A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Karyawan Baru???



"Aku tidak peduli. Sekarang yang aku miliki hanya kau seorang Linny"  Ucap Sean terdengar lirih.


Sean benar-benar merasa lelah menghadapi kehidupannya.


"Mau ikut bekerja di Bar RB??"  Tanya Linny sambil tersenyum.


Linny tidak bisa ikut campur dalam masalah keluarga Sean. Dia hanya bisa menghibur Sean dengan mengalihkan pikirannya.


Tugas Linny hanya menghukum orang-orang yang sudah keterlaluan kepadanya.


Dan itu sudah dia lakukan. Keputusan pensiun untuk Mahaprana merupakan salah satu efek dari sikap sombong dan menghina orang lain.


Meskipun Linny hanya meminta hukuman teguran yang berakibat tidak akan ada nya bonus selama dua tahun untuk Mahaprana--Papa Sean, namun ternyata Pak Austin memilih memberhentikan lebih cepat masa kerja Mahaprana. Agar pria paruh baya itu bisa berkaca dengan tindakannya yang sangat tidak mencerminkan sikap baik yang dia tunjukkan selama ini di hadapan Pak Austin.


Sedangkan untuk Pak Senata, Linny memberhentikan kelanjutan kerja sama yang seharusnya di perpanjang hingga 5 tahun ke depan untuk membantu perekonomian perusahaan Pak Senata yang masih belum berjalan dengan baik.


Namun Linny masih cukup baik tidak meminta kolega lain menolak membantu Pak Senata ataupun membocorkan keputusan nya untuk berhenti bekerja sama dengan Pak Senata sehingga pria itu masih bisa mencoba mencari investor lainnya.


Karena jika sampai CEO Kim yang dikenal sering membantu pengusaha baik yang kesusahan, tiba-tiba membatalkan kerja sama berarti ada hal yang tidak beres sedang terjadi. Dan di pastikan Pak Senata akan kesulitan mencari investor baru.


.


Sean ikut bersama Linny menuju Bar RB. Namun kali ini Sean datang bukan sebagai tamu Bar melainkan sebagai karyawan Bar itu.


Sean memakai apron yang di persiapkan Linny agar pakaian Sean tidak kotor.


Meskipun baru pertama kali belajar menjadi bartender tidak membuat Sean kaku.


Dirinya cukup cekatan dalam menyajikan pesanan tamu.


Banyak tamu yang heran melihat Sean menjadi bartender. Namun untuk tamu wanita tentu itu merupakan pemandangan menarik saat Sean menjadi bartender.


Wajah tampan dan tangan berotot Sean menjadi bonus yang indah untuk mata para tamu wanita.


"Selamat datang di Bar RB"  Sapa Eka menyambut tamu yang baru masuk.


Ternyata yang datang adalah ke empat sahabat Sean. Mereka sudah mengabari Sean untuk bertemu di bar RB namun karena ponsel Sean masih belum full baterainya, Sean tidak tahu hal itu.


"Eh Kak Aston. Hallo Kak Liam, Kak Doni dan Kak Danu"  Sapa Eka menyambut sahabat-sahabat Sean.


Sean yang sibuk membantu Linny di belakang meja Bar masih belum sadar akan kehadiran sahabat-sahabatnya.


"Hai Eka. Wah ada karyawan baru ya?"  Tanya Doni setengah meledek menunjuk ke arah Sean.


"Haha. Iya Kak. Silakan masuk, kebetulan meja Bar sudah mau kosong, tamu yang itu sudah mau pulang."  Ucap Eka sambil menunjuk satu-satunya tamu yang duduk di meja bar. Selebihnya meja biasa sudah penuh bahkan empat kursi cadangan sudah digunakan malam ini.


Sahabat-sahabat Sean berjalan menuju meja Bar.


"Wuih, ada karyawan baru. Hai ganteng kenalan dong!"  Ucap Danu meledek Sean.


"Sialan! Datang buka- nya pesan malah meledek doang!"  Ucap Sean seolah kesal dengan kedatangan sahabat sahabatnya itu.


"Haha. Tapi keren Bro! Cocok kau jadi bartender"  Ucap Doni menyemangati.


"Eh enggak ada gelas pecah kan gara kau?"  Ledek William.


Semuanya tertawa mendengar ocehan absurd dari sahabat-sahabat Sean.


"Duduklah. Kalian mau minum apa?" Tanya Linny sambil mempersilahkan mereka duduk setelah satu-satunya tamu yang di meja bar pamit pulang kepada Linny.


Ke empat pria lajang itu segera duduk di kursi sambil menatap Linny.


"Linny, kau tampak semakin cantik. Masih jomblo kan? Nikah yuk"  Ucap Doni sengaja memancing emosi Sean.


Sean langsung menatap tajam ke arah Doni.


"Sama aku aja Linny. Aku siap jadi satpam di bar mu ini. Jadi pembantu di rumah juga boleh"  Ucap Danu menambahkan.


William dan Aston tertawa melihat ke arah Sean yang menahan emosinya untuk tidak mengumpat.


"Loh loh loh. Kok merah muka nya Sean? Kebanyakan makan cabe ya?"  Tanya Doni meledek.


"Sialan kau. Sini kalian! "  Ucap Sean kesal hendak memukuli sahabatnya itu.


"Santai Bro santai. Haha. Kau ini, cemburu kok segitunya. Linny aja biasa doang di goda-in" Ucap William menenangkan Sean.


"Oh ya, aku mau sekalian undang kalian. Aku sama Sisil mau tunangan bulan depan"  Ucap William.


Sean dan yang lainnya terkejut, kecuali Linny. Linny tahu semua hal itu bahkan dia yang memberi sponsor untuk lokasi acara pertunangan William dan Sisilia.


"Wah, congrats Bro. Bentar lagi ada yang lepas lajang di antara kita. Kau kapan Sean??"  Tanya Danu yang kembali meledek Sean.


"Aku tidak akan menikah"  Ucap Sean dengan santai.


Dia bukan tidak akan menikah tapi Linny yang memang sangat keras tidak ingin menikah.


Aston, William, Danu dan Doni saling berpandang-pandangan bingung mendengar pernyataan Sean.


"Aku hanya akan menikah dengan satu wanita. Itu juga jika dia mau. Jika tidak maka aku tidak akan menikah dan hanya akan menjaganya seumur hidupku"  Ucap Sean menjelaskan.


Mereka tampak paham dengan pemikiran aneh kedua manusia yang menjadi bartender hari ini.


Selama sahabat mereka bahagia, mereka juga ikut bahagia.


"Apa pun keputusan mu, asal kau benar-benar bahagia dengan pilihan mu, kami sebagai sahabat hanya bisa mendukung"  Ucap William sambil tersenyum.


Linny hanya cuek mendengar pembicaraan Sean dengan sahabat-sahabatnya. Baginya, itu bukan hal penting dan bukan urusannya.


"Oh ya, kau sudah dengar Papa mu akan di pensiunkan lebih cepat?"  Tanya Aston kepada Sean.


Sean hanya tersenyum tipis. Melihat respons Sean, mereka paham jika Sean tidak peduli dengan hal itu.


" Itu pilihan hidup mereka. Mereka yang memilih menjadi seperti itu di usia yang sudah tidak muda. Biarkan saja. Terkadang mereka memang harus merasakan hal seperti itu. Aku sudah lelah bertahan karena mereka"  Ucap Sean dengan santai.


Dirinya sudah tidak peduli dan tidak merasa sakit hati lagi. Apalagi saat ini sudah ada Linny dan semua sahabatnya ikut mendukung keputusan dirinya.


"Baiklah kalau itu pemikiran mu. Kami tetap sahabat mu, jangan lupakan hal itu. Apa pun yang terjadi kau harus menceritakannya kepada kami. Jangan pendam sendiri"  Ucap William yang seperti mengerti masalah Sean bukan hanya orang tuanya, tapi juga Erik.


William sempat melihat Sean yang keluar dari ruko milik Erik tengah malam kemarin. Tidak biasanya Sean akan pergi dari Ruko itu tengah malam.


"Sean, bisa bicara sebentar?"  Tanya William mengajak Sean keluar dari bar untuk berbicara empat mata.


Sedangkan Doni dan Danu asik berbincang dengan Linny membahas seputar bisnis dan peluang apa yang bagus ke depannya.


Aston tampak memperhatikan Eka dan sesekali membantunya membersihkan meja dan mengurusi tamu yang datang.


"Eka, sabtu nanti aku akan menjemputmu ya"  Ucap Aston berbisik di telinga Eka.


"Mau ke mana kak?"  Tanya Eka yang polos.


"Ikut saja. Pakai pakaian yang rapi"  Ucap Aston sambil tersenyum penuh arti.


Eka hanya mengangguk mengiyakan perkataan Aston.


.


Di luar tampak Sean dan William berdiri di dekat mobil mereka sambil menyesap rokok elektrik.


"Kau dan Erik sudah putus?"  Tanya William tanpa basa basi.


"Kenapa kau tiba-tiba bertanya begitu?"  Sean heran dengan pertanyaan William.


Dari semua sahabatnya hanya William yang tidak pernah mau ikut campur dengan urusan Sean dan pacar-pacarnya di luar itu.


"Ada apa sih Liam?? Apa yang kau ketahui??"  Tanya Sean penasaran.


William menatap Sean sambil menghela nafas panjang.


"Kau pasti masih mengantung status Erik kan??"  Ucap William.


Sean terdiam, pikirannya semakin bingung akibat ucapan William.


.


.


.