
Sean baru saja memejamkan matanya. Dirinya berusaha tidur dengan nyenyak di samping Erik.
Tiba-tiba dirinya merasa tubuhnya di sentuh oleh seseorang.
"Erik...." Lirih Sean saat menyadari Erik lah yang sedang menyentuhnya.
Erik tidak banyak berbicara lalu membuka celana Sean hingga bagian bawah tubuh Sean polos tanpa sehelai benang pun.
Tangan Erik menyentuh Pluto yang imut yang masih tertidur.
Perlahan Erik berusaha membangkitkan gairah Sean seperti sebelum-sebelumnya.
Sean mulai tergoda, namun sekejap kemudian dirinya tersadar.
Wajah Linny berputar-putar di kepalanya. Entah apa yang membuat dia begitu takut jika Linny tahu dia masih berhubungan dengan Erik.
"Erik stop it!! Erikkk!!" Pekik Sean tertahan saat Erik memasukkan si Pluto yang sudah terbungkus karet anti radiasi pencemaran itu ke dalam lubang belakang Erik.
"Erik!!! STOPPP!!"
Sean membentak namun tak dapat dipungkiri Sean merasa Pluto semakin mengeras dan menikmati kegiatan panas itu.
Erik tidak memedulikan perkataan Sean dan terus menaik turunkan tubuhnya hingga dirinya sendiri mencapai pelepasan.
Namun tidak dengan Sean yang sejak dulu memang sangat kuat dalam urusan ranjang. Erik sangat paham hal itu.
Segera Erik turun dari tubuh Sean, dilepaskannya si karet anti radiasi dari Pluto dan hendak memanjakan Pluto dengan mulut serta lidahnya.
Melihat Erik yang sudah turun dari tubuhnya, dengan segera Sean bangun dan bergerak menjauhi Erik.
"Kenapa?" Tanya Erik heran.
Biasa nya Sean akan meminta lagi dan lagi hingga benar-benar puas.
"Tidak. Kau sudah puas bukan? Aku akan pulang. Banyak pekerjaan yang harus aku lakukan besok. Dan tolong jangan lagi datang ke kantor ku" Ucap Sean selembut mungkin.
"Ini sudah tengah malam. Bahaya kau pulang sekarang" Ucap Erik yang seakan tak inigin berpisah dari Sean.
"Tidak apa. Aku pulang saja. Jika inigin bertemu telepon saja ya. Kita bertemu di luar, jangan sampai ada yang melihat mu sering menemuiku" Ucap Sean.
"Janji?" Tanya Erik lagi.
"Janji..." Ucap Sean sambil memaksa tersenyum.
"Lusa aku mau ke bar madam, kita ke sana ya sayang. Biar bisa bebas mau ngapain aja. Aku udah lama enggak ke sana" Ucap Erik dengan manja.
"Baiklah"
Sean terpaksa menuruti keinginan Erik untuk kembali bermain di Bar Madam Pelangi. Bar kesukaan para kaum pelangi untuk berkumpul tanpa takut terganggu ataupun dicibir oleh orang lain saat mereka bermesraan dengan sesama jenisnya.
Alasan Sean mengiyakan keinginan Erik tak lain dan tak bukan karena dia tidak ingin Erik kembali menggila dan mencarinya di tempat yang bisa di pergoki orang.
"Aku pulang dulu. Kunci pintu dengan baik ya" Ucap Sean sambil mengecup kening Erik.
Erik tersenyum dan melambaikan tangan mengantar kepergian Sean.
Sepanjang jalan Sean merasa bingung.
Kepalanya terasa sakit.
Sakit karena dia sendiri belum mencapai pelepasan dan si Pluto masih menegang keras.
Juga sakit karena Erik yang semakin berani mendekatinya di tempat umum.
Sean tidak ingin kedua orang tua nya tahu hal yang sebenarnya, juga tidak ingin karir-nya hancur dan di kecam seluruh masyarakat.
Betapa tidak, para kaum pelangi merupakan aib dan di perlakukan seperti monster juga pesakitan yang harus di jauhi bahkan di musnahkan di muka bumi.
Tapi tidak ada yang mencoba paham, tidak semua kaum pelangi menikmati hidup mereka dan tidak ada yang mencoba mencari tahu bagaimana mengobati bahkan mencegah keluarga mereka menjadi berbelok nafsunya.
Hal yang sudah Sean lalui. Tidak ada keluarga yang mendukung nya saat terjatuh. Bagi sang Papa, anak laki-laki tidak boleh menangis tidak boleh lemah. Bagi sang Mama, anak laki-laki pasti kuat , tidak perlu curhat , bisa menyembuhkan diri sendiri. Bagi sang Kakak pertama, perkataan Papa dan Mama adalah mutlak. Kakak kedua dan adiknya selalu sibuk dengan dunia mereka sendiri. Terlebih kakak kedua yang selalu meremehkan hubungan kasih dengan siapa pun.
Sean kesepian, di saat dia terluka. Di saat dia butuh dukungan dan bimbingan, seluruh keluarganya hanya menjatuhkannya. Kekasihnya juga meninggalkannya dengan menorehkan luka yang berdarah-darah di hati Sean. Tidak ada yang peduli seorang Sean juga butuh pelukan lembut, kata-kata lembut, dan ingin menangis dengan nyaman.
Di saat dia benar-benar terjatuh, di saat dia benar-benar terluka. Disaat itu pula dia bertemu dengan pria dewasa yang menawarkan kenyamanan baginya. Mendengar keluh kesah nya. Menenangkannya dengan lembut. Membiarkannya menangis tanpa menghujatnya lemah.
Sean terbuai dengan kebaikan makhluk sejenisnya. Dirinya di kenalkan dengan kehidupan manusia-manusia sejenis itu.
Sean terbiasa bersama mereka, dirinya semakin nyaman dan dalam memasuki dunia itu. Dia tidak pernah berpikir saat dia menjerumuskan diri ke dalam maka dia akan sulit keluar dari tempat itu.
Tanpa Sean sadari, dirinya sudah menjadi mangsa para kaum sejenis-mya. Sean di lecehkan. Sean juga pernah di ancam agar tidak bisa melarikan diri dari perkumpulan itu. Hingga Sean menganggap hubungan sejenisnya itu sebagai hal yang normal, Sean mulai merasa nyaman. Sean merasa di inginkan, Sean merasa di cintai, Sean merasa di elu-elukan, dirinya merasa hangat mendapat kenikmatan bersama kaum pelangi itu tanpa berpikir dirinya sudah tersesat.
Ya kini dia tersesat. Saat Sean tak lagi merasa nyaman seperti sebelumnya. Saat Sean tak lagi merasa kehangatan itu abadi. Dia ingin keluar dari sana. Ingin rasanya dia terbang menjauh dari kehidupan sejenis itu.
Namun secepat apa pun dia berlari, sekuat apa pun dia merangkak. Dia begitu sulit melepaskan semua itu.
Ikatan para manusia itu sangat kuat. Sean terikat, di ikat oleh cinta tabu dari Erik. Jika dia pergi maka akan ada nyawa yang melayang sia-sia. Sean takut, nuraninya masih berbicara. Dia tidak ingin ada nyawa yang hilang karenanya.
Andai Sean tidak pernah mencari kenyamanan di luar sana. Andai Sean tidak pernah bertemu Erik. Andai Sean tidak pernah jatuh cinta saat dirinya rapuh. Andai San bisa... Sean ingin menghentikan semua ini.
.
Langkah nya gontai, dia hanya berpikir untuk meminum beberapa gelas sebelum pulang.
"Sean..."
Suara Linny yang terdengar lembut memanggil namanya.
"Loh.. Linny.. Kau di sini?" Tanya Sean terkejut.
Dia pikir Linny tidak akan datang ke Bar RB lagi karena kesibukannya di kantor.
Linny berjalan mendekati Sean. Dia melihat wajah Sean yang muram dan menyiratkan kesedihan mendalam.
"Kau kenapa?" Tanya Linny heran.
Sean hanya menggelengkan kepala nya dan berusaha tersenyum. Dia berusaha menutupi rasa frustrasinya.
"Duduk lah, mau minum cocktail?" Tanya Linny menawarkan.
"Boleh" Jawab Sean lalu duduk di salah satu kursi meja bar.
Linny tampak berbeda, dia menggunakan kaos oversize dan hotpants. Tapi Linny tetap cekatan, seolah tidak ada rasa lelah dirinya mengurus perusahaan dan juga masih datang ke Bar itu.
"Minumlah. Ini gratis untuk mu" Ucap Linny.
Linny bisa merasakan Sean sedang terluka, sesuatu sedang ditutupi Sean darinya.
"Linny..." Panggil Sean lirih.
"Kenapa?" Tanya Linny.
"Boleh aku tinggal bersama mu selama beberapa waktu ke depan?" Tanya Sean sambil menatap Linny penuh permohonan.
Linny cukup heran dengan permintaan Sean, namun sepertinya pria itu sedang menghindar dari sesuatu. Mungkin Sean sedang memerlukan pertolongannya.
"Terserah kau saja. Kalau kau memang butuh tempat untuk menenangkan pikiran mu ya datang dan tinggal lah di tempat ku" Ucap Linny yang memang tidak masalah dengan hal itu.
"Terima kasih" Ucap Sean sambil tersenyum kecut.
Cocktail itu di minum perlahan hingga waktu bar tutup.
Eka pulang di jemput oleh adiknya. Eka dan Adiknya sudah pindah ke apartemen dekat Bar RB sesuai permintaan Linny.
Sean mengikuti mobil Linny dari belakang. Keduanya menuju apartemen milik Linny.
Saat masuk di dalam, Linny langsung melepaskan pakaiannya dan masuk ke kamar mandi membersihkan diri sebelum tidur.
Linny yang baru selesai mandi berjalan menuju dapur dan melihat Sean tertidur di atas sofa bed nya.
Linny mendekati Sean dan membelai lembut kepala Sean.
Tangan Linny terhenti saat tangan Sean meraihnya.
"Kau belum tidur?" Tanya Linny.
"Kepala ku sakit" Ucap Sean jujur.
"Ada apa?" Tanya Linny lagi.
"Entah lah. Aku merasa sakit. Di sini" Ucap Sean sambil menunjuk dada nya.
Bayangan pengkhianatan kekasihnya dulu, sakitnya di hina dan di abaikan keluarga, bayangan dia yang menjadi gay dan pertama kali di lecehkan hingga dia terjebak dan nyaman di dalam pusaran itu. Semua kembali menyerang nya hingga dia merasa sakit.
Linny mencoba meraba kening Sean, dia demam.
"Aku ambil alat kompres dulu. Kau demam Sean" Ucap Linny lalu mengambil alat kompres dan merawat Sean.
"Linny...."
"Hmmm..."
"Andai aku bertemu dirimu 19 tahun lalu..." Ucap Sean lirih.
Linny menatap wajah Sean dengan heran...
.
.
.
Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-WAKTU-KEADAAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA CERITA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN. TERIMA KASIH.
-linalim-