A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
RoseButterfly...



Jam pulang kantor sudah tiba, karyawan mulai ber-pulangan. Tersisa Sean yang masih me-review beberapa contoh iklan promosi yang akan mereka gunakan untuk produk terbaru.


Seluruh anggota Sean sudah pulang hanya menyisakan Sean sendirian di ruangan. Sean terlalu fokus dengan pekerjaan hingga lupa bahwa ponselnya telah mati kehabisan daya baterai.


Merasa ada yang memperhatikannya dari luar membuat Sean menoleh ke arah pintu ruangannya.


"CEO Kim" Sapa Sean sambil tersenyum lebar.


"Panggil aku Linny saja, semua orang sudah pulang. Hanya tinggal kau di sini"  Ucap Linny sambil bersandar di pintu.


"Kenapa kemari? Kan bisa menelepon ku?"  Tanya Sean merasa tidak enak hati. Biasa nya jika ada keperluan, Linny akan menghubunginya melalui ponsel.


"Kau tidak bisa di hubungi, makanya aku kemari. Tadi nya kau mau pulang sendiri tapi aku lihat mobil mu masih terparkir dengan rapi"  Ucap Linny.


Sean terkejut dan langsung memeriksa ponselnya. Ternyata daya baterai ponselnya habis.


"Astaga, maafkan aku. Ponsel ku kehabisan baterai. Aku lupa mengisi daya-nya"  Ucap Sean tidak enak hati.


"Kau ini. Perut mu lapar aja harus kau isi. Apalagi ponsel"  Ucap Linny meledek Sean.


"Maafkan hamba Ratu. Hamba janji akan lebih teliti lagi lain kali"  Ucap Sean berpura-pura seperti pelayan yang takut pada baginda Ratunya.


Linny tertawa melihat tingkah Sean, ada saja perkataannya yang bisa menghibur Linny.


"Kau masih mau di sini? Aku harus pulang dan ke Bar"  Ucap Linny bertanya.


Terlihat meja Sean yang penuh dengan kertas coretan dan contoh iklan membuat Linny paham kalau Sean bekerja sangat ekstra untuk penjualan.


"Sudah, aku lanjut di apartemen saja nanti. Ah kita singgah tempat ku sebentar ya, aku mau ambil beberapa pakaian ganti selama menginap di tempat mu"  Ucap Sean yang baru sadar dia belum menyediakan pakaian ganti selama tinggal bersama Linny.


"Okey. Yuk, sudah jam 5.30 sore, nanti keburu macet makin panjang di jalan"  Ucap Linny.


Sean langsung merapikan berkas-berkas pekerjaannya dan di masukkan ke dalam tas bersama dengan laptop miliknya.


Kedua anak manusia itu bergegas menuju tempat parkir mobil Sean.


Mobil Sean meluncur ke arah apartemennya terlebih dahulu. Sean mengajak Linny untuk masuk ke apartemennya.


"Yuk masuk dulu"  Ajak Sean.


"Males ah. Aku di sini saja. Kau tidak lama bukan?"  Ucap Linny menolak. Dirinya malas harus naik turun apartemen Sean.


"Tidak, hanya mengambil pakaian ku saja", ucap Sean lalu bergegas menuju kamar apartemennya.


Ting....


Lift berhenti di lantai kamar apartemen Sean, Sean melihat tiga orang wanita berdiri di depan kamar apartemennya.


"Ah Sean, kau sudah pulang?"  Tanya Eni.


Eni datang bersama Kak Nini juga Prilly.


Melihat wajah Prilly membuat Sean merasa muak padanya.


"Ada apa kemari?"  Tanya Sean datar.


Sean membuka kamarnya. Tanpa ijin ketiga wanita itu masuk mengikuti Sean.


"Kami datang untuk meminta maaf atas perbuatan Papa dan Mama, Sean"  Ucap Kak Nini memulai pembicaraan.


"Minta maaf? Untuk apa?"  Tanya Sean acuh tak acuh.


"Karena Papa dan Mama sudah keterlaluan terhadap mu"  Ucap Eni menambahkan.


Sean tertawa sinis. Dia sudah tidak peduli dengan apa pun yang di lakukan keluarganya. Dirinya sudah jenuh menghadapi sikap otoriter di keluarganya itu.


"Oh ya? Aku tidak peduli lagi. Jangan mengganggu kehidupan ku"  Ucap Sean lalu masuk ke kamar dan mengambil beberapa pakaian ganti juga pakaian kantornya.


"Kak Sean. Kakak mau ke mana?"  Tanya Prilly penasaran melihat Sean yang berbenah.


"Bukan urusanmu!"  Tegas Sean yang sangat tidak menyukai Prilly.


"Hei, jangan kasar begitu dengan perempuan. Prilly bertanya baik-baik terhadap mu"  Ucap Kak Nini menegur sikap Sean.


"Jangan ikut campur lagi urusan ku, Kak. Aku masih menghargai mu sebagai Kakak ku, tapi jika kau tidak bisa menghargai privasi ku dan hanya membela wanita menjijikkan ini, lebih baik jangan anggap aku adikmu lagi!"  Tegas Sean.


Eni terkejut melihat Sean yang benar-benar marah. Dirinya berpikir Sean sudah tidak emosi lagi akibat kejadian di rumah Aston. Namun salah, Sean ternyata masih memendam emosi nya itu.


"Aku tidak ada waktu menyambut tamu terhormat seperti kalian. Silahkan pergi"  Ucap Sean mengusir secara halus.


"Sean, Papa dan Mama minta maaf. Mereka tidak akan memaksa mu menikah dengan Prilly lagi. Papa membebaskan pilihan mu saat ini"  Ucap Kak Nini.


"Iya Sean, lagi pula Papa sebentar lagi di pensiunkan. Pulanglah"  Ucap Eni ceplos.


Sean menatap kedua kakak perempuannya sambil tersenyum sinis.


"Oh, pensiun ya. Pantas saja dia membebaskan pilihanku bisa bersama Linny. Karena Linny CEO kan? Coba kalau tidak, apa mereka akan mengizinkan aku dekat dengan Linny? Kurasa tidak mungkin walaupun matahari terbit dari barat"  Ucap Sean sambil terkekeh.


"Hei! Kau tidak boleh begitu. Mereka orang tua kita. Apa pun keinginan mereka dulu itu memang yang terbaik bagi kita"  Ucap Kak Nini menaikkan nada bicaranya.


Sean langsung menatap tajam ke arah Kak Nini.


"Ya, Kau benar! Karena kau selalu benar menurut pemikiranmu, memaksa aku sejak dulu untuk selalu menuruti kalian. Terutama kau! Hal yang selalu kau bilang hanya ' orang tua kita tau apa yang terbaik untuk anaknya. Sebagai anak kita harus patuh dengan semua hal yang di katakan '. Ya aku sangat patuh sampai aku di anggap manusia tidak berguna lemah bodoh! Aku yang selalu berusaha mencari biaya kuliah sendiri! Aku yang selalu dikatakan tidak berguna, kurang ajar, lemah dan bodoh!"  Sean sangat marah dan meninggikan suara nada bicaranya.


Kak Nini terkejut melihat sikap Sean yang berubah. Biasanya jika Kak Nini menasihati, meskipun Sean tidak suka, dirinya akan tetap diam dan jika tidak senang pun dengan perkataan Nini, Sean hanya akan berlalu menjauh tanpa membantah apa pun.


"Jangan pernah datang lagi ke sini! Aku tidak perlu perhatian dari kalian. Selama ini kalian juga tidak pernah peduli dengan perasaan ku. Dan urus keluarga mu sendiri Nini! Jangan terlalu sok hebat mengatur hidupku! Jangan sampai anak mu menjadi seperti ku nantinya!"  Tegas Sean yang langsung keluar dari apartemen nya sambil menenteng tas berisi pakaian-pakaian miliknya.


Sean meninggalkan ketiga wanita itu di kamar apartemen miliknya tanpa peduli apa pun lagi.


Keinginannya saat ini hanya pergi sejauh mungkin dan tidak ingin bertemu dengan keluarganya yang toxic itu. Sean sudah terlalu lelah mengalah selama ini.


Sean masuk ke dalam mobil Linny yang sedari tadi memperhatikan ekspresi Sean, sejak Sean terlihat berjalan ke arah mobil dan Linny yakin bahwa pria itu sedang tidak baik-baik saja.


"Kenapa?"  Tanya Linny heran.


Sean hanya bungkam dan memacu mobil menuju apartemen milik Linny.


Tak butuh waktu lama kedua nya tiba di apartemen Linny.


Sean meletakkan tas berisi pakaian gantinya di atas sofa bed dan duduk bersandar.


Tangan nya memijit pangkal hidung.


Melihat itu Linny langsung duduk di sebelah Sean dan menarik Sean untuk merebahkan diri di atas pahanya.


"Diam, pejamkan matamu"  Perintah Linny.


Sean memejamkan matanya. Dia merasakan tangan lembut Linny memijat keningnya perlahan.


Pijatan itu membuat Sean merasa lebih releks.


"Terjadi hal yang buruk?"  Tanya Linny penasaran.


"Kedua kakak ku datang tadi"  Ucap Sean sambil menghela nafas.


"Terus??"  Tangan Linny berhenti memijat kepala Sean.


Sean meraih tangan Linny dan menaruh nya di atas dada.


"Aku tidak peduli. Sekarang yang aku miliki hanya kau seorang Linny"  Ucap Sean lirih.


"Mau ikut bekerja di Bar RB??"  Tanya Linny sambil tersenyum.


.


.


.