
Sinar matahari masuk melalui celah gorden jendela di kamar Linny.
Sean merasa silau dan mulai bangun dari tidurnya.
Dia merasa sangat segar karena bermimpi melakukan hubungan suami istri dengan seorang wanita yang tidak di kenalinya.
" Haha. Aku gila. Bisanya cuman mimpi, ketemu di dunia nyata malah kagak bisa er*ksi! "
Keluh Sean pada diri sendiri lalu duduk di atas tempat tidur.
" Eh"
Sean tersadar, dia tidak sedang berada di kamar apartemennya sendiri.
Di sibakkannya selimut yang menutupi tubuh.
Sean bangun dari tempat tidur, namun baru saja melangkah dia merasa ada yang aneh.
" Ouw Shitt!!!! Ke mana pakaianku?? " Sean terkejut, dia tidur dalam kondisi tanpa pakaian di badannya.
Terlihat pakaian miliknya berserakan di dekat pintu, Sean segera masuk ke kamar mandi di dalam kamar itu dan membersihkan diri lalu memakai pakaiannya.
Sean merasa bingung apa yang terjadi semalam. Dia hanya ingat dia minum di tempat Linny. Dan bermimpi melakukan hubungan suami istri dengan wanita yang tidak di kenal.
Sean berjalan keluar dari kamar. Namun baru saja membuka pintu, Sean di kejutkan dengan pemandangan tubuh belakang seorang wanita yang polos, tampak wanita itu sehabis mandi dan sedang memakai bra-nya.
'Eh itu. Luka.... ' Batin Sean menatap dengan lekat punggung wanita itu.
" Hei! " Bentak Linny.
" Ngapain lihat-lihat? " Ucap Linny yang risih dengan tatapan Sean.
" Ah sorry. Kagak maksud. Cuman itu punggung mu... " Sean tampak segan bertanya.
" Luka kecelakaan. Sudah lama. " Ucap Linny singkat lalu menuangkan air madu lemon dan meminumnya sendiri.
" Sudah sadar? Tuh minum air madu lemon-nya ambil sendiri. Bukannya ada interview? " Tanya Linny lagi.
" Ah iya. Thanks" Ucap Sean lalu menuangkan sendiri air madu lemon dari teko yang tersedia.
" Lain kali jangan mabuk gitu. Ngerepotin tau ngak? " Ucap Linny dengan ketus seperti biasanya
" Ya tinggalin Aku aja kain kali" Ucap Sean tak kalah cuek.
" Dan aku enggak bisa tutup bar kalau kau masih di dalam itu! Ck!" Linny mengomel pada Sean.
Sean cukup syok, wanita biasanya malah ingin dan senang jika Sean merepotkan dan menginap bersama mereka.
Tapi ini Linny, bukan wanita lain Sean.. Linny yang tidak suka bersentuhan dengan pria dan juga tidak mau menikah!!
Sean teringat mimpinya, pikirannya menjadi cemas.
" Ah itu. Maaf semalam Aku.... " Sean bingung harus menggunakan kata apa untuk bertanya, padahal dia seorang team leader sales yang handal dalam berbicara dan berjualan. Namun sekarang lidahnya terasa kelu!
" Semalam kau mendadak on. Mungkin pengaruh alkohol. Jadi aku bantu pakai ini dan ini doang. Dari pada tangan Ku patah di tarik terus sama kau!" Ucap Linny dengan tegas sambil menunjuk tangan dan bibirnya.
Bohong! Semalam mereka melakukan hubungan yang panas! Sampai Linny yang tidak pernah mencapai pelepasan saat berhubungan malah bisa merasakan pelepasan dua kali.
Linny menetralisir isi otaknya dengan terus meneguk air madu lemon-nya itu.
Hareudang pisan euy!!! Linny merasa kesal kenapa dia bisa puas bermain dengan manusia gay satu itu.
Meskipun Linny sempat kesal mendengar Sean meneriakkan nama laki-laki saat dirinya sedang merasa ke-enakan.
" Ah gitu. Sorry ya. Aku kalau mabuk memang begitu. Maaf" Ucap Sean tak enak hati.
Sean segera meneguk air madu lemon agar otaknya lebih tenang.
" Bahkan kau meneriakkan nama Erik! " Ucap Linny lagi.
" Uhukkkk. Uhukkkk... "
Sean terbatuk mendengar perkataan Linny.
'Shitt kenapa aku menyebut nama Erik semalam!! Astaga!!! ' Batin Sean.
Dia merasa malu, meskipun dia sudah mengaku dirinya gay namun dia tidak sadar bisa meneriakkan nama pacarnya saat bersentuhan dengan seorang wanita.
Beruntung wanita itu Linny, bukan yang lainnya. Jika tidak habis sudah riwayatnya.
" Kau terlihat segar sekali. Bermimpi habis main dengan pacar mu itu?" Tanya Linny dengan santai.
" Maaf. Lain kali Aku tidak akan begini lagi" Ucap Sean merasa tidak enak.
" Baguslah. Hati-hati jika bersama orang lain. Bisa-bisa rahasia mu itu terbongkar dari mulut mu sendiri! " Ucap Linny dengan santainya.
" Iya aku paham. Ah aku balik dulu an ya. Mau siap-siap interview" Ucap Sean berpamitan.
" Nih!"
Linny melemparkan kunci mobil milik Sean.
" Semalam kau membawa mobil Ku? " Tanya Sean heran.
Sean merasa semalam duduk di dalam mobil yang beraroma bunga.
" Oh okey. See you" Ucap Sean lalu keluar dari kamar Linny.
Dirinya segera memacu mobil menuju apartemennya.
Terlihat Linny menerima telepon di apartemennya.
"Lakukan saja, Aku sudah mengenal orang itu! " Ucap Linny lalu menutup teleponnya.
" Beruntung sekali si gay itu" Ucap Linny sambil tersenyum.
.
Sean tiba di gedung FP corporation. Dirinya naik ke lantai 10 untuk bertemu dengan user yang akan meng-interview dirinya.
Setelah berbincang selama 30 menit, interview di nyatakan selesai.
" Jadi kapan Anda bisa segera bergabung dengan kami Mr. Winsen? "Tanya si user.
Sean terkejut. Dia bahkan belum menjalani test dan sebagainya.
" Ah. Saya diterima? Loh belum ada test lainnya" Ucap Sean terheran.
" Iya. Itu perintah CEO kami. Dia mengatakan test Anda adalah kinerja Anda dalam 3 bulan awal. Jika Anda berhasil maka akan menjadi karyawan tetap di sini" Ucap user itu menyampaikan pesan dari CEO-nya.
" Oh begitu. Bisa beri waktu saya 2 minggu. Saya harus menyelesaikan pekerjaan di kantor lama dan melakukan serah terima yang baik" Ucap Sean.
" Baiklah kalau begitu. 2 minggu lagi Anda sudah harus bergabung di sini. Ini surat tanda Anda sudah di terima bekerja di sini. Saat pertama masuk cukup tunjukkan ini kepada security agar di berikan akses masuk. Kartu akses Anda akan menyusul saat Anda masuk kerja nanti ya" Ucap user itu menjelaskan.
" Terima kasih Pak " Ucap Sean menjabat tangan user itu.
" Sama-sama " Balas si user.
Sean kembali ke apartemen dengan rasa senang.
Dirinya bergegas untuk membuat surat pengunduran diri kepada perusahaannya bekerja saat ini.
Malam pun tiba. Sean bertemu dengan sahabatnya di Wingtiger club.
"Gimana? " Tanya Danu kepada Sean.
" Apanya? " Sean pura-pura tidak mengerti.
" ****** nih anak! Pura-pura! " Ucap Aston kesal.
" Haha. Sudah diterima. Dua minggu lagi aku kerja di FP corporation sebagai manager pemasaran" Ucap Sean sambil menegak segelas whiskey.
" Wuidih. Keren! Langsung diterima mantap!!! " Ucap Doni menyalami Sean sebagai ucapan selamat.
" Akhirnya yah Bro. Naik pangkat juga! " Ucap William yang turut memberi selamat.
" Siapa dulu yang rekomendasi in " Ucap Aston berbangga hati.
" Sialan! Kata user-nya, CEO-nya yang suruh masukin Aku langsung tanpa test. Test aku tuh 3 bulan pertama kinerja Ku! " Ucap Sean sambil melempar bantal sofa ke arah Aston.
Aston hanya tertawa terkekeh.
" Pasti bisa Bro. Keren! " Ucap William.
" Eh kagak curiga apa bro? Jangan-jangan CE- nya satu server sama kau?! Sama-sama suka batangan!! " Ucap Danu menertawakan Sean.
" ya kagak ngapa juga. Lumayan CEO loh itu. Udah pasti aman kalau gitu!" Ucap Doni menimpali.
" Eh tapi emang CEO-nya udah pasti cowok? " Tanya William sambil meledek Sean.
Semuanya melihat ke arah Aston menunggu jawaban.
"Ngapain lihat aku. Aku belum pernah ketemu dan enggak tahu cowok atau cewek. Kemarin Aku tanya Sisilia, dia bilang rahasia perusahaan. CEO enggak mau tunjukkin identitas-nya" Ucap Aston saat keempat sahabatnya menatap dirinya bersamaan.
" Sudahlah. Mau cowok mau cewek yang penting congrats and semangat Bro! " Ucap Doni kepada Sean.
" Ya thanks! Kalau gitu minuman hari nih aku yang bayar" Ucap Sean.
Sahabat sahabatnya semua tertawa riuh bersemangat.
Mereka melanjutkan minum bersama, namun karena besoknya semua harus kembali bekerja dan beraktivitas. Mereka bubar lebih cepat.
Tak lupa Sean mengabari sang kekasih--Erik bahwa dirinya sudah di terima bekerja di FP corporation. Erik juga tak kalah senang dan tidak sabar untuk kembali menemui Sean.
Ponsel Sean bergetar tanda pesan masuk.
'Besok makan siang bersamaku dan Kak Nini. Tenang, tidak ada yang lain. Hanya kita bertiga mau bicara serius! ' -isi pesan dari Eni-
Sean menghela nafas dan melajukan mobilnya menuju apartemen miliknya.
.
.
.
Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-WAKTU-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT TERHADAP SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN.
-linalim-