A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Hampir Saja...



Sean menghadap ke kepala bagian marketing dan menyerahkan surat pengunduran diri pagi ini saat di kantor.


Kepala bagiannya sangat terkejut dan berusaha menahan Sean agar tidak keluar dari perusahaan. Berhubung Sean merupakan team leader yang kompeten.


Jika di ibaratkan 60% pencapaian penjualan adalah kerja keras Sean dan team-nya.


"Kalau memang sudah bulat keputusan mu maka Aku akan mengabulkannya. Semoga sukses di tempat baru ya Sean" Ucap kepala bagiannya itu.


Sean hanya tersenyum. Nabila yang mendengar Sean akan mengundurkan diri dari perusahaan merasa sangat sedih.


" Kak Sean kenapa resign?"  Tanya Nabila saat bertemu Sean di pantry untuk membuat secangkir kopi.


" Ya sudah saatnya saja"  Ucap Sean basa basi.


" Kalau gitu boleh kita makan malam bareng sekali? "  Tanya Nabila.


" Aku memang mau ajak team buat minum-minum nanti"  Ucap Sean lalu berlalu.


Nabila tampak kesal dan ingin ikut juga. Dirinya memaksa bertanya kepada anggota team namun tak satu pun yang tahu tujuan Sean karena Sean mengatakan akan berangkat bersama saja nanti.


.


Siang itu Sean menemui Kak Nini dan Eni yang sudah menunggu di restoran yang tak jauh dari kantor Sean.


" Kirain kagak mau datang. " Ucap Eni berbasa-basi.


" Ada apa lagi? "  Tanya Sean dengan malas.


" Kapan pulang? "  Tanya Kak Nini langsung.


" Males. Sampe Papa Mama kagak ributin Aku nikah! "  Ucap Sean dengan santai.


" Kenapa sih Sean? Nikah aja kenapa susah? "  Tanya Kak Nini kesal.


" Iya lagian Prilly gadis baik baik. Pintar. Kerjaan juga jelas. Apalagi yang jadi pertimbangan mu? "  Tanya Eni heran.


" Karena Aku tidak tertarik dengan nya"  Ucap Sean santai.


" Atau kau impoten? Penyuka sesama? "  Tanya Kak Nini menerka-nerka meskipun dia berharap tidak tepat.


" Apa perlu Aku bercinta dengan seorang wanita di hadapan Kakak? Di hadapan Papa Mama sekalian gimana? " Tanya Sean menantang.


Emang berani Sean? Ya tentu KAGAK!!!


Cuman mau gertak doang kok. Mana sanggup dirinya bercinta dengan wanita. Miliknya tak akan mampu berdiri ataupun tergoda.


" Coba dulu nikah dengan Prilly. Aku yakin dia beda dengan mantan mu dulu. Siapa itu? Markisa?? Marr.. Marr apa ya lupa namanya ah! "  Ucap Eni mencoba membujuk Sean.


" Terus kalau enggak cocok langsung cerai kayak Kau? Begitu kalian puas? Nanti kalau Aku cerai kalian terus bilang jangan bikin malu keluarga? Tanpa peduli perasaan dan kebahagiaan Ku? "  Tanya Sean menatap Eni.


Eni tersedak mendengar perkataan Sean, Eni memang terlalu sepele dengan pernikahan sehingga saat ini nasib pernikahannya tinggal menunggu ketuk palu dari pengadilan agama.


" Kalau kalian datang jauh-jauh hanya untuk memaksa sebaiknya jangan datang. Karena kesabaran Ku bisa habis. Satu lagi, bilang pada wanita itu jangan terus menggangguku, benar-benar seperti wanita murahan yang ingin ditiduri laki-laki mana pun! "  Ucap Sean dengan tegas lalu meninggalkan kedua kakak perempuannya itu.


Sepeninggal-an Sean. Kak Nini hanya bisa diam. Sean benar keras kepala. Dan sepertinya sang adik benar-benar tidak bisa di paksa.


Malamnya setelah menyelesaikan pekerjaan hingga lembur. Team Sean ikut bersamanya menuju bar RB.


Linny sudah di kabari oleh Sean bahwa dia akan membawa 5 anggota team-nya. Jadi total bersamanya ada 6 orang yang sudah pasti menghabiskan setengah ruangan bar RB.


Anggota team Sean terkejut saat masuk ke dalam Bar RB. Jika di lihat dari luar tampilannya biasa saja tidak menarik. Namun saat masuk benar-benar indah, mewah dan modren. Selain itu music yang di pasang juga benar-benar up-to-date.


" Hallo selamat datang"  Sapa Eka kepada Sean dan team-nya.


" Linny! "  Tegur Sean kepada Linny.


Linny berbalik dan tersenyum dengan memperlihatkan lesung pipinya kepada Sean.


Deg!


Jantung Sean kembali berdegub kencang.


*'Kenapa lagi jantung aku. Belum juga nyentuh alkohol' * Batin Sean


" Gila cantik banget tuh cewek!! Temen nya Kak Sean tuh!! "  Bisik salah satu anggota team Sean.


Anggota team Sean berjumlah 5 orang. 2 wanita dan 3 pria.


" Iya cantik ya. insecure nih Aku"  Ucap anggota wanita team Sean.


Linny mendekati tempat duduk mereka dan membantu Sean menggabungkan 3 meja dan 6 kursi menjadi memanjang.


" Sorry ya, di sini memang terbatas"  Ucap Linny kepada anggota team Sean.


" Mau pesan apa? Bir, whiskey, wine, cocktail? "  Tanya Linny.


Terlihat seluruh team Sean tampak bingung memilih.


" Whiskey aja deh Linny. Seperti biasa saja"  Ucap Sean kepada Linny.


" Okey, di tunggu ya! "  Ucap Linny lalu menuju ke meja bar-nya.


Seseorang masuk ke dalam, itu Nabila. Ya dia mengikuti Sean.


Sean merasa jengah dengan tingkah wanita itu.


" Kak Sean. Boleh gabung? "  Tanya Nabila.


" Hmmmm "  Sean hanya menjawab singkat.


Eka segera memberikan kursi cadangan, mereka memang menyediakan 4 kursi cadangan untuk tamu yang ingin duduk di meja biasa.


Nabila menempatkan diri duduk di sebelah Sean.


Linny datang membawa dua botol Glenfiddich 18 beserta gelas dan se-centong es batu.


Tampak dua piring chicken pop kesukaan Sean tersedia.


" Dan ini free. Kalau masih mau bilang aja ya Sean"  Ucap Linny sambil tersenyum.


Sean membalas senyum Linny dengan lembut.


Melihat hal itu Nabila meradang. Tampak dirinya tidak menyukai Linny.


" Memang ya kerja di bar pakaiannya udah kayak enggak pakai baju!" Ucap Nabila saat Linny berbalik menjauhi meja mereka.


Mendengar itu Linny kembali mendatangi meja Sean.


" Anda bekerja di perusahaan besar tapi mulut Anda sepertinya tidak di sekolahkan. Aku memang suka berpakaian seperti ini dan ini hak Ku. Ini juga BAR MILIKKU. Jadi jika Aku tidak suka maka Aku berhak melempar Kau keluar dari sini!" Tegas Linny yang membuat Nabila maupun anggota team Sean terkejut.


Sebelumnya Anggota Team Sean juga berpikir Linny hanya karyawan di bar itu. Namun ternyata Linny pemiliknya.


Nabila terdiam mendengar Linny menegurnya dengan keras. Sean hanya tersenyum membiarkan Linny memarahi Nabila. Wanita itu memang pantas di marahi oleh Linny.


Linny kembali mengurus tamu yang datang ke meja bar. Dan kursi yang biasa di duduki Sean tetap dikosongkan meskipun Sean tidak duduk di situ.


Beberapa tamu laki-laki mencoba menggoda Linny namun tidak di pedulikan olehnya.


Sean yang fokus berbincang dan bercanda dengan team-nya tidak memperhatikan gelasnya yang berada di dekat Nabila.


Tampak wanita itu mencoba memasukkan sesuatu kedalam gelas Sean. Linny memperhatikan itu.


Saat Sean hendak meminum dari gelasnya. Linny langsung mencegah.


" Why? "  Tanya Sean heran. Dia merasa hari ini minum dengan santai. Apa Linny akan menegurnya lagi hari ini.


" Jangan di minum! Wanita di sebelah mu ini memasukkan sesuatu! "  Ucap Linny terdengar kesal dan menatap Nabila dengan tajam.


" Oh ya. Kalau gitu coba Kau yang minum saja! Nih! "  Ucap Linny menyodorkan gelas Sean pada Nabila.


" Kauuu!!! Apa urusan mu!! "  Bentak Nabila menantang Linny.


" Urusan ku? Aku teman Sean! "  Jawab Linny dengan santai.


" Kau hanya teman kenapa ikut campur! Kami bahkan dekat di kantor"  Ucap Nabila tanpa malu mengaku-ngaku dekat dengan Sean padahal yang ada dia di tolak mentah-mentah oleh Sean.


Sean memijat kepalanya tanda stress melihat tingkah Nabila.


Linny mendekati wajah Nabila dan menatapnya tajam.


" Hanya dekat di kantor? Oh miris deh. Sean bahkan menginap di tempat Ku loh, di tempat tidurku.... "  Ucap Linny sambil tersenyum smirk.


" Kau!! Pel@cur murahan!! Bangga bisa tidur dengan pria yang bukan suami mu??!! "  Bentak Nabila yang kesal mendengar kedekatan Linny dengan Sean.


Ya dia kesal karena Linny memang sangat cantik, meskipun pakaiannya tampak sexy namun dia tampak memiliki kharisma tersendiri.


" Dan percayalah, orang yang Kau sebut pel@cur ini bisa menghancurkan mu dalam sekejap. Kau sudah menantang orang yang salah Nona. Sekarang silahkan pergi dari sini sebelum Aku menyeret mu keluar!! "  Bentak Linny dengan mata tajam.


Sean belum pernah melihat Linny semarah itu dengan siapapun.


Nabila tampak kesal dan menahan tangis berlari keluar dari bar milik Linny.


Linny menghela nafas berat, dia sangat benci wanita seperti Nabila.


" Maaf. Aku tidak suka ada yang melakukan tindakan yang tidak baik di bar milikku. Silahkan lanjutkan. Sorry Sean! "  Ucap Linny sambil menepuk pundak Sean.


Sean hanya tersenyum. Tampak anggota team Sean berbisik menerka hubungan Sean dengan Linny. Banyak yang berasumsi Sean dan Linny memiliki hubungan khusus.


" Pantas Kak Sean tidak tertarik dengan wanita di kantor. Pacarnya secantik ini. Pemilik bar lagi! "  Ujar salah satu anggota wanita.


" Iya, meskipun pemilik bar kecil tapi yah uda jadi boss buat diri sendiri. Enggak kayak kita ya kan?! "  Balas anggota yang lain setengah berbisik.


Sean tidak memedulikan ucapan anggotanya dan mempersilahkan mereka menikmati minuman sambil berbincang.


Satu per satu anggota meninggalkan Bar RB karena hari semakin larut.


Melihat semua anggota sudah pulang, Sean mendekati Linny


" Ekhemm"


Deheman Sean yang membuat Linny tampak sibuk dengan ponsel menoleh ke arahnya


Ponsel Linny berbunyi tanda pesan masuk.


'Oke. Akan Aku bereskan wanita itu' -pesan masuk-


Linny mengabaikan ponselnya lalu mendekati Sean.


" Kenapa? Batuk Pak? Butuh obat? Coba ke apotek aja jangan di sini!"  Ucap Linny yang membuat Sean tertawa.


" Haha. Kau ini! Makasih ya untuk yang tadi! "  Ucap Sean berterima kasih atas bantuan Linny mengusir Nabila dan mencegahnya melakukan hal gila.


" Ya aku kasihan sama dia. Kalau sampai bawa kau ke hotel terus Kau-nya malah cuman tidur kagak bisa berfungsi kan percuma usahanya"  Ucap Linny dengan santai menanggapi kejadian tadi.


" Kau ini. Udah lah enggak jadi aku bilang makasih banyak banyak"  Ucap Sean pura-pura kesal.


" Sama-sama "  Ucap Linny dengan cuek.


Memang wanita yang satu ini susah di tebak pikir Sean.


" Udah pulang sana. Besok bukan hari libur Pak Sean! "  Ucap Linny mengusir Sean pulang.


" Astaga, mana ada pemilik bar yang ngusir pelanggan setianya"   Ucap Sean protes.


" Ada! Aku! Udah aku enggak mau repot bopong kau lagi! Sana-sana! ", Usir Linny yang membuat Sean tertawa senang.


Dirinya kemudian pamit kembali ke apartemen.


.


.


" Kau jadi di jemput adik mu? "  Tanya Linny memastikan Eka akan pulang dengan siapa.


" Iya Kak. Nah itu udah datang adik Ku. Dulu an ya Kak! "  Ucap Eka berpamitan.


Linny hanya mengangguk lalu berjalan menuju parkiran mobilnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 2.30 dini hari. Tempat itu sudah sepi tanpa pergerakan manusia.


Tiba-tiba Linny di cekal seorang pria dan di tarik mendekati gang di dekat sana.


" Sh*it! Lepas! "  Umpat Linny sambil memberontak.


" Diam! Sombong banget cuman punya Bar kecil! Baik-baik aku ajak ngamar malah sombong! Padahal sama saja dengan pel@cur di luar sana! "  Bentak pria itu.


Linny mengeram lalu memukuli pria itu tanpa ampun.


Jab, uppercut, swing, dan hook lalu tendang!


Pria itu tumbang dengan pukulan Linny, pria itu salah dia berpikir Linny hanya wanita lemah namun ternyata wanita itu menguasai ilmu bela diri muay thai dan kick boxing.


" Linny!! "  Terdengar suara Andrean mendekati mereka.


Pria itu terkapar kesakitan dipukuli Linny.


Andrean melihatnya hanya menggelengkan kepala, sial sekali pria mesum itu.


Andrean datang bersmaa dua bodyguard nya.


" Kau baik-baik saja? "  Tanya Andrean melihat Linny.


" Aman! Urus tuh mesum! "  Perintah Linny kepada dua bodyguard yang bersama Andrean.


" Baik Nona! "  Kedua bodyguard itu membawa pria tadi entah ke mana.


" Gimana udah urus wanita kurang ajar itu? "  Tanya Linny kepada Andrean.


"Mudah, sekali telepon beres kok. Udah Aku kasih ultimatum kepada kepala bagian UN*. Gila tuh cewek kagak tahu siapa Kau"  Ucap Andrean terkekeh.


"Biarkan dia tahu bahwa mulutnya itu lebih baik digunakan untuk berbicara yang benar. Lagi pula dia berani mencoba melakukan hal aneh dengan calon manager pemasaran yang baru"  Ucap Linny dengan santai.


" Siapa? Winsen Darren Mahaprana? "  Tanya Andrean memastikan.


" Ya. Sepertinya dia memasukkan sejenis obat per@ngsang ke minuman Sean. Kebetulan Aku melihat gerakan mencurigakannya"  Ucap Linny dengan santai.


" Wah mengerikan sekali wanita jaman sekarang. Sepertinya aku harus berhati-hati "  Ucap Andrean menggeleng heran.


Linny hanya tertawa dan mengajak Andrean untuk pulang. Besok Andrean harus memimpin meeting penting.


Mereka masuk ke dalam mobil masing-masing dan segera bergerak pulang.


.


.


.


Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-WAKTU-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT TERHADAP SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN.


-linalim-