A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Ketahuan Linny...



" Sekali lagi kau berkata maaf, jangan pernah menemui ku lagi! "


Linny tampak tidak menyukai perkataan maaf Sean yang tidak memiliki kesalahan kepadanya.


Sean tersentak. Linny benar-benar membingungkan. Sean minta maaf salah, jika tidak minta maaf juga terasa salah.


Danu mengangkat kedua tangannya tanda menyerah tidak bisa membantu Sean untuk berbicara.


" Satu lagi, jaga mata kalian jika berada di apartemen ku. Jangan sampai aku colok mata kalian! "  Tegas Linny sambil menatap sahabat-sahabat Sean bergantian.


Byurr!!!!!!


Doni menyemburkan minuman nya karena terkejut mendengar perkataan Linny.


Mampus 'kan kalian! Jaga mata! Jangan salahkan pakaian orang tapi salahkan mata dan otak! Kalau bisa menjaga mata dan otak maka tidak akan ada kejadian asusila bukan? Bahkan di luar negeri saja orang-orang hanya berbikini yang terbuat dari sehelai tali di  pantai bahkan kolam renang umum!


" Kalian beruntung aku biarkan masuk di sini. Apartemen ini hanya Adikku, Sisilia, dan Andrean yang boleh masuk"  Ucap Linny.


" Ah, Sean juga. Yang lain tidak ada yang ku ijin kan masuk ke dalam sini"  Ucap Linny menambahi perkataan-nya.


Sean tampak tersenyum-senyum merasa dirinya di spesialkan oleh Linny.


" Muka kau itu Sean! Senyam senyum! Tadi kayak orang mati! "  Ucap Danu meledek Sean


" Mana ada! "  Bantah Sean.


Malu dong jika ketahuan galaunya dia tadi di hadapan Linny.


" Halah. Apaan enggak ada. Dari tadi udah pucat kayak orang mati! Takut Linny enggak mau ketemu kau lagi! "  Bocor Doni.


" Maklumi deh mantan Gay yang baru tobat! Kicep kan lihat cewek marah!"  Ucap Aston menambahi.


" Jangan takabur Ton! Kau juga takut sama Linny!! "  Ucap William sambil menggelengkan kepala.


" Aku segan bukan takut "  Ucap Aston membela diri.


" Oh ya? "  Tanya Linny sambil menatap tajam ke arah Aston.


Aston langsung menciut di tatap begitu. Tenggorokannya terasa tercekat melihat mata tajam Linny seperti macan betina yang hendak menerkam santapannya.


" Guys-guys! Aku pulang duluan deh. Jalan kaki juga enggak apa-apa. Dari pada jadi samsak aku di sini"  Ucap Aston mencoba melarikan diri.


Danu dan Doni langsung memegang tubuh Aston agar tidak bergerak kemana pun.


"Loh kok mau kabur? Bukannya enggak takut?"  Ledek Doni pada Aston.


William menertawakan respons Aston, sedangkan Sean hanya tersenyum sambil menatap Linny yang ikut tertawa.


Merasa ada yang menatapnya membuat Linny langsung menoleh menatap Sean.


Cup!


Linny mengecup bibir Sean tepat di hadapan ke empat sahabatnya.


" Sh*itt!! Tolong dong dikondisikan guys!! Kalau mau mesra jangan di depan para jomblo ini!!" ucap Danu protes.


" Duh Hareudang pisan!!! Aer dingin mana aer dingin!!! "  Ucap Aston berpura-pura mengipas-ngipasi dirinya sendiri.


" Hahh... Kita salah kamar kayaknya guys"  Tambah William.


Linny tertawa melihat ke empat sahabat Sean.


Sedangkan Sean? Malu-malu kampret!!!


Umur 38 tahun tapi serasa ABG yang ketahuan ciuman!!!


Melihat hal itu Linny mencoba mengalihkan pembicaraan unfaedah itu.


Mata William membola. Bagaimana bisa Linny tahu dirinya dan Sisilia berkencan. Mereka backstreet selama setahun ini.


Reflek Aston langsung menatap tajam ke arah William.


" Sialan kau! Pacaran sama sepupu ku tapi diem-diem Kau ternyata??!! "  Ucap Aston kesal.


"Pantesan tiap party ada cewek selalu menghindar. Ternyata ada hati yang di jaga ya Liam???"  Tanya Danu meledek William.


" Ah itu. Kami memang enggak mau publish sampai benar-benar merasa cocok"  Sanggah William membela dirinya sendiri.


" 1 tahun loh kau gantung anak orang begitu. Emang mau kalau nanti Sisilia benar-benar nerima di jodohin sama cowok Singapore itu? "  Tanya Linny dengan santai.


William membola mendengar perkataan Linny.


" Siapa?? Cowok yang mana??? Enggak! Enggak boleh! Sisil milikku"  Ucap William reflek saat mendengar Sisilia akan dijodohkan.


" Ya kalau milik mu cepat sah kan cap nya! Aku sudah kasih tahu. Jangan sampai menyesal nanti"  Ucap Linny dengan santai.


William tampak berpikir keras, dia harus segera melamar Sisilia sebelum hal yang tidak di inginkan terjadi.


" Ah ya. Kau juga Aston. Aku enggak tahu gimana dekatnya kau dengan Eka. Tapi aku harap kau tidak mempermainkan nya. Karena aku yang akan membunuhmu kalau itu terjadi"  Ucap Linny menatap tajam ke arah Aston.


Dan seperti biasa. Reflek ke empat sahabat Aston juga ikut menatap tajam padanya.


" Enggak kok Linny. Mana berani aku macam-macam dengan Eka" Ucap Aston meringgis ngeri membayangkan dirinya di hajar oleh Linny.


" Eka anak yatim piatu. Bapak Mamak nya sudah meninggal lama. Dia saling bergantung hidup dengan adik laki-laki nya. Umur Eka sekarang baru 17 tahun. Sejak umur 15 tahun dia sudah ikut dengan ku. Dia sudah putus sekolah dan hanya tamatan SD karena harus bekerja menafkahi adik satu-satunya itu"  Ucap Linny menjelaskan.


Aston memang tahu tentang keluarga Eka. Namun dia memang hanya ingin sekedar mendekati Eka saja. Belum ada niat serius dengannya


" Jangan jadikan Eka hanya mainan mu. Apa isi otak mu aku tahu itu. Aku tidak ingin Eka di permainkan oleh mu! Dan aku juga tidak yakin kau dan keluarga mu bisa menerima Eka sebagai bagian dari kalian" Ucap Linny dengan santainya.


Linny jujur, dia memang tau kebaikan Om Austin dan Tante Rebecca --orang tua Aston. Namun mereka dari kalangan berada dan pastinya akan sangat berbanding jauh dengan Eka yang yatim piatu dan hanya seorang pelayan di bar kecil milik Linny. Terlebih Eka masih sangat polos.


" Emang kenapa? " Tanya Doni kepo.


" Eka lahir dari hubungan yang tidak jelas. Bapak yang dia panggil Bapak adalah suami ibunya saat ibunya sudah hamil Eka. Ibunya dulu pelacur karena kebutuhan ekonomi semasa belum menikah. Eka juga hampir di jual oleh keluarga ibunya. Beruntung dia dan adiknya bisa melarikan diri. Aku menemukan mereka tertidur di depan toko orang. Kalau tidak salah dia juga hampir dilecehkan pemilik toko tempatnya bekerja dulu sebelum bertemu dengan ku. "  Jelas Linny tentang asal usul Eka.


Linny berjalan menuju laci dekat sofa dan mengeluarkan pod miliknya kemudian menyesap pod itu.


" Maaf aku merokok "  Ucap Linny.


" Enjoy aja. Kamar kau juga ini. Toh kami sebenarnya juga merokok semua"  Ucap Danu menanggapi perkataan Linny.


" Maka aku cuman minta satu hal padamu Aston. Aku berbicara baik-baik karena aku menghargai Om Austin dan Tante Rebecca"  Ucap Linny menatap Aston.


" Jangan lagi hubungi Eka. Jangan membuat dia merasa berharap. Aku tidak mau kau membuatnya sakit hati dan kecewa. Hidupnya baru saja membaik saat ini"  Ucap Linny dengan tegas menatap Aston.


" Maaf kalau aku ikut campur. Tapi lebih baik kau cari wanita lain untuk di permainkan. Meskipun aku curiga kalau kau sudah menodai Eka"  Ucap Linny yang tepat menusuk jantung Aston.


Sekakmat! Aston merasa gugup dan berkeringat dingin!


" Ah Aston enggak mungkin segitu nya kok Linny. Ya kan Ton? Woi! Ton!"  Panggil Danu yang melihat Aston tidak menanggapi perkataan Linny.


Aston membeku. Dirinya seperti tertangkap basah habis nyolong jemuran pakaian dalam dan ****** ***** wanita di jemuran kostan!


.


.


.


Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.


-linalim-