A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Honeymoon..



Sean dan Linny tampak bersiap menuju bandar udara. Keduanya membawa perlengkapan secukupnya saja. Selebihnya jika butuh mereka akan membelinya di Thailand.


Sebuah pesawat pribadi tampak di siapkan untuk keduanya. Mereka akan berlibur menaiki pesawat pribadi dan tentunya di kawal oleh bodyguard khusus mereka.


"Bersantailah. Jangan pikirkan soal perusahaan. Ada aku dan Andrean" Ucap Sisilia yang turut mengantar Linny ke bandara.


"Okey. Jaga kandungan mu baik-baik" Ucap Linny mengingatkan.


"Tenang saja. Aku tau. Sana berangkat lah. selamat bersenang-senang dan segera berikan aku keponakan. Mana tau nanti anak kita bisa kita jodohkan" Ucap Sisilia dengan jahilnya.


"Kau ini" Linny mencubit pipi Sisilia yang masih tetap sama meskipun sudah menjadi istri orang dan akan segera menjadi ibu itu.


"Bye. Have fun ya" Ucap Sisilia.


Sean menggandeng Linny memasuki ruang check in khusus. Juga pengecekan paspor. Jalur mereka tentu khusus karena mereka menaiki pesawat pribadi.


Di dalam pesawat pribadi tampak dua pramugari dan satu pramugara bertugas mengurus Linny dan yang lainnya.


"Nona mau minum apa?" Tanya salah satu pramugari.


"Apa saja" Ucap Linny singkat.


"Baik Nona" Pramugari itu segera menyediakan dua gelas jus untuk Linny dan Sean.


Sean dan Linny dengan santai menikmati fasilitas itu. Sean tersenyum melihat Linny yang sudah lebih tenang dan tak terlalu banyak pikiran lagi.


"Kenapa?" Tanya Linny saat Sean terus menatapnya.


"Tidak. Hanya ingin memastikan kau baik-baik saja" Ucap Sean sambil tersenyum manis.


"Ck! Kau ini"


Linny tampak berdecak kesal. Dia merasa pertanyaan Sean tidak penting.


"Sayang" Panggil Sean dengan nada menggoda Linny.


"Ck! Sayang apaan" Linny tampak merasa tidak nyaman dengan panggilan itu.


"Astaga. Kan itu romantis" Ucap Sean yang mulai menunjukkan jurus mengambek.


Linny yang melihat perubahan wajah Sean menjadi bingung. Kenapa pria satu itu belakangan sangat gampang mengambek.


"Apa sepenting itu sebuah panggilan?" Tanya Linny bingung.


"Sangat" Jawab Sean dengan jutek-nya.


Linny hanya menepuk jidatnya merasa heran dengan keinginan Sean.


"Kau ini. Bukan lagi anak SMA kenapa harus ada panggilan begitu?" Tanya Linny.


"Tetap saja penting menurutku. Tapi kalau kau rasa tidak penting ya sudah" Ucap Sean lalu sibuk dengan iPad-nya.


Sean memilih diam dan sibuk menonton film yang sudah dia download. Dia mengabaikan Linny yang merasa kebingungan dengan sikap Sean.


"Ya sudah kau mau di panggil apa?" Tanya Linny mengalah.


Jika di biarkan Sean akan terus mengambek sepanjang honeymoon mereka. Rasanya tidak lucu jika mereka bertengkar hanya masalah nama panggilan sayang itu.


"HoneyBee?" Tanya Sean antusias.


"Hah??" Linny merasa geli dengan panggilan honey itu.


"Kenapa?" Tanya Sean yang melihat ekspresi Linny tampak geli dan tidak suka itu.


"Selain itu? Apa tidak ada panggilan yang lain?" Tanya Linny berusaha agar Sean tak lagi mengambek.


Sean tampak tidak ingin memilih istilah panggilan sayang lainnya. Akhirnya Linny mengalah.


"Okey. Panggil Bee aja ya. Tanpa Honey-nya. Bisa diabetes nanti" Ucap Linny.


Sean tersenyum bahagia dengan pilihan Linny.


"Okey. My Bee" Ucap Sean sambil mengecup pipi Linny.


"Sudah puas kan? Mas?" Tanya Linny kembali meledek Sean.


"Ck! Panggil aku Bee juga" Ucap Sean protes.


Linny tertawa melihat ekspresi kesal Sean. Sangat lucu baginya bisa menggoda Sean.


"Tidurlah. Semalam tampaknya kau tidak bisa tidur nyenyak" Ucap Sean sambil mengelus kepala Linny  perlahan.


"Hmm" Linny kemudian memejamkan matanya sejenak.


Sebuah pulau di Thailand yang begitu indah di kelilingi laut dan sangat cocok bagi pasangan yang ingin berbulan madu.


Pesawat kembali terbang menuju kho sa mui. Tiba di pulau itu sudah ada mobil mewah yang menunggu dan menjemput rombongan Sean - Linny.


Mobil melaju menuju salah satu penginapan. Keduanya mendapat kamar dengan private pool di dalamnya. Sean dan Linny langsung merebahkan diri sejenak karena cukup lelah dengan perjalanan itu.


"Nanti malam mau ke pasar malam di sini?" Tanya Sean pada Linny.


"Tentu. Sudah sampai di sini mana mungkin hanya diam di kamar saja" Ucap Linny.


"Aku malah ingin kita sepanjang hari di kamar" Ucap Sean dengan nada menggoda.


"Kau ini. Sudahlah. Aku ingin mandi"


Linny langsung menuju kamar mandi di ikuti oleh Sean.


"Kenapa ikut?" Tanya Linny heran.


Dia berharap bisa mandi dengan tenang sendirian namun sepertinya Sean tak mau sedikit pun kehilangan moment bermesraan dengan Linny.


"Aku juga mau mandi, Bee" Ucap Sean dengan manja.


"Astaga. Nanti saja. Aku duluan" Ucap Linny mendorong Sean agar tak ikut masuk ke dalam kamar mandi.


"No. Kita mandi bareng" Ucap Sean langsung memeluk Linny.


Ya sudahlah bisa kita bayangkan pemirsa. Adegan mandi plus-plus tengah terjadi. Sean sedang berusaha keras menghasilkan Sean junior secepat mungkin.


Jadi demi keamanan dan kenyamanan hati para jomblowan dan joblowati maka Author memutuskan untuk skip adegan kamar mandi yang panas itu.


Tenang saja, author juga merasakan mirisnya kok. Jadi sangat paham T.T


.


.


Malam tiba, Sean dan Linny memutuskan untuk berjalan-jalan di pasar malam yang ada.


Mereka tampak berjalan bersama di ikuti para bodyguard mereka.


Sean dan Linny mencoba berbagai jenis makanan ringan hingga makanan berat. Tentunya para body guard-nya juga kebagian menikmati makanan enak di negara itu.


Hingga menjelang malam mereka memutuskan bersantai di bar pinggir pantai sambil menikmati musik dan atraksi roda api.


Malam yang begitu indah untuk mereka. Linny tampak bersandar di bahu Sean. Mereka begitu menikmati perjalanan hari ini.


Setidaknya mereka cukup nyaman dan bahagia, meski Linny masih waspada namun dia cukup bisa bersantai.


Karena bukan hanya body guard-nya saja yang berjaga. Tapi orang-orang bawah tanah milik Santo Wisnu Negara turut menjaga keamanan mereka.


"Linny?"


Seseorang menyapa Linny dari belakang.


"Loh? Santo? Kau ke sini juga?" Tanya Linny terkejut bertemu Santo Wisnu Negara dan tunangannya di sana.


"Iya. Kami berlibur bersama teman-temannya Celly" Ucap Santo yang tampak senang bertemu Linny.


"Duduklah San" Ucap Sean mempersilahkan Santo dan Tunangannya duduk bersama.


"Terima kasih" Ucap Santo pada Sean.


"Mau pesan apa?" Tanya Linny pada Santo dan tunangannya.


"Minum saja. Sudah aku pesan. Kalian baru tiba?" Tanya Santo pada Sean dan Linny.


"Iya. Kalian tinggal di mana?" Tanya Linny pada Santo.


"Di atas bukit itu" Ucap Santo menunjuk arah penginapan mereka.


"Loh? Kami juga di sana" Ucap Sean.


"Wah kebetulan sekali. Kita bisa bergabung bersama nanti" Ucap Santo yang senang.


"Ya baguslah" Ucap Linny dengan santai.


Mereka kembali menikmati suasana di tempat itu. Semakin malam semakin ramai. Musik pun semakin menambah suasana riuh.


.


.