
Seperti biasa setiap pagi Sean terbangun terlebih dahulu dan menyiapkan sarapan ringan untuk dirinya dan Linny. Keduanya sarapan bersama sambil membahas rencana kerja hari itu.
Sean yang resmi menjadi Kepala Divisi Pemasaran menggantikan tugas Andrean khusus mengurus semua manager pemasaran di setiap bidang dari FP Corporation kini semakin disegani. Terlebih Sean sekarang memiliki seorang bodyguard yang selalu menemaninya ke mana saja.
Banyak karyawan pria yang iri dengan Sean karena sebagian besar dari mereka ikut penasaran dan mencari tahu tentang asal usul Sean yang hanya orang biasa.
Berbanding terbalik dengan Linny yang memiliki segalanya. Namun karena kinerja Sean yang baik juga dibantu dengan fisik dan wajah yang tampan membuat orang hanya mampu berbicara dibelakang-nya.
Semua menduga Sean memasang susuk atau melakukan sejenis guna-guna untuk memikat Linny. Ah,, come on guys, di jaman serba canggih dan skincare bertebaran dimana-mana apa masih perlu susuk ataupun guna-guna lagi?? Eh.....
"Hari ini aku akan berangkat ke gudang skincare. Ada beberapa produk yang dilaporkan sudah kadaluwarsa tapi malah di jual di toko-toko" Ucap Sean.
"Awasi dengan baik. Sepertinya ada tikus yang berulah di divisi skincare" Ucap Linny.
"Baiklah. Aku minta ijin jika langsung memecat yang bermasalah ya" Sean tetap harus meminta ijin dari Linny sebelum melakukan sesuatu terkait perusahaan.
"Lakukan yang terbaik menurut mu untuk perusahaan. Aku sudah memberi mu kekuasaan untuk itu. Dan bawa bodyguard lainnya. Jangan hanya satu, kau akan berada di luar sepanjang hari" Ucap Linny serius.
"Tidak usah. Aku sudah cukup nyaman dengan Jun. Dia sangat cekatan di luar" Ucap Sean sambil tersenyum.
Linny menatap Sean dengan penuh tanda tanya. Sejenak Sean bingung dengan arti tatapan Linny namun dia akhirnya paham isi otak Linny saat itu.
"Hei-hei! Jangan sembarang berpikir. Aku hanya mengatakan dia memang bagus dalam pekerjaannya. Dan aku juga sudah terbiasa dengan dia yang mengikutiku. Bukan karena aku suka atau pernah menyentuhnya. Astaga...." Jelas Sean sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
Linny kembali fokus dengan iPad-nya mengabaikan Sean yang gelagapan sendiri.
Setelah perbincangan itu, mereka menyibukkan diri dengan kegiatan masing-masing.
Sean menuju gudang penyimpanan stok produk skincare perusahaan Linny. Dia cukup kesal karena banyak sekali barang-barang yang berantakan dan acak. Sean langsung menyuruh untuk dirapikan sesuai jenis produk juga tanggal kadaluwarsanya.
Tak segan-segan Sean memberi surat teguran untuk karyawan yang sangat teledor bahkan dia mengancam akan langsung memecat tanpa pesangon apabila ada yang ketahuan berbuat curang di luar sana.
Semua karyawan ketakutan akan kedatangan Sean yang tiba-tiba juga sikap Sean yang sangat tegas saat bekerja. Apalagi mereka sudah mendengar rumor bahwa Sean sangat dekat dengan CEO mereka bahkan sebagian percaya bahwa Sean merupakan suami Linny.
Tanpa Sean sadari, sepasang mata menatap Sean sejak dia masuk gudang hingga dirinya meninggalkan tempat itu.
.
Sedangkan Linny sedang bersama Andrean menghadiri acara launching produk perhiasaan kerjasamanya dengan Mister Lee.
"Hi CEO Kim. How are you?" Sapa Mister Lee yang langsung memeluk hangat menyambut Linny yang menjadi investor terbesarnya saat ini.
"Not bad. How about you Mister Lee?" Tanya Linny kembali.
"I feel so wonderful" Sarkas Mister Lee karena nama produk terbaru mereka adalah wonderful.
Perhiasan indah terpampang nyata di hadapan mereka, semuanya memiliki bentuk bunga Rose juga Kupu-kupu sebagai ciri khasnya. Dan salah satu yang menarik mata Linny sebuah kalung dengan batu Ruby yang didalam-nya tampak seperti ada ukiran kupu-kupu yang indah.
"Do you like that necklace, CEO Kim??" Tanya Mister Lee yang menyadari pandangan Linny tertuju pada kalung Ruby itu.
"Its so beautiful. How do you make a butterfly engraving inside?" Tanya Linny penasaran.
"I honestly didn't carve anything in the stone. When I found the stone it was already that way. I just cleaned and polished it more beautifully" Jelas Mister Lee yang memang menemukan batu itu di antara tumpukan batu permata lainnya saat dia sedang melakukan Quality check.
"I want to buy this necklace." Ucap Linny tanpa menanyakan harga dari kalung itu.
"You don't want to know the price of this necklace first, CEO Kim? Are you sure?" Tanya Asisten Mister Lee yang terkejut mendengar Linny ingin membeli kalung itu.
Linny menatap heran pada Mister Lee dan Asistennya itu.
"Sorry I didn't want to be condescending. I am just afraid that you will be disappointed if you buy the necklace at a very expensive price and not meet your expectations" Jelas Asisten Mister Lee dengan sopan.
"I don't care about the price. If I already like something then I'll grab it right away" Ucap Linny dengan yakin.
"You no need to pay this necklace. I gift this necklace for you. As a sign of our friendship and cooperation so that in the future it will be smoother. This is special necklace cause this is the only one. I think it suitable for you CEO Kim" Jelas Mister Lee dengan penuh senyum ramah dan tulus. Mister Lee memang terkenal sebagai pebisnis yang royal dan loyal dengan investornya.
"I am very touched for this gift. Thank you, hopefully in the future we can work better together" Ucap Linny menerima kotak berisi perhiasan indah itu.
Banyak perhiasan yang habis terjual bahkan beberapa costumer memesan secara pre-order dan rela menunggu demi mendapat perhiasan dengan design yang indah serta kualitas terbaik.
Apalagi untuk kalangan emak-emak yang selalu menor dengan gaun indah serta arisan di cafe-cafe mewah. Ya agar mereka bisa memamerkan kekayaan mereka kepada yang lainnya.
Berbeda dengan emak-emak daster yang harus sibuk memasak untuk bekal anak-anaknya, jika di berikan perhiasan seindah itu pasti akan disimpan sebaik mungkin agar tidak di colong maling sekitar rumah.
Hari menunjukkan sudah menjelang malam. Linny dan Andrean telah selesai dari acara itu pun segera kembali ke kantor.
Dia melihat Sean belum kembali ke ruangannya. Ah saat ini ruangan Sean sudah berpindah di lantai yang sama dengan Linny.
Seperti ruangan Andrean dan Sisilia yang bersebelahan dengan ruangan Linny. Itu pertanda bahwa mereka adalah orang-orang kepercayaan Linny.
"Sean masih di gudang?" Tanya Linny pada Andrean.
Selama ini bodyguard mereka selalu melapor pada Andrean seorang tentang apa pun yang terjadi selama mereka menjaga Tuan mereka.
"Tadi laporan dari Jun kalau mereka sedang ada di proyek pembangunan lahan baru mu. Sean memutuskan untuk melihat sendiri proses di sana sebelum gencar memasarkannya" Lapor Andrean.
Linny hanya tersenyum, Sean memang sangat bersungguh-sungguh jika terkait pekerjaan dan perusahaan. Tidak pernah Sean mengecewakan Linny dalam setiap langkah yang diambilnya untuk menunjang kenaikan pemasaran.
Bahkan tak jarang Linny mendengar manager-manager yang berada di bawah kepemimpinan Sean mengeluh lelah karena Sean selalu tegas dan ikut andil dalam mengurus pemasaran. Bukan hanya menunggu angka. Tak segan Sean ikut saat memasarkan ke costumer. Sean juga tidak pernah mau menerima alasan apa pun yang membuat mereka gagal memasarkan produk.
"Kalau begitu aku akan pulang dahulu. Badan ku sangat lelah" Ucap Linny yang memang kelelahan harus bertemu banyak tamu dan pebisnis lainnya seharian ini.
"Ah ini perhiasan mu jangan lupa" Ucap Andrean menyerahkan kotak perhiasan milik Linny yang di pegangnya sejak di acara tadi.
"Oke. Aku duluan. Kau juga pulang lah. Bukan kah kau juga akan sibuk menjelang pernikahan Sisilia?" Tanya Linny heran Andrean yang masih saja sibuk di kantor padahal Sisilia akan segera menikah.
"Tidak masalah. Ada yang harus aku cek terlebih dahulu. Pulanglah" Ucap Andrean sambil tersenyum.
Linny hanya mengangguk. Andrean maupun Sisilia memang selalu loyal dengan perusahaan. Meskipun perusahaan itu milik Linny namun Andrean dan Sisilia tidak pernah menganggap mereka hanya pekerja dan bekerja hanya sesuai jam kerja atau bagian mereka. Andrean dan Sisilia selalu mengerjakan semua hal hingga yang paling detail untuk menjaga kelangsungan perusahaan itu.
Hal itu yang membuat Linny berpikir akan membeli 6% saham perusahaannya kembali. Selama ini Linny memegang 89% saham perusahaan miliknya, selebihnya saham dibeli oleh orang luar negeri yang tertarik dengan kinerja perusahaan Linny yang mampu mengembangkan sayap dalam banyak produk.
Linny berencana membeli 6% saham perusahaannya kembali untuk dihadiahkan bagi Sisilia, Andrean dan Sean. Melihat effort mereka yang luar biasa selama ini. Linny merasa itu hadiah yang paling tepat untuk ketiga orang itu.
Ponsel Linny bergetar tanda panggilan masuk sesaat dia baru turun ke lobby perusahaannya.
"Hallo"
"..."
"Benarkah? Om di mana?"
"..."
"Aku segera ke sana sekarang"
Linny langsung masuk ke dalam mobil dan meminta sang sopir segera memacu kecepatan menuju sebuah tempat yang cukup jauh dari ibu kota.
.
.
.