
Pesta berlangsung hingga larut malam. Selesai acara Linny mengajak Sean segera pulang.
Perasaannya masih tidak nyaman dan terus memikirkan kondisi Erik. Entah bagaimana keadaan si tulang lunak mantan kekasih Sean itu.
Linny hanya berharap keputusannya membiarkan Joe menemani Erik bisa membuat pria itu lebih bersemangat hidup.
Dua hari pun berlalu, Linny belum mendapat informasi apa pun tentang keadaan Erik lagi.
Jika tidak ada kabar berarti kabar baik bukan untuk orang yang sedang dalam perawatan ketat untuk penyembuhan itu.
"Kau ada ada masalah apa?" Tanya Sean yang melihat Linny tidak fokus.
"Tidak apa-apa. Bisa kau tangani perusahaan? Aku ada urusan" Ucap Linny.
"Masalah keluarga mu?" Tanya Sean menerka.
Linny hanya tersenyum tanpa mau membenarkan apa pun yang di tanya Sean.
"Aku pergi sebentar. Tolong awasi perusahaan sebentar untukku. Andrean masih dalam cuti nikah jadi tidak mungkin aku biarkan dia terganggu" Ucap Linny.
Dia memberikan Andrean cuti seminggu untuk pernikahannya. Sungguh pengertian sekali CEO ini. Padahal Sisilia juga tidak cuti. Lebih tepat Sisilia memilih masuk karena banyak hal urgent yang harus di kerjakan di perusahaan.
Memang se-loyal itu orang-orang yang dekat dengan Linny. Andrean pun sebenarnya tidak mau cuti namun Linny yang memaksanya dan mengatakan semua baik-baik saja. Apa lagi Angel tengah hamil muda dan pasti butuh Andrean menemaninya setelah lelah untuk segala urusan pernikahan itu.
"Okey. Hati-hati ya. Cepat balik. Malam ini ada janji makan malam dengan Mister Lee" Ucap Sean mengingatkan.
"I Know. Aku pergi dulu" Ucap Linny lalu mendaratkan ciuman tipis di bibir Sean.
Linny di temani Alfa dan beberapa pengawal khusus langsung menuju rumah Om Donald.
Pikiran Linny terus teringat pada kondisi Erik. Semoga saja pria itu masih hidup dan bertahan. Karena Linny masih belum puas memarahi pria muda yang bodoh itu.
Tiba di rumah Om Donald semua pengawal Om Donald menghormat pada Linny.
"Tuan Donald sedang di Thailand Nona" Ucap salah satu pengawal menginformasikan.
"Aku tau. Aku mau bertemu Erik. Apa Joe juga bersamanya?" Tanya Linny memastikan.
"Benar Nona. Biar kami kawal. Sesuai perintah Tuan Donald" Ucap pengawal itu.
Linny membiarkan beberapa pengawal mengikutinya hingga ke dalam ruang tersembunyi itu.
Tampak Joe sedang menyuapi bubur hangat untuk Erik. Joe tampak sangat bersabar dan merawat Erik.
Melihat Linny datang membuat Erik tersenyum.
"Kau datang? Kenapa tidak pakai masker? suster apa ada masker baru?" Tanya Erik pada suster yang standy disana.
"Ada" Jawab suster itu dengan ramah.
"Berikan untuk mereka. Bahaya jika terlalu dekat dengan ku" Ucap Erik yang memang tidak ingin yang lainnya tertular tanpa sengaja.
Linny dan yang lainnya pun mengenakan masker dari suster itu lalu mendekat ke arah Joe dan Erik.
Para pengawal tampak bersiap dengan senjata jika Joe atau Erik mau menyerang Linny. Melihat itu Linny menegur mereka.
"Simpan senjata kalian. Lebih baik kalian tunggu di luar" Ucap Linny memerintah.
Para pengawal tidak berani melawan Linny dan hanya patuh.
Linny juga memberi kode untuk si suster keluar dari ruangan itu meninggalkan Linny berserta Joe dan Erik di sana.
Setelah semua keluar Linny kembali menatap pada Erik dan Joe.
"Bagaimana? Kau masih sesak?" Tanya Linny pada Erik.
"Tidak masalah. Itu hanya asma lama. Dulu aku memang pernah terkena asma sejak kecil, Tapi sudah lama tidak kumat. Baru kemarin itu mendadak kumat dan parah" Ucap Erik sambil tersenyum.
"Kau sepertinya merawatnya dengan cukup baik" Ucap Linny yang kini menatap Joe.
Erik sudah menceritakan semua bantuan Linny. Justru dia berterima kasih karena Linny memberikan dokter dna obat terbaik yang WAJIB menyembuhkan Erik.
Itu yang Erik dengar dari dokter dan suster yang merawatnya. Mereka bahkan mengatakan Linny mengancam akan membuat perhitungan pada mereka jika sampai lalai menjaga Erik dengan baik.
"Kau mau berada di sisi Erik tanpa gangguan Rain?" Tanya Linny pada Joe to the point.
Joe tersikap mendengar perkataan Linny. Tentu dia mau tapi bagaimana mungkin. Setelah Erik sembuh dan mereka keluar dari sana bisa saja Rain membunuh mereka karena curiga mereka sudah berkhianat karena menghilang.
"Masalah Rain serahkan pada ku. Aku yang akan membunuhnya dengan tangan ku sendiri. Kau cukup jaga Erik dengan baik dan jangan coba-coba menusuk ku dari belakang. Kau paham?" Tanya Linny dengan tegas.
Joe menganggukkan kepalanya tanda paham. Dia lebih memedulikan kondisi Erik. Rain belum tentu akan menyembuhkan Erik semaksimal itu. Meskipun Rain dan Erik dekat, tapi Joe tau jika di hati Rain hanya ada Zin - Kekasih Rain.
Sedangkan pria lainnya hanya selingan dan pemuasnya jika Zin sedang tidak bisa melayaninya. Terbukti Rain memilih mengutamakan kesembuhan Zin dan membawanya ke luar negeri.
Jika Zin mengeluh tidak bisa melayaninya maka Rain akan biasa saja dan tidak memaksa. Tapi jika yang lain mengeluh maka Rain tidak akan peduli asal hasrat nya bisa tersalurkan dia tidak peduli penderitaan lawan mainnya.
"Asal kau bisa menyelamatkan hidup Erik maka aku akan mengabdikan diriku untuk mu. Bahkan nyawaku" Ucap Joe dengan sungguh-sungguh.
"Wah. Luar biasa sekali rasa cinta mu pada Erik. Apa semua pecinta terong lemas seperti itu?" Tanya Linny dengan nada mengejek.
"Kami selalu setia dengan perasaan kami. Dan jika pasangan kami tidak bisa memenuhi maka kami akan mencari cara lain dan tidak akan memaksa kekasih kami. Tapi hal buruknya kami benci pengkhianatan atau selingkuh. Kami lebih suka orang itu jujur dan menunjukkan dia butuh pelampiasan lagi" Ucap Erik jujur.
Bertahun-tahun menjadi seorang gay tentu Erik paham dan tau isi pikiran orang-orang sejenisnya.
"Okey terserah. Cuman itu yang mau aku pastikan. Nyawa kalian tanggung jawab ku. Jika kalian tidak mencoba menusuk ku dari belakang maka aku akan memberi jaminan kalian bebas dari pengaruh Rain" Ucap Linny dengan serius.
Joe dan Erik saling memandang dan tersenyum. Erik sudah lelah berada di bawah pengaruh dan bayangan Rain. Sedangkan Joe senang Erik tidak akan terancam lagi karena Rain. Hanya itu yang di harapkan Joe.
"Lanjutkan makan mu. Aku pergi dulu. Banyak yang harus aku urus" Ucap Linny lalu membalikkan badannya hendak berjalan keluar.
"Ah Linny tunggu sebentar" Ucap Erik yang membuat Linny menoleh padanya.
"Ada apa?" Tanya Linny heran.
Joe dan Erik saling memandang sebelum berbicara.
"Joe menemukan ini di lab khusus Rain. Dia suka membuat obat-obatan dan racun aneh. Mungkin dia akan menggunakannya saat melawan lawannya. Coba kau teliti dan antisipasi jika sampai dia menggunakan racun ini nantinya" Ucap Erik menyerahkan botol kecil yang di simpan Joe selama dia di sekap Om Donald.
"Baiklah. Terima kasih. Apa ada lagi?" Tanya Linny memastikan.
"Di ponsel ku ada beberapa bukti Zin merencanakan kecelakaan untuk Mahaprana juga mengintai Sean. Tapi ponsel itu di hancurkan anggota kalian. Jadi aku tidak bisa menyerahkan itu untukmu" Ucap Joe yang memang sempat merekam bukti percakapan itu.
Entah apa yang membuat Joe hari itu merekam percakapan Rain dan Zin. Dia hanya merasa butuh itu untuk melindungi Erik dari salah sasaran.
"Oh. Itu tidak penting. Aku bisa gunakan cara lain untuk menghancurkannya" ucap Linny dengan tenang.
"Tapi dia bukan orang biasa. Kau berhati-hati lah. Aparat di sini sudah menerima uang dari dia. Mereka tidak akan menanggapi laporan mu meskipun ada bukti. Pasti akan mereka cari kambing hitam lainnya" Ucap Erik yang tau seberapa kotor permainan Rain di kota itu.
"Tenang. Jika hukum manusia dan negara tidak bekerja, maka hukum rimba yang akan aku jalankan. Cukup fokus dengan kesehatanmu saja. Aku pergi dulu" Ucap Linny.
Erik dan Joe hanya mengangguk percaya dengan kegigihan Linny yang tampak tenang dan tak takut sedikit pun dengan Rain.
Linny menggenggam erat botol kecil berisi cairan yang entah apa itu.
"Aku harus menyuruh orang mengecek ini. Tapi siapa yang bisa di percaya" Ucap Linny merasa gundah.
Dia teringat Santo Wisnu Negara dan langsung meneleponnya.
"Hai. Apa kau hari ini di undang Mister Lee?" Tanya Linny melalui telepon.
"Ya. Aku akan ke sana nanti dengan Celly. Ada apa?" Tanya Santo kembali.
"Aku butuh bantuan mu. Nanti akan aku ceritakan saat bertemu" Ucap Linny lalu memutus telepon itu.
Linny menatap ke arah jalanan sepanjang perjalanan kembali ke kantor. Mereka menjemput Sean terlebih dulu sebelum kembali ke penthouse dan bersiap ke acara Mister Lee.
.