A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Tersiksa dan Luka...



Linny terus mengerang hingga saat tubuhnya diciumi kasar oleh Reza.


"Aku mencintaimu Linny. Bagaimana kalau kita mengulang lagi kenangan lama kita. Dan hamil-lah anakku. Kali ini kita akan menikah, aku janji"  Ucap Reza yang otaknya sudah tidak waras.


"Kau gila! Aku lebih baik mati daripada hamil anak mu!"  Umpat Linny sambil terus berusaha memukuli Reza. Obat itu melemahkan kekuatan tubuhnya.


"Aku mencintaimu"  Ucap Reza lalu melepas semua pakaiannya dan pakaian Linny. Dia sadar tidak banyak waktu untuk memanfaatkan situasi itu.


Reza terus menciumi tubuh Linny dari wajah hingga bawah tubuhnya. Erangan terdengar dari bibir Linny. Namun itu bukan rasa nikmat seperti saat dia di sentuh oleh Sean. Tubuh Linny malah merasa sakit karena apa yang di lakukan Reza tidak bisa membuatnya merasa nikmat, Linny malah semakin tersiksa karena hasratnya menjadi meluap-luap namun Reza tidak bisa memuaskan titik sensitif Linny.


Hanya Sean yang bisa membuat Linny puas saat ini. Apa yang dilakukan Reza hanya akan menyiksa Linny.


.


Sedangkan di dalam bar-club, Sean tidak menemukan Linny.


"Dia ke kamar mandi"  Ucap Aston.


Firasat Sean tidak enak melihat Reza juga tidak ada di sana.


Ponsel Linny juga tertinggal di meja. Linny bukan orang ceroboh yang akan meninggalkan ponselnya begitu saja.


Sean segera berlari menuju kamar mandi mencari Linny. bahkan di kamar mandi pria turut diperiksa Sean. Linny dan Reza tidak ada di sana.


Sean kembali ke meja sofa dan berbicara cukup keras pada Aston.


"Kau yakin Linny ke kamar mandi?!"  Tanya Sean yang mulai panik.


"Iya Sean. Dia bilang sendiri!"  Ucap Aston yang memang tidak berbohong.


Melihat Sean yang panik. Aston juga merasa ada yang tidak beres dan baru sadar sejak Linny tidak ada di sana, Reza turut menghilang.


"Bangsttt!!" Umpat Sean lalu keluar dari bar-club itu di susul oleh Aston


Andrean menjadi cemas. Apa Reza benar-benar nekat. Reza memang mengatakan dia sangat mencintai Linny dan akan berusaha membuat Linny kembali padanya. Andrean segera mengikuti Sean mencari Linny.


"Za, kalau kau sampai melukai Linny maka aku yang akan membunuh mu"  Gumam Andrean yang ikut menanyai beberapa orang apakah melihat CEO Kim.


Beruntung sepasang suami istri mengatakan melihat CEO Kim berjalan ke arah lorong yang menghubungkan tempat itu ke arah kamar para tamu kapal pesiar.


Sean langsung berlari kencang menuju kamar. Dia mencoba membuka pintu kamar.


"Sial!!"  Umpat Sean. Pintu kamar tidak bisa dibuka karena seseorang mengaitkan kunci tambahan pada pintu.


Dan tentunya Linny tidak akan melakukan itu jika Sean belum masuk ke dalamnya.


Sean terus mengetuk pintu itu bahkan lebih tepat di katakan dia menggedor keras pintu kamarnya dengan Linny.


Linny mendengar suara Sean dari luar. Dia berusaha memukul Reza agar menjauh. Tubuhnya semakin sakit di akibat obat biadab yang di masukan Reza ke dalam minuman.


Tak sedikit pun dia menikmati sentuhan dan ciuman Reza. Hingga tak sadar Linny malah menangis keras. Hal itu membuat Reza menatap heran pada Linny.


"Minggir!"  Ucap Andrean yang tanpa aba-aba langsung menendang pintu kamar bersama Aston.


Sean pun turut menendang pintu kamar itu hingga kunci penyangga tambahan terlepas dan pintu sedikit rusak akibat tendangan keras tiga pria dewasa itu.


Mata Sean terbelalak melihat Linny yang telanjang bahkan hampir saja Reza berhasil menyetubuhi Linny.


Aston langsung memalingkan wajahnya. Melihat itu wajah Andrean memerah penuh amarah.


Sean langsung menerjang tubuh Reza dan memukulinya membabi buta.


"Bangsttttt!!! Beraninya kau menyentuh wanitaku!!!"  Umpat Sean terus memukuli Reza.


"Dia milikku! Kau hanya Gay laknat yang mencoba memanfaatkan Kimberlyn!!"  Ucap Reza yang tahu Sean dulu pecinta sesama jenis.


Tidak terima dengan perkataan Reza membuat Sean kembali memukulinya.


"Aku memang dulunya Gay! Tapi aku bukan bajingan seperti mu!! Kau benar-benar bia*dab!!"  Ucap Sean.


Melihat itu Andrean menarik Sean untuk tidak memukuli Reza lagi.


"Kau urus Linny dulu. Sepertinya dia dipengaruhi obat"  Ucap Andrean.


Aston mau tak mau menutupi tubuh Linny dengan selimut. Dia merasa tidak pantas melihat tubuh Linny dalam kondisi begitu. Meskipun tentu saja pria normal sepertinya akan terangsang.



Sean langsung memeluk tubuh Linny dan membawanya ke dalam kamar mandi. Sean mengunci pintu kamar mandi itu.


Yang Sean tahu dia harus membawa Linny berendam air dingin untuk mengurangi efek obat itu. Jika dibiarkan lebih lama dan Linny tidak bisa menikmatinya maka bisa-bisa saraf Linny rusak.


Tanpa memikirkan dinginnya air di dalam Jacuzzi, Sean turut masuk ke dalam air dingin itu sambil memeluk Linny.


"Sean..."  Linny bisa menebak siapa yang sedang memeluknya saat itu.


Aroma tubuh Sean sudah sangat Linny kenali.


"Iya ini aku. Tenanglah aku di sini. Tenanglah aku di sini"  Ucap Sean sambil mengelus punggung Linny perlahan.


"Ini Sakit...."  Ucap Linny menunjuk dada dan miliknya yang benar-benar kesakitan karena obat yang ada dalam tubuhnya.


"Aku akan meredakan sakitnya"  Ucap Sean lalu mencium perlahan tubuh Linny.


"Ahhh..."  Linny mengerang tertahan, perlakuan Sean bisa dia nikmati. Sean benar-benar melakukannya dengan lembut.


Linny mencapai pelepasan pertamanya. Namun itu tidak cukup. Linny yang memiliki hasrat tinggi di tambah obat yang masuk ke tubuhnya membuat Linny terus ingin dipuaskan. Dengan sabar Sean memenuhi keinginan Linny meskipun Sean sudah lelah dan tidak sanggup lagi.


.


.


Di luar tampak Andrean menatap tajam pada Reza. Andrean melempar pakaian milik Reza tepat di wajahnya hingga Reza tersentak dengan perlakuan Andrean itu.


"Kau sudah berjanji hanya ingin meminta maaf pada Linny. Kau sudah melanggar perkataan mu! Sudah aku katakan jangan coba menyakiti Linny lagi atau kau akan berurusan denganku Reza!"  Ucap Andrean dengan keras.


Dia benar-benar marah melihat kelakuan Reza.


Awalnya saat Reza mencarinya kembali, Andrean merasa kasihan melihat Reza yang tampak begitu menyesal. Di tambah masalah keluarganya dan bisnis Papanya yang bermasalah kehilangan investor besar mereka. Andrean pun meminjamkan dana untuk Reza setidaknya mencegah kebangkrutan perusahaan yang bisa menimbulkan pemecatan massal karyawan mereka.


"Aku mencintai dia Dre! Kau tahu bukan kalau aku sangat mencintai Linny! Aku benar-benar mencintai dia sejak dulu!"  Ucap Reza yang tetap tidak ingin kehilangan Linny sambil memakai kembali pakaiannya.


"Itu bukan cinta tapi obsesi! Jika kau mencintainya, ke mana kau saat dia terluka dulu? Apa kau berusaha mempertahankan dia? Apa kau bisa melawan keluarga mu demi dia?!!!!"


Andrean tampak sangat marah pada Reza. Dan meninju wajah Reza untuk meluapkan kekesalannya.


"Kau dan Keluarga TERHORMAT mu itu yang sudah menghancurkan Linny! Kau yang sudah membuat LUKA besar dalam hidupnya! Kau yang sudah membuatnya menjadi orang yang kasar dan tidak percaya pada pria mana pun!"


.


.


.