A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Obsesi dan Cinta..



"Kau dan Keluarga TERHORMAT mu itu yang sudah menghancurkan Linny! Kau yang sudah membuat LUKA besar dalam hidupnya! Kau yang sudah membuatnya menjadi orang yang kasar dan tidak percaya pada pria mana pun!"


"Kau tidak pernah mencintai Linny. Kau hanya manusia yang penuh ambisi! Yang kau lakukan itu bukan cinta tapi obsesi!"


"Jika kau mencintainya, ke mana kau saat dia terluka dulu? Apa kau berusaha mempertahankan dia? Apa kau bisa melawan keluarga mu demi dia?"


Ucap Andrean berapi-api. Andrean yang selama ini sudah menyimpan kekesalan melihat penderitaan Linny. Namun Andrean tetap berteman dengan Reza karena masih menghargai pertemanan mereka yang sudah lama.


"Aku tahu aku salah. Makanya kau ingin dia kembali padaku, aku akan menikahinya. Bantu aku Dre! Aku mohon!"  Ucap Reza agar Andrean mau mendukungnya.


"Gila! Kau masih berani bilang mencintainya saat kau berusaha melakukan kecurangan begini? Kau hampir memper**kosa orang yang kau bilang kau cintai!"  Bentak Aston merasa manusia bernama Reza itu sangat gila.


Meskipun Aston penjahat wanita namun dia tidak pernah melakukan hal rendah seperti yang dilakukan Reza. Dia memilih akan melakukan hal itu jika si wanita mau sama mau.


"Apa kau tidak lihat Linny kesakitan begitu?? Dia bahkan tidak tergerak untuk menyentuh mu kan?!"  Ucap Aston kesal.


Reza terdiam mendengar hal itu., memang benar sejak tadi Linny tidak merespons cumbuannya bahkan menitikkan air mata.


"Kau benar. Sean memang gay. Tapi dia tidak pernah melakukan tindakan menjijikkan seperti ini. Dia sangat tulus pada Linny bahkan dia rela meninggalkan keluarganya yang gila status dan kehormatan demi Linny"  Ucap Aston menatap tajam pada Reza. Tentu Aston tidak terima Sean dihina oleh Reza.


"Tentu karena dia tau Kimberlyn CEO besar bukan?"  Ucap Reza tak mau kalah dengan nada mengejek.


Andrean menghela nafas berat. Andrean yang selama ini menemani Linny dan tau betul apa yang Linny jalani.


"Sean sudah mencintai Linny jauh sebelum dia tahu Linny adalah seorang CEO. Bahkan Sean mau menerima dan mengobati luka hati Linny saat tau semua hal terburuk yang di jalani Linny"


"Sean bahkan tidak menyerah saat Linny selalu bersikap kasar padanya. Tanpa mempermasalahkan Linny yang memiliki kesenangan dengan **** bersama orang lain. Sean tidak melarangnya dan hanya berusaha melakukan yang terbaik untuk Linny."  Ucap Andrean sambil menghela nafas kasar.


"Sean sudah pernah ditolak Linny. Bahkan Linny selalu membentak Sean. Tapi Sean bertahan menghadapinya. Saat Orang tua Sean menolak dan merendahkan Linny, Sean selalu berada di garda depan melindungi Linny dan Sean lebih memilih tidak diakui keluarganya daripada harus kehilangan Linny"  Tambah Aston.


Reza terkejut mendengarkan hal itu. Dia memang tidak terlalu tahu tentang keseluruhan cerita Linny dan Sean, dia hanya tau Linny saat ini memiliki partner yang hidup bersamanya.


"So, gimana dengan kau? Apa kau bisa melakukan hal itu jika kau di posisi Sean? Tidak bukan? Kau malah meninggalkan Linny dan menikah dengan wanita lain!"  Ucap Aston tak kalah geramnya.


"Aku tidak ingin memukuli mu lagi. Kau masih temanku. Tapi aku akan mencabut semua dana investasiku. Serta aku akan melaporkan mu pada Om Donald. Pebisnis lama seperti keluarga mu tentu tahu siapa Donald bukan?"  Ucap Andrean menatap tajam pada Reza.


Dia merasa kasihan dengan hidup temannya itu namun dia juga tidak bisa menerima jika Linny di perlakukan keterlaluan oleh Reza.


"Maaf aku tidak bisa membantu mu atau menolong mu lagi. Semoga kau selamat dari tangan Om Donald"  Ucap Andrean lalu meminta bodyguard-nya membawa Reza ada Om Donald.


Andrean meminta bodyguard-nya membawa Reza pada Om Donald terlebih dahulu. Dia masih belum tenang jika tidak memastikan Linny sudah bebas dari pengaruh obat dalam tubuhnya.


Meskipun sejak tadi sama-samar terdengar suara alam yang indah dari arah kamar mandi. Dirinya tetap tidak tenang.


"Ah. Minta obat penawar lagi dari Om Donald dan bawa kemari segera"  Titah Andrean.


"Baik Tuan"  Ucap Bodyguardnya lalu keluar dari kamar.


Terlihat Jun dan Alfa, Bodyguard pribadi Sean dan Linny berlutut di depan Andrean menunggu hukuman karena lalai menjaga Nona CEO mereka.


"Ada apa?"  Tanya Andrean heran.


Jun dan Alfa saling bertatapan sebelum berbicara.


"Kami siap mendapat hukuman Tuan Andrean"  ucap Alfa memberanikan diri.


Sebagai Bodyguard tentu mereka harus siap mendapat hukuman jika bersalah.


Andrean memandang kedua bodyguard setia itu. Mereka sudah bekerja dengan baik dan Andrean tahu.


Siapa yang bisa menyangka ada orang gila yang berani menyentuh Linny di kandang yang penuh mafia pembunuh.


"Kalian tidak bersalah. Bangunlah"  Ucap Andrean.


Jun dan Alfa kemudian berdiri. Mereka memilih berjaga di luar kamar Sean dan Linny.


"Ah Jun. Panggilkan orang yang bisa memperbaiki pintu itu"  Ucap Andrean memerintah.


"Baik Tuan"  Ucap Jun segera melaksanakan perintah.


Aston duduk di sofa kamar. Dia masih tidak habis pikir tentang kejadian barusan.


Suara ******* dikamar mandi masih terdengar hingga tak lama bodyguard mereka kembali membawakan obat yang diminta Andrean.


Andrean mengetuk pintu kamar mandi.


"Sean. Bisa kau keluar sebentar?"  Panggil Andrean.


"Ya...."  Suara Sean menyahut dari dalam kamar mandi.


Tak lama Sean keluar mengenakan bathrobe. Rambutnya sudah basah dan tentunya wajahnya cukup lelah.


"Ini obat penawar. Berikan pada Linny. Kita tidak tahu berapa banyak dosis yang dimasukkan Reza. Setidaknya ini bisa membantu. Kau bisa mati jika terus melayaninya apalagi di dalam air dingin"  Ucap Andrean yang khawatir.


"Terima kasih"  Ucap Sean sambil tersenyum.


"Aku pergi dulu. Jun dan Alfa berjaga di luar sambil memastikan pintu kamar sudah di perbaiki"   Ucap Andrean sambil menunjuk dua orang yang hampir selesai memperbaiki pintu.


"Baiklah. Terima kasih Dre"  Ucap Sean lalu masuk kembali ke kamar mandi.


Andrean dan Aston keluar dari kamar itu menuju ruangan khusus Om Donald. Andrean bisa membayangkan Reza tentunya sudah menjadi bulan-bulanan Om Donald.


.


Didalam kamar mandi. Sean membawakan segelas air putih.


"Linny, ayo minum ini dulu"  Ucap Sean dengan lembut.


Linny tampak menurut meminum obat pemberian Sean. Tubuhnya sudah sangat lelah karena pelepasan berkali-kali namun hasratnya tak kunjung mereda. Linny juga yakin kalau Sean juga kelelahan menghadapinya.


"Ayo keluar dari sini. Kau bisa masuk angin"  Ucap Sean lalu membawa keluar Linny setelah membungkus tubuh Linny dengan bathrobe.


Sean membaringkan Linny di atas tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Tenang, selimut dan seprei sudah diganti"  Ucap Sean yang yakin Linny akan membenci ada aroma Reza di tempat tidurnya.


Terlihat Jun dan Alfa berjalan mendekati mereka.


"Tuan pintu sudah selesai di perbaiki. Kami dan yang lain akan bergantian berjaga di luar. Maafkan kelalaian kami" Ucap Jun meminta maaf.


"Tidak apa-apa. Terima kasih"  Ucap Sean sambil tersenyum.


"Kalau begitu kami permisi Tuan"  Ucap Jun dan Alfa.


Sean menghela nafas panjang. Dia merasa beruntung bisa tepat waktu.


Jika tidak Linny akan mengalami trauma baru dan akan semakin sulit memasuki hati Linny. Bahkan Sean yakin saat Linny sudah pulih tenaganya. Linny akan menghajar Reza mengingat kebencian Linny pada keluarga tirinya sangat tinggi padahal sudah tidak pernah bertemu lagi. Tentu Reza akan mendapat balasan yang mengerikan dari Linny.