A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Penculikkan



"Kalian tunggu di mobil saja. Aku ingin berdua dengan Linny . Kalau kalian ikut nanti jadi perhatian orang-orang di pasar malam"


Ucap Sean pada Jun dan pengawal lainnya.


"Tapi Tuan-"


"Sudah kalian di mobil saja lagian tidak akan ada masalah di tempat seramai ini"


Sean tidak mau di bantah. Dia ingin sekali berjalan berduaan dengan Linny. Apalagi kondisi sudah aman menurutnya. Tidak ada lagi yang harus mereka khawatirkan.


"Semua sudah aman. Jangan terlalu khawatir. Lagian GPS kita tersambung"


Jelas Sean untuk menenangkan Jun dan yang lainnya. Jun dan yang lainnya tampak mengangguk, benar jika Rain sudah di tangkap. Mereka juga tetap bisa memantau dari GPS dan lokasi pasar itu sedang ramai. Tidak mungkin di serang mendadak, pasti akan mudah di ketahui karena membuat kericuhan.


Sean segera turun dari mobil. Dia melepas jas kerjanya hingga hanya menyisakan kemeja. Sean menggulung kedua lengan kemejanya dan membuka dua kancing kemeja agar tidak terlalu gerah.


Dia berjalan menuju ke salah satu stand yang menjual hiasan rambut.


Sean memotret beberapa jepitan berbentuk kupu-kupu dan mengirimkannya kepada Linny.


"Aku menunggu mu disini, Bee" -pesan terkirim-


Sean kembali berjalan hingga melihat seorang gadis kecil tampak kebingungan. Mata gadis kecil itu berkaca-kaca.


"Adik kenapa?"


Sean tampak heran melihat gadis kecil itu sendirian tanpa orang dewasa menemaninya.


"Boneka ku hilang"


Ucap gadis kecil itu.


"Ah paman belikan yang baru ya"


Ucap Sean dengan ramah sambil membelai rambut gadis itu.


Gadis itu menggeleng pelan seraya berkata, "itu kenangan dari papa sebelum papa meninggal"


Ucapan gadis itu membuat Sean merasa iba. Dia memutuskan membantu gadis itu mencari bonekanya yang hilang.


"Seberapa besar? Bentuk apa?"


Tanya Sean memastikan. Gadis itu menjelaskan ukuran boneka yang tak terlalu besar itu dan berbentuk beruang. Dia mengatakan tadi dia berjalan-jalan di dekat toko yang berjejer di antara gang-gang di dekat stand terakhir.


"Tadi aku makan jajanan di sana Om. Terus aku balik ke sini. Aku sadar boneka gak ada jadi aku balik ke sana tapi udah gak ada"


Jelas gadis itu yang mulai sesenggukan. Sean semakin iba pada gadis kecil itu.


"Ya sudah coba om cari lagi ke sana. Mungkin ada orang iseng yang pindahkan. Kamu jangan ke mana-mana. Tunggu di sini ya"


Ucap Sean sambil membelai kepala gadis kecil itu. Gadis itu mengangguk patuh.


Sean setengah berlari menuju ke arah pertokoan yang sudah tutup itu. Tiba-tiba seseorang menabraknya.


"Ah maaf"


Ucap Sean kemudian melanjutkan mencari boneka gadis kecil itu. Hingga tiba-tiba dia merasa sesuatu menghantam kepala belakangnya. Seketika dia merasa gelap.


.


.


Linny baru selesai bertemu investornya. Dia segera menuju pasar malam sesuai janjinya dengan Sean.


Tiba di sana dia melihat mobil yang Sean naiki sedang terparkir dan Jun beserta pengawal lainnya tampak beristirahat di dekat mobil.


"Loh? Sean mana?"


Linny menanyai Jun yang tampak sedang merokok. Melihat Nona nya datang, Jun langsung mematikan rokoknya.


"Ah Tuan tadi mau jalan sendiri. Dia tidak mau di ganggu waktunya berduaan dengan Nona"


Ucap Jun menjelaskan permintaan Sean. Linny mengangguk dan segera menuju ke arah stand hiasan rambut.


Dia sudah membaca pesan Sean, namun Linny tidak melihat Sean di sana. Linny mencoba bertanya pada penjual di Stanc hiasan itu.


"Maaf. Apa Anda melihat pria ini?"


Tanya Linny sambil menunjukkan fotonya dan Sean.


"Ah tadi dia memang ke sini sebentar terus tadi saya lihat dia ke arah sana berbicara dengan anak kecil"


Linny terus memperhatikan sekelilingnya. Tidak tampak batang hidung Sean ataupun gadis kecil yang di maksud.


Perasaan Linny mulai tidak tenang. Dia merasa ada yang aneh dan janggal.


Ponselnya bergetar. Awalnya Linny mengira itu Sean tapi ternyata Joe yang meneleponnya.


"Linny! Erik hilang! Anggota ku yang menemaninya pingsan" Ucap Joe yang kalut.


"Kok bisa??" Linny terkejut mendengar kabar itu.


"Entahlah. Kursi roda Erik di tinggal begitu saja bersama anggota yang pingsan dan Erik tidak ada" Joe sangat kalut dan terus mencari Erik di setiap sudut taman.


"Kalian ke mana?" Tanya Linny yang heran.


"Kami pergi menonton setelah itu dia minta jalan-jalan di taman dan minta aku membelikan minuman. Kami tidak bawa banyak pengawal. Hanya dua karena Erik tidak mau terlalu ramai" Jelas Joe yang terdengar sangat cemas.


"Sial! Sebentar aku tutup dulu teleponnya" Ucap Linny.


Dia berusaha menelepon Sean tapi tidak di angkat. Dia mencoba membuka GPS titik lokasi Sean berada.


Linny berjalan mengikuti titik GPS itu dan hanya menemukan ponsel Sean.


"Sial!!!!" Umpat Linny.


Dia hampir saja berlari kembali ke mobil, namun dia teringat dia sedang hamil.


Linny langsung menelepon Alfa.


"SEAN HILANG! CARI!"


Suara Linny begitu mengejutkan Alfa. Dia dan yang lainnya langsung berpencar mencari Sean di seluruh penjuru pasar malam itu hingga radius 10 meter.


Mereka bertanya kepada semua orang yang di lihat apakah bertemu dengan Sean, tapi tidak ada info.


Ponsel Linny kembali bergetar. Panggilan masuk dari Andrean.


"Linny! Gary bilang Rain bebas bersyarat dua hari lalu! Tidak ada yang mengabari dan Gary kemarin lagi sakit tidak sempat memberitahu kita!" Suara Andrean terdengar panik.


"Dan Sean juga Erik menghilang! Kerahkan anggota ku! Segera!" Ucap Linny yang mulai kalut.


Linny langsung mematikan panggilan Andrean dan menghubungi Joe.


"Sean juga hilang. Rain ternyata sudah bebas bersyarat dua hari lalu!" Ucap Linny.


"Apa???!!" Joe kini semakin cemas.


"Sekarang juga ke penthouse ku! Bawa 50 anggota Om Donald!" Tegas Linny.


Linny langsung menuju penthouse menunggu Joe datang. Andrean yang ikut cemas segera menyusul ke penthouse. William, Danu, Doni dan Aston juga bergegas menuju penthouse Linny.


Mereka mencoba menggunakan berbagai koneksi mereka untuk mencari Sean. Termasuk Nicolas yang mencoba membobol CCTV di seluruh sudut kota itu.


Nicolas yang mendengar kakak iparnya hilang dan Rain sudah bebas ikut kalut.


Willy pun di kabari oleh Linny. Baik Nicolas, Willy maupun Santo berusaha membuka seluruh CCTV agar bisa menemukan jejak Sean dan Erik.


"Kita kecolongan. Sial!" Umpat Joe kesal.


"Ayo. Kita ke markas Rain!" Ucap Linny.


"Di sana tidak ada pergerakan lagi Linny" Ucap Andrean yang tau semua laporan tentang kondisi markas Rain.


"Tidak ada pergerakan bukan berarti tidak ada orang. Kalian di sini dan tetap pantau kabar dan CCTV yang bisa kalian temukan. Biar aku dan Joe saja yang mencari mereka. Kita tidak bisa tinggal diam" Ucap Linny berapi-api.


"Saya ikut Nona"


"Saya juga"


"Aku juga"


Jun, Alfa dan Dewi tampak mengajukan diri untuk ikut bersama Linny. Mereka tidak bisa tinggal diam juga saat Sean hilang.


"Ayo"


Linny membiarkan orang-orang itu ikut karena mereka sudah terlatih. Tanpa Linny sadari Santo dan Om Donald juga mulai mencari di setiap sudut tanpa permintaan dari Linny.


.


..