A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Lagi Bertengkar...



Sabtu pagi Sean terbangun di apartemennya. Kini Sean memilih tinggal menetap di apartemennya dari pada harus kembali ke rumah orang tuanya. Dirinya bersiap menuju tempat gym untuk berolahraga.


Saat membuka pintu dia begitu terkejut melihat seorang wanita berdiri menunggu di luar. Wanita itu berpakaian minim dan sexy, jika pria melihatnya tentu akan tertarik untuk membawa wanita itu masuk.


Namun tidak dengan Sean. Sean sangat tidak menyukai wanita di hadapannya itu. Wanita itu adalah Prilly, orang yang di jodohkan oleh sang Papa kepadanya dan tentu Sean menolak mentah-mentah.


Entah apa yang membuat Sean sangat tidak menyukai Prilly sejak awal bertemu, lebih tepatnya hati kecil Sean berkata Prilly tak sebaik dan tak sepolos penampilannya.


Melihat pintu apartemen Sean terbuka membuat Prilly langsung menoleh ke arah pintu dengan senyuman yang lebar.


" Kak Sean.. "  Ucap Prilly langsung memeluk Sean.


Sean melepaskan pelukan Prilly dengan kasar.


" Mau apa Kau kemari? Siapa yang memberi mu alamat Ku! "  Tanya Sean dengan kasar.


" Kak. Jangan marah. Prilly hanya ingin bertemu"  Ucap Prilly tampak takut takut.


" Aku tidak mau melihat wajahmu menginjak tempat ini lagi! Jika Kau lakukan maka jangan salahkan Aku bersikap kasar! "  Ucap Sean dengan ketus.


" Kak. Kenapa kakak begitu. Kita kan sudah di jodohkan. Memangnya apa kekurangan Ku? "  Tanya Prilly kesal.


" Kau tidak bisa membuatku bernafsu. Puas?! "  Ucap Sean lalu meninggalkan wanita itu sendirian.


Sean tidak menyadari sepasang mata menatap tajam melihat mereka.


Sean segera masuk lift dan turun menuju parkiran mobilnya.


" Sayang"  Suara Erik tepat di belakang Sean.


" Erik.. Sejak kapan Kau disini? "  Tanya Sean terkejut.


" Sejak melihat mu berpelukan dengan wanita di depan kamar mu"  Ucap Erik tampak cemburu.


' Ah Sial! '  Batin Sean.


Sean segera menarik Erik masuk ke dalam mobilnya dan melaju meninggalkan apartemen.


"Kau selingkuh! "  Ucap Erik menahan tangis.


" Aku tidak selingkuh! "  Balas Sean dengan nada suara yang marah.


Marah karena Prilly yang terus mengganggunya dan sekarang Erik juga ikut membuat masalah.


" Kau benar-benar mau di jodohkan dengan wanita itu?! "  Tanya Erik kesal.


" Sudah Ku bilang Aku menolak. Kalau tadi Kau lihat Aku bahkan mengusirnya! "  Ucap Sean semakin emosi.


" Tapi Kau berubah. Sejak Aku kembali dari Singapore dan Kau di jodohkan. Kau berubah Sean. Kau lihat gaya pakaianmu juga berubah"  Ucap Erik yang meneliti setiap hal yang digunakan Sean.


Selama ini Sean selalu mengikutinya, Sean selalu menurutinya bahkan Sean tidak peduli harus menjauh dari keluarganya asal bisa bersama Erik.


Namun beberapa waktu ini Sean berubah menjadi dingin. Tidak lagi menghubunginya duluan.


.


Sean tampak menghindarinya, juga sering menolak ajakan Erik untuk ke club perkumpulan para pelangi di kota itu.


Entah ke mana Sean padahal saat Erik mendatangi apartemennya, Sean tidak ada.


Terlebih pagi ini Erik melihat Sean di peluk oleh wanita yang mengaku sudah di jodohkan dengan Sean membuat api cemburu itu semakin membara.


" Kalau Kau meninggalkan Ku, maka akan Ku pastikan Kau tidak akan bisa melihat Ku lagi di dunia ini"  Ancam Erik.


" Erik.. Ku mohon tolong mengerti posisi Ku.... Kenapa Kau selalu mengancam untuk mati sih?? "  Tanya Sean berusaha mengontrol emosi saat berbicara dengan Erik.


" Karena Aku tidak mungkin bisa hidup tanpa mu! Aku tidak mau kehilangan mu! 3 tahun kita sudah jalani semua ini. Harus sembunyi-sembunyi. Aku bahkan harus berpura-pura tidak mengenali mu terkadang! Apa tidak bisa kita pindah negara saja. Ke tempat yang tidak ada orang mengenali kita dan mengizinkan pernikahan sejenis? "  Tanya Erik berlinang air mata.


Sean dan Erik memang sempat berencana untuk berpindah kewarganegaraan di negara yang bisa menyetujui pernikahan sejenis. Namun dengan berbagai pertimbangan membuat Sean mengurungkan niatnya itu.


" Jadi Aku harus bagaimana? Aku tidak mau kehilangan mu! Jika Kau meninggalkan Ku , lebih baik Aku mati sekarang juga! "  Ucap Erik berteriak.


Sean terpaksa menepikan mobilnya dan memeluk Erik.


Pria muda itu sangat lah nekat. Dia tidak akan segan-segan melakukan hal nekat dan gila yang bisa mengancam nyawa.


Sean sudah pernah menghadapi saat Erik terbaring lemah di rumah sakit akibat mencoba bunuh diri dengan menelan banyak pil tidur.


Saat kedua insan sejenis itu bertengkar dan Sean memilih untuk mengakhiri hubungan mereka.


Tentu Erik tidak menerima perpisahan itu. Dirinya sudah terlalu mencintai Sean meskipun itu adalah hal yang tabu.


" Ku mohon tenang lah. Aku tidak pernah meninggalkan mu. Tenanglah Erik. Percaya pada ku. Aku tidak mungkin menerima perjodohan dengan wanita itu"  Ucap Sean menenangkan Erik.


Meskipun dia tidak tahu apakah dirinya masih ingin bersama Erik, namun dia tidak berbohong bahwa dia memang menentang perjodohannya dengan Prilly.


" Janji? "  Tanya Erik lagi.


" Janji. Maka dari itu tenang lah. Tolong jangan seperti ini lagi ya sayang"  Ucap Sean sambil mengecup kening Erik.


Sean membantu menghapus air mata Erik yang membasahi kedua pipi nya.


Erik yang sudah mulai tenang kemudian di antar pulang oleh Sean.


Setelahnya Sean baru melajukan mobil menuju gym.


Entah mengapa pikirannya melayang memikirkan Linny.


Ingin  sekali dia memeluk Linny dan menceritakan kejadian hari ini.


"Linny.... "  Ucap Sean merasa frustrasi.


Ponsel Sean berbunyi. Telepon masuk dari William.


" Bro.. Aku mau undang kau dan Linny datang ke pesta ulang tahun Ku di villa puncak "  Ucap William tanpa basa basi di telepon.


" Baiklah akan aku sampaikan pada Linny. Kapan? "  Tanya Sean.


" Weekend ini. Jangan lupa ya! Aku tutup dulu telepon "   Ucap William lalu memutuskan panggilan telepon itu sepihak.


Sean bergegas menuju tempat gym untuk merelakskan pikirannya sejenak.


Malamnya Sean kembali mendatangi Bar RB.


" Weekend? Ah Maaf Aku tidak bisa. Kau tahu bar ini hanya tutup hari senin minggu ke empat. Kalau tidak ada Aku Eka akan kesulitan sendirian"  Ucap Linny.


Sean paham, Linny tidak bisa pergi ke mana pun meninggalkan tempat itu sesuka hatinya meskipun Linny merupakan Boss. Eka bisa kesusahan mengurus Bar sendirian.


" Aku titip salam dan kado saja untuk William. Bilang padanya lain kali saat datang ke sini akan Aku traktir segelas cocktail yang enak! "  Ucap Linny.


Sean tidak memaksa Linny untuk ikut lagi. Dia paham kesulitan Linny yang tidak bisa pergi ke mana pun meninggalkan Bar itu. Hanya Linny dan Eka lah yang menjalankan bisnis Bar itu.


Akhirnya Sean memutuskan mengajak Erik. Sekalian untuk menghibur Erik agar melupakan keinginannya untuk bunuh diri. Sean masih cemas jika Erik benar-benar nekad lagi.


.


.


.


Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HOTMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN.


-linalim-