A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Kau Tahu?



Esoknya Sean segera menjalankan medical check up untuk seluruh tubuhnya sejak pagi-pagi agar hasilnya bisa segera dia dapatkan. Tak ada yang mau dia lewatkan barang sejengkal pun.


Meskipun Sean yakin dia sudah berhubungan sehat dengan pria-pria pecinta batangan selama ini, tapi dia tetap takut jika dia melewatkan satu dan lain halnya.


Dia tidak ingin nantinya dia membawa petaka untuk Linny. Meskipun terkesan terlambat karena tidak melakukan medical check up sejak awal, tapi setidaknya kini dia lakukan dari pada tidak pernah.


Hari itu ruangan Linny sepi. Hanya ada body guard yang berjaga di luar. Sean di temani Jun untuk medical sedangkan Alfa di perintah menjaga Dewi dan Farid.


Linny takut jika Rain mendadak mencari celah melukai orang-orangnya saat Linny tengah lemah kini.


"Hai"  Sapa William yang datang sendirian membawakan makanan untuk Sean dan Linny.


Orang tua Sisilia dan Andrean setiap harinya memasak untuk Sean dan Linny. Seharusnya Sisilia atau Andrean yang mengantarkan itu. Namun karena mereka sibuk, William lah yang menggantikan.


"Hai Liam"  Jawab Linny yang t engah duduk membaca berita dari iPad nya.


Berita tentang kecelakaan yang hampir menabrak Sean dan Linny. Di ketahui pria itu anak salah satu petinggi dan dinyatakan juga dalam kondisi kritis karena mengendarai dalam kondisi fly.


Ya, pria itu mengonsumsi obat-obatan terlarang dan mengendarai mobil di jalanan. Aneh bukan? Linny sempat mencurigai ada yang berniat mencelakakannya.


Tapi penyelidikan kepolisian memastikan tidak ada motif apa pun dan hanya karena pria itu dalam kondisi di bawah pengaruh obat-obatan, sehingga mengakibatkan kecelakaan mengerikan yang menewaskan 5 pejalan kaki dan 10 lainnya luka-luka akibat menghindar ataupun terserempet mobil itu.


"Kau sedang membaca berita?"  Tanya William yang memperhatikan Linny sangat serius.


"Iya. Aku curiga ada yang tidak beres. Tapi polisi sudah menutup penyelidikan"  Ucap Linny jujur.


"Kau curiga ada kaitannya dengan Rain?"  Tanya William lagi.


"Salah satunya. Aku juga curiga ada yang tau kalau aku yang sudah mengacau bisnis gelap mereka"  Ucap Linny.


"Siapa? Oh Keluarga Abdi maksud mu?"  Tanya William memastikan.


"Kau kenal mereka?"  Tanya Linny heran.


"Rendy pernah berteman dengan kelompok anak-anak pebisnis. Tapi sudah lama loss contact sejak dia pindah ke los angels. Dan setau-ku dia pemakai. Jadi aku dan beberapa lainnya memilih menjauh"  Ucap William yang cukup membuat Linny terkejut.


"Wah, dunia sungguh sempit. Kau bukan hanya suami dari sahabatku. Tapi juga sahabat dari kekasihku. Kini ternyata kau mengenal keluarga biadab itu juga. Benar-benar kebetulan yang luar biasa"  Ucap Linny sambil tersenyum tipis.


Linny merasa heran dengan takdir aneh dalam kehidupannya. William selalu ber-poros dan berkaitan dengan orang yang dia kenal juga.


"Karena Keluarga Abdi kan pebisnis lama seperti keluargaku. Wajar kalau kami saling mengenal. Tapi hanya sebatas mengenal dia anak dari Hendra. Aku juga baru dengar dia punya usaha baru di los angels selain bisnis haram"  Ucap William menjelaskan.


"Usaha?"  Tanya Linny penasaran.


"Dia membuka lahan prostitusi di luar sana selain menjual obat terlarang. Dan aku dengar dia menjual anak di bawah umur juga. Tapi dia selalu di balik layar. Yang bekerja orang lain"  Ucap William.


"Apa mereka tau kalau kau di balik terbongkarnya kegiatan markas senjata dan obat-obatannya di perbatasan negara ini dan negara tetangga?"  Tanya William.


Tindakan Linny memang begitu impulsif dan mampu membuat orang merasa terancam. Dan pastinya orang-orang itu akan mencoba melenyapkan Linny sebelum Linny lebih jauh menghancurkan mereka.


"Entahlah. Mungkin saja tau. Tapi tidak mungkin juga secepat itu. Mereka tidak sepintar itu. Selama ini aku sudah menghancurkan bisnis mereka satu persatu dan merebut  semua tendernya. Aku tidak yakin mereka bisa secepat itu tau tentang perbuatanku"  Ucap Linny.


"Berhati-hatilah. Juga tentang Rain. Dia tidak sebodoh itu juga. Kau menghadapi dua jenis manusia yang sama-sama gilanya. Jangan lagi menembus tempat Rain sementara ini. Bisa jadi ini ulah dia juga"  Ucap William yang memang khawatir dengan keselamatan Linny juga Sean.


"Oh ya. Tentang Rain. Aku mau bertemu dengan Erik. Dia di rawat di mana?"  Tanya Linny.


"Apa kau ingin membunuhnya sekarang?"  Tanya William penasaran.


"Tergantung bagaimana mood ku nanti"  Ucap Linny sambil tersenyum smirk.


William menghela nafas berat. Meskipun tidak suka dengan Erik tapi setidaknya Erik sudah menunjukkan rasa bersalah dan memihak demi keselamatan Sean.


Tidak mungkin William membiarkan Linny membunuh Erik jika bertemu dengan pria tulang lunak itu.


"Aku mengatakan ini bukan karena aku memihak Erik. Tapi dia tidak seburuk itu"  Ucap William mencoba berbicara sebagai orang tengah tanpa memihak.


Linny tersenyum menanggapi ucapan William. Hal itu membuat William menatap heran pada Linny.


"Aku tau. Aku hanya ingin langsung berbicara dengannya"  Ucap Linny dengan santai.


"Maksudmu?"  Tanya William heran.


"Sebelum itu katakan padaku sejujurnya. Kau dan yang lain sempat berbincang dengan Erik bukan? Apa saja yang dia cerita kan?"  Tanya Linny sambil tersenyum.


"Hah~ Jika kau ceritakan apa kau akan percaya?"  Tanya William yang tidak yakin Linny akan percaya pada Erik.


"Aku tidak akan membunuh orang yang nyawanya sendiri tinggal hitungan waktu tuan William. Jika harus membunuh aku akan menunggu dia sehat walafiat dan bertarung dengannya"


Ucapan Linny yang membuat William terkejut.


"Kau-- Kau tau dia sakit parah?"  Tanya William syok.


"Ya. Aku tau sebelum kecelakaan ini terjadi"  Ucap Linny dengan wajah serius.


.


.


.