A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Konferensi Pers 1



Seminggu setelah penangkapan Sisca Natalie. Linny memutuskan mengadakan Konferensi Pers untuk meluruskan semua issue buruk tentangnya.


Konferensi pers yang di adakan Linny penuh dengan banyak wartawan bahkan di siarkan secara Live di beberapa media sosial juga situs berita.


"Semua teman-teman pasti sudah tidak sabar bukan menunggu Saya mau berbicara dan menjelaskan kebenaran. Saya akan menjelaskan sejelas-jelasnya tentang hidup saya"


Linny menarik nafas dalam sebelum berbicara lebih lanjut.


"Benar saya pernah kehilangan anak saya. Saya pernah kehilangan bayi saya karena diracuni Ibu dari pacar saya sendiri"


Ucapan Linny membuat semua wartawan terkejut. Dan juga yang menonton live berita tentang Linny ikut terkejut.


"Saya pernah hamil muda. Dulu saya terlalu bodoh dan naif. Saya percaya pada pacar saya hingga saya hamil. Sayangnya dia memilih keluarganya. Dia anak dari keluarga Wijaya. Keluarga yang dulunya sangat kaya tapi saya dengar kini mereka memiliki hutang dimana-mana bukan?"


Ucapan Linny yang berikutnya membuat orang semakin terkejut. Linny dengan berani menyebut keluarga itu secara langsung bukan dengan inisial lagi.


"Jika tanya bukti, saya punya bukti rekaman pembicaraan Reza Ardian Wijaya yang tidak mau bertanggung jawab. Bukti dia akan menikah di Australia dengan wanita lain saat saya hamil. Juga bukti saya kehilangan bayi karena di racuni Ibu Kandung Reza Ardian Wijaya"


Semua wartawan terkejut dan speechless. Sekejam itu keluarga Wijaya yang di kenal sangat baik dan dermawan dulu. Makanya saat mereka bangkrut dan berhutang dimana-mana tidak ada yang tega menjelekkan mereka.


"Terkejut? Tapi itu fakta dan saya punya bukti visum saya di racuni dengan minuman. Saya di lempar keluar dari rumah itu dalam kondisi mengalami pendarahan hebat dan saya sendiri hampir meregang nyawa. Mungkin jika mau di cari seharusnya CCTV di rumah itu masih bisa di telusuri mungkin. Saya berani mempertanggung jawabkan ucapan saya ini"  Ucap Linny dengan yakin.


Tak ada yang tak terkejut. Siaran live konferensi pers itu membuat semua orang syok dan terkejut melihat isi chat Reza yang memang mencampakkan Linny juga bukti hasil visum Linny yang jelas tertera dia di racuni dengan dosis tinggi.


Banyak orang mulai berkomentar dan membela Linny. Mereka mengecam keluarga Wijaya dan mengatakan pantas jika keluarga itu bangkrut saat ini.


"Dan lebih anehnya anak mereka Reza Ardian Wijaya berani mendekati saya kembali beberapa waktu lalu. Saya tidak paham apa niatnya. Mungkin karena saya sudah berbeda. Karena dulu saya di hina anak yatim dan miskin maka keluarga itu tidak menerima saya. Bahkan beberapa waktu lalu dia mencoba meniduri saya dan menjebak dengan obat-obatan. Beruntung tunangan saya sigap karena merasa aneh saya menghilang"


Kembali publik tercengang dan menggeleng heran dengan tingkah dari keluarga Wijaya yang luar biasa itu.


"Jika ada yang tanya kenapa Reza Ardian Wijaya menjadi lemah. Mungkin karena gagal menjebak saja. Juga tentu dia mendapat pukulan dari tunangan saya yang marah karena dia mau melecehkan saya saat saya lengah. Itu penjelasan saya tentang apa yang di ucapkan keluarga Wijaya dan tuduhan palsu tak berdasar itu. Jika memang saya bohong suruh mereka tunjukkan bukti jika saya berbohong untuk ucapan saya hari ini"


"Sedangkan masalah Sisca Natalie. Orang yang mengakui Ibu kandung saya. Benar dia memang ibu kandung saya tapi saya sudah menganggapnya sudah mati di hari dia mencampakkan saya - anak kandungnya sendiri"


Ucapan Linny terdengar bergetar menahan rasa sakit hatinya. Rasanya lebih sakit dari pada perlakuan keluarga Wijaya tentunya.


Mata Linny tampak memerah menahan amarah dan kekesalan karena harus mengutarakan semua fakta. Termasuk dia yang di lecehkan keluarga tirinya lalu di abaikan Ibu kandungnya.


"Almarhum Ayah saya. Frans John Pratama. Adalah pria yang baik. Tapi dia berpulang di saat usia saya baru 10 tahun. Saat itu semua aset di walikan ke ibu saya. Saya tidak tau dan saya saat itu hanya anak kecil yang tidak paham dunia dewasa"


Linny menjeda ucapannya dan menarik nafasnya sebelum melanjutkan perkataannya.


"Setelah Ayah meninggal. Usaha di lanjutkan oleh Ibu saya tapi tidak berjalan baik dan bisa di katakan bangkrut. Lalu di usia 12 tahun Ibu menikah dengan Hendra Abdi Wijaya. Saat itu saya tidak masalah. Saya pikir ibu butuh teman dan orang yang bisa menjaga saya juga adik saya Nicolas. Tapi anehnya adik saya lebih peka, dia tidak setuju dan mengatakan Hendra bukan pilihan yang baik"


"Saya meyakinkan adik saya karena saya melihat Ibu saya sangat mencintai Hendra. Saya mencoba menerima Hendra dan anaknya Rendy sebagai keluarga kami. Tapi Hendra pernah hampir melecehkan saya saat saya masih berusia 12 tahun di sebuah taman sepi tak jauh dari sekolah saya dulu"


Beberapa Wartawan terkejut bahkan ada yang sampai menjatuhkan barangnya karena terlalu syok mendengar kisah Linny. Banyak yang mencibir dan berkata pantas jika Hendra Abdi Wijaya memiliki bisnis perdagangan manusia dan anak di bawah umur. Dia sejak dulu punya kelainan segila itu pada anak sambungnya sendiri.


"Sejak hari itu saja mencoba memberitahu ibu saya tapi selalu di halangi Hendra. Dan saat berhasil saya katakan , ibu saya tidak percaya berkata saya berbohong. Dia lebih percaya pada Hendra. Maka dari itu saya hanya diam dan berusaha lebih waspada. Saya hanya fokus sekolah dan menjaga adik saya - Nicolas"


Ucap Linny yang menjeda sejenak perkataannya. Sean yang berada di samping Linny langsung menyodorkan minuman untuk Linny. Dia paham rasa pedihnya harus mengingat bahkan menceritakan kisah terburuk yang menjadi traumanya itu.


"Waktu berlalu begitu saja dan saya pikir semua baik-baik saja. Meskipun setiap hari saya harus menghindar saat Hendra terus berusaha memeluk dan menyentuh saya di setiap kesempatan. Tapi saya kecolongan. Rendy yang tidak pernah mendekati saya dan memang kami tidak akrab malah menodai saya di saat ibu saya dan Hendra sedang berada di luar kota. Dia bahkan mengancam akan membunuh adik saya jika saya melaporkan tindakannya"


.


.


.