
Sean dan Linny mengunjungi Erik setiap dua hari sekali. Memastikan perkembangan kondisi kesehatan Erik.
Erik mulai bisa merasakan rasa pada kakinya meskipun belum bisa dia gerakan. Jauh lebih baik dari pada sebelumnya.
Sean juga sudah melupakan apa yang pernah dia dan Erik lewati. Dia tidak memendam dendam lagi pada Erik. Semua tak lepas dari peran Linny yang terus mengingatkan Sean jika tampak mulai bersikap negatif.
Hingga weekend tiba. Rencana mereka untuk berlibur di puncak pun di laksanakan. Acara liburan yang paling ramai dan penjagaan super ketat.
"Sudah di bawa semuanya?" Tanya Sean pada Jun yang sibuk memeriksa satu persatu barang bawaan mereka.
"Sudah Tuan. Sudah kami periksa tiga kali" Jawab Jun dengan yakin.
"Baiklah. Dimana Linny?" Tanya Sean yang belum melihat istrinya turun ke area parkiran.
"Masih di atas. Apa perlu saya susul Tuan?" Tanya Jun.
"Tidak perlu. Mungkin dia sedang ke kamar mandi" Ucap Sean yang begitu bersabar menunggu Linny.
Selang beberapa menit Linny keluar dari lift dan berjalan mendekat pada Sean.
"Kenapa lama?" Tanya Sean yang cemas.
"Tidak. Tadi aku harus scan dan kirim sesuatu ke email" Ucap Linny.
"Ayo berangkat. Yang lain sudah mulai bergerak" Ucap Sean.
Mereka memiliki group chat yang berisi semua sahabat Linny dan Sean. Di dalam group tentu sudah di sebutkan jika mereka sudah bergerak menuju villa dengan kendaraan masing-masing.
Joe dan Erik juga sudah berangkat di temani oleh pengawal Om Donald yang di khususkan menjaga keduanya.
Mobil Sean dan Linny bergerak menuju ke arah puncak. Perjalanan cukup panjang dan lelah karena terjadi kemacetan di kota menuju arah ke pertengahan jalan menuju arah puncak.
Namun mereka tetap tampak bersantai hingga mereka akhirnya tiba di sebuah villa yang berada di puncak. Villa yang luarnya tampak sederhana dan di tumbuhi banyak tanaman dan bunga-bunga yang indah.
Sean dan Linny turun dari mobil. Tampak semuanya juga baru tiba dengan berselang hanya beberapa menit berbeda.
Para pengawal sibuk mengeluarkan barang bawaan Sean dan Linny. Mereka juga membantu yang lainnya mengeluarkan barang bawaan masing-masing.
Saat masuk ke dalam villa mereka terpukau, meski dari luar tampak sederhana dan biasa saja. Namun isi dalam villa sangat mewah dan lengkap. Selain itu juga tempat itu sangat bersih dan memiliki kolam renang yang besebrangan dengan pemandangan yang indah.
"Kami ambil kamar atas ya" Ucap Sean pada semua orang yang ada.
Tidak ada yang protes karena kamar di villa itu cukup banyak dan bisa menampung mereka semua. Sedangkan para pengawal akan beristirahat bergantian.
Mereka memasukkan barang-barang ke kamar masing-masing sebelum keluar untuk berjalan-jalan.
Tampak Joe dengan baik menjaga dan menemani Erik yang masih setia pada kursi rodanya. Erik semakin membaik karena mampu berdiri di atas kedua kakinya meski hanya beberapa detik saja.
Setidaknya ada perubahan di setiap proses terapi yang di lakukan Erik selama ini. Hal itu membawa semangat dan rasa senang tersendiri untuk Erik. Dia mulai menerima kondisinya yang serba terbatas itu. Namun dia juga yakin bisa kembali berjalan dengan normal tanpa harus merepotkan orang lain lagi.
.
.
.
Apartement Rain~
"Kau sudah kembali Madam?" Sapa Carlie pada Rain yang sedang duduk menikmati wine di ruang tamu apartemennya.
"Tentu. AKu dengar kau mencari mati mendekat dengan orang-orang itu. Jangan bertindak gegabah!' Tegas Rain yang tidak suka Carlie mendekati pihak Linny tanpa persiapan apapun.
"Aku harus membunuh mereka yang sudah menghancurkan Carlos" Ucap Carlie penuh dendam.
"Bersabar lah! Kau terlalu gegabah!" Tegur Rain.
CArlos memang masih hidup tapi dia lebih persis mayat hidup dengan kondisi memprihatinkan di dalam penjara.
"Sudah jangan buang tenaga mu. Kau tau Sean memiliki adik laki-laki?" Tanya Rain dengan senyum mengerikannya.
"Ha? Benarkah? Aku tidak tau tentang keluarga dia. Sangat sulit mencari tau karena sepertinya dia juga tidak dekat dengan keluarganya" Ucap Carlie yang meraih wine di meja.
"Itu menurut mu. Tapi tetap saja mereka sedarah. Dan aku dengar adiknya juga tak kalah tampan dan kekar" Ucap Rain lagi.
"maksud mu kau menginginkan adiknya Sean? tidak mungkin lah. Kalau dia normal mana mungkin bisa" Ucap Carlie heran dengan keinginan Rain.
"Tidak ada yang tidak bisa bagi seorang Rain. Kau tinggal ikuti rencana ku" Ucap Rain sambil menyeringai.
CArlie menatap heran pada Rain yang begitu yakin dan bersemangat untuk mengambil Adik Sean ke dalam komunitas mereka. Entah apa yang Rain rencanakan.
Carlie hanya bisa ikut dengan rencana Rain. Karena hanya Rain yang bisa melindunginya saat ini dari Linny.
Dia tidak punya kemampuan melawan Linny seorang diri. Melihat kondisi kembarannya sudah dapat dia pastikan Linny bukan perempuan biasa.
.
.
.
Kebun teh puncak~
"Hei kemari ayo kita foto di sini"
Suara Sisilia berteriak memanggil yang lainnya untuk berkumpul. Dia memang sangat suka mengabadikan moment di setiap perjalanan.
"Sudah. Jangan foot terus. Kapan bisa jalannya"
Ucap Linny menatap Sisilia yang mulai memanyunkan bibirnya kesal. Linny tidak suka berswafoto. Semua fotonya selama ini di ambil diam-diam oleh Sean.
Bahkan saat Honeymoon saja Linny tidak memotret selembarpun. Dia sibuk merekam semua yang dia lihat dalam ingatannya, bukan ponselnya.
Bagi Linny menikmati suasana jauh lebih berguna dari pada sibuk memotret. Linny bahkan tidak memposting apapun di media sosialnya. Hal yang unik karena Sean lah yang lebih sering memposting sesuatu di media sosial.
"Ayo ke sana. Pemandangan di sana sangat bagus. Di bawahnya ada sawah warga di sini" Ucap Doni menunjuk arah barat tak jauh dari posisi mereka berdiri.
Semuanya mengikuti arah yang di tunjuk oleh Doni. Mereka begitu terpukau dengan keindahan alam di negeri tanah kelahiran mereka.
Pemandangan yang tidak bisa di beli dengan apapun dan wajib di lestarikan di saat dunia sudah kekurangan oksigen alami.
Hingga waktu semakin sore, mereka memutuskan kembali ke villa untuk bersiap acara barbeque bersama.
"Sayang. Lelah?" Tanya Sean pada Linny yang tampak memijat pergelangan kakinya.
"Sedikit" Jawan Linny singkat.
Sean langsung membungkuk dan memijat kaki Linny perlahan.
"Ayo mandi" Ucap Sean lalu memgendong Linny kedalam kamar mandi.
Di setiap kamar mandi di villa itu tersedia bathup yang tidak begitu luas. Namun itu bukan pengahalang bagi Sean dan Linny untuk bercinta di sana.
Keduanya saling bercumbu mesra dan melepaskan semua hormon estrogen mereka yang begitu tinggi.
******* dan nyanyian cinta keduanya kian menggema memenuhi kamar mandi. Entah berapa kali sudah keduanya mencapai pelepasan hingga akhirnya mereka menyudahi kegiatan cinta itu dan benar-benar menyelesaikan mandi bersama.
.
.