A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Kim-Eza (End)...



"Kau hamil?? Apa dia bertanggung jawab?? Keluarganya??"  Tanya Sean penasaran.


"Bisa kau diam dan dengarkan saja?"  Tanya Linny dengan tatapan dingin pada Sean.


Sean hanya mengangguk dan membiarkan Linny melanjutkan ceritanya.


*************Flashback On Continue*************


 "Tolong sampaikan maafku pada Kimberlyn. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kami. Sepertinya benar perkataan Papa dan Mama ku. Ini yang terbaik, Dre. Maafkan aku tapi aku tidak mungkin melawan keluarga ku lagi. Juga hanya aku penerus mereka"  Ucap Reza saat Andrean sudah bisa menghubunginya.


"Bagaimana jika Linny mengandung?"  Tanya Andrean lagi.


Suasana hening sejenak hingga akhirnya terdengar helaan nafas Reza.


 "Jika pun dia hamil, Aku tidak yakin itu anakku. Kau tahu bukan bagaimana kehidupan **** temanmu itu sebelumnya. Dan pastinya keluarga ku akan minta test DNA darinya"  Ucap Reza.


Tanpa Andrean sadari, pembicaraannya menggunakan loudspeaker terdengar oleh Linny.


Rasa sakit benar-benar menghancurkan perasaan Linny. Namun Linny yang masih mencintai Reza merasa apa yang dilakukan Reza adalah tekanan dari orang tuanya.


Dia hanya berharap jika keluarga Reza tahu dia hamil anak Reza maka mereka akan menerima Linny, setidaknya untuk bayi yang ada di kandungannya.


 Tidak ada yang menyangka saat itu juga Linny kembali mendatangi keluarga Reza dan mengatakan tentang kehamilannya.


 Saat itu dia masih pelajar yang baru akan berkuliah. Dia belum memiliki perkerjaan atau apa pun yang bisa menghidupnya dan anaknya kelak. Dia merendahkan dirinya kembali ke rumah keluarga Wijaya hanya demi kelangsungan hidup bayi yang ada di kandungannya.


 "Kau hamil? Kau yakin itu anak dari putraku? Jangan-jangan kau sengaja hamil dengan pria lain agar bisa menggerus harta keluargaku!"  Ucap Nyonya Wijaya dengan kejam.


 "Aku tidak tahu apa yang telah di katakan oleh perempuan yang sudah melahirkanku itu tentang semua yang terjadi. Tapi aku berani bersumpah aku tidak serendah yang dia katakan dan anak ini adalah anak dari Reza. Apa Nyonya tidak takut jika orang-orang tahu pebisnis besar dari keluarga Ardian Wijaya telah menghamili seorang gadis dan meninggalkannya begitu saja?"  Ucap Linny tanpa takut. Dia merasa tidak mungkin diam membiarkan anak dalam kandungannya tidak memiliki keluarga. 


 "Coba saja kalau kau berani!"  Ucap Nyonya Wijaya geram.


 "Berani atau tidak maka Nyonya akan melihatnya nanti"  Ucap Linny.


 "Katakan kau butuh berapa banyak uang? 1 Miliar untuk mu dan gugurkan bayi itu!"  Ucap Nyonya Wijaya yang sangat membenci si miskin Linny.


"Kau menghargai sebuah nyawa dengan uang. Aku tidak menyangka seorang Nyonya Wijaya yang dihormati dan disegani karena sering membantu anak yatim piatu tak ubahnya manusia berhati dingin yang tega membunuh cucunya sendiri"  Ucap Linny sambil tersenyum tipis.


Dia benar-benar tidak menyangka keluarga Reza yang dikenal baik dan dermawan ternyata memiliki hati sekeji itu.


 Linny tidak memiliki niat untuk merusak nama baik keluarga Wijaya, itu sama saja dia mengumbar aibnya sendiri.


 Bagaimanapun dia sadar dia sudah mencintai Reza bahkan sangat mencintainya sampai detik itu. Dan kehadiran anak itu juga kesalahannya yang percaya dengan semua perkataan Reza.


 Linny kembali ke rumah Andrean dan Sisilia. Dia berpura-pura baik-baik saja. 


"Maaf aku selalu merepotkan kalian. Bahkan akan semakin merepotkan"  Ucap Linny menyesali kebodohannya yang percaya dengan Reza.


"Kau tenang saja. Kami selalu untuk mu. Apa pun yang terjadi abaikan. Kita rawat anakmu bersama-sama ya"  Ucap Sisilia menenangkan Linny.


Linny hanya dapat menangis, sungguh banyak kejadian buruk yang terus menimpanya. Hanya karena dia saat ini tidak memiliki uang dan kekuasaan maka semua orang menginjak dan meremehkannya.


 Nicolas yang masih kecil tidak begitu paham apa yang terjadi. Dirinya hanya tahu sang Kakak tersakiti lagi oleh makhluk bernamakan laki-laki.


 Dua bulan berlalu. Kandungan Linny semakin berkembang. Dia tetap melanjutkan kuliahnya. Keluarga Andrean dan Sisilia tidak pernah menyalahkan Linny, mereka malah kian mendukung Linny untuk bisa hidup lebih baik.


Om Wisnu -Papa Andrean dan Sisilia  juga mulai mengajarkan Linny mengenai bisnis agar saat Linny siap nanti dirinya bisa memulai bisnis dari hal terkecil.


 Linny yang sudah mulai menjalani hidup dengan nyaman kedatangan tamu yang tak pernah di pikirkannya. Nyonya Wijaya ingin menemuinya. 


 "Biar aku temani"  Ucap Andrean yang takut Linny akan di hina lagi.


 "Tidak usah. Aku bisa sendiri. Kau pulanglah. Sebentar lagi Nicolas pulang sekolah"  Ucap Linny sambil tersenyum.


Andrean yang mengantarkannya hingga ke depan gerbang rumah keluarga Wijaya.


 Linny menenangkan diri dan bersiap jika mendapat hinaan lagi dari keluarga itu. Dia tidak paham kenapa Nyonya Wijaya mencarinya sedangkan dia tidak pernah lagi mencoba menghubungi Reza.


 "Duduklah"  Ucap Nyonya Wijaya.


 Seorang pelayan mengantarkan minuman untuk Linny.


 "Silakan diminum. Setelah itu kita bisa bicara"  Ucap Nyonya Wijaya lagi.


 Linny hanya menghela nafas dan meminum minuman yang disuguhkan untuknya.


 "Kau benar hamil?"  Tanya Nyonya Wijaya langsung.


 "Aku sudah memberikan buktinya bulan kemarin itu nyonya"  Ucap Linny sesopan mungkin.


 "Apa kau yakin itu anak Reza?"  Tanya Nyonya Wijaya lagi.


 "Jika kalian tidak percaya maka aku tidak memaksa. Tapi tolong jangan lagi mengganggu hidupku"  Ucap Linny yang sudah muak dengan drama kehidupan ini.


 "Kau pikir aku akan diam membiarkanmu melahirkan anak itu dan membuatnya menjadi ancaman untuk merebut harta keluarga Wijaya?"  Tanya Nyonya Wijaya dengan senyuman mengerikannya.


 "Apa maksud Anda?"  Tanya Linny dengan rasa heran.


Tiba-tiba perutnya terasa sangat sakit. Bukan sakit perut biasa. Itu benar-benar menyakitkan dibanding rasa kram menstruasi yang pernah dia alami.


 "Kau meracuniku??"  Ucap Linny sambil menahan sakit di perutnya.


 "Jono!! Panggil satpam dan usir keluar ****** ini!"  Ucap Nyonya Wijaya memerintah.


 Linny diseret dan di lempar keluar gerbang rumah keluarga Wijaya.


 Rasa sakit diperutnya semakin menjadi-jadi. Dia bisa merasakan aliran darah yang keluar dari pangkal pahanya.


Beruntung Andrean masih di sekitar rumah itu menunggu Linny. Dia berfirasat tidak baik sehingga dia memutuskan menunggu hingga Linny keluar dari rumah itu.


 Dan firasat Andrean terbukti. Dia langsung berlari membantu Linny. Sungguh terkejut dirinya melihat Linny yang mengeluarkan darah.


 "Linny... Kau kenapa??"  Tanya Andrean.


 "Sakitttt.... Perutku...."  Ucap Linny terbata-bata menahan sakit di perutnya.


 Andrean segera melajukan mobil secepat mungkin menuju rumah sakit terdekat.


 Dokter segera menangani Linny dan berkata Linny keguguran akibat obat peluntur kandungan dengan dosis yang sangat tinggi telah dia konsumsi.


Linny mengalami pendarahan hebat bahkan terancam rahimnya harus diangkat.


 "Sial!!!! Bangssstttt keluarga itu!!"  Umpat Andrean yang sangat kesal.


 "Sabar Dre! Ini rumah sakit"  Ucap Om Wisnu menenangkan Andrean.


 Dirinya juga tak kalah khawatir melihat keadaan Linny. Gadis itu baru saja mencoba hidup normal dan bahagia kini harus diuji kembali.


 "Pa... Mama takut Linny kenapa-kenapa"  Ucap Tante Lisa -Mama Andrean dan Sisilia.


 "Tenang sayang. Kita berdoa saja semoga Linny kuat"  Ucap Om Wisnu -Papa Andrean dan Sisilia.


 Om Wisnu dan Tante Lisa sangat menyayangi Linny dan Nicolas seperti anak kandung mereka sendiri. Mereka tahu, Linny dan Nicolas anak yang baik yang sudah ditelantarkan ibu mereka sendiri.


 Linny akhirnya bertahan, dia bisa melewati masa kritisnya. Rahimnya selamat namun akibat obat itu rahimnya mengalami masalah.


Kemungkinan dirinya untuk bisa hamil lagi akan sangat kecil. Dosis obat laknat itu sudah merusak tubuhnya.


  Sejak saat itu Linny tidak percaya lagi dengan kata 'CINTA' dari seorang laki-laki. Baginya semua itu hanya kalimat untuk bisa menidurinya dengan sesuka hati lalu mencampakkannya.


 Dirinya bahkan bersumpah tidak akan pernah mencintai siapa pun apalagi menikah. Kekecewaannya sudah membuat dia kehabisan air mata.


Linny menjadi sosok yang tidak lagi memiliki perasaan terhadap lawan jenis. Baginya mereka hanya mainan untuk dibawa ke atas ranjang.


 Dan sejak itu pula Linny sibuk mencari pundi-pundi uang dan membangun kerajaan bisnis dan kekuasaannya.


 Uang dan kekuasaanlah yang terpenting, tanpa itu maka hidup manusia akan dengan mudah diinjak oleh orang-orang.


******Flashback Off  (End)*********


.


Sean terkejut, Linny menyimpan banyak hal yang tidak diketahui Sean.


"Aku sudah bersumpah tidak akan pernah mencintai laki-laki mana pun lagi. Aku juga tidak akan menikah. Maka dari itu jangan pernah berharap aku akan mengatakan kalau aku mencintai mu. Mungkin ini tidak adil untukmu, jadi kau bisa mundur sekarang juga"  Tegas Linny. Dirinya kembali dalam mode dingin dan keras.


Sean memeluk Linny dengan penuh kasih. Dirinya menghela nafas. Sungguh berat semua kehidupan seorang CEO Kim yang terkenal perfect dan luar biasa.


"Tidak perlu, kau tidak perlu memaksakan dirimu untuk mencintaiku. Cukup nikmati saja semua kasih sayang dan cinta dariku. Aku tidak sempurna tapi aku berjanji akan berusaha menyempurnakan hidupmu mulai saat ini"  Ucap Sean tulus.


"Jangan berjanji. Aku sudah muak dengan semua janji-janji manusia"  Ucap Linny sambil menetralkan nafasnya.


"Baiklah. Kalau begitu biarkan tunanganmu ini selalu membahagiakan mu. Jika aku salah tolong tegur aku. Jika aku masih belum sempurna tolong maafkan aku. Aku akan selalu belajar membuatmu tenang dan bahagia"  Ucap Sean yang paham dengan keadaan.


Keduanya saling menatap. Sean mencium pelan bibir Linny dan menyesapnya.


"Aku akan membuatmu lupa pernah mencintai orang yang hanya membuatmu terluka. Sama sepertimu yang selalu membuatku lupa dengan p****-p**** jelek itu"  Ucap Sean sambil tersenyum.


"Bilang saja kau mau bercocok tanam! Gay mesum!"  Ucap Linny yang tampak sudah melupakan pembicaraan masa lalunya.


"Biar Gay mesum ini membuatmu puas sampai ingin lagi"  Ucap Sean yang mulai menyesap leher Linny.


Ting... Tong.....


Tiba-tiba bell kamar mereka berbunyi.


Linny dan Sean saling bertatapan heran, mereka tidak memesan layanan kamar. Juga tidak berjanji temu dengan siapa pun.


"Siapa yang datang????"


.


.


.