A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Melatih Penyusup?



Ruang Kerja Linny di Penthouse~


Setelah memikirkan berulang kali. Linny meminta bantuan Dewi dan dia akan meminta Santo berusaha sekuat mungkin melindungi Dewi.


"Kau bisa melakukan itu?"


Tanya Linny pada Dewi memastikan jika wanita itu benar-benar siap dan tidak terpaksa.


"Bisa Nona"


Jawab Dewi dengan pasti tanpa sedikit pun keraguan di matanya.


"Ini berbahaya. Mungkin kau juga bisa mati di dalam sana. Kau yakin? Aku tidak akan memaksa jika kau tidak yakin"


Ucap Linny lagi. Dia tidak mau mengorbankan orang secara terpaksa. Meskipun dia tidak ada pilihan lain lagi.


"Tidak masalah Nona. Jika pun mati karena menjalankan tugas dari Nona maka saya ikhlas. Dan Farid juga sudah dalam perlindungan Nona"


Dewi tampak begitu yakin dan tidak akan menolak untuk menyusup ke dalam lingkungan musuh Linny.


"Kalau begitu nanti malam kau akan tinggal di tempat teman ku. Dia akan melatihmu dengan baik dan menjelaskan apa yang harus kau lakukan. Aku akan memintanya memastikan risiko mu sekecil mungkin"


Jelas Linny pada Dewi. Dewi tersenyum, dia tidak salah memilih menjadi orangnya Linny dan membantu Linny. Di saat seperti itu pun Linny tetap ingin memastikan Dewi tidak akan terluka saat membantunya.


"Baik Nona"


Dewi pun pamit kembali ke unit apartemennya. Dia akan bersiap-siap untuk ikut bersama Linny malam nanti.


Pergerakan Linny begitu cepat. Beruntung tidak ada yang tau Dewi adalah orangnya juga. Dewi selama ini bersembunyi dan anak itu memang tidak suka bersosialisasi dengan orang luar.


Dia sangat fokus bersekolah dan bekerja sampingan sebagai bartender di dekat kampusnya. Meskipun Linny yang membiayai kuliahnya dia tetap tidak mau berpangku tangan dan menjadi benalu.


Dia cukup senang selama Farid terjamin masa depannya. Untuk diri sendiri dia bisa mengusahakan kehidupannya dengan sebaik mungkin.


Linny bergerak menuju kamar tidur, dia melihat Sean yang sedang duduk sambil menatap album pernikahan mereka.


Sean terpaku melihat foto mereka dengan keluarga Sean. Linny yakin Sean sedang memikirkan Willy.


"Bee~"


Nama panggilan itu membuat Sean langsung menoleh dan tersenyum. Meskipun sepakat memiliki nama panggilan sayang, Linny sangat jarang memanggil Sean dengan sebutan itu.


Tentu saat mendengar Linny memanggil membuat Sean menoleh padanya.


"Dalam seminggu ini jangan ke mana pun. Tetap di rumah dan bersama Jun. Okey?" Ucap Linny sambil membelai wajah Sean yang tampak muram sejak kemarin.


"Kenapa? Kau akan melakukan hal berbahaya?" Tanya Sean panik.


"Aku akan menghancurkan Rain. Tapi aku tidak yakin dia tidak akan menyerang tiba-tiba jika kemungkinan terburuk dia tau pergerakan ku"


Jelas Linny. Dia harus mencegah risiko apa pun jika sampai Rain tau Linny sudah mulai menyusup untuk menghancurkannya.


"Tapi itu bahaya. Aku takut kau terluka" Ucap Sean cemas.


"Tidak ada pertarungan tanpa darah jika ingin menang. Kalau kita tidak menyerang sekarang maka dia akan melukai orang-orang di sekitar kita lagi. Kau sendiri juga bilang bukan jangan mengganggu jika dia tidak memulai? Dan sekarang dia sudah melakukan kesalahan besar dengan menarik Willy menjadi korban mereka"


Jelas Linny dengan tatapan yang penuh amarah itu.


Sean menghela nafas. Dia setuju dengan perkataan Linny tapi dia juga takut Linny terluka lagi.


"Aku akan berhati-hati. Dan aku akan menyelamatkan Willy dari mereka. Akan aku pastikan Rain dan komplotannya hancur"


Ucap Linny lalu mencium bibir Sean. Keduanya berciuman dengan mesra untuk saling menguatkan.


.


.


.


Malamnya seperti janji Linny dan Santo. Linny membawa Dewi ke rumah Santo. Hanya rumah Santo lah yang jauh lebih aman dari lirikan orang. Karena Santo tidak pernah bersinggungan dengan mafia mana pun.


Dia hanya akan menyerang orang yang berani mengacau rencana balas dendamnya pada ibu kandung juga selingkuhan ibu kandungnya.


"Dia? Sudah yakin?" Tanya Santo pada Dewi.


"Kalau nanti kekasih ku tanya. Katakan saja kau anak dari pembantu Kakakku. Mengerti?" Ucap Santo memberi tahu Dewi.


"Mengerti" Dewi tampak patuh. Santo cukup menyukai keteguhan dari Dewi.


"Kau menemukan gadis ini di mana? Patuh dan pemberani sekali. Jarang ada" Ucap Santo mencoba berkelakar pada Linny.


"Dia yang mendatangiku bukan aku yang mencarinya"


Jawaban Linny membuat Santo heran. Tapi Linny memang berkata jujur. Dewi yang menerobos masuk ke villa nya dan tertangkap. Tentu benar jika Dewi yang mendatanginya. Bukan Linny yang mencari orang seperti Dewi.


"Aku pulang dulu. Tolong pastikan dia aman. Dia masih punya adik"


Ucapan Linny mengingatkan Santo membuat Dewi terkejut. Linny tetap khawatir akan keselamatan Dewi. Santo tersenyum dan mengangguk paham.


"Tenang. Aku juga akan mengajarinya menusuk bagian vital musuh jika dalam kondisi genting. Kau tenang saja"


Santo tersenyum pada Linny. Hal itu membuat Linny teringat pertemuan pertamanya dengan Santo dan Linny yang mengajari Santo membunuh orang hanya dengan pisau kecil.


Selesai mengantarkan Dewi. Linny memutuskan menuju ke rumah William dan Sisilia terlebih dahulu sebelum pulang karena Andrean memberitahunya jika dia sedang menuju penthouse Linny bersama Angel.


William dan Sisilia terkejut Linny datang tanpa kabar. Namun setelah mendengar ucapan Linny akan ada perang dan dia minta William membantunya menjaga Sean jika hal buruk terjadi semakin membuat William dan Sisilia cemas.


"Kenapa kau bicara begitu?" Tanya Sisilia cemas.


"Saat Santo mengejarnya dan menghancurkan bisnisnya. Kemungkinan dia pasti akan berusaha kabur. Dan jika dia kabur maka artinya masih ada ancaman dan pasti orang yang akan dia serang adalah aku saat semua orang yang di sekeliling kami di lindungi Om Donald"


Ucap Linny jujur. Dia memang meminta Om Donald melindungi semua orang di sekelilingnya dan tidak perlu khawatir dengannya. Tanpa Alfa pun dia masih sanggup bertarung dengan musuh.


"Jangan membicarakan hal buruk yang belum tentu terjadi"


Ucap William berusaha menghalau segala pikiran buruk akan masalah yang mungkin bisa terjadi nantinya.


"Aku datang hanya untuk itu. Aku kembali dulu. Andrean dan Angel sedang ada di tempatku. Bye"


Ucap Linny berpamitan. Dia segera kembali ke penthouse karena Andrean mengabari dia dan Angel sudah tiba dan sedang berbincang dengan Sean.


.


.


Tiba di Penthouse~


"Kalian sudah lama sampai?"


Tanya Linny saat melihat Sean, Andrean dan Angel duduk di ruangan televisi.


"Baru setengah jam yang lalu"


Jawab Andrean sambil tersenyum. Dia tidak bertanya tentang ke mana Linny karena dia tau apa yang sedang Linny kerjakan.


"Kau ke mana tadi sayang?"


Tanya Sean yang khawatir. Setiap Linny ke mana pun dia menjadi was-was.


"Ada keperluan sedikit. Ah ya sudah makan?"


Tanya Linny sambil menatap Angel dan Andrean bergantian.


"Sudah. Tidak usah repot. Ibu hamil ini selalu makan tepat waktu"


Ucap Andrean sambil mengelus perut buncit Angel yang semakin membesar.


"Iya benar. Dan aku hampir muntah dengan banyaknya makanan yang selalu di suapi Andrean. Katanya daripada si baby kelaparan"


Protes Angel sambil mengerucutkan bibirnya. Meskipun begitu dia tetap senang dengan perhatian Andrean itu. Andrean benar-benar memperlakukannya dengan baik dan menyayangi Angel juga anak di dalam kandungannya.


Kedua pasangan suami istri itu tampak berbincang ringan, Linny bersyukur Sean mulai tidak murung dan menyalahkan diri sendiri.


.


.


.