A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Akhirnya Ketahuan Juga...



Tak terasa sudah hampir seminggu berlalu sejak Linny tiba di Jakarta.


Kesibukan Linny membuatnya lupa akan masalah Andrean dengan Angel. Dia harus memantau dari jauh proses renovasi Ruko di Bali juga pembangunan Bar di sana.


Begitu pula kesibukan mengurus berbagai jebakan baru untuk keluarga tirinya. Selain itu Linny terus mencari cara menembus daerah Erik dan Rain untuk menemukan video terlarang.


Hanya saja belum juga Linny bisa mendapat hasil dari pencariannya akan video yang membahayakan nama baik Sean.


Beberapa waktu ini Linny cepat merasa kesal. Bahkan sangat kesal untuk hal sekecil apa pun. Dan yang lebih lucu dia tidak ingin Sean beranjak dari sisi-nya barang sedetik pun.


Jika Sean menghilang hanya 5 menit ke kamar mandi, maka Linny akan dalam mode singa mengambek.


Sean senang Linny tampak terus menempel padanya. Tapi dia juga kesulitan karena tidak mungkin jika saat buang hajat harus mengajak Linny ikut dengannya.


Kini Sean merasa seperti sedang mengurus bayi besar yang sangat sensitif dan cepat mengambek. Dan jika mengambek maka aura membunuh Linny akan muncul hingga siapa pun yang ada di sekelilingnya akan merasa ketakutan.


"Kenapa lagi?"  Tanya Sean saat melihat Linny yang menutup dengan kasar laptopnya.


"Sulit sekali mencari master video mu itu! Ck!"  Umpat Linny kesal.


"Ya sudah. Pelan-pelan saja. Mungkin mereka simpan di tempat lain. Lagi pula mereka belum bergerak apa pun beberapa waktu ini bukan?"  Ucap Sean berusaha menenangkan Linny yang tampak kesal itu.


Linny menatap tajam Sean dengan rasa kesal yang kian membuncah.


"Semua gara kau! Untuk apa merekam video tidak penting begitu! Repot kan! Ck!"  Ucap Linny meluapkan kekesalannya pada Sean.


Mata Sean mengerjap. Sean menggaruk kepalanya yang tak gatal itu. Dia bingung di mana letak salahnya. Sedangkan Video itu di rekam tanpa sepengetahuan Sean.


Tidak mungkin juga dirinya mau di rekam adegan ranjang sesama jenis itu. Bahkan dengan Linny saja dia tidak pernah punya keinginan merekam adegan apa pun.


Untuk ber-swafoto saja selalu yang normal-normal. Dia masih cukup waras untuk tidak melakukan fantasi gila dengan merekam adegan 21+ yang kemungkinan bisa bocor di publik.


"Gara aku?"  Tanya Sean bingung.


"Iya! Gara kau! Kalau bukan jadi gara siapa lagi????!!! Aku gitu???"  Tanya Linny dengan tatapan tajam dan ekspresi seolah hendak menelan Sean hidup-hidup.


Sean tercekat. Ingin sekali dia berkata dengan keras itu bukan salahnya. Ingin juga dia marah kembali pada Linny tapi apa daya.


Emang berani Sean?? Tentu saja tidak. Wajah Linny sudah seperti singa betina yang mengamuk.


Untuk bersuara lagi saja Sean tidak berani. Dia lebih memilih diam dan mengalah.


"Maaf. Iya ini salahku. Maaf Linny. Karena aku malah membuat mu kesulitan"  Ucap Sean dengan wajah memelas.


Mata Linny tampak berkaca-kaca hendak menangis.


Eh?? Apa ada yang salah di ucapkan kah oleh Sean??


Sean kebingungan melihat Linny yang marah dan tiba-tiba ingin menangis. Apa dia lapar. Atau ada yang membuatnya tidak nyaman,


"Ah Maaf. Jangan menangis. Kita makan es krim ya. Aku sudah beli semua rasa yang kau sukai. Ayo"  Bujuk Sean.


Beruntung Linny menurut dan tidak jadi menangis. Bisa-bisa dia di bantai Om Donald jika membuat Linny menangis.


"Ya Tuhan. Kuatkan aku"  Gumam Sean tanpa sadar.


"Apa yang kau katakan?"  Tanya Linny yang melihat Sean bergumam tak jelas.


"Eh? Enggak. Cuman mikir besok sarapan apa. Ayo sayang kita ambil es krimnya"  Ucap Sean sambil tersenyum.


Linny tampak percaya saja hingga Sean bisa mengelus dada beruntung Linny tidak mendengar apa yang dia gumamkan.


"Jangan lupa packingan besok untuk ke Singapura. Ingatkan Dewi juga membawa seperlunya saja. Kita tidak beli bagasi"  Ucap Linny dengan santai.


Sepertinya mood Linny sudah kembali tenang. Sean hanya bisa menghela nafas. Dia semakin waspada dengan perubahan sikap Linny.


"Okey. Duduklah. Aku ambilkan Es krimnya"  Ucap Sean sambil mengelus rambut Linny.


"Suapin"  Ucap Linny terdengar memerintah.


Sean tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


.


.


Esok siangnya mereka tiba di Singapore. Setelah menaruh barang-barang di hotel. Linny dan Sean langsung membawa Dewi dan Farid menuju klinik milik Angel.


Linny melihat ada keramaian di depan klinik. Tanpa banyak berbicara Linny melangkah cepat menuju ke dalam klinik.


Terlihat Angel yang acak-acakan dan di jambak oleh wanita paruh baya. Linny mengenali itu Ibunya Angel. Nyonya Friska Zen.


"Tante! Stop!"  Ucap Linny berusaha menjauhkan Ibu Angel dengan Angel.


"Gadis murahan! Bisa-bisanya kau hamil di luar nikah! Kau memalukan keluarga!!!!!"


Ucapan Nyonya Friska Zen membuat Linny dan Sean membeku. Syok.


Jika Angel hamil berarti itu anak Andrean. Astaga Linny tiba-tiba merasa pusing dan mual. Namun dia masih bertahan.


"Maaf Tante. Cobalah duduk dan bicara baik-baik. Jika begini maka hanya akan membuat malu keluarga Tante"  Ucap Linny yang tau jika Nyonya Friska Zen sangat mengutamakan nama baik keluarga.


"Ah. Kau Linny bukan? Maaf. Tante benar-benar kesal pada gadis memalukan itu! Seperti pelacur! Siapa ayah dari bayi yang dia kandung pun tidak mau dia beritahu! Berarti dia sudah sembarang tidur dengan berbagai pria bukan?! Tante malu punya anak seperti dia!"


Ucap Nyonya Friska Zen sambil menangis. Marah-kesal-kecewa tentu di rasakan ibu mana pun jika sang putri hamil di luar nikah.


Angel hanya diam. Tak bersuara. Tak juga melawan. Seperti cangkang kosong tak bernyawa. hanya setitik air mata yang tampak terjatuh di pipi Angel.


"Tante. Angel tidak mungkin begitu"  Ucap Linny merasa tidak enak hati pada Angel.


Linny tidak bisa berkata bahwa Andrean lah yang sudah menodai putri kesayangan sang Nyonya Friska Zen. Apalagi Angel bungkam tidak mau mengatakan anak siapa yang dia kandung kepada orang tuanya sendiri.


Entah apa yang ada di pikiran Angel saat itu. Linny tidak bisa menerkanya.


"Dia memalukan kami sekeluarga. Kami sudah berencana menjodohkannya dengan saudara jauh kami. Di hari pertemuan keluarga dia muntah-muntah dan pembantu menemukan test pack di kamarnya. Tante sudah bersabar Linny. Tante sudah tanya baik-baik pada dia siapa yang harus bertanggung jawab. Tapi dia tetap diam seperti itu"


"Berapa banyak pria yang menyentuh tubuh mu?! JAWAB ANAK DURHAKA!"


Emosi Nyonya Friska Zen kian memuncak. Linny tiba-tiba merasa pusing dan hampir terjatuh. Beruntung Sean berada di dekatnya dan langsung memeluk Linny.


"Linny... Kau tidak apa-apa?"  Tanya Sean panik.


"No. Minggir"  Ucap Linny melepas pegangan dari Sean.


Sean hanya menghela nafas. Dia paham Linny merasa ikut bersalah dengan kondisi Angel.


"Tante. Apa boleh biar Linny yang urus dan bicara dengan Angel. Mungkin dia mau jujur pada Linny. Lagi pula tidak baik untuk kesehatan tante jika terus marah-marah begini. Tante pulang saja. Biar Linny yang bicara dengan Angel ya"  Bujuk Linny perlahan.


Biasanya Linny bisa marah kembali dengan perempuan yang kasar pada anaknya sendiri apalagi sampai memaki.


Namun entah mengapa Linny tidak bisa marah untuk saat ini. Mungkin dia merasa bersalah dan turut bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Angel. Jadi Linny tau amarah tidak akan menyelesaikan hal itu.


Keluarga Angel merupakan keluarga baik-baik dan terpandang. Wajar jika Orang tua Angel sangat marah.


"Ha~ Baiklah. Tolong bantu Tante tanyakan padanya ya Linny"  Ucap Nyonya Friska dengan lembut pada Linny.


Nyonya Friska kemudian menatap tajam pada Angel dan berkata :


"Mulai hari ini Klinik akan Mama TUTUP! Dan Kau! Jangan pernah menginjakkan kaki ke rumah sebelum kau katakan yang sebenarnya!"


Ucapan Nyonya Friska terdengar begitu tegas dan tidak bisa di bantah.


Linny dan Sean hanya bisa saling memandang. Rasanya dunia seperti runtuh jika orang tua sendiri tidak bisa menenangkan anaknya. Linny sudah pernah melalui hal itu.


Se-peninggalan Nyonya Friska dan beberapa orang yang kemungkinan keluarga Angel juga. Linny mendekati Angel dan meminta Jun dan yang lainnya membawakan barang-barang penting Angel.


"Ikut aku ke Jakarta. Jangan membantah"  Ucap Linny dengan tegas.


Angel hanya pasrah di bawa oleh Linny. Dia tidak punya tempat untuk pulang kini.


.


.


.