
Linny mengerjap. Tubuhnya terasa sakit di segala sisi. Perlahan dia mengumpulkan kesadaran dan ingatannya.
Dia hanya ingin hampir di tabrak mobil jika bukan di selamatkan oleh Erik. Dan yang dia ingat perutnya sangat sakit. Persis saat dia kehilangan bayi nya dulu.
"Enggak mungkin kan? Gumam Linny merasa cemas. Perasaannya berkata, dia kembali keguguran.
Linny berada di ruang rawat sendirian. Perlahan Linny berusaha untuk duduk. Infus yang terpasang di tangannya membuatnya sulit bergerak.
Di tambah rasa nyeri di bagian perut bawahnya. Linny menyikap selimut yang menutupi tubuhnya. Linny sedang mengenakan pakaian pasien dan dia merasa tubuh bawahnya mengalir sesuatu.
Perasaannya semakin tidak nyaman. Hal yang sama pernah dia rasakan dulu. Belasan tahun lalu.
Baru saja Linny hendak turun menuju kamar mandi terlihat pintu di buka.
Sean masuk dengan tergesa-gesa saat melihat Linny sudah sadar.
"Linny" Ucap Sean yang langsung memeluk Linny dengan erat.
Linny menepuk perlahan punggung Sean yang tampak bergetar.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Linny sambil memperhatikan tubuh Sean.
"Aku baik-baik saja. Rebahan lah. Biar aku panggilkan dokter" Ucap Sean.
Linny menarik tangan Sean dan mencium biibir Sean.
"Aku baik-baik saja. Apa yang terjadi padaku? Jangan bohong" Ucap Linny.
Sean tampak bergetar dan menangis.
"Hei. Kenapa? Kenapa kau menangis?" Linny terkejut melihat Sean yang begitu rapuh.
"Maafkan aku Linny. Maafkan aku tidak becus. Aku tidak menjaga mu dengan baik. Maaf" Ucap Sean sambil bergetar.
Sejenak Linny berpikir. Sepertinya dugaan Linny benar. Dia kembali kehilangan nyawa kecil yang di titipkan Tuhan di dalam rahimnya.
"Apa karena aku jatuh?" Tanya Linny perlahan.
Dia tidak bisa menyalahkan Sean. Tidak mungkin juga Sean ingin kehilangan darah dagingnya.
Sean menggeleng dan menghirup nafas sebanyak mungkin sebelum berbicara agar lebih tenang.
"Dia sudah tidak bertahan karena kondisi yang tidak baik. Salah ku tidak tau jika kau hamil dan membiarkan mu stress berlebihan serta mengonsumsi obat Gerd" Ucap Sean merasa bersalah.
Linny yang paham Sean menyalahkan diri sendiri karena kejadian itu.
"Sudah. Jangan berpikiran begitu. Kau sudah melakukan yang terbaik. Salahku juga yang terus menyangkal jika aku hamil. Seharusnya aku memeriksakan diri" Ucap Linny perlahan menghibur Sean.
Sean menatap lirih pada Linny. Bagaimana bisa dia sebegitu kuat dan tabahnya menghadapi kondisi itu.
"Apa dia di makamkan dengan baik?" Tanya Linny lagi.
"Iya. Aku menempatkannya di samping kakaknya" Ucap Sean.
Sean memang menguburkan anak kedua Linny di samping makam anak pertama Linny.
"Setelah aku pulih, temani aku menjenguk mereka ya" Ucap Linny sambil tersenyum.
Melihat wajah Linny membuat Sean masih merasa bersalah. Dia gagal menjaga Linny dengan baik.
"Sudahlah. Mungkin Tuhan belum percaya padaku. Atau mungkin Tuhan tau jika aku terlalu berdosa menjadi seorang Ibu" Ucap Linny sambil tersenyum.
Sean paham Linny sangat terluka. Hanya dirinya berusaha tegar karena tidak ingin Sean terus menjatuhkan dirinya ke lubang dalam.
"Benar bukan kau harusnya di panggil Daddy" Ucap Linny berusaha menghibur Sean.
Keduanya kembali berpelukan hingga teman-teman mereka masuk ke dalam ruangan itu juga.
"Hei! Jangan bercocok tanam! Kau baru saja di operasi Linny!!" Seru Sisilia kesal melihat posisi Sean yang memangku Linny.
"Ck! Sepertinya kau kurang dapat jatah dari William. Atau William kurang fit di atas ranjang? Coba tanya Sean caranya biar William bisa sekuat Sean" Ucap Linny dengan santai.
Ya salam. Semua pria yang ada di sana langsung malu mendengar perkataan Linny. Termasuk Sean.
"Sialan kau! William juga kuat tapi gak semesum kau dan Sean!" Ucap Sisilia kesal mendengar Linny mengolok suaminya.
"Oh ya? Tapi kau selalu cemburu melihat ku dan Sean" Ucap Linny tak mau kalah.
"Kau ini! Baru saja kau sadar dan sekarang cari masalah dengan ku! Ck!" Sisilia tampak kesal hingga mencubit pipi Linny.
William tampak memperhatikan Sean yang mulai tersenyum dan tenang itu. Dia berpikir sudah waktunya dia membujuk Sean untuk melakukan medical. Namun William bingung alasan apa yang harus dia berikan. Sedangkan Erik melarang mereka memberi tahu faktanya pada Sean.
"Sean. Bisa kita bicara sebentar?" Tanya William.
"Oh okey" Jawab Sean.
Keduanya langsung keluar meninggalkan ruangan itu. William memilih berbicara empat mata dengan Sean di luar ruangan.
Sikap William tak luput dari perhatian Linny. Dia yakin ada yang di sembunyikan William.
"Bagaimana kondisi Linny?" Tanya William saat keduanya duduk di luar ruangan.
"Jauh lebih kuat dari aku. Tapi tetap saja hati Ibu mana yang tidak sakit kalau harus kehilangan anaknya" Ucap Sean sambil menghela nafas berat.
"Sean. Apa kau pernah melakukan medical?" Tanya William langsung.
"Kenapa? Apa maksud mu karena aku memiliki penyakit makanya bayi itu tidak bertahan juga?" Tanya Sean dengan segala pemikiran buruknya itu.
Sean memang sempat berpikir apakah dia memiliki kondisi tidak baik yang berpengaruh pada perkembangan calon anaknya itu, sehingga nyawa kecil itu tidak bisa berkembang dengan baik.
"Bu-Bukan begitu. Maksud ku-"
"Mungkin aku yang bermasalah. Apa aku harus memeriksakan diri? Aku tidak mau Linny kehilangan bayi lagi kalau ternyata aku yang bermasalah" Ucap Sean lirih.
William tercekat. Bukan itu maksudnya tapi dia tak sanggup menjelaskan hal yang sebenarnya.
Karena jika di jelaskan pun maka Sean tetap akan menyalahkan dirinya sendiri.
"Aku akan medical besok. Terima kasih atas nasehatmu" Ucap Sean sambil memaksa tersenyum.
"Aku harap semua baik-baik saja. Dan kau jangan terus terpuruk. Linny membutuhkan mu. Kau tahu bukan dia hanya mau dekat dengan mu. Kalau kau kenapa-kenapa lantas bagaimana dengan Linny" Ucap William yang membuat Sean tersadar.
Sudah lama Linny mengantungkan kesehariannya pada Sean. Linny yang benci bersentuhan dengan lawan jenis. Linny yang selalu curiga dan tidak percaya dengan orang lain yang memberikannya makanan atau minuman.
Hanya Sean yang dia yakini tidak akan mencelakakannya. Bahkan jika Sean tidak mengurus makanan Linny, Linny juga bisa lupa makan atau pun beristirahat.
"Ayolah kawan. Jangan terus bersedih. Kau dan Linny harus lebih kuat. Aku yakin kalian akan bahagia dan memiliki anak-anak yang lucu kelak" Ucap William mencoba menghibur dan menyemangati Sean.
"Thanks Bro" Ucap Sean membalas rangkulan William dengan hangat.
.
.
.
Disclaimer : Mohon maaf jika menurut beberapa bagian ini agak kurang sesuai dengan ingin bahasan LGBT atau BxB. Ini pure memang cerita mantan gay yang berusaha kembali ke jalur yang benar. Jika mau yang BxB silakan subscribe cerita Author yang baru di terbitkan. Itu pure kisah romansa BL. :) Arigatou Gozaimasu.