
Sean dan Linny menuju ke rumah pribadi Om Donald. Tiba di sana Om Donald sudah menunggu mereka dan menyiapkan makanan untuk mereka.
"Hai sayang. Hai Sean" Sapa Om Donald memeluk Sean dan Linny bergantian dengan hangat.
"Masuk dan makanlah dulu" Ucap Om Donald.
Mereka kemudian masuk dan menikmati makanan yang di sediakan Om Donald.
"Kau sudah baik-baik saja Linny?" Tanya Om Donald khawatir.
"Sudah. Tenang saja Om. Aku baik-baik saja" Ucap Linny sambil tersenyum.
Om Donald hanya mengangguk percaya apalagi melihat Linny yang benar-benar fit dan tak seperti orang yang baru mengalami musibah.
"Jadi bagaimana. Kau tau kalau Hendra akan kembali ke sini dengan keluarganya?" Ucap Om Donald.
Linny tampak santai menanggapi kembalinya keluarga bajingan itu. Sedangkan Sean cukup khawatir, dia khawatir Linny kembali mengalami mimpi buruknya.
"Baguslah. Aku tak perlu mengejar mereka hingga keluar sana" Ucap Linny dengan santai.
"Ayo kita pindah ke ruang keluarga. Om ada koleksi wine baru" Ucap Om Donald mengajak Sean dan Linny ke ruang keluarga.
"Ini masih terlalu pagi untuk minum Om" Ucap Sean menanggapi ajakan Om Donald.
"Haha. Tidak ada istilah terlalu pagi untuk kami, Sean. Kau harus banyak belajar jika ingin sekuat dan sesukses Linny. Tidak mungkin kan Linny yang terus bertarung di luar?" Ucap Om Donald meledek Sean.
Sean tampak menggaruk hidungnya yang tak gatal itu. Memang benar selama ini Linny lebih berani dan maju menghadapi semua hal di banding Sean.
Tiba di ruang keluarga mereka duduk bersama dan minum wine yang di sajikan Om Donald.
"Om. Pinjam ruang laptop mu bentar ya. Ada yang harus aku urus. Kau di sini temani Om Donald saja Sean" Ucap Linny mencegah Sean mengikutinya.
"Oh baiklah" Ucap Sean.
Dia membiarkan Linny melakukan kegiatannya sendirian karena mereka juga berada di rumah Om Donald, jadi tidak akan berbahaya untuk Linny berkeliaran di rumah itu sendirian.
"Iya. Ada yang mau Om bahas juga dengan mu Sean" Ucap Om Donald tampak serius.
"Jangan menggosip tentang ku ya Om. Awas saja kalau kalian mengata-ngataiku di belakang" Ucap Linny berpura-pura mengancam.
"Tenang saja. Om lebih suka mengatai-ngataimu langsung di depan mu. Jika di belakang kurang seru" Ucap Om Donald berkelakar.
Sean pun ikut tertawa mendengar candaan Linny dan Om Donald.
Linny segera meninggalkan ruang keluarga. Dia berjalan menuju sebuah lorong kecil di dekat dapur yang merupakan pintu rahasia.
Pintu itu terhubung ke ruang bawah yang memang di design khusus oleh Om Donald. Ruangan yang tidak akan orang menyangka ada dan lengkap juga begitu mewah.
Terlihat Erik sedang bersama dua orang perawat yang mengecek tekanan darah dan suhu tubuhnya.
"Bagaimana kondisinya?" Tanya Linny tanpa basa basi.
"Kita sedang menangani hepatitis B yang di derita pasien. Beruntung itu belum terlalu buruk. Jadi masih bisa di tangani dengan obat-obatan dan antivirus. Hatinya juga masih bisa berfungsi dan tidak rusak parah" Ucap salah satu perawat menanggapi pertanyaan Linny.
"Baik Nona. Kami mengerti" Ucap kedua perawat itu yang tau siapa Linny.
"Dan rahasiakan semua rekam medisnya. Paham?" Ucap Linny dengan tegas.
"Kami paham Nona"
Kedua perawat itu pun mengundurkan diri setelah selesai melakukan perawatan untuk Erik.
Tinggal Erik, Linny dan Alfa di ruangan itu.
"Masih tahan kau?" Tanya Linny tanpa basa-basi.
"Masih. Terima kasih Linny" Ucap Erik sambil tersenyum tulus.
Tubuhnya kian membaik setelah mendapat perawatan dari dokter khusus yang di tunjuk oleh Linny.
"Baguslah. Cepat pulih agar aku bisa puas memukulimu" Ucap Linny sambil tersenyum.
"Semoga saja. Kondisi ku terlalu kompleks" Ucap Erik yang tampak pesimis.
"Wah. Ternyata aku terlalu menganggap mu hebat. Tau begitu aku biarkan saja kau sejak dulu. Toh kau ternyata sangat lemah dan pesimis. Mana mungkin bisa mengambil Sean lagi dari ku" Ucap Linny mengejek.
"Sialan kau. Biar begitu dulu aku yang sanggup memuaskan Sean" Ucap Erik kesal.
"Oh ya? Tapi sepertinya dia lebih candu dengan goyangan ku di ranjang" Ucap Linny kembali meledek.
"Kau datang mau pamer kelihaian kau di ranjang atau ada hal penting lainnya?" Tanya Erik kesal.
Tak mungkin Linny datang hanya untuk melihat kondisinya. Pasti ada yang Linny inginkan.
"Kau tau di mana Rain? Aku dengar dia tidak di negara ini sekarang" Ucap Linny langsung.
"Dia ke America membawa kekasihnya yang hampir kau bunuh itu untuk berobat. Mungkin butuh waktu lama dia di sana. Jadi kau bisa lebih tenang karena tidak akan ada yang mengganggu Sean sementara ini" Ucap Erik.
"Dan dia tau kau di sini?" Tanya Linny.
"Tentu tidak. Semua ponsel dan barang ku di tinggal di Ruko. Aku hanya datang membawa badan dan baju yang menempel di badanku. Aku tidak seceroboh itu" Ucap Erik.
"Tapi kau membuat seekor tikus mengikuti mu" Ucap Linny langsung.
Erik terperanjat. Dia paham jika maksud Linny adalah Joe.
"Kau- Apa Kau akan membunuhnya?" Tanya Erik.
Linny hanya menatap tajam ke arah Erik tanpa menjawab apa pun.
.
.