
Rumah Sakit Bunda Kasih~
Linny tampak bergegas menemui dokter yang menangani Erik.
"Bagaimana?" Tanya Linny yang memang cemas.
"Sudah dilakukan transfusi satu kantung darah. Masih kekurangan satu kantung lagi"
Dokter itu pun tampak sibuk membantu mencari tambahan darah untuk Erik. Sudah tugasnya menyelamatkan nyawa pasien.
"Aku golongan AB+. Ambil saja"
Linny langsung menawarkan dirinya sebagai pendonor darah. Tanpa banyak bertanya lagi dokter langsung menyiapkan semua peralatan untuk memeriksa kesediaan tubuh Linny untuk bisa melakukan donor darah.
Setelah melewati proses kesediaan dan layak menjadi pendonor, dokter segera mengambil darah Linny secukupnya.
Selesai melakukan donor darah. Linny keluar dari ruangan itu. Dia bertemu dengan Joe juga yang lainnya yang masih setia menunggu di sana. Bahkan Sisilia tampak datang membawakan makanan untuk suami tercintanya - William juga teman-teman lainnya agar tak kelaparan.
Tidak ada yang mau beranjak karena masih menunggu Erik yang belum juga melewati masa kritisnya.
"Linny. Pulang lah. Kau pasti kelelahan. Kau baru tiba dari luar negeri"
William mencoba membujuk Linny untuk pulang. Bukan tanpa alasan. Karena Linny mematikan ponselnya dan Sean kelabakan tidak bisa menghubungi Linny.
Sean sejak tadi terus menghubungi William agar meminta Linny segera pulang. Sean khawatir pada kondisi Linny. Dia takut istrinya itu kelelahan dan benar-benar mendonorkan darahnya.
"Tidak. Aku akan disini. Kau saja yang pulang. Sisilia sedang hamil. Tidak baik terus datang ke Rumah sakit"
Linny tidak mau bergerak sedikitpun. Dia masih terus menunggu Erik agar bisa melewati masa kritisnya.
Bagaimana pun Linny merasa bersalah. Erik sudah mengorbankan nyawanya demi membantu Sean lepas dari cengkraman Rain.
Rain bukanlah Agus yang tidak punya koneksi dan kekuatan. Rain cukup berbahaya dan licin. Dia bahkan bisa mengendalikan aparat keamanan di daerah itu.
"Sean mencarimu"
Ucapan William membuat Linny menoleh menatapnya.
"Katakan padanya. Aku tidak mau di ganggu dan aku tidak mau bertemu dengannya sementara ini"
Linny tampak begitu dingin dan tidak peduli. Dia memang semarah itu. Linny yang benar-benar marah akan mendiamkan lawan bicaranya karena dia merasa tidak ada lagi emosi yang bisa dia keluarkan dan sia-siakan.
Mendengar ucapan Linny membuat orang-orang di sana terkejut. Om Donald juga yakin Linny pasti bertengkar hebat dengan Sean.
Linny yang selalu membawa Sean kemana pun dan menjaga Sean. Tiba-tiba tidak mau bertemu dengannya tentu tak lazim.
"Kalian pulang lah. Om juga. Kehadiran Om bisa jadi mengundang banyak perhatian apalagi kita tidak tau pihak Rain memiliki mata dimana saja. Lakukan apa yang harus Om lakukan. Aku cuman butuh orang-orang Om untuk memperketat penjagaan di sini"
Linny berbicara serius dengan Om Donald. Om Donald paham dengan keinginna Linny dan langsung memerintah orang-orang terbaiknya menambah jumlah penjagaan dan memastikan keamanan perawatan Erik.
"Nona"
Alfa mendekat pada Linny dan menyerahkan segelas kopi untuknya. Alfa juga membelikan kopi untuk yang lainnya termasuk bodyguard yang berjaga di sana.
"Terima kasih. Ah ya Alfa. Katakan pada Jun perketat penjagaan di penthouse selama aku tidak ada di sana. Jangan lengah sedikit pun"
Titah Linny pada Alfa. Alfa menatap heran pada Linny.
"Nona tidak akan pulang ke penthouse?"
Alfa tampak berhati-hati dengan pertanyaannya.
"Untuk sementara tidak. Aku akan tetap di sini"
Linny tampak meneguk perlahan kopi yang di belikan Alfa.
"Baiklah. Akan saya sampaikan pada Jun"
Alfa tampak menjauh sedikit dari Linny dan berbicara melalui telepon.
Yang lainnya masih menatap heran pada Linny. Ingin berbicara namun takut menyinggung.
"Jika kalian tanya kenapa aku seperti ini. Coba tanya langsung pada Sean. Aku tidak punya tenaga untuk menjelaskan dan itu hanya akan menambah emosiku semakin tinggi"
Jelas Linny tanpa menoleh sedikitpun pada mereka semua. Dia hanya fokus menikmati kopi di tangannya.
Linny terus menatap ruang ICU tempat Erik berada. Ingin sekali dia masuk ke sana dan berteriak agar pria tulang lunak itu bangun.
Tapi apa daya. Erik tidak sekuat itu. Di tambah dia memiliki masalah kesehatan. Linny hanya bisa berharap Erik segera sadar. Karena dokter juga berharap Erik bisa sadar dan melewati masa kritisnya.
William sejak tadi tampak gelisah. Begitupula dengan Danu dan Doni yang turut gelisah. Mereka terus di teror Sean yang tidak tenang saat Jun mengabarinya jika Linny tidak akan kembali ke penthouse.
Jun juga mencegah Sean menyusul. Melihat dari sisi kemarahan Linny. Jun sangat tau jika bertemu dengan Nona CEO itu dengan keras kepalanya Sean akan membuat keadaan semakin runyam.
William, Danu dan Doni memutuskan menemui Sean terlebih dahulu. Aston juga akan menyusul menemui Sean di penthousenya.
Sedangkan di rumah sakit hanya tertinggal Linny, Joe, Alfa juga para pengawalnya. Linny dan Joe tampak sama-sama lelah dan terus memikirkan Erik.
.
.
Sean tampak kacau. Dia amat marah dan kesal. Harus bertengkar dengan Linny karena Erik tentu membuat Sean semakin membenci Erik.
"Sudah lah"
Danu mencoba menenangkan Sean yang masih terus mengumpat kesal pada Erik.
"Ini bukan salah Erik. Apa yang Linny katakan itu benar. Kau keterlaluan Sean. Kau tidak mem-filter ucapan mu. Kau pikir siapa yang kau ajak bicara? Dia itu Linny. Bukan wanita lain"
Doni tampak kesal setelah mendengar cerita pertengkaran Linny dan Sean dari Jun. Jun dan Alfa juga yang lainnya mendengar dengan jelas pertengkaran Sean dan Linny tadi.
"Aku hanya tidak mau berurusan dengan mahluk itu lagi"
Ucap Sean yang masih kesal.
"Bisa kau lebih sopan Sean? Dia itu manusia. Dia juga mantan mu. Kau tidak pantas bicara begitu. Linny saja masih memanusiakan dia"
Ucap William yang cukup kesal dengan kekeras kepalaan Sean.
"Mahluk itu tidak pantas hidup. Kalau mau mati ya mati saja kenapa menyusahkan sih"
Umpat Sean yang masih marah. Dia seolah masih tidak mau menerima kenyataan yang sudah di paparkan Linny.
Karena kesal Aston langsung memukul wajah Sean dengan keras.
"Argh! ****! Kenapa kau memukulku??" Umpat Sean kesal pada Aston.
"Aku memukulmu untuk melihat isi otak mu! Mungkin tergeser karena kecelakaan yang gagal kemarin. Kau gila Sean! Linny akan sangat menyesal menikah dengan mu! Dia sampai tidak mau kembali! itu artinya dia kecewa padamu! Paham?!"
Aston begitu tegas memarahi Sean. Meskipun tampak urak-urakan dan berandalan. Aston malah lebih bisa paham dengan perasaan Linny saat itu.
"Kau gila! Membahas dan mengata-ngatai masa lalu orang yang jelek! Sekarang aku tanya. Apa masa lalu mu lebih baik dari Erik? Tidak kan? Berapa banyak sudah lobang pria yang kau pakai? Kau tidak sadar itu?? Persetan dengan kau yang trauma dan melampiaskannya pada orang lain akibat perbuatan Agus! Itu sama saja kau juga kotor!"
"Aku tidak habis pikir. Kau yang begitu benci dengan sikap Mahaprana tapi kau mencontoh dengan baik ucapan dia merendahkan orang lain! Kau ini benar-benar!"
Aston begitu kesal mendengar Sean yang berani mengata-ngatai masa lalu orang. Dan merendahkan orang itu kotor dan menjijikan. Padahal masa lalu Sean juga tidak sebaik Erik.
Setidaknya Erik hanya mau di sentuh Sean dan orang-orang tertentu. Dia bukan pecinta ONS seperti Sean dulu. Paling hanya beberapa yang memang dia kenal dan sangat dekat yang pernah tidur bersamanya.
"Aston benar. Aku juga kecewa dengan sikap mu Sean. Linny yang sudah semarah ini dan mendiamkan mu apa masih belum membuat mu sadar? Linny pasti kecewa. Dia berusaha meraih tangan mu dan membantu mu. Tapi kau malah persis Mahaprana yang sudah menghinanya"
Ucapan William membuat Sean semakin tersudut. Dia yang sejak tadi berusaha mencari pembenaran dari pikiran dan sikapnya pada Erik malah terus di pojokkan oleh sahabat-sahabatnya sendiri.
"Aku berbicara bukan karena aku saudara Erik. Erik benar berubah Sean. Dia sudah menahan sakit sejak Kau meninggalkannya. Di awal kami juga tidak percaya dia bisa berubah. Namun ternyata benar. Dia bersungguh-sungguh. Dia bahkan yang memilihkan bahan tuxedo yang kau pakai untuk pernikahan. Karena dia tau kau menyukai bahan itu"
Danu menatap lurus pada Sean. Hal itu membuat Sean merasa semakin tercekik. Dia benar-benar tidak bisa mempercayai Erik. Sifat pendendamnya begitu sulit di hilangkan.
"Kami tau. Kau punya kecendrungan dendam dengan orang yang pernah menyakiti mu. Bahkan kau begitu senang saat Melissa mengalami masalah berat dan hancur kehidupannya. Kau menertawakannya dengan puas. Kami juga tau. Tapi kami tidak ikut campur untuk itu karena memang dia juga tidak pernah minta maaf padamu. Hanya ini Erik berbeda. Dia benar-benar berubah dan berkorban demi kau bisa terlepas dari Rain"
Doni menambahi perkataan Danu. Sean yang tadinya begitu keras kepala mulai meluruh. Ucapan demi ucapan sahabatnya itu mau tidak mau dia cerna dengan baik.
Dia kembali teringat pertengkarannya dengan Linny tadi. Aston sepertinya benar. Linny tadi bukan hanya menatap marah pada Sean, tapi juga tatapan kekecewaan itu begitu jelas. Linny sangat kecewa dengan sikap Sean.
"Maaf. Karena aku malah membuat kalian ikut repot"
Sean tampak menyesal. Kenapa dia memiliki keras kepala seperti Mahaprana. Memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya bukan?
"Cobalah berpikiran lebih terbuka. Jangan sampai Linny kecewa dan berbalik membenci mu. Apa kau sanggup hidup tanpa dia? Kami tidak yakin kau sanggup"
William tampak menaikkan satu alisnya saat berbicara pada Sean. Dia sangat paham Sean sudah pada tingkat bucin akut pada Linny.
"Dia marah dan tidak mau kembali. Aku harus bagaimana?"
Sean tampak begitu lemah jika berkaitan tentang Linny.
"Benahi dulu isi kepala mu! Jangan kau mencarinya dan membuat pertengkaran bodoh lagi seperti tadi! Kau ini suaminya. Suami seorang CEO yang memiliki cara berpikir yang luar biasa! Buat dirimu pantas untuk dibanggakan sebagai suaminya!"
Aston yang masih kesal tampak sangat ketus berbicara pada Sean.
Eka yang ikut bersama Aston tampak mengelus pelan lengan Aston agar tidak terus-terusan marah.
"Maaf jika Eka ikut campur kak Sean. Eka sudah lama ikut Kak Linny. Kak Linny punya insting tajam. Jika dia mau berbaik hati menyelamatkan seseorang, tandanya orang itu memang pantas di bantu dan di selamatkan. Dia tidak pernah salah menilai orang lain"
Ucapan Eka membuat semua orang menatapnya.
"Kak Linny mungkin bisa melihat nilai dan ketulusan dari Erik. Maka dia bersedia membantunya. Kak Linny itu sangat pemilih. Berdekatan dengan orang saja dia tidak mau sembarang. Apalagi darahnya. Kak Linny juga pernah menyelamatkan nyawa Kak Sean dengan darahnya juga kan? Itu artinya dia menilai Kak Sean adalah pria yang baik dan pantas di sisinya. Jika Kak Sean masih keras dan tidak mau berpikiran lebih terbuka, mungkin Kak Linny akan menganggap dia sudah salah menilai Kak Sean dan instingnya sudah tidak berguna lagi"
Ucapan Eka itu membuat Sean tersentil. Linny memang perempuan seperti itu. Dia hanya akan membantu orang yang memang menurutnya pantas.
Dia tidak akan menghabiskan energi dan waktunya, apalagi darahnya untuk orang yang tidak pantas. Dalam arti orang yang memang tidak mau berubah lebih baik dan tidak mau mendengarkannya.
"Argh!!! Aku harus bagaimana?"
Hanya itu yang bisa di ucapkan Sean. Dia kebingungan saat ini.
"Istirahat lah dulu. Biarkan dulu Linny. Jangan ganggu dia. Kau tetaplah kembali ke perusahaan dan bekerja. Jun dan yang lainnya akan mengawalmu dengan ketat selama tidak ada Linny"
Ucap William menasehati. Sean hanya bisa mengangguk pasrah. Tidak ada yang bisa dia lakukan sementara ini.
Mungkin benar, dia dan Linny harus menjauh sejenak agar situasi lebih tenang.