
Di dalam kamar, Sean melepaskan heels Linny lalu memijat perlahan kaki Linny agar releks.
"Kau kenapa sebaik ini padaku?" Tanya Linny.
Sean menatap heran dengan pertanyaan Linny.
Pertanyaan yang tampak sangat bodoh padahal entah berapa kali Sean sudah mengatakan dirinya menyukai Linny dan ingin serius menikahinya.
"Karena aku mau" Jawab Sean yang terdengar ambigu.
"Apaan sih? Jawaban aneh" Ucap Linny kesal.
"Aku mau selalu dekat dan bisa menjadi tumpuan mu saat kau butuh kapan saja" Lanjut Sean yang masih tetap memijat kaki Linny.
"Aku selalu kasar juga menolak menikah. Apa kau tidak bosan?" Tanya Linny heran.
"Tidak. Aku tidak pernah bosan dan tidak akan pernah bosan. Walaupun hanya bisa seperti ini selamanya juga aku tidak masalah Linny" Jelas Sean sambil tersenyum menatap Linny. Wajahnya tampak tulus mengatakan hal itu.
Sejenak Linny merasa tersentuh. Hampir saja dia membiarkan Sean benar-benar menguasai hatinya. Namun Linny sadar itu tidak mungkin.
Linny hanya akan membuat Sean dalam masalah. Linny bukan orang yang akan melupakan tujuan utamanya selama ini. Dirinya bahkan sudah bersiap terjerat masalah hukum jika setelah menghancurkan dan membunuh orang yang sudah merusak kehidupannya.
"Aku harap kau jangan berharap lebih. Jika kau sudah normal kembali maka kau boleh mencari yang lain yang bisa kau ajak menikah. Karena aku tidak mungkin menikah dengan mu" Ucap Linny tegas.
Sean menatap Linny dengan wajah serius. Sean menempatkan diri mendekati wajah Linny.
"Aku bukan orang yang mudah menyukai dan mencintai seseorang atau suatu hal apa pun itu. Tapi jika aku sudah memilih maka aku tidak akan melepasnya sampai kapan pun. Terserah orang itu mau membalasku atau tidak tapi aku tetap akan mencintai orang itu dengan caraku" Ucap Sean lalu mengecup perlahan bibir Linny.
Linny menghela nafas berat, sulit sekali membuat Sean paham posisinya yang tidak mungkin menerima seorang pria. Linny juga tidak bisa lagi percaya pada seorang pria, tidak ada pria yang bisa setia menurut Linny yang mengingat semua hal yang telah bertahun-tahun dia jalani. Sebaik dan se-soleh apa pun pria yang dia temui tetap saja punya keinginan untuk mencari wanita lain. Terkecuali Papa kandungnya.
"Kita hanya manusia yang sama-sama sakit. Dan suatu saat nanti kita pasti akan menyakiti. Aku tidak ingin hal itu terjadi. Buktinya saja saat aku mengabaikanmu, kau terluka parah" Ucap Linny yang entah kenapa gusar mendengar pernyataan Sean.
Sean mulai mengerti kekhawatiran Linny. Tapi Sean tetaplah Sean. Dia sudah memilih bersama Linny meskipun terkadang bayangan bercinta dengan sesama jenisnya bisa muncul di pikirannya. Hanya saat dia sudah bersama Linny, dia tidak ingat hal itu lagi.
"Kau harus tau, aku tidak akan pernah melepaskan musuhku. Meskipun aku harus berurusan dengan hukum ataupun kematian. Aku tetap akan menghancurkan mereka. Kau hanya akan ter-sakiti nantinya Sean, aku tidak akan melepaskan manusia-manusia itu. Apa kau tidak takut dengan orang berdarah dingin sepertiku? Kau sudah lihat kan bagaimana aku menghancurkan Agus juga hampir membunuh Carlos? Itu aku yang sebenarnya. Dan kemungkinan jika aku merasa kau mengkhianatiku, aku juga akan menghancurkan mu" Ucap Linny dengan tatapan dingin.
Walaupun begitu Sean tampak tidak peduli. Sean malah kembali mencium bibir Linny.
"Aku lebih baik mati ditanganmu daripada aku kembali menjadi Sean yang dulu" Ucapan Sean terdengar serius dan menusuk di dada.
Entah keberanian apa yang membuat Sean menyerahkan hidupnya pada Linny. Padahal jelas-jelas Linny sudah berkata bahwa dia bisa membunuh Sean kapan saja jika dia merasa terusik dan dikhianati.
"Kalau kau sudah memilih hal itu maka kau harus siap jika aku hanya bisa menyakiti mu Sean. Aku sudah mengingatkan mu. Jangan salahkan aku jika kau hanya akan ter-sakiti oleh tindakanku" Ucap Linny lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Sean terpaku diam mendengar perkataan Linny. Hatinya merasa sakit dengan kerasnya pemikiran Linny.
"Apa yang bisa aku lakukan untukmu Linny. Kau yang bisa membuatku lupa dengan komunitas laknat itu" Ucap Sean lirih.
Di dalam kamar mandi, Linny berdiri di bawah guyuran air dingin dari shower. Tanpa sadar dirinya menangis dalam diam. Hatinya merasa sesak mendengar perkataan dan pernyataan Sean yang tulus.
"Kau harus kuat Linny. Biarkan orang itu. Kau tak pantas menerimanya. Kau ini kotor" Ucap Linny pada diri sendiri.
Ya sekeras apa pun Linny, dia tetap memiliki hati kecil. Dia sadar Sean banyak menguasai hati kecilnya itu. Namun dia tidak ingin Sean masuk lebih jauh lagi.
Meskipun Linny terlihat kuat dan berani dari luar, tapi dia juga tau kalau dirinya bukan wanita yang bersih untuk pantas menjadi seorang istri apalagi seorang ibu. Dia pun takut suatu saat nanti perbuatan buruknya hanya akan melukai pasangannya dan anak-anaknya kelak.
Setengah jam kemudian Linny keluar dari kamar mandi mengenakan bathrobe. Linny tidak menemukan Sean di dalam kamar.
Linny menghembuskan nafas kasar. Dia tahu benar kalau perkataan dia sungguh menyakiti Sean tapi itu harus dia lakukan agar mungkin Sean bisa mencari wanita lain yang lebih pantas untuknya.
Linny menuju balkon kamar dan menyesap pod miliknya. Tanpa dia sadari ternyata Sean keluar mencari chef untuk meminta memasakan makanan kesukaan Linny. Sean memperhatikan Linny sepanjang acara tadi tidak makan dengan baik.
Sean yang baru masuk dalam kamar perlahan berjalan mendekati Linny dan memeluknya dari belakang.
"Ganti pakaian dulu. Nanti kau masuk angin hanya berlapis bathrobe begini" Ucap Sean.
Linny benar-benar bingung dengan Sean yang masih kekeh untuk dekat dengannya setelah apa yang dia ucapkan tadi. Terserahlah apa pun itu. Linny tidak ingin memikirkannya lagi.
"Nanti saja. Aku ingin melihat laut" Ucap Linny sambil terus menyesap rokok elektrik miliknya.
"Laut masih gelap. Tidak ada yang tampak. Ayo masuk" Ajak Sean sambil menuntun Linny untuk masuk dan duduk di sofa.
Tak lama bel kamar berbunyi. Sean segera membukakan pintu. Tampak pelayan mengantarkan pesanan makanan yang di minta Sean. Dan menyusunnya di atas meja dekat sofa itu.
"Kau lapar? Bukannya tadi udah makan banyak di pesta?" Tanya Linny heran.
Banyak sekali makanan yang dipesan oleh Sean dan semuanya merupakan makanan kesukaan Linny.
"Duduklah. Aku akan menyuapi mu. Kau tadi tidak makan dengan baik. Mungkin yang terhidang tidak sesuai seleramu" Jelas Sean lalu mengambil sepotong steak dan menyuapi Linny.
Linny seperti bayi kecil yang tersihir dengan makanan enak itu hanya diam disuapi oleh Sean.
Sean juga turut menikmati makanan itu bersama Linny hingga seluruh makanan di meja habis.
"Aku akan menyuruh orang membersihkan piring-piring ini dulu" Ucap Sean hendak berjalan menuju telepon di kamar itu.
Linny menarik tangan Sean, mata keduanya saling bertatapan.
"Kenapa kau masih sebaik ini?" Tanya Linny serius.
"Aku sudah bilang aku tidak akan pernah melepaskan apa yang sudah aku raih" Jawab Sean sambil tersenyum lembut.
Linny menghela nafas berat dan tampak berpikir sejenak.
"Baiklah. Kalau itu mau mu. Tapi aku punya syarat" Ucap Linny yang membuat Sean merasa senang.
"Katakan apa pun itu akan aku lakukan" Jawab Sean antusias.
"Pertama, jangan pernah kau mencoba menyentuh terong lemas sialan mana pun lagi. Kedua, jangan coba mengganggu apa pun keputusanku dalam bertindak. Ketiga, aku tidak ingin menikah dan tidak ingin memiliki anak" Ucap Linny dengan tegas.
Sean menatap Linny. Yang pertama dan kedua dia akan sanggup melakukannya. Namun yang ketiga dia tidak tahu apa dia bisa melepas keinginannya memiliki keturunan. Karena bagaimanapun Sean menyukai anak kecil. Dia bahkan sangat menyayangi keponakannya.
"Jika kau tak bisa melakukan syarat-syarat itu, maka lupakan untuk menjadi satu-satunya pria untuk ku. Dan jangan pernah lagi mencoba mendekatiku seperti itu" Ucap Linny saat Sean masih tampak bungkam.
"Aku bersedia. Aku akan menerima syarat mu" Ucap Sean dengan mantap.
Dia tidak ada pilihan. Masalah menikah dan anak akan dia pikirkan nanti. Lagi pula mengingat mereka berdua yang sering bercinta tanpa pengaman itu tidak mungkin Linny tidak akan kebablasan untuk hamil.
"Aku lelah. Kaki ku masih pegal" Ucap Linny.
Sean langsung mengendong Linny dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Tidurlah. aku akan memijat tubuhmu. Sepertinya kau memang terlalu lelah" Ucap Sean yang benar saja memijat kaki tangan dan kepala Linny perlahan hingga Linny tertidur.
Sean mencium kening Linny dan menatapnya penuh kasih sayang.
Ponsel Sean tampak bergetar. Panggilan masuk dari Erik tidak dijawabnya.
Baru saja Sean hendak memblokir nomor Erik namun dia mendapat pesan masuk berupa video dari Erik.
' *Kau yakin tidak ingin video ini bocor? Aku tidak masalah jika orang tahu tentangku, tapi apa kau siap? *' -tulis Erik-
Wajah Sean memucat melihat video dirinya saat di perkosa beramai-ramai oleh David dan teman-temannya. Juga video panasnya dengan Erik.
"Dia... Kapan dia mengambil video kami???" Sean terkejut, dirinya tidak pernah merekam kegiatan ranjangnya dengan Erik, dia tidak segila itu untuk membuat jejak digital yang suatu saat bisa menghancurkan hidupnya.
Sean tampak frustrasi melihat video-video yang dikirim oleh Erik. Pria muda itu sudah terlalu berambisi mendapatkan Sean kembali.
' *Kalau ingin master video ini. Temui aku di tempat biasa *' -tulis Erik-
Tanpa Sean sadari, Linny berada di belakangnya memperhatikan Sean.
"Dia benar-benar gila! Bangssttt!" Umpat Sean kesal.
"Temui dia. Aku akan ikut dengan mu" Ucap Linny yang membuat Sean terkejut.
"Linny.. Kau bukannya sudah tidur???"
.
.
.