
"Kau ingin bertemu Erik? Aku ikut ya " Ucap Linny tiba-tiba.
"Kau mau menemui Erik? Untuk apa Linny?, " Tanya Sean heran.
Linny hanya diam, itu tandanya dia tidak bisa dilarang untuk ikut menjenguk Erik.
.
Saat jam pulang kantor tiba, Sean dan Linny berangkat bersama ke rumah sakit tempat Erik dirawat.
William, Doni, Danu dan Aston sudah terlebih dulu menuju rumah sakit. Kabarnya Erik sudah mulai agak tenang meskipun sesekali masih melempar barang di sekitarnya dan mencabuti infus di tangannya.
Sepanjang perjalanan di dalam mobil, Linny tampak diam dan tampak tenggelam dalam pikirannya.
Tiba di rumah sakit, keduanya berjalan menuju kamar rawat Erik.
Danu sudah memberitahu Sean letak kamar rawat Erik.
Di luar tampak William dan Aston duduk di kursi depan pintu kamar rawat.
"Hei Bro udah datang? " Sapa Aston segera.
"Linny, kau ikut juga? " William terkejut melihat kehadiran Linny.
Aston dan William saling berpandangan. Apakah akan terjadi perang dunia ketiga di rumah sakit itu.
Tapi jika terjadi perang harusnya aman bukan? Banyak tenaga medis yang siap sedia jika para prajurit perang itu terluka. Eh??
"Aku hanya ingin melihat orang bodoh mana yang meremehkan nyawa sendiri" Ucap Linny sambil tersenyum.
Meskipun Linny berbicara dengan senyuman seperti biasanya, namun mereka bisa merasakan aura mengerikan terpancar dari senyuman Linny.
"Dimana Danu dan Doni ? " tanya Sean untuk memecahkan ketegangan mereka.
" Ah di dalam. Berjaga-jaga kalau Erik mengamuk dan melepas infusnya lagi " Ucap Aston.
" Ya sudah aku masuk dulu ya " Ucap Sean lalu melirik ke arah Linny.
Sean dan Linny berjalan masuk ke dalam kamar rawat itu. Tampak Erik berbaring dengan pandangan kosong ke langit-langit kamar.
Doni dan Danu yang menyadari seseorang masuk ke dalam kamar itu langsung menoleh ke arah pintu.
"Sean" Ucap Danu sambil memperhatikan Sean yang masuk.
Danu dan Doni terkejut, Linny berada tepat di belakang Sean.
' Linny... ' Batin Danu dan Doni berbarengan.
Keduanya pun saling menatap tanda heran dan terkejut kalau Linny datang bersama Sean. Sama seperti kedua sahabat mereka di luar, mereka juga merasa akan terjadi perang besar di tempat itu.
Erik yang mendengar nama Sean di sebut oleh Danu langsung menoleh ke arah pintu.
"Sayang..." Erik tampak senang melihat kehadiran Sean di sana.
Sean melangkah mendekati ranjang tempat Erik berbaring. Namun dia menjaga jarak untuk tidak terlalu dekat. Dia paham betul sikap Erik yang pasti akan segera menerjang ke arahnya.
Melihat Sean yang menjaga jarak dengannya membuat Erik kembali menangis.
Sean tampak kasihan namun juga kesal dengan Erik yang benar-benar tidak berubah. Dia selalu membuat kegaduhan.
"Aku tahu kau pasti datang sayang. Kau masih mencintaiku kan? Kau tidak mungkin akan membiarkan ku terluka. Aku merindukan mu Sean. Aku sangat mencintai mu " Ucap Erik dengan mata berkaca-kaca.
Erik hendak bangun dan mendekati Sean.
Melihat itu Sean melangkah mundur menjauh. Sean menghela nafas kasar.
"Kau salah. Aku datang karena aku masih memiliki rasa kemanusiaan. Hanya aku bingung kenapa kau masih saja tidak menyayangi dirimu sendiri " Ucap Sean.
Perkataan Sean terasa menohok di dada Erik. Erik tertawa sambil berurai air mata.
"Kau bohong. Kau bohong kan Sean. Kau masih mencintai ku. Tidak mungkin kau bisa melupakan ku. Selama ini aku yang sudah melindungi mu. Apa kau lupa siapa yang sudah membuat mu terlepas dari laki-laki mengerikan itu?" Ucap Erik yang masih terus berusaha mengapai hati Sean kembali.
"Aku tidak lupa. Aku memang berterima kasih dengan mu. Tapi aku tidak akan pernah bisa menjalin hubungan yang sama lagi dengan mu Erik " Ucap Sean sambil menutup matanya.
******* Flashback on *******
"Minum lagi Sean. Kau akan terbiasa nantinya" Ucap Om Agus yang terus menyodorkan vodka di gelas Sean.
"Sudah om, aku sudah tidak tahan. Om saja yang minum " Jawab Sean yang sudah mulai mabuk itu.
"Kau mabuk? Mau pulang? Biar Om antar " Ucap Om Agus yang di jawab dengan anggukan kepala Sean.
Namun bukan nya di antar pulang ke rumahnya. Sean di bawa ke apartemen milik Om Agus.
"Kau tidur di sini saja. Kalau pulang dengan keadaan begini yang ada kau bisa di marahi orang tua mu " Ucap Om Agus.
Sean hanya pasrah mengangguk. Tidak salah perkataan Om Agus mengingat sifat otoriter dari sang Papa.
Semakin larut Sean yang mulai tidur merasakan tubuhnya di sentuh seseorang.
Tangan itu membuka pakaian Sean satu persatu membuat Sean terbangun.
"Om!!!"
Sean setengah berteriak melihat Om Agus yang sudah bertelanjang bulat di hadapannya.
"Tenang sayang. Om akan mengajarimu hal yang menyenangkan " Ucap Om Agus sambil menyeringai.
Kepala Sean masih sakit membuatnya sulit bergerak, ditambah tubuhnya saat itu yang masih kurus tentu kalah kekuatannya dengan tubuh Om Agus yang besar dan kekar.
Om Agus mulai mencium seluruh tubuh Sean. Tentu Sean berusaha memberontak.
"Sudah diam!! Jangan terus bergerak!!" Bentak Om Agus.
"Enggak!! Aku enggak mau diginiin Om!!! Om udah janji enggak akan berlaku aneh begini!! " Ucap Sean berteriak.
"Sial!! Anak ini benar-benar sulit di beritahu!" ucap Om Agus lalu melayangkan tamparan di wajah Sean dan memukul perut Sean hingga Sean mengerang kesakitan.
"Diam! Atau akan aku pukul kau lebih keras dari pada ini!" Bentak Om Agus.
Sean yang masih kesakitan tidak mampu bersuara. Om Agus langsung kembali menciumi tubuh Sean dan menyesapnya kuat-kuat hingga meninggalkan jejak.
Tangan nya mengurut milik Sean yang masih tertidur, perlahan Om Agus memasukkan milik Sean ke dalam mulutnya.
Sean yang di perlakukan begitu langsung mencari celah untuk menendang Om Agus dan berusaha melawan.
"Argh! Sialan! "
Om Agus langsung menerjang Sean dan memukulinya lagi.
Sean meringis kesakitan. Tubuh Sean di lempar ke atas tempat tidur. Tanpa banyak berbicara lagi Om Agus membalikkan tubuh Sean dan langsung menghunjami lubang belakang Sean menggunakan miliknya yang besar dan keras.
"ARGH!!! SAKITT!!! BERENGSEK KAU AGUSS!!!" Umpat Sean.
Namun bukan nya berhenti, Om Agus terus memompa miliknya dengan bersemangat. Dia senang melihat Sean yang kesakitan. Om Agus ternyata memiliki jiwa masokhisme dan dominan saat bercinta. Dia sangat senang melihat lawan mainnya kesakitan dengan perlakuannya.
Sean hanya bisa terus menjerit kesakitan. Dia tidak terbiasa dengan perlakuan itu. Bagaimana pun dia merupakan pria normal. Bukan penyuka sesama pedang.
Om Agus berkali-kali melampiaskan nafsu gilanya pada Sean bahkan merekam kegiatan mereka.
"Jika kau berani melawan maka akan aku pastikan rekaman saat kita bercinta ini akan tersebar luas. Kau tahu bukan di negara ini baik pelaku atau pun korban sama-sama kotornya bagi masyarakat? " Ucap Om Agus dengan lembut namun terasa mengancam di telinga Sean.
Sejak saat itu Sean tidak bisa menolak ajakan Om Agus untuk mengunjungi Bar Madam Pelangi. Hingga kebiasaan itu membuat Sean turut menjadi bagian dari kaum itu.
Sean bahkan dikenal sangat luar biasa saat bercinta. Namun dialah yang selalu memasukkan milik ke dalam tubuh lawannya. Sedangkan dia akan menjadi bottom (julukan untuk g@y yang menjadi peran wanita) hanya saat berhubungan dengan Om Agus. Itu pun tetap dengan cara kasar dan sadis. Tak heran jika tubuh Sean selalu memiliki banyak luka lebam seusai bermain dengan Om Agus.
Hingga Sean berumur 34 tahun, dia masih menjadi bahan bulan-bulanan Om Agus dan beberapa teman Om Agus yang sesama masokhisme. Tak jarang mereka menggilir Sean berbarengan.
Sean bukan tidak bisa melawan. Dirinya sudah berubah menjadi pria tampan dan kekar di usia 23 tahun, Sean bahkan belajar ilmu bela diri saat itu.
Namun ancaman akan aktivitas gilanya dengan Om Agus juga teman-temannya membuat Sean tidak bisa lepas dari pria gila itu. Meskipun Sean tidak pernah menikmati kegiatan panas dengan mereka.
Hal itu pula yang membuat Sean sering mencari pria lain untuk ONS. hingga Sean bertemu dengan Erik. Erik yang dia kenal saat itu sangat humble dan baik. Entah bagaimana cara yang di lakukan Erik hingga Sean terlepas dari ancaman Om Agus. Sejak saat itu Sean dan Erik dekat hingga akhirnya berpacaran. Meskipun kebiasaan Sean untuk ONS dengan pria lain masih dia lakukan.
******FLashback Off**********