
Mobil Sean melaju kencang tanpa arah. Kemarahan menguasai dirinya saat ini. Lebih tepatnya kekecewaannya pada diri sendiri.
Kini setiap perkataan dan kalimat hinaan dari sang Papa kembali terdengar di telinganya dan diresapi oleh otaknya itu.
"Sial! Semua tidak ada yang menghargaiku! Hidup macam apa ini!" Umpat Sean pada dirinya sendiri.
Sean kecewa pada dirinya yang masih saja tidak bisa di hargai. Dia merasa gagal menjadi manusia. Dia sangat mencintai Linny dan hanya ingin Linny menghargai perkataannya.
Dia tidak berharap di hormati ataupun memimpin kehidupan Linny, tapi dia hanya ingin Linny paham dia ingin di dengarkan dan di hargai jika itu dia lakukan demi kebaikan Linny.
Sean merasa ada yang memperhatikannya sejak tadi. Siapa lagi jika bukan Jun.
Sean juga tau Jun adalah bodyguard yang sangat setia jadi pasti Jun tidak akan membiarkan Sean sendirian meskipun sudah di larang sekalipun.
"Keluar! Jangan meringkuk seperti orang bodoh!" Ucap Sean dengan tegas.
Jun dan tiga orang pengawal lainnya langsung keluar dari tempat persembunyian dan menyapa serta menghormati Tuan mereka itu.
"Maafkan kami mengganggu waktu Tuan" Ucap Jun.
"Kalian juga tidak menghargaiku?" Tanya Sean dengan tatapan dingin.
Jun yang paham harga diri sang Tuan sedang terusik berusaha menenangkan pikiran Tuannya yang sedang kacau itu.
"Maafkan saya Tuan jika apa yang saya lakukan terkesan tidak menghargai. Tapi kami semua sangat menghargai dan menghormati Tuan. Bagi saya bahkan Tuan sudah seperti Kakak laki-laki saya" Ucap Jun dengan sopan.
Hal itu tentu membuat Sean terkejut. Jun menganggap dia sebagai seorang Kakak selama ini.
"Kakak?" Tanya Sean heran.
"Iya Tuan. Saya menjaga Tuan dan mengikuti Tuan karena saya sudah menganggap Tuan seperti saudara kandung saya yang harus saya jaga. Maaf Tuan. Bukannya saya ingin lancang. Apa yang di lakukan Nona Linny semata mata karena dia takut Tuan terluka lagi. Nona juga takut jika dia terlihat lemah karena lukanya itu"
"Apalagi yang Nona alami dulu itu karena dia terlihat lemah. Mungkin Nona hanya ingin membuktikan dia masih kuat melindungi Tuan dalam kondisi apa pun. Bukan tidak menghargai Tuan. Nona memang selama ini sangat dominan di mata siapa pun. Tapi sejujurnya yang saya tau baru kali ini Nona memperlakukan seseorang sangat khusus bahkan mengenalkannya sebagai partner"
"Saya yakin bagi Nona Linny, kebahagiaan dan keselamatan Tuan itu yang terpenting. Dan Nona rela terluka lagi demi menghancurkan satu persatu orang yang mencoba mengganggu hidup Tuan lagi"
Perlahan Jun menjelaskan agar Sean tidak semakin tersinggung. Jun sudah mendengar dari Alfa kalau Linny sempat terluka saat bertarung dengan dokter yang merupakan kekasih dari madam Rain. Beberapa luka sayatan di terima Linny meskipun tidak terlalu dalam tapi tentu itu akan terasa sakit.
Linny bahkan belum sempat mengobati lukanya sendiri setelah bertarung mati-matian karena dokter itu juga ternyata terlatih dalam bertarung. Setelah membuat dokter itu kritis, Linny dengan sengaja melemparkannya kembali pada Madam Rain sebagai peringatan agar jangan pernah mencoba bermain-main dengan Linny.
Linny pasti akan membuat perhitungan dan membunuh Rain jika dia masih nekat ikut campur dan mengganggu Sean.
"Suruh orang belikan obat yang pernah aku gunakan dan bawakan ke penthouse untuk Linny" Ucap Sean yang memang tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya pada Linny.
"Baik Tuan. Apa Tuan tidak mau kembali?" Tanya Jun memastikan.
Sean menghela nafas panjang sebelum menjawab.
"Aku akan tidur di unit mu. Berikan saja obat untuk Linny. Akan aku tuliskan untuk mu obat apa saja yang harus di pastikan agar Linny meminumnya" Ucap Sean.
Jun hanya mengangguk paham. Dimata Jun, Sean hanya kecewa dan merasa terusik harga dirinya. Mungkin dia memang membutuhkan waktu untuk bisa berbicara lagi dengan Linny.
Sebagai seorang pria, Jun berharap Alfa bisa membuat Linny mau menurunkan sifat dominannya dan terlebih dahulu mendekati Sean. Hanya itu yang bisa membuat Sean merasa di hargai kembali.
Hingga waktu semakin larut, Sean memutuskan kembali ke gedung penthouse dan tidur di kamar unit apartemen Jun yang tepat satu lantai di bawah penthouse Linny.
Tiba di dalam unit Sean merebahkan diri di sofa yang ada di unit kamar Jun.
"Aku tidur di sini saja. Kau tidurlah di kamar mu. Maaf mengganggu istirahat mu" Ucap Sean pada Jun.
"Tidak masalah. Tuan tidur saja di kamar. Biar saya tidur di unit Alfa" Ucap Jun yang memang sudah memberitahu Alfa.
Sean hanya mengangguk pada Jun. Kepalanya terasa sakit mendadak.
"Tuan, ini baju ganti Tuan. Tadi Nona Linny yang menyiapkannya" Ucap Jun menyerahkan tas kertas berisi pakaian ganti Sean.
Sean menerima tas kertas itu dari Jun.
"Linny tau aku disini?" Tanya Sean pada Jun.
"Iya Tuan. Nona khawatir Tuan kenapa-kenapa jika sendirian di luar" Ucap Jun.
"Baiklah. Terima kasih Jun. Pergi istirahatlah. Sudah terlalu larut" Ucap Sean.
Jun menuruti perkataan Sean lalu pamit keluar dari unit apartementnya itu.
"Kenapa susah sekali tidur malam ini. Ayolah Sean. Apa kau harus merendahkan harga dirimu lagi?" Ucap Sean pada dirinya sendiri.
Entah apa yang membuat Sean gelisah hingga tidak bisa tidur sama sekali.
Sean mendengar suara orang-orang di luar unit apartemen. Hal itu membuatnya berjalan keluar dan membuka pintu untuk memastikan apa yang terjadi.
Terlihat Jun dan beberapa pengawal lainnya sibuk berbicara.
"Ada apa?" Tanya Sean pada Jun.
"Ah Tuan. Maaf mengganggu waktu Tuan" Ucap Jun merasa tidak enak.
Tak lama terdengar suara sirine ambulance di sekitaran gedung.
"Ambulance?" Tanya Sean heran.
"Ah itu. Nona Linny..." Jun tampak ragu berbicara.
"Linny kenapa?" Tanya Sean terdengar khawatir.
Jun dan yang lainnya saling berpandangan sebelum berbicara.
"Nona mengalami demam tinggi dan lukanya terbuka. Tapi Nona menolak di bawa ke rumah sakit kata Alfa" Ucap Jun menjelaskan.
Tanpa banyak bicara lagi, Sean langsung berlari menuju lift khusus yang langsung mengarah ke penthouse Linny.
Sean berlari masuk ke dalam kamar Linny. Terlihat Andrean juga seorang dokter dan suster sedang memeriksa dan memasangkan infus pada tangan Linny.
Baju Linny yang tampak bekas darah tergeletak tak jauh dari tempat tidur. Tampak juga tetesan darah segar di lantai. Sean menebak itu darah akibat luka perutnya Linny yang terbuka karena berkelahi.
Pengawal yang melihat kehadiran Sean langsung menunduk memberi hormat pada Sean.
"Kau sudah kembali?" Tanya Andrean saat melihat Sean.
"Kau di sini?" Tanya Sean heran.
"Alfa meneleponku. Katanya Papa mu di rawat karena kecelakaan jadi kau harus menjaga Papa mu. Maka aku yang datang memastikan para dokter ini bekerja dengan baik" Ucap Andrean sambil memperhatikan dengan jeli semua tindakan yang dilakukan dokter itu.
"Kenapa tidak di bawa ke rumah sakit?" Tanya Sean yang benar-benar khawatir.
"Linny menolak. Dia benci aroma rumah sakit. Dan dia takut saat kau kembali malah kau tidak menemukannya. Kau kan selalu khawatir jika tidak melihat keberadaan Linny" Jelas Andrean yang tau se-bucin apa Sean terhadap Linny.
Namun Andrean tidak tahu jika sebenarnya tadi Sean dan Linny baru saja bertengkar. Alfa - Jun dan yang lainnya memang menutupi apa yang terjadi dari Andrean sesuai perintah Linny.
"Maaf seharusnya aku tidak terlalu lama berada di luar" Ucap Sean merasa menyesal.
Seharusnya dia memastikan keadaan Linny sebelum keluar tadi. Namun Sean terlalu emosi dan dia takut berkata kasar jika terlalu lama berada di tempat itu saat emosinya belum terkontrol.
"Tidak masalah. Dokter sudah selesai. Jaga dengan baik keadaan Linny. Masalah kantor jangan khawatir, aku dan Sisil masih bisa menanganinya" Ucap Andrean sambil menepuk bahu Sean.
"Terima kasih. Maaf aku tidak bisa mengantar kau ke bawah" Ucap Sean sambil tersenyum ramah.
"Tidak masalah. Biar aku dan dokter ini turun bersama. Istirahatlah. Kau tampak kelelahan juga" Ucap Andrean menghibur Sean.
Sean hanya membalas dengan senyuman sambil mengantar Andrean serta dokter - suster itu menuju lift.
Setelahnya Sean segera kembali ke kamar untuk menemani Linny.
Linny tampak tertidur pulas, mungkin efek obat dari dokter membuatnya tertidur dengan nyenyak.
Perlahan tangan Sean membelai wajah Linny. Dia menyesal sudah berteriak dan membentak Linny.
Padahal Sean tau semua yang Linny lakukan adalah untuk menjaga Sean dari gangguan orang-orang buruk itu.
"Maafkan aku Linny. Seharusnya aku tidak kasar seperti itu. Maaf karena aku malah kau yang terluka" Ucap Sean lirih.
Perlahan Sean mengecup bibir Linny lalu merebahkan dirinya di samping Linny. Sean ikut terlelap dalam tidur bersama Linny.
.
.
.