
"Ayolah, kau akan merasakan nikmatnya di masuki dari belakang. Kau lihat pacar mu sampai lemas tuh"
Tangan pria itu mencoba menyentuh milik Sean
"MINGGIR!" Bentak Sean dengan kasar.
"Jangan lancang menyentuhku!" Ucap Sean dengan tegas.
Pria itu dan temannya pun segera meninggalkan ruangan itu karena merasa Sean sedang tidak bisa di ajak bersenang-senang. Mereka tidak ingin membuat masalah di Bar milik Madam Rain itu.
"Bangun lah. Bersihkan dirimu. Kita pulang" Ucap Sean yang sudah merasa tidak nyaman di sana.
Erik berpikir Sean marah dan cemburu melihatnya puas digagahi dua pria tadi.
Tidak berani banyak membantah, Erik segera membersihkan diri di kamar mandi di ruangan eksklusif itu lalu berpakaian rapi.
Sean membawa Erik kembali ke ruko. Di dalam ruko Erik mencoba memeluk Sean dan meminta maaf.
"Maaf sayang. Aku bukan ingin selingkuh" Ucap Erik merasa bersalah.
"Tidak masalah. Itu hak mu" Ucap Sean datar.
Mendengar cara bicara Sean yang tidak biasa membuat Erik heran.
"Kenapa dengan mu? Tidak biasanya begini" Ucap Erik manja.
"Erik. Bisa kita bicara baik-baik?" Tanya Sean dengan wajah serius.
Erik yang merasa sesuatu yang lain pada Sean semakin takut. Dirinya takut Sean meninggalkannya karena kejadian tadi di bar.
Apalagi Erik lah yang meminta Sean untuk menemaninya ke bar madam pelangi. Namun di sana Erik malah berhubungan dengan pria lainnya.
"Ada apa jangan membuatku takut" Ucap Erik mulai menangis.
Melihat ekspresi Erik yang sudah hampir menangis membuat Sean semakin pusing. Hal itu yang selalu membuatnya tidak tega berbicara keras pada Erik.
"Jangan menangis. Aku hanya ingin kita melewati masa tenang dulu" Ucap Sean sambil mengelus kepala Erik untuk menenangkan pria muda itu.
"Masa tenang? Apa maksud mu?" Tanya Erik dengan mata berkaca-kaca.
"Maksud ku, aku ingin kita saling menenangkan diri. beberapa waktu ini kita hanya bertengkar dan jujur aku tidak nyaman. Masalah ku sedang banyak Erik. Aku ingin kita break sementara dulu" Ucap Sean serius.
"Kau ingin putus?" Tanya Erik yang mulai kesal dan tidak terima.
"Kita butuh waktu untuk menenangkan diri dari hubungan yang tidak sehat ini. Setiap saat kita hanya bertengkar saja Erik. Jujur aku sedang ingin merasa tenang, bukan terus menerus bertengkar saat bertemu denganmu. Apalagi aku juga selalu bertengkar dengan keluarga ku. Rasanya aku tidak memiliki waktu untuk tenang" Jelas Sean dengan sedikit emosional.
"Kau marah? Kau membentak ku Sean" Ucap Erik yang akhirnya menangis.
"Aku mohon bersikap lah lebih dewasa. Kau sadar jika hubungan kita ini sulit, jadi aku mohon jangan mempersulit diri kita lagi. Aku ingin kau lebih dewasa lagi menyikapi semua masalah. Kau terus mengganggu ku di tempat pribadi ku padahal kau sudah berjanji akan berhati-hati. Tapi apa yang terjadi? Kau melanggar aturan yang sudah kita buat. Kau muncul mendadak di apartemen ku, kau juga mendatangi tempat ku bekerja"
Sean mengeluarkan unek-uneknya yang sudah menumpuk di kepalanya itu.
"Kau tidak sadar? Aku seperti itu karena kau berubah!" Teriak Erik histeris.
" Dan aku berubah karena sifat mu yang seperti ini. Lihat lah dirimu sekarang. Kau selalu mengancam dan berteriak tanpa mau menyelesaikan masalah dengan baik-baik. Aku lelah Erik. Aku juga bisa lelah menghadapi mu" Ucap Sean yang semakin tidak nyaman melihat tingkah Erik.
"Tapi tidak dengan cara harus putus. Aku tidak mau hidup tanpa mu!!" Ucap Erik tidak terkendali.
"Itu terserah kau. Aku lelah. Keputusan ku bulat. Kita break saja sambil memikirkan apakah ini yang dinamakan cinta atau hanya obsesi kita semata. Jika kau mencintaiku, kau pasti akan membuatku nyaman. Tapi kenyamanan itu sudah tidak aku rasakan lagi belakangan ini. Jadi aku mohon berpikirlah lebih baik" Ucap Sean lalu meninggalkan Erik sendirian di ruko nya.
Sean harus menguatkan hati tidak ingin kembali menatap Erik agar pria muda itu bisa lebih dewasa lagi nantinya.
Keputusan Sean sudah bulat ingin meninggalkan dunia nya yang salah itu dan benar-benar fokus dengan hal yang semestinya.
Sean yakin dia bisa membuat Linny mau menikah dengannya, namun itu butuh waktu dan perjuangan. Salah satunya dengan meninggalkan Erik serta komunitas gay mereka.
Itu sebuah pembuktian bila Sean benar-benar ingin serius dengan Linny.
Namun tidak semua hal bisa berjalan sesuai maunya. Sean tidak sadar hal itu bisa memicu konflik yang lebih besar lagi baginya.
.
Mobil Sean tiba di apartemen Linny. Sean memasuki kamar apartemen, dirinya memiliki kode akses yang di berikan Linny.
Tampak ruangan masih gelap tanda Linny belum pulang. Sean merebahkan diri di sofa bed.
Sejenak Sean merasa lega, setidaknya apa yang dia rasakan sudah dia sampaikan pada Erik.
Entahlah pria muda itu akan menghancurkan seisi ruko-nya atau pula akan mencoba bunuh diri lagi.
Memikirkan Erik yang mungkin akan bunuh diri membuat Sean cukup khawatir. Sean segera mengambil ponselnya untuk mengirimkan pesan kepada Danu.
Danu ternyata merupakan saudara jauh dari Erik. Namun Danu selalu tutup mulut dan berpura-pura tidak mengenali Erik. Dia tidak ingin berurusan dengan pria muda gay itu yang labil. Menjauh dari orang seperti itu merupakan hal terbaik menurut Danu.
' Dan, bisa tolong aku? ' -tulis Sean-
' Ada apa Bro? ' -balas Danu-
' Nanti coba perhatikan ruko saudara sepupu mu itu. Aku takut dia bertindak pendek akal lagi ' -tulis Sean-
' Siapa? Erik maksud mu? ' -tanya Danu-
' Iya. Aku tadi habis bertemu dengannya. Mungkin saat ini dia sedang mengamuk ' -tulis Sean lagi-
' Kalian bertengkar lagi? ' -Balas Danu-
' Enggak, aku hanya minta break dan minta dia berpikir jernih tentang hubungan kami ' -tulis Sean-
' Wah, kau serius ternyata mau balik normal. Okelah nanti aku suruh adik sepupu ku mencarinya. Tapi apa alasanku ya? ' -balas Danu yang memang bingung-
' Terserah kau saja. Aturlah ' -tulis Sean-
Sean mematikan ponselnya lalu masuk ke kamar mandi membersihkan diri. Baju dan celana yang di pakainya tadi langsung di buangnya ke dalam tong sampah.
Entah mengapa dia merasa risi karena sudah di sentuh oleh pria gay di bar tadi. Tidak seperti sebelumnya, Sean kini merasa tidak nyaman jika di sentuh orang-orang yang terang-terangan bisa berhubungan sejenis dengan bebas.
Hei Sean apa kau lupa jika dulu kau sendiri malah Raja-nya ONS yang terkenal di Bar itu??? Oh tentu tidak. Sean ingat hal itu makanya dia merasa semakin jijik dengan dirinya sendiri. Meskipun dia tetap menghargai para kaum pelangi yang tidak bersikap keterlaluan seperti dua pria tadi. Baginya melakukan hubungan intim harus atas dasar mau sama mau. Tidak bisa di lakukan jika salah satu pihak menolak atau keberatan.
Hal itu selalu dia terapkan sejak dulu saat dia melakukan ONS dengan pria lain. Sean juga tidak ingin mereka menggunakan perasaan dalam berhubungan. Bagi Sean itu hanya sekedar hobi-nya melepaskan penat dan stress berlebih.
Selesai mandi, Sean memasak sebungkus mie instan dan memakannya. Perut Sean terasa lapar mendadak.
.
.
.