A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Epilog 1



Hari pernikahan Aston dan Eka tiba. Linny tampak bersiap mengenakan gaunnya.


Sean sengaja membuatkan gaun indah itu untuk sang istri tercinta. Pakaiannya sudah mulai tidak muat karena perutnya yang kian membesar.


Usia kandungan Linny sudah memasuki bulan ke 7. Perutnya yang sudah membuncit besar itu membuatnya semakin sulit bergerak bebas.


Bahkan untuk memakai sepatu saja dia harus di layani. Mau menolak bantuan orang untuk membantunya memakai sepatu namun tak mungkin.


"Kenapa sayang?"


Sean melihat Linny kesulitan menaikkan kaitan gaunnya di punggung.


"Sulit sekali"


Ucap Linny yang tampak masih berusaha menaikkan kaitan nya.


"Sini aku bantu"


Sean langsung bergerak membantu Linny menaikkan kaitan gaun pestanya itu.


Setelah selesai Sean mencium punggung Linny yang terekspose dengan indah karena gaun itu.


Sean sedikit menyesal membelikan gaun itu untuk Linny.


Linny yang cantik semakin cantik dan tampak seksi dengan perut buncitnya.


Tatapan Sean pada Linny seolah tak rela istrinya di lihat orang lain.


"Kenapa? Ada yang salah?"


Tanya Linny heran dengan cara pandang Sean.


Sean tersenyum dan mengecup pipi Linny dengan lembut.


"Kau terlalu cantik"


Ucap Sean yang membuat Linny tertawa. Pria itu tetap saja sangat romantis dan terkadang terlalu lebay menurut Linny.


"Ayo lah sudah waktunya acara Aston dan Eka. Jangan sampai ketinggalan"


Ucap Linny sambil menangkup pipi Sean dengan tangannya.


Sean tersenyum dan langsung menggenggam tangan Linny. Keduanya kemudian berjalan menuju mobil untuk segera menuju tempat pesta.


.


.


Dua bulan berlalu sejak pernikahan Aston dan Eka.


Linny kini cukup sering mengunjungi orang tua Sean. Hanya untuk sekedar menyapa dan melihat perkembangan Mahaprana yang di rawat di rumah.


Mahaprana sudah tidak banyak bergerak. Setengah tubuhnya sudah kaku. Sudah banyak terapi yang dia ikuti namun tak banyak perubahan yang dia rasakan pada tubuhnya.


"Kau sudah hamil besar. Lebih baik banyak istirahat" Ucap Nyonya Mahaprana a.k.a Mamanya Sean.


Ucap Linny dengan sopan.


Sejak kehamilannya kian membesar, Linny tampak menurunkan ego nya. Dia juga tidak terlalu keras dan menghormati keluarga Sean.


Orang tua Sean juga tampak mulai berubah. Tak lagi seperti dulu. Mahaprana juga lebih banyak diam dan hanya sesekali bertanya tentang kabar anak-anaknya. Juga cucu-cucunya yang di kandung Alicia dan Linny.


Alicia sudah melahirkan sebulan lalu. Tentu karena dia duluan hamil di banding Linny. Sedangkan Linny sedang menunggu HPL-nya.


"Hati-hati bergerak. Kau sedang hamil besar. Lain kali ajak Sean jangan sendirian"


Ucap Mahaprana.


Dia mulai paham untuk berlaku sebagai orang tua yang seharusnya meskipun itu sedikit terlambat. Setidaknya Mahaprana tau caranya untuk memperbaiki diri. Tidak seperti Sisca Natalie yang kini sudah masuk rumah sakit jiwa khusus tahanan.


Rendy sudah meninggal dan Hendra mulai sakit-sakitan parah. Sampai akhir Sisca Natalie masih mengutuk Linny dan hanya memikirkan Rendy - anak sambungnya.


"Aku pamit dulu, Ma, Pa. Sean sebentar lagi pulang dari kantor"


Ucap Linny berpamitan. Perlahan dia beranjak dari sofa tempatnya duduk.


"Iya. Hati-hati ya. Alfa hati-hati mengemudi"


Pesan Nyonya Mahaprana pada Alfa. Alfa hanya mengangguk paham karena tanpa di perintah juga Alfa akan berhati-hati dan melindungi Nona juga calon buah hatinya.


Baru saja melangkah keluar dari rumah Sean, perut Linny terasa sangat mulas.


"Aduh!"


Linny yang biasanya sangat tahan rasa sakit tidak mampu menahan sakit di perutnya kini.


"Linny. Nak, kenapa?"


Tanya Nyonya Mahaprana terkejut melihat Linny kesakitan. Mahaprana yang berjalan dengan bantuan tongkat roda juga terkejut.


"Linny!"


Seru Mahaprana syok melihat menantu satunya itu kesakitan.


Terlihat aliran air dan sedikit darah mengalir di kaki Linny. Nyonya Mahaprana langsung tau jika Linny akan segera melahirkan.


"Astaga. Ini Sepertinya ketuban mu pecah! Alfa, ayo cepat bawa Nona mu ke rumah sakit!"


Seru Nyonya Mahaprana.


"Baik Bu"


Alfa langsung membantu Linny masuk ke dalam mobil.


Nyonya Mahaprana menemani Linny menuju rumah sakit sedangkan Mahaprana sibuk mengabari Sean juga Eny agar bisa menjemputnya untuk melihat kelahiran cucunya itu.


Tiba di rumah sakit Linny di bawa ke ruangan khusus bersalin. Terlihat dia amat kesakitan.