nona" Jawab Alfa lalu keluar dari ruang bawah tanah itu untuk menghubungi Jun membawa Sean ketempat mengerikan itu.
Om Donald masih menatap heran pada Linny.
"Bersihkan tubuhnya. Berikan dia makanan dan obat. Dia belum boleh mati dengan mudah" Ucap Linny.
Semua algojo menatap Om Donald sebelum melakukan apa yang diperintahkan Linny.
"Lakukan saja. Pria itu mainannya putri ku" Ucap Om Donald yang langsung dipahami algojo milik Om Donald.
Agus tampak bingung dengan apa rencana Linny menyiksanya. Agus tidak tahu bahwa dia akan merasakan siksaan yang pernah dia lakukan pada Sean dulu. Agus memang seorang Gay namun dia tidak pernah mau di gunakan oleh seorang pria. Dia haus akan hasrat dan selalu dominan, dia ingin dirinya yang menyiksa orang dan melihat orang itu kesakitan.
Tubuh Agus yang sudah dibersihkan tampak lebih segar terlebih mereka memaksa Agus untuk makan makanan yang entah apa rasanya. Lagi pula Linny hanya menyuruh memberikan dia makan agar tidak mati, bukan memberikan makanan yang enak untuk Agus.
Sejam kemudian Sean tiba, dia kebingungan masuk ke ruangan bawah tanah itu. Dia mencium bau anyir darah menusuk hidungnya. Sean tentu tidak terbiasa dengan hal itu.
Sean melihat Linny dan Om Donald duduk di sofa disudut tempat itu tampak bersantai. Meskipun itu ruang bawah tanah namun sirkulasi udaranya terjaga dengan baik. Hanya saja bau anyir darah membuat Sean tidak nyaman.
"Linny... Om..." Sapa Sean mendekati Linny dan Om Donald yang tampak membahas sesuatu cukup serius.
"Oh kau sudah datang. Aku punya hadiah bagus untuk mu" Ucap Linny dengan santai sambil melirik ke arah sel yang berisi Agus yang mulai tampak segar sehabis siksaan yang dia dapatkan meskipun masih tampak beberapa luka-nya yang mengalirkan sedikit darah.
"Itu?? Om Agus??" Sean terkejut melihat Agus yang sudah tak lagi muda namun tubuhnya cukup terawat dan masih kekar seperti dulu.
Agus sudah berumur lebih dari setengah abad itu tampak tersenyum meremehkan Sean.
"Dulu seperti apa dia menyiksa mu, maka akan aku pastikan dia merasakan siksaan itu sampai dia meminta untuk mati saja" Ucap Linny menatap tajam pada Agus.
Mendengar hal itu tentu Agus ketakutan, dia bukannya tidak tahu seberapa sakit lubang itu dipaksa masuk benda yang tak terlalu tajam milik pria dewasa.
Dahulu Agus pernah hampir di masuki pacar gay-nya dulu, baru saja benda itu menempel sedikit sudah membuatnya sakit hingga mau mati rasanya.
Namun dia beruntung pacar gay-nya dulu sangat lemah hingga tidak mampu melakukan hal itu pada Agus. Selain itu Agus bisa melihat banyaknya pria muda yang menjerit kesakitan akibat rudapaksa pada lubang tak semestinya itu.
"Tidak, aku tidak mau. Lebih baik kau bunuh aku saat ini juga!!!" Ucap Agus tidak ingin disiksa dengan cara itu.
"Aku tidak memberimu pilihan bangsttt. Kau berani melakukan hal menyiksa itu pada pria-pria muda sampai saat ini, maka kau juga harus tahu rasanya!" Tegas Linny.
Linny sudah meminta Om Donald mencari tahu tentang semua bisnis haram Agus. Agus terkenal baik di luar sana, sering membantu anak yatim piatu, kaum duafa juga orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal.
Namun ternyata dibalik kebaikannya. Banyak anak-anak laki-laki yang menjadi korbannya dan juga dijualnya pada sesama komunitasnya yang gay juga paedofil.
"Linny..." Sean menatap Linny seolah berkata jangan. Dia sudah pernah menderita hingga bertahun-tahun menjadi budak siksaan Agus.
Dia tahu betul rasa sakit itu sangat menyiksa dan tidak nyaman. Bahkan bisa-bisa lubang itu rusak karena siksaan kasar kaum sodom itu.
Berbeda dengan cara bermain lembut dan sama-sama menginginkan hal itu tentu akan jauh lebih nyaman dan tidak melukai. Sean mengingat rasa sakit itu saja membuat perutnya mual.
"Diam dan lihat saja Live Show terbaik. Mahluk seperti dia tentu harus diberi rasa akan kesakitan para korbannya sebelum dia meregang nyawa agar dia bisa membawa rasa sakit dan penyesalan itu sampai ke neraka" Ucap Linny terdengar dingin.
Linny tampak benar-benar tidak peduli dan tidak bisa diganggu keputusannya itu.
"Enggak!! Aku enggak mau!!! Sean!!! Bunuh aku aja sekarang Sean!!! Bunuh aku!!!" Teriak Agus yang ketakutan saat Algojo-algojo milik Om Donald menarik tubuhnya dan memegang kedua tangan dan kakinya serta membuka semua pakaian Agus.
Salah satu Algojo itu mencambuk tubuh Agus bahkan mengenai si otong milik Agus hingga dia merintih kesakitan. Bayangkan saja para pria yang kulit si otong tergores sisi resleting celana atau terjepit sedikit. Sakit bukan? Nah rasa sakit yang dirasakan Agus beribu-ribu kali lipat di banding hal itu.
Sean menutup matanya melihat Agus yang mulai disiksa sebelum di rudapaksa oleh algojo milik Om Donald. Algojo itu bukan lah pecinta sesama jenis, namun sudah tugas mereka mematuhi apa pun yang disuruh oleh Tuan mereka.
Bayangan rasa sakit Sean saat disiksa Agus membuat Sean meringis, dia paham betul kesakitan itu.
Linny menggenggam erat tangan Sean dan menatap Sean dengan penuh perasaan.
"Aku akan melindungimu, lihat semua orang yang mencelakaimu akan merasakan hal yang sama saat mereka melukaimu. Mata dibayar mata, jangan terlalu baik dan naif Sean. Aku yakin kau juga ingin manusia laknat itu menderita atas semua perlakuan buruknya. Setelah ini hapus semua ingatan mu tentang manusia laknat itu. Mengerti?" Ucap Linny menasihati Sean.
Mungkin sakit melihat adegan yang pernah dia alami tapi Linny tahu, di dalam hati Sean dia ingin sekali membunuh Agus namun dia tidak punya keberanian itu. Maka Linny yang akan membunuh Agus untuk Sean.
Agus kembali menjerit kesakitan, ternyata algojo-algojo itu mulai memasuki lubang milik Agus. Tentunya itu sangat sakit karena tidak ada sentuhan lembut, hanya penyatuan kasar tanpa bantuan cairan apa pun. Ditambah pada algojo itu bertubuh besar dan tentu milik mereka sangat besar dan panjang.
Sean saja bergidik ngeri melihat hal itu terjadi pada Agus. Agus melolong kesakitan meminta ampun. Hingga dia pingsan karena tidak tahan rasa sakit yang dia rasakan pada lubang belakangnya. Tampak lubang itu mengeluarkan darah. Punggung Agus juga sudah penuh luka sayatan cemeti.
Setiap Agus pingsan maka Linny menyuruh orang-orang untuk menyiramnya hingga dia bangun dan terus disiksa lagi. Agus hampir menjadi manusia zombie. Dia seperti kehilangan nyawa dan tenaganya. Seluruh tubuhnya sakit, bukan hanya sakit karena pukulan saja. Tapi juga rasa seluruh tulangnya seolah patah di waktu bersamaan hingga ujung rambutnya pun terasa sakit.
Om Donald menatap Linny seolah berkata ' Sudah akhiri saja Linny, sudah cukup '.
Linny menatap Agus yang tampak pucat dan menangis, bibirnya terus berkata "Maaf, sakit, ampun"
Linny mengeluarkan sebuah pistol yang dia selipkan di pinggangnya. Sean terkejut Linny membawa senjata api bersamanya.
Diarahkannya pistol itu pada Agus. Linny menatap Sean sebelum mengakhiri hidup manusia laknat di hadapannya.
"Tutup mata dan telinga mu. Kau tidak akan kuat melihat monster sepertiku mengakhiri hidup orang" Ucap Linny lalu menembaki tubuh Agus dengan 10 peluru di dalam pistolnya.
Agus tergeletak bersimbah darah. Di saat-saat kesadaran dan jiwanya yang sudah akan terpisah dari raga. Agus menatap Sean. Bibirnya tampak berucap "Maaf".
.