
"Kau suka pada Nona? Kalau suka katakan saja daripada jadi penyakit"
"Lebih baik kau diam daripada ku robek mulutmu itu!"
Dewi terkejut mendengar Jun yang tampak benar-benar marah dan kesal.
Dewi menelan salivanya dengan sulit. Dia seperti memancing seekor harimau tidur untuk mengamuk.
Jun menatap tajam pada Dewi hingga membuat Dewi bergidik ketakutan.
"Ke-Kenapa melihatku begitu?" Tanya Dewi tergagap.
"Nanti Kau dan Farid tinggal bersama ku dan Alfa dulu sebelum aku menemukan tempat tinggal yang cocok untukmu dan Farid" Ucap Jun yang hanya di jawab anggukan kepala dari Dewi.
Dewi tidak berani banyak berbicara lagi melihat Jun yang begitu kesal padanya.
Bukan Jun marah karena ketahuan menyukai Nona CEO-nya. Dia menyukai Linny seperti saudara perempuannya. Tepatnya dia tidak ingin membuat pembicaraan buruk yang tidak benar.
Jun dan Alfa sudah menerima banyak kemurahan hari dari Linny dan mereka memang sudah bersumpah untuk mengorbankan nyawa mereka untuk keselamatan dan kebahagiaan Linny dan Sean.
Terbukti saat Tuan dan Nonanya itu bertengkar membuat Jun dan Alfa berada di garda depan untuk membuat keduanya akur dan mesra kembali.
"Kalau aku dan Farid tinggal bersama kalian, apa tidak masalah?" Tanya Dewi lagi memastikan.
Entah mengapa dia agak tidak nyaman memikirkan harus tinggal bersama dua pria di mana salah satunya sangat galak sekali terhadapnya.
"Tidak. Itu apartemen dari Nona. Ada dua kamar. Dan aku harus memastikan kau bukan pengkhianat!"
Ucap Jun dengan tegas dan terdengar tajam. Dewi sampai menghela nafas menahan kesal. Jun terus mencurigainya.
Tanpa Dewi ketahui, Jun dan Alfa memang memiliki apartemen masing-masing namun keduanya sepakat tinggal bersama sementara selama Dewi dan Farid tinggal di apartemen Jun.
Ya, beruntung apartemen yang di tinggali Jun dan Alfa yang di berikan oleh Linny dan Sean cukup luas dengan 2 kamar. 1 Kamar tidur dan 1 lagi lebih mirip ruang kerja namun bisa juga di jadikan kamar tidur hanya lebih kecil.
Untuk memantau dan memastikan dulu gerak gerik Dewi dan apakah Dewi benar-benar bisa di percaya dan di lepas tinggal berdua dengan adiknya.
Tapi lebih tepatnya sebenarnya Jun lebih takut jika keduanya tidak nyaman hanya tinggal berdua di kota yang berbeda dari sebelumnya dan pastinya mereka belum cukup familiar dengan sekelilingnya.
Dan juga berbahaya bagi seorang gadis tinggal sendirian bersama adiknya yang masih kecil di kota besar itu.
Jun tidak seburuk itu. Dia memang hanya mengancam agar Dewi benar-benar menanamkan di dalam otak dan hatinya harus loyal pada orang yang sudah menolongnya.
Perjalanan kembali ke Jakarta berjalan lancar tanpa hambatan cuaca atau apa pun. Mereka langsung kembali menuju penthouse.
"Jun. Uruskan paspor untuk Dewi dan Farid. Minggu depan kita berangkat ke Singapore" Ucap Linny.
"Baik Nona" Jun dengan patuh melaksanakan permintaan Linny.
"Alfa. Kau pergi belikan pakaian untuk Dewi dan Farid. Belikan lengkap termasuk dalaman. Bisa?" Tanya Linny menatap Alfa.
"Eh??" Alfa agak malu mendengar Linny memintanya membelikan pakaian termasuk dalaman untuk Dewi.
Seorang pria berbelanja pakaian wanita termasuk **********, apa kata dunia?
Jika meminta untuk membeli milik Linny baik Alfa dan Jun akan dengan sigap melakukannya. Karena Linny adalah CEO yang mereka jaga. Tapi kalau milik orang lain tentu Alfa merasa tidak nyaman.
"Bisa?" Tanya Linny lagi.
"Bi-Bisa Nona. Akan saya urus" Alfa tidak berani menolak perintah Linny.
"Oke. Ah Sean. Kita ke perusahaan sebentar" Ucap Linny.
Mereka memang tiba Jumat siang di kota Jakarta. Belum juga beristirahat Linny sudah tidak bisa diam.
"Kau belum sempat istirahat. Kita baru saja tiba Linny. Nanti kau kelelahan" Ucap Sean merasa Linny terlalu memaksakan diri bekerja keras.
Termasuk menghancurkan satu persatu sumber keuangan keluarga itu agar membuat mereka terpuruk dan berada jauh di bawah Linny. Hingga waktu tiba maka Linny akan menemui mereka dan menginjak kepala mereka satu persatu.
"Baiklah. Aku kabari Andrean" Ucap Sean.
"Tidak usah. Langsung saja. Mereka pasti di kantor jika aku tidak ada di sana" Ucap Linny yang tahu jika Andrean dan Sisilia pasti berjaga di perusahaan.
"Okey" Sean langsung menemani Linny ke perusahaan di ikuti oleh 10 pengawal lainnya.
Tiba di kantor semua orang terkejut CEO tiba-tiba masuk tanpa pemberitahuan.
Mereka tahu jika sang CEO sedang berlibur panjang tapi tidak menyangka CEO-nya langsung hadir ke kantor saat baru tiba di Jakarta.
"Waduh. CEO datang. Cepat fokus. Bersihkan bagian yang kotor, suruh OB!"
Seperti itulah ketakutan para karyawan jika CEO hadir ke perusahaan.
Linny tidak memedulikan itu dan langsung berjalan menuju ruangan Andrean di temani oleh Sean.
"Hei Bro! Kenapa muka mu?" Tanya Linny saat melihat Andrean tertunduk lesu di kursinya.
"Ah kau sudah masuk Linny? Hai Sean" Sapa Andrean dengan memaksa tersenyum.
"Aku tanya Kau kenapa? Sakit?" Tanya Linny dengan tegas.
Wajah Andrean memang tampak pucat seperti sedang tidak sehat. Linny memang tidak di beritahu Sisilia tentang apa yang terjadi.
Karena Andrean melarang Sisilia menceritakan semua hal yang terjadi selama Linny di Bali. Andrean tidak mau Linny tahu perasaannya yang sebenarnya dan apa yang terjadi dengannya saat ini. Dia berjanji pada Sisilia jika dia bisa mengatasi semuanya. Termasuk perasaannya pada Linny yang sudah dia kubur dalam-dalam itu.
"Hanya maag. Mungkin karena beberapa hari telat makan" Jawab Andrean seperti biasanya.
Sean dan Linny saling memandang dan menghela nafas.
"Maaf sudah merepotkan mu dengan mendadak aku ke bali serta lebih lama dari perkiraan" Ucap Linny merasa tidak enak.
"Tidak masalah. Ah. Ini beberapa laporan yang kau butuhkan. Coba kau baca dulu. Biar aku telepon Sisil untuk segera balik dulu dan membahas masalah perusahaan keluarga tirimu itu"
Andrean kemudian menghubungi Sisilia. Sedangkan Linny dan Sean masuk ke ruangan kantor Linny dan membaca semua laporan yang di berikan Andrean.
Sean juga tampak meneliti dengan cermat setiap isi laporan itu. Melihat Sean yang serius itu tampak menggoda bagi Linny.
Sean selalu tampak sexy saat memasak ataupun fokus mengerjakan sesuatu. Linny langsung menempatkan diri di atas pangkuan Sean dan langsung mencium bibirnya.
"Hei. Kita lagi di kantor Linny. Sebentar lagi akan meeting dengan Andrean dan Sisilia" Ucap Sean menolak godaan Linny yang kini berusaha membuka kancing kemejanya.
"Sebentar saja" Ucap Linny terdengar menggoda.
"Aku tidak bisa sebentar jika berurusan dengan mu" Balas Sean sambil kembali mencium bibir Linny dengan rakus.
Tiba-tiba pintu di buka dari luar. Tampak Andrean dan Sisilia masuk.
"Ah maaf" Ucap Andrean tidak enak.
Sisilia sampai terkejut melihat posisi Sean dan Linny.
"Astaga Linny!!! Ck!!! Kau mau bercocok tanam atau meeting sih???"
Suara Sisilia terdengar kesal dan bingung melihat tingkah sang teman kecilnya yang tak tau tempat itu.
.
.
.