
"Kau benar-benar sudah berada di bawah kaki wanita itu ternyata"
"Aku datang untuk menyelesaikan semuanya dengan baik-baik Erik. Berhentilah melakukan kekacauan dan kegilaan. Kau masih muda, jika kau tidak bisa kembali pada hakikat mu setidaknya kau masih bisa mencari pria lain yang memang bisa menemani mu hingga tua"
"Kau pikir semudah itu? Kau pikir perasaan ku itu hanya perasaan bodoh?"
"Aku tau kau tulus tapi aku sudah tidak punya perasaan yang sama bahkan sejak lama sebelum aku bersama Linny. Aku hanya mengasihani mu karena kau selalu melukai diri sendiri jika aku meminta untuk berpisah"
Erik tampak geram dan tidak menerima terlebih melihat Linny yang dengan santai bersender di bahu Sean. Hal yang selama ini dilakukan Erik saat bermanja dengan Sean.
Erik mendekati Sean dan duduk di sampingnya bahkan hendak menyentuh milik Sean untuk menggodanya. Melihat hal itu sontak Sean merasa geram dan membentak Erik.
"Erik!!! Berhenti sialan!!!" Ucap Sean kesal.
Linny masih hanya diam dan memperhatikan sampai di mana kegilaan Erik.
Melihat penolakan Sean membuat Erik kesal.
"Kau pikir aku akan melepaskan mu? Jadi kau ingin aku menyebar video-video mu?" Tanya Erik menantang.
"Kau gila! Aku tidak menyangka kau sama bajingannya dengan Agus dan teman-temannya! Kau keterlaluan Erik!" Ucap Sean emosi.
"Aku memang begitu. Aku tentu harus memastikan kau selalu akan menjadi milikku. Aku tidak mungkin mau kehilangan mu. Dan kau juga aset penting di Bar ini. Sejak kedatangan mu membuat bisnis di sini semakin tinggi karena banyak yang tertarik dengan mu termasuk Rain. Hanya saja Rain tidak menyentuh mu karena kau milikku. Sean, kau pikir dua bodyguard mu bisa menjaga mu?" Ucap Erik panjang lebar.
Sean terkejut mendapat kenyataan sikap asli Erik yang sebenarnya dibalik kelembutan dan sifat kekanakannya itu. Sedangkan Linny masih menatap duduk santai menatap kedua laki-laki yang saling menantang itu.
"Kau tidak akan bisa mengalahkan orang-orang Rain di sini. Mereka lebih dari dua puluh orang sedangkan kau hanya di lindungi dua bodyguard bodoh di luar" Ucap Erik tertawa mengerikan.
"Kau gila! Aku tidak menyangka kau segila itu!" Ucap Sean tidak percaya.
"Hei Sean. Aku memang gila tapi aku juga memiliki segalanya karena kerja samaku dengan Rain. Buktinya dulu aku bisa men-support pengeluaran mu saat kau belum memiliki apa-apa. Apa kau lupa siapa yang memberikan mu hadiah mewah dan branded? Kau seharusnya berterima kasih padaku" Ucap Erik dengan santai.
Wajah Sean memerah merasa malu Erik mengatakan hal itu di hadapan Linny meskipun benar Sean menerima banyak barang mewah dari Erik. Selama ini Sean berpikir Erik sukses dengan bisnis fashion-nya ternyata semua itu tak lain hasil bisnis gelapnya dengan Rain.
"Menyenangkan mendapat uang semudah itu. Dan juga kami bisa menemukan banyak orang baru yang fresh untuk diajak bermain. Mereka juga bisa menjadi pel@cur pria di sini. Mirip seperti kau saat bersama Agus, bedanya mereka menikmati uang dari sentuhan pria. Kalau kau dulu kan hanya budak **** tanpa bayaran" Ucap Erik sambil tersenyum mengejek.
"Kau tak ada bedanya dengan Agus! Berengsek!" Umpat Sean kesal.
Dia tertipu selama ini dengan penampilan polos dan lemah Erik.
"Ah, bagaimana kalau aku upload video yang ini dulu ke situs bebas. Sepertinya menarik" Ucap Erik sambil menunjukkan video Sean yang sedang melayani Agus dan tiga pria lainnya.
Sean merasa kesal. Belum sempat Erik menekan tombol upload, ponselnya terjatuh akibat lemparan keras gelas dari Linny.
Prang!!!!!
Gelas itu mengenai tangan Erik dan menjatuhkan ponselnya ke lantai hingga layarnya retak.
"Kau!!!!"
"Jika kau butuh pengembalian dana dari ponsel mu, silakan temui aku. Tapi aku pastikan kau akan kehilangan tangan mu juga" Ucap Linny.
Erik tertawa. Dia merasa sangat kesal melihat Linny yang berani melemparnya dan merusak ponselnya itu.
"Kau pikir aku tidak ada salinan dari video-video itu?" Tanya Erik menantang.
"Dan kau pikir aku akan tinggal diam? Jika kau berani menyebarkan video itu akan aku pastikan kepala mu akan terpenggal saat itu juga. Perlu kau ketahui kalau aku tidak pernah bermain dengan perkataanku" Tegas Linny menatap tajam Erik.
"Dasar j@lang!" Umpat Erik.
"Kau tidak bisa di ajak bicara dengan baik. Aku rasa Sean sudah cukup berbicara baik-baik dengan mu. Dan kini aku yang akan menyelesaikannya dengan caraku jika kau berani berulah" Ucap Linny.
"Hei! Kau pikir Sean mencintai mu? Buktinya saja dia mengajakku bertemu di sini! Dan kau hanya benalu yang terus menempel dan mengikutinya! Sean masih menyukai lobang ku dibanding milik mu!" Ucap Erik tak ingin kalah.
Sean menghela nafas berat. Erik mengira Sean yang membalas chat-nya dan mengajaknya bertemu di Bar itu.
"Kau salah Erik" Ucap Sean.
Erik menoleh ke arah Sean dengan pandangan heran.
"Kau salah, bukan aku yang ingin menemui mu. Tapi Linny. Dia juga yang membalas pesan mu. Dia memintaku untuk menyelesaikan masalah kita. Tapi kau tidak bisa aku ajak berbicara dengan baik. Masalah video itu terserah kau. Jika kau ingin silakan kau sebarkan. Tapi aku tidak akan kembali pada mu, aku lebih memilih mati daripada harus kembali ke kehidupanku yang dulu" Ucap Sean tanpa ragu.
Sean merasa hanya itu yang bisa dia katakan dan lakukan. Jika memang video itu akan tersebar dia akan menyiapkan hati dan pikirannya akan kecaman orang-orang sekitarnya. Apalagi dia memang salah dan pernah melenceng.
Tentu itu fakta sebenarnya yang tidak bisa dia hapus begitu saja. Mungkin juga itu hukuman dari Tuhan untuknya jika sampai kesalahannya dulu tersebar.
Melihat tidak ada yang bisa di bicarakan lagi membuat Sean mengajak Linny untuk pergi dari sana. Tidak ada hal yang baik jika lebih lama lagi di tempat itu.
Tanpa Sean sadari, Erik mengeluarkan sebuah pisau lipat yang memang dia siapkan sejak tadi.
"Kalau kau tidak ingin kembali padaku maka tidak ada yang bisa memiliki mu Sean!" Ucap Erik lalu menusuk kan pisau itu di perut Sean.
Jleb!!!!
Sean terdiam membeku, Linny berada di hadapannya menghadang serangan Erik.
"Sepertinya kau memang meminta mati hari ini" Ucap Linny sambil menahan tangan Erik di perutnya.
"Linny..."
.
.
.
Silahkan di follow IG khusus Visual @lunagelim.author