A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Menerobos...



Sean mendapat kabar jika Willy adiknya sering jarang pulang dan ada masalah antara keluarganya dengan keluarga Alice.


Awalnya Sean tidak mau peduli namun sang kakak berkata Willy tampak aneh. Dia sering diam dan termenung tidak seperti biasanya.


"Ada apa?" Tanya Linny saat melihat Sean yang merenung.


"Kak Nini bilang Will menjadi aneh belakangan. Seperti orang yang tidak punya kehidupan" Ucap Sean.


"Ada masalah?" Tanya Linny lagi.


"Hmmm.. Pernikahannya dan Alice sepertinya akan batal. Namun pihak Alice terus mendesak"


Sean tampak pusing dengan masalah yang menimpa keluarganya. Dia juga kesal akan keras kepala Mahaprana dan orang tua Alice yang tidak memikirkan kondisi Alice dan janin yang sedang dia kandung.


Mereka masih terus berdebat akan masalah mahar pernikahan untuk Alice. Entah apa gunanya terus saling bersitegang dengan hal itu.


"Mau bertemu Will?" Tanya Linny menatap Sean.


Sean tersenyum dan menggeleng, "Dia jarang pulang kata Kak Nini. Juga susah di hubungi".


Linny hanya mengangguk dan membiarkan Sean yang masih merenung memikirkan cara membantu Willy dan Alice menyelesaikan masalah mereka.


Bagaimanapun Willy masih adik kandungnya dan Alice itu juga sedang mengandung keponakannya.


.


.


Rendy berhasil masuk ke perusahaan Linny karena harus menggantikan Office boy yang mengalami kecelakaan lalu lintas minggu lalu. Karena masih sedang menjalani perawatan maka Rendy di minta menggantikannya.


"Reno. Besok kau mulai kerja bersih-bersih di perusahaan FP ya. Ganti in si Dono. Dia masih belum bisa kerja"


Ucap supervisor perusahaan cleaning service itu.


"Baik Pak"


Tentu dengan senang Rendy menerima pekerjaan itu. Dia sudah berencana menghancurkan perusahaan Linny.


Hingga dua hari bekerja di sana dan mulai memahami struktur perusahaan itu. Rendy mendapat informasi jika ada salah satu data perusahaan yang sangat penting an tidak boleh bocor ke public.


Rendy mulai menyiapkan rencananya untuk menyelinap masuk ke ruangan khusus data dan mencuri data itu. Dia yakin jika bisa membocorkan data itu akan menghancurkan perusahaan Linny.


"Mampus kau Kim! Siapa suruh kau menghancurkan keluarga ku!" Gumam Rendy yang sangat senang menemukan flash disk berisi data itu.


Tanpa Rendy sadari perbuatannya sudah terekam CCTV dan tentunya keamanan di perusahaan Linny tidak selemah itu.


Rendy terkejut karena banyaknya pengawal yang mengejarnya.


"SIAL!" Umpat Rendy lalu berlari secepat mungkin.


Dia terjatuh dan flash disk yang dia curi juga terjatuh.


"Argh!!! Sial sial sial!!!"


Umpat Rendy dengan kasar dan terus berlari mencari tempat persembunyian.


"Eh. Copot-copot-copot!!!"


Suara seorang perempuan terdengar terkejut melihat Rendy yang terduduk di antara sampah yang menumpuk.


"Hei. Kau tidak apa-apa? Halo?? Mas??"


Suara gadis itu membangunkan Rendy yang tampak setengah sadar itu.


"Ah iya. Tidak apa-apa. Saya hanya kelelahan saja" Ucap Rendy berpura-pura ramah.


Rendy terpukau melihat wajah manis gadis itu. Rendy langsung jatuh cinta pada gadis itu.


"Ayo Mas, saya bantu. Kita duduk di sana yang lebih bersih, Biar saya bawakan air untuk mas" Ucap gadis itu yang ternyata adalah Eka.


Rendy mengangguk dan berterima kasih. Eka bergegas membawakan sebotol air mineral untuk Rendy.


"Mas terluka?" Tanya Eka melihat lutut Rendy.


"Ah iya, saya jatuh saat mengejar copet yang mencuri barang saya"


"Ini ambil saja sedikit uang saya. Buat ongkos Mas pulang ke rumah. Lain kali hati-hati kalau ada di kota besar begini. Banyak orang jahatnya" ucap Eka yang memang sangat baik dan polos itu.


"Terima kasih. Kau baik sekali. Nama mu siapa?" Tanya Rendy yang semakin terpesona pada Eka.


"Ah aku Eka. Mas sendiri?" Tanya Eka pada Rendy.


"Nama ku Reno. Terima kasih atas bantuanmu" Ucap Rendy lalu berlalu dari tempat itu.


Dia sangat terpesona pada Eka bahkan dia jatuh cinta pada pandangan pertama.


Rendy ingin sekali memiliki Eka. Sudah lama dia tidak melihat ada perempuan sebaik dan setulus Eka.


"Aku harus mendapatkannya. Dia pasti akan menjadi istri yang baik" Gumam Rendy saat berjalan menuju halte bis ke arah rumah kontrakannya.


.


.


Besoknya di FP Corporation~


Linny, Sean, Andrean dan Sisilia tampak berkumpul dengan penjaga juga. Mereka membahas kejadian semalam saat ada yang menyusup ke ruangan data.


"Jika dia sampai bisa masuk dan menghindari wajahnya terekam jelas di kamera tandanya dia sudah lama memantau tempat ini" Ucap Linny sambil memperhatikan rekaman CCTV.


"Siapa yang berani. Eh itu baju itu baju office boy bukan?" Ucap Sisilia terkejut.


"Dre. Bisa kau cari tau siapa saja petugas yang bertugas sebulan ini di perusahaan?" Tanya Linny.


"Tentu. Akan segera aku cari tau" Ucap Andrean yang langsung menghubungi pihak outsourcing penyedia jasa cleaning service di perusahaan.


Sengaja mereka tidak menceritakan kejadian itu dan tidak menyebarluaskannya agar bisa menangkap si pelaku.


"Berani sekali orang itu. Cari mati dia" Ucap Sisilia heran dengan keberanian orang yang mencoba mencuri data perusahaan.


Seharusnya siapa pun bisa menerka jika pengamanan di sana tidak sesimpel itu. Mungkin mereka bisa menerobos masuk tapi belum tentu bisa keluar dengan selamat.


"Jadi flash disk nya terjatuh?" Tanya Linny pada salah satu pengawal yang ikut mengejar pria pencuri itu.


"Iya Nona. Sudah kami amankan sebagai barang bukti agar sidik jarinya nanti bisa di lacak" Ucap pengawal itu.


"Baiklah. Kalian boleh keluar. Mulai hari ini perketat keluar masuk karyawan ataupun non karyawan termasuk petugas kebersihan. Terutama di jam sepi atau jam luar kantor" Ucap Linny memberi titah.


"Baik Nona" Para pengawal itu segera keluar dari ruangan Linny dan mengerjakan apa yang Linny perintahkan.


"Pantas saja Om Donald mengusulkan memasukkan pengawal pribadi asuhannya di perusahaan. Jika hanya satpam yang berjaga pasti sudah lolos tikus itu" Ucap Sean mengomentari.


Memang sejak pertengkarannya dan pertemuannya dengan Sisca Natalie, Om Donald memasukkan orang-orang pilihannya sebagai penjaga keamanan di perusahaan Linny.


Dan itu cukup berfungsi baik. Karena mereka hampir kecolongan jika tidak ada pengawal khusus itu. Satpam sendiri tidak menyadari jika ada pria yang berkeliaran seenaknya di dalam lantai yang penuh data perusahaan, padahal semua satpam bertugas patroli setiap jamnya terutama di jam tutup kantor.


"Ya sudah. Ayo kita cari makan. Ibu hamil harus makan dengan rutin" Ucap Linny dengan santai.


"Astaga. Kami yang khawatir kau malah bersantai" Ucap Sisilia heran melihat tingkah Linny yang begitu santai.


"Pasti akan ketahuan siapa itu. Lagi pula dia tidak akan semudah itu lolos dari ku. Kau menyepelekan kemampuan ku, Nyonya William yang terhormat" Ucap Linny sambil tersenyum smirk.


"Jangan katakan kau akan menyiksa orang itu?" Tanya Sisilia yang merasa ngeri dengan senyuman Linny.


"Jika dia berani menerobos itu artinya ada seseorang di balik dia. Tentu aku harus mendapatkan informasi itu" Ucap Linny dengan santai.


Memang tidak salah pemikiran Linny karena pastinya akan ada orang yang memang menerobos masuk dan memang memiliki orang di belakangnya jika berani mencari masalah dengan perusahaan besar.


"Sudahlah. Ayo kita berangkat ke restoran. William sudah menunggu" Ucap Sean sambil menggandeng Linny.


Mereka bertiga langsung menuju restoran di mana William sudah menunggu untuk makan siang bersama.


.


.


.