
Didalam kamar mandi di atas kapal pesiar itu. Tampak Linny dan Sean sedang berendam didalam jacuzzi bersama.
Linny bisa merasakan milik Sean mengeras dan menempel di kulit belakangnya.
"Si Pluto mau jenguk Venus. Boleh?" Tanya Sean dengan senyum menggodanya.
"Kau ini. Nanti kita telat diacaranya William dan Sisil" Ucap Linny yang paham Sean tidak mungkin hanya akan bermain sebentar jika mengenai urusan Pluto-Venus itu.
"Aku janji cuman sekali" Ucap Sean berusaha merayu Linny.
Linny hanya berdecak tidak mau menjawab perkataan Sean.
Sean kembali menggoda Linny dengan menciumi tekuk Linny dan mengelus punggung Linny perlahan.
"Ish! Kau ini!" Meskipun Linny berbicara dengan ketus, namun dirinya langsung memegang Pluto dan mempertemukannya dengan Venus.
"Ahhhh.. Linny..." Erang Sean tertahan. Wanitanya itu memang sungguh unik. Lain mulut lain dihati.
Keduanya saling memacu kenikmatan mereka masing-masing hingga akhirnya mereka mencapai pelepasan bersama.
Sean mencium kening Linny dengan lembut.
"Thanks. Kau selalu baik padaku" Ucap Sean sambil memeluk erat Linny.
"Aku mau tidur dulu" Ucap Linny lalu keluar dari jacuzzi itu. Sean mengikuti Linny dari belakang.
Keduanya terlelap dalam tidur siang itu. Hingga waktu menunjukkan pukul 6 sore, keduanya bersiap-siap untuk acara pesta pernikahan William dan Sisilia.
Linny mengenakan gaun yang sangat indah. Punggung Linny terekspose dengan jelas. Tentunya itu sangat cantik dan sexy di mata kaum adam mana pun.
Sean sejenak tak berkedip melihat penampilan Linny yang benar-benar feminin dan cantik. Tapi perasaannya kembali tidak nyaman memikirkan akan banyak mata yang memandang kecantikan Linny malam ini.
"Kenapa? Kesurupan?" Tanya Linny yang melihat Sean menatapnya tanpa henti.
Linny tampak kesulitan mencoba memasang anting panjang pada telinganya.
Sean langsung bergerak mendekati Linny dan membantunya memasang anting-anting yang indah itu.
"Kau terlalu cantik. Pasti akan ada banyak mata yang melihatmu" Ucap Sean jujur.
"Astaga. Biasanya juga begitu. Apa yang kau pikirkan sih. Aneh!" Ucap Linny mengabaikan perkataan Sean.
Linny bergegas menuju aula acara didalam kapal itu.
Di dalam aula yang luas itu tampak sudah banyak tamu-tamu yang berkumpul menunggu dimulainya acara. Termasuk sahabat-sahabat Sean.
"Wuih, aku kira kau yang pengantinnya Linny. Cantik banget!"
Seru Danu yang memang terpukau dengan penampilan Linny malam itu.
"Kakak cantik banget" Ucap Eka dibarengi anggukan kepala dari adik Eka. Adiknya Eka memang sudah beberapa kali bertemu Linny di Bar. Namun baru kali ini dia melihat Linny tampil berbeda.
"Tentu saja. Kakak ku wanita tercantik didunia. Hanya orang beruntung yang bisa mendapatkan hati Kakak ku" Ucap Nicolas sambil merangkul Linny dan melirik ke arah Sean.
Sean tersenyum melihat Nicolas dan paham jika calon iparnya itu sudah sangat setuju dan ingin Sean menjaga Linny dengan baik.
"Kau ini! Enggak malu apa peluk-peluk Kakak mu di hadapan pacar mu sendiri?" Tanya Linny heran sang adik yang selalu saja menempel dengannya meskipun usianya sudah layak menjadi seorang suami ataupun ayah.
"Enggak. Iya kan Ayu? Cantik kan Kakakku?" Tanya Nicolas pada Ayu Lestari-kekasihnya.
"Iya Kak. Kak Linny memang cantik sekali hari ini" Jawab Ayu yang masih tampak segan kepada Linny.
"Eh udah boleh nyicip appetizer-nya kan. Yuk makan. Chef hebat nih yang masak" Ucap Aston mengajak mereka semua untuk mencicipi hidangan pembuka yang bebas diambil sepuasnya.
Mereka semua berjalan bersama menuju ke meja appetizer yang terhidang. Sean terus mengikuti Linny dari dekat. Bahkan tampak keduanya saling menyuapi buah.
Mata setiap orang terus memperhatikan gerak-gerik Linny bersama seorang Pria yang terus mengikuti Linny. Tentu orang-orang penasaran dengan hal itu. Karena yang mereka lihat bukan Andrean -Asisten setia CEO Kim yang sudah sangat di kenal kalangan pengusaha. Tapi pria tampan yang tampak se-umuran Andrean namun belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Diam-diam Nicolas memotret tingkah manis Linny dengan Sean. Dirinya merasa senang dan berharap Sean benar-benar bisa di andalkan untuk menjaga dan membahagiakan Linny.
Nicolas tahu sudah banyak penderitaan Linny selama ini, dia tidak ingin sang Kakak terus menderita dan kesepian. Dirinya paham betul Linny memang tidak pernah bisa dekat dengan lawan jenis seperti itu. Bahkan dengan Andrean juga Linny menjaga jarak dan kontak fisik. Melihat kedekatan Linny yang nyaman bersama Sean membuat Nicolas senang. Akan ada pria yang bisa menjaga dan menyayangi Kakak satu-satunya itu dengan tulus.
"Mau minum wine?" Tanya Sean menawarkan.
"Boleh. White wine saja ya" Ucap Linny.
Sean segera beranjak mengambilkan dua gelas white wine. Saat kembali ke tempat Linny duduk, Sean melihat beberapa orang berbicara dengan Linny.
"Itu calon istri Anda, Tuan Santo?" Tanya Linny kepada seorang pria muda yang tampan bersama seorang gadis cantik.
"Benar. Namanya Celly. Anda sendiri bagaimana CEO Kim. Ah ya, Daddy tidak bisa hadir, Daddy ingin sekali mengundang Anda makan bersama" Ucap Santo sambil tersenyum dan merangkul pinggang gadis di sebelahnya.
"Sampaikan salam ku untuk Tuan Wisnu. Jika ada kesempatan maka aku akan mengundang kalian makan bersama" Ucap Linny tampak tersenyum ramah.
Sean mendekati Linny dan menyodorkan gelas wine untuknya. Linny tersenyum melihat Sean berdiri di sebelahnya.
"Ah kenalkan. Ini Winsen Darren. Dia kepala manager pemasaran perusahaanku. Sekaligus partner ku" Ucap Linny mengenalkan Santo dengan Sean.
Sean menyalami pemuda dihadapannya itu dengan senyum ramah.
"Kalian tampak serasi" Ucap Santo memuji.
"Benarkah? Terima kasih atas pujian mu" Ucap Linny.
Mereka tampak berbincang sebentar, Sean juga ikut dalam pembicaraan itu. Lalu Sean dan Linny bergerak ke arah lain tampak Andrean sedang berdiri bersama dengan tiga orang lainnya.
"Linny. Kemarilah. Kenalkan ini teman-temanku" Ucap Andrean memanggil Linny untuk lebih mendekat. Sean tentunya mengikuti langkah Linny dari belakang.
"Kau? Sean?" Ucap salah satu pria yang bersama Andrean dengan wajah terkejut seolah tidak percaya.
"Oh. Wilson. Hai" Sapa Sean sedikit canggung.
"Wah ternyata benar kau Sean" Ucap Wilson seolah tidak percaya menatap Sean yang berbeda.
"Kenapa memangnya?" Tanya Sean heran dengan perkataan Wilson.
"Kau sudah lama tidak muncul tentu kau tidak tau semua berita tentang mu di Bar" Lanjut pria lainnya yang juga ada di tempat itu.
Linny memandang heran kepada mereka semua. Tak lama dia menyadari orang-orang itu juga berasal dari komunitas gay.
Pantas saja mereka langsung mengenali Sean dan menyapa Sean seperti itu.
"Reunian antar pedang dan lobang ternyata" Gumam Linny pelan.
Sean langsung menoleh karena dia bisa mendengar kalimat Linny yang meskipun pelan itu.
.
.
.