
POV Linny 2
Setelah aman tiba di rumah, aku berusaha mencari cara mengadukan perbuatan Om Hendra kepada Mama.
Aku selalu gagal berbicara empat mata dengan mama. Setiap saat hendak berbicara dengan Mama pasti Om Hendra terus mencela.
Aku tidak bisa bicara dengan Mama.
Melihat aku yang ingin mengadukan perbuatannya membuat Om Hendra kemudian mengancamku.
" Kalau kau katakan hal itu kepada Mama mu. Kalian semua akan aku usir. Ingat pabrik pakaian itu sudah jadi milikku. Aku yang sudah membuatnya kembali stabil! Coba saja laporkan! Kalian akan jadi gembel! " Ancam Om Hendra.
Aku yang masih kecil merasa takut akan ancaman itu. Aku takut Mama dan Nicolas akan hidup kesusahan jika Om Hendra benar-benar melakukan perkataannya.
Aku hanya mampu terdiam. Diriku bertanya, apakah aku bisa hidup dengan tenang jika masih terus bertemu manusia itu.
Mama semakin hari tampak sangat mencintai Om Hendra dan mulai mengabaikan ku dengan Nicolas.
Mama hanya berfokus dengan suami barunya itu. Aku pun terdiam menyadari perubahan Mama.
Om Hendra beberapa kali terus mencoba menyentuhku membuat ku sering berteriak marah dan kasar.
" Kau ini! Anak perempuan kok kasar kali sama orang tua! Durhaka kamu!" Bentak Mama setiap kali melihat aku yang tidak suka di dekati oleh Om Hendra.
Belum lagi saat aku mulai berani melaporkan tindakan buruk dari suaminya itu. Mama selalu membela suaminya.
" Ah , jangan sembarang kamu Kim! Papa kamu pria baik baik! Kau baru umur berapa sudah kegatelan! Belajar dari mana kamu! Dasar anak durhaka! Anak tukang buat masalah! " Bentak Mama setiap aku melaporkan tindakan suami baru nya yang sangat menjijikkan itu.
Aku hanya dapat memendam emosi dan sakit hatiku. Semakin hari aku semakin jauh dari Mama. Kami sering bertengkar tanpa alasan yang jelas.
" Kak. Kita pindah saja" Ucap Nicolas yang tahu kegelisahan ku.
" Kalau pindah nanti siapa yang bisa membiayai kamu Dek. Kita tidak punya siapa-siapa lagi" Ucap ku menanggapi permintaan Nicolas.
Ya memang, Mama sudah memutus tali silaturahmi kami dengan keluarga almarhum Papa.
Aku hanya bisa bersabar menunggu saatnya aku lulus SMA dan bekerja serta membawa Nicolas pergi bersama ku dari rumah itu. Karena tidak mungkin aku membawanya keluar dari rumah itu dan hidup luntang-lantung.
Orang yang selalu menyemangati ku hanya Sisilia dan Andrean. Mereka ada Kakak beradik yang menjadi sahabat ku sejak masih duduk di bangku TK..
Mereka juga tahu perbuatan dari om Hendra yang berulang kali mencoba melecehkan ku.
" Ish! Kamu harusnya pukul aja tuh Om-Om mesum! Gila pedofil banget!"
Begitu lah hal yang selalu di katakan Sisilia jika menyinggung tentang perbuatan om Hendra.
Sisilia dan Andrean bahkan menawariku untuk tinggal bersama mereka saja.
Namun aku menolak. Aku tidak bisa meninggalkan Nicolas yang juga di abaikan Mama ku. Dan aku juga tidak enak membiarkan keluarga Sisilia dan Andrean menampung biaya hidupku dan Nicolas apalagi aku masih memiliki Mama.
Hingga usia ku 17 tahun, hal terburuk dalam hidupku terjadi.
Rendy --kakak tiriku merudapaksa ku saat dirinya dalam keadaan mabuk karena bertengkardengan pacarnya.
Malam terkejam dalam hidupku saat Mama ku dan suaminya sedang berlibur di bali meninggalkan anak-anak mereka di rumah.
" Ah cantikkk.. Sayangku... Kenapa kau pergi... " Ucap Rendy yang berusaha terus menciumku.
" B@ngsttttt!!! Pergi!!! Aku bukan pacarmu!!! " Bentak ku berusaha melepaskan diri dari Rendy.
Sial aku lupa mengunci pintu kamar karena berpikir om Hendra tidak ada di rumah ini maka aku akan aman.
" Sayang.... Aku rindu.... Puaskan aku seperti biasa ya.... Jangan marah lagi.... " Ucap Rendy yang membuat ku semakin ketakutan.
" B@ngsttt!! Pergi kauu!!! Minggirrr. Arghh!!! Sakit!!! " Rintih ku kesakitan saat Rendy berhasil memaksa masuk miliknya pada inti tubuhku.
Rasa sakit yang amat sangat, tubuh ku serasa di cabik-cabik. Pedih dan perih yang terasa membuat ku hampir pingsan.
" Jangan coba melaporkan hal ini. Kalau tidak adik mu akan aku lukai!" Ucap Rendy saat sadar dengan perbuatannya.
Aku hanya menangis dalam diam. Diriku merasa jijik. Hanya rasa sakit di tubuhku yang terasa. Tak ada sedikit pun rasa nikmat seperti apa yang sering ku dengar dari teman-teman ku di sekolah yang pernah melakukan hal itu.
Sejak hari itu aku semakin pendiam, menutup diri bahkan menjadi semakin kasar.
Suatu malam, Om Hendra kembali mencoba melecehkan ku saat aku berada di dapur.
Aku marah dan memberontak. Aku melempar semua barang yang bisa ku raih ke arah tubuhnya.
" Kalau kau menyentuhku. Aku akan mati di hadapan mu!! Atau aku akan membunuh mu terlebih dahulu untuk ikut bersamaku ke neraka!!! " Ancamku sambil mengacungkan sebuah gunting yang kuraih di dekat kompor.
" Kau jangan kurang ajar! Kalau bukan karena ku kalian sudah melarat! Apa salahnya kau berterima kasih kepada ku yang menyelamatkan kehidupan mu dan keluarga mu! " Ucap Om Hendra.
" Sampai mati pun aku tidak sudi di sentuh kau!! " Bentak ku
Aku sangat membenci pria laknat ini. .
Terjadi pergulatan ku dengan Om Hendra hingga gunting itu melukai tangannya. Juga sempat melukai dada kiri ku.
Aku merasa kesakitan. Darah tampak mengalir dari dada kiri atas ku itu.
Mama yang mendengar keributan mendatangi dapur dan melihat ku yang memegang gunting.
Mama sangat marah padaku.
" Anak kurang ajar!! Bentak Mama lalu menampar wajahku
" Tampar!!! Tampar lagi!! Bunuh aku saja kalau perlu!!! Bela saja pria bajingan yang mau mem*per*kosa anak mu!!! Bela saja anak tiri yang sudah mem*per*kosa anak mu ini!!!!! " Teriak ku di hadapan Mama.
Aku sudah sangat frustrasi dengan keadaan yang harus aku jalani.
" Kau!! Jangan sembarangan menuduh!!! Kau berbuat mesum di luar dan menuduh anggota keluarga mu!!" Ucap Mama yang otaknya sudah dicuci oleh dua pria bajingan itu.
Om Hendra merasa kesal lalu mendorong tubuh ku dengan keras hingga membentur kaca jendela besar di dapur.
Kaca itu pecah dan melukai punggungku. Aku meringis kesakitan dan pingsan
Saat ku terbangun aku mendengar suara Nicolas menangis memanggilku. Aku dirawat di rumah sakit.
Terlihat Om Hendra dan Mama masuk ke ruangan. Aku membuang wajah tidak ingin melihat mereka.
" Nicolas! Ayo ikut Mama! " Ucap Mama ketus
Mama tidak menanyakan kondisi ku sedikit pun.
" Tidak. Aku hanya mau bersama Kakak! " Ucap Nicolas dengan tegas.
" Ok kalau begitu. Jangan salahkan Mama! Mama tidak akan membiayai kalian lagi! Mulai besok Mama akan pindah bersama Papa Hendra! " Ucap sang Mama.
" Mama jahat! Kakak sedang terluka seperti ini tapi masih saja Mama buta! " Teriak Nicolas yang sudah tidak bisa menghargai sosok seorang Mama.
" Kurang ajar! Kau sama saja dengan Kim! Lihat perbuatan mu , Kim! Kau mengajarkan hal buruk kepada adikmu! " Bentak Mama .
" Sudahlah. Kita tinggalkan saja mereka. Nanti juga mereka akan mencari kita kembali dan minta maaf kepada kita. Ayo pergi" Ucap Om Hendra sambil tersenyum mengejekku.
Om Hendra lalu membawa Mama pergi dari tempat ku dirawat.
Hatiku terasa sakit. Mama yang melahirkan ku lebih percaya dan memilih orang yang tega menghancurkan hidup anak kandungnya ini.
Saat pulang, rumah sudah di kosong kan dan di jual, baju aku dan Nicolas berserakan di luar rumah. Aku dan Nicolas hanya bisa berjalan tanpa arah.
Sisilia dan Andrean mengetahui kondisi ku langsung membawa ku ke rumah mereka.
"Tinggal dengan kami Nak" Ucap Om Wisnu --Papa Sisilia dan Andrean.
" Iya. Tinggal dengan kami saja. Kalian masih terlalu kecil. Bahaya di luar sana" Ucap Tante Lisa - Mama Sisilia dan Andrean
Karena tidak memiliki tujuan. Aku mengiyakan perkataan mereka demi Nicolas.
Aku tidak ingin adik ku hidup luntang lantung dan terancam kelaparan dengan kondisi saat ini.
Namun karena kejadian itu, aku semakin menutup diri. Tindakan baik Om Wisnu terus membuatku curiga dan menjauh.
Hingga Sisilia dan Andrean terpaksa menceritakan kepada Papa dan Mama nya tentang tragedi yang menimpa ku.
" B@ngstttt!!! Bajingann manusia itu!! " Ucap Om Wisnu yang membuatku terkejut.
" Sabar Pa. Sabar" Ucap Tante Lisa menenangkannya sang suami.
" Laknat manusia itu!! Semoga mati terbakar manusiaa biadab itu!!!" Om Wisnu tampak sangat marah mendengar apa yang ku alami
Om Wisnu kemudian memeluk ku penuh kasaih sayang, pelukan hangat seorang Papa yang kurindukan selama ini.
" Maafkan Om ya Linny. Om tidak tahu kamu mengalami kejadian yang sangat buruk. Maaf Om membuatmu trauma" Ucap Om Wisnu meminta maaf padaku.
Aku tersentuh lalu menangis di pelukan Om Wisnu.
Om Wisnu yang tidak bersalah malah dia meminta maaf padaku.
Sejak hari itu Aku di bawa ke psikiater, keadaan ku membaik. Aku tidak takut lagi berhadapan dengan makhluk berwujudkan laki-laki.
Namun ternyata aku mulai penasaran dengan kehidupan ****. Aku mencoba melakukannya dengan berbagai pria tapi aku seperti mati rasa. Tak ada yang mampu membuat ku merasakan kenikmatan seperti film yang sering ditonton orang-orang.
Sisilia dan Andrean mengerti posisi ku. Mereka tidak bisa menyalahkan ku.
Sebab saat masa perawatan ku dulu, dokter sudah mengatakan akan ada efek yang mungkin sulit dihilangkan dan membekas bagiku. Hanya waktu yang bisa membantu ku sembuh total.
Aku mulai belajar bisnis di usia 19 tahun di ajari oleh Om Wisnu dan di usia 25 tahun aku mulai mendirikan FP corporation.
Aku meminta Sisilia dan Andrean menjadi asisten pribadi ku dan membantu jalannya bisnisku.
Aku juga mengirim Nicolas keluar negeri untuk bersekolah.
Hingga 6 tahun berlalu, perusahaan ku berkembang pesat dalam berbagai bidang.
Aku masih setia untuk tetap berada di belakang tirai bisnis-bisnisku.
Aku memilih membuka sebuah bar kecil untuk membuang waktu dan bisa menikmati alkohol setiap hari. Ya aku candu dengan alkohol. Hanya itu yang membuatku bisa tidur dengan tenang karena aku semakin tidak terkontrol.
Aku benci bersentuhan dengan pria tidak di kenal, namun aku juga menjebak pria-pria yang tampak mesum berstatus suami atau pasangan orang.
Yang kulakukan apa? Membuat mereka puas dengan pelayanan ku dan penasaran dengan ku yang tidak pernah berekspresi saat bercinta.
Aku tidak pernah memberi tahu identitas asliku. Aku selalu mengenalkan namaku sebagai Linny pemilik bar kecil.
Aku juga tidak memerlukan uang mereka bahkan aku malah bisa menyewakan kamar. Membuat mereka semakin penasaran dengan ku yang tidak jelas identitasnya.
Setiap mereka kembali mencari ku maka akan aku tolak dan mengirimkan foto telanjang serta video mereka kepada pasangan-pasangan mereka.
Melihat mereka yang marah dan bertengkar dengan pasangan, malah membuat ku senang.
Munafik! Semua pria itu sama bajingannya!
.
.
.
Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.
-linalim-