A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Bali I'm Coming...



Tiga hari berlalu. Linny kembali aktif di perusahaan bersama Sean. Apa yang Sean takutkan tidak terjadi. Semua masih aman terkendali dan tidak ada yang memandang aneh pada Sean.


Bahkan tidak ada satu pun suara sumbang yang membahas tentang video terlarang pasangan sejenis yang tak di ketahui siapa itu karena wajah mereka di blur.


Perasaan Sean sedikit lebih tenang karena kondisi masih terkendali sejauh ini. Sean juga semakin berani menghadapi situasi setelah beberapa saat terus merenung dan menguatkan hatinya.


"Aku lapar"  Ucap Linny.


Sean tersadar waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Sean lupa memesan makan siang akibat terlalu sibuk membereskan pekerjaan yang cukup menumpuk.


"Maaf aku belum pesan makanan"  Ucap Sean merasa bersalah.


"Ya udah kita keluar makan aja"  Ucap Linny tanpa menunggu persetujuan Sean.


Linny langsung mengambil tasnya dan memasukkan semua berkas juga laptopnya.


Sean menatap heran pada Linny. Jika hanya akan makan siang biasanya Linny tidak menyimpan semua barang-barangnya ke dalam tas.


"Kita mau sekalian pulang Linny?"  Tanya Sean heran.


"Kita makan siang di Bali"  Jawab Linny tanpa menoleh ke arah Sean.


Mata Sean membola terkejut. Untuk makan siang saja apa mereka sampai harus ke Bali?


Tidak mendapat jawaban dari Sean membuat Linny menoleh melihat Sean yang mematung keheranan.


"Kita ke sana sekalian lihat tanah. Aku mau bangun usaha di sana"  Ucap Linny dengan santainya.


"Usaha? Usaha apa?"  Tanya Sean heran.


"Mungkin Bar. Tapi belum tau. Ayo berangkat. Alfa sudah mengurus tiketnya"  Ucap Linny lalu menggandeng tangan Sean.


Keduanya berjalan melewati para karyawan yang tunduk menghormat setiap melihat kehadiran Linny dan Sean.


Kedekatan Sean dan Linny sudah menjadi hal lumrah bagi karyawan di perusahaan Linny. Banyak pula yang menjadikan mereka sebagai couple goals.


Keduanya segera masuk ke dalam mobil yang di kemudikan Jun.


"Barang-barang kita?"  Tanya Sean bingung,


Dia belum menyiapkan apa pun untuk di bawa ke Bali.


"Alfa sudah mengambil skincare kita dan beberapa pakaian santai juga baju tidur. Selebihnya kita beli saja di sana"  Ucap Linny dengan santai.


"Ah baiklah"  Jawab Sean singkat.


Apa pun yang sudah di atur Linny maka itu yang akan di lakukan. Tidak ada yang akan berani membantah. Apalagi Sean selalu pasrah.


Tiba di bandar udara keduanya langsung check in bersama Jun - Alfa dan 10 pengawal dari Om Donald yang kini setia ikut ke mana pun mereka pergi.


"Kau sudah memesan villa-nya Alfa?"  Tanya Linny pada Alfa.


Alfa di tugaskan Linny untuk mengatur semua akomodasi dan tempat tinggal selama Linny akan survey tanah yang akan dia beli di Bali.


"Sudah Nona. Semua sudah saya aturkan. Villa-nya juga besar jadi semua bisa tinggal di sana"  Ucap Alfa memberi informasi.


Linny hanya mengangguk paham dan puas dengan kinerja Alfa yang memang selalu bisa dia andalkan selain Andrean. Tentu Sean juga termasuk namun Sean malah lebih mirip Wakil CEO saat ini.


Bagaimana tidak. Jun - Alfa dan pengawal lainnya tampak lebih hormat dan mengikuti semua perkataan Sean. Padahal sebelumnya tidak ada yang bisa melarang Linny untuk berlatih bela diri di saat senggang.


Walaupun dalam kondisi sakit atau apa pun, Linny selalu menyempatkan diri berolahraga. Namun sejak Sean menjajah kehidupan Linny, maka semua orang akan melarang dan mencegah Linny jika Sean sudah memerintah.


Sejenak Linny merasa menyesal telah berjanji pada Sean jika dia akan mengikuti perkataan Sean asal itu demi kebaikan dan keselamatan dirinya.


"Sebentar lagi sudah sampai. Kau sepertinya sudah tidak sabar mau salto"  Ledek Sean pada Linny yang tampak sejak tadi tidak nyaman duduk.


"Pinggangku pegal. Bagian bekas luka ku juga tidak nyaman"  Ucap Linny jujur.


"Apa masih nyeri?"  Tanya Sean yang mulai cemas.


"Sedikit"  Jawab Linny jujur.


"Sebentar lagi tiba. Coba duduk menyampinglah. Biar aku pijat sedikit punggung mu"  Ucap Sean.


Linny dengan patuh memosisikan diri agak menyamping sehingga Sean bisa memijat perlahan punggung dan pinggang Linny dengan lembut.


Sean memijat dengan perlahan dan penuh perasaan. Dia takut jika terlalu kuat menekan tubuh Linny.


Akhirnya pesawat mendarat dengan sempurna di bandar udara I Gusti Ngurah Rai - Bali. Satu persatu penumpang pesawat turun termasuk Sean, Linny dan para pengawalnya.


Tiga buah mobil berlambang BMW menunggu di pintu kedatangan. Alfa sudah mengurus semua dengan cepat sehingga sang Nona tidak perlu menunggu.


"Kita berhenti di supermarket dulu"  Ucap Linny memberitahu Jun - Alfa dan pengawal yang lainnya.


"Baik Nona"  Jawab Jun dan Alfa berbarengan.


Jun yang mengemudikan mobil yang berisi Sean dan Linny. Sedangkan 10 pengawal yang mengikuti itu mengendarai 2 mobil lainnya.


Tiba di supermarket tampak Linny dan Sean sibuk memilih bahan makanan yang bisa mereka masak selama di villa. Linny juga membeli beberapa snack dan beberapa bahan untuk membuat cocktail dan mocktail.


"Kau ingin membuat minuman?"  Tanya Sean yang melihat Linny sibuk memilih barang-barang.


"iya. Sudah lama aku tidak membuat ini. Kebetulan di sini jadi ada bagusnya aku kembali mengasah kemampuanku"  Ucap Linny yang memang sudah cukup lama tidak ke Bar RB.


Bar RB kini di jalankan oleh Eka dibantu oleh adik laki-lakinya. Selain itu Aston juga setiap hari datang membantu Eka di Bar. Lebih tepatnya datang untuk menjaga Eka dari gangguan pria hidung belang sepertinya.


Ah, hampir lupa. Aston sudah melamar Eka dan keduanya akan segera melangsungkan pernikahan akhir tahun nanti. Om Austin dan Tante Rebecca tampak sangat bahagia menyambut Eka sebagai menantu mereka.


Malah lebih tepatnya mereka menyambut Eka seperti anak perempuan mereka sendiri karena Om Austin dan Tante Rebecca hanya memiliki Aston. Adik perempuan Aston sudah meninggal saat masih sangat kecil karena sakit.


Kehadiran Eka membuat Tante Rebecca merasa memiliki anak perempuan lagi. Terlebih Eka adalah gadis yang sangat baik dan patuh. Adik Eka juga sangat sopan. Hal itu membuat Om Austin dan Tante Rebecca sangat menyayangi Eka di banding Aston.


"Aku tidak menyangka Aston akan segera menikah"  Ucap Sean jujur.


Ya di antara  mereka semuanya, Aston adalah playboy yang paling gila. Tidak ada wanita yang bertahan dengannya lebih dari 3 bulan.


Dan Aston bukanlah pria setia yang bisa berpacaran dengan satu wanita saja. Aston bahkan pernah memiliki 5 kekasih dalam waktu bersamaan.


"Penjahat wanita seperti dia bisa tobat juga. Entah aku harus mengatakan Eka yang beruntung, atau Aston yang beruntung"  Ucap Linny mengomentari.


"Kenapa begitu?"  Tanya Sean bingung dengan respons Linny.


"Abaikan saja perkataanku. Sudah cukup ini semua. Ayo bayar dan ke villa. Aku sudah lapar"  Ucap Linny sambil membantu Sean mendorong troli berisi belanjaan.


Jangan anggap mereka begitu romantis saling bantu mendorong. Karena kenyataan Jun dan Alfa sudah mendorong masing-masing satu troli di belakang Sean dan Linny.


Entah apa saja yang di beli Linny. Mungkin stock makanan untuk 1 tahun ke depan? Entahlah.


.


.


.


To be continue ^^