A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Memulai Tuntutan...



Sehari setelah konferensi pers yang di lakukan Linny membuat publik terkejut. Sisca Natalie langsung di proses hukum dengan berbagai bukti hasil visum lama Linny yang masih tersimpan rapi, juga berbagai kata ancaman dan makian yang di ucapkan Sisca Natalie ternyata di rekam Linny.


Selain itu juga di dukung dari bukti surat ahli waris almarhum Frans John Pratama serta saksi mata Nicolas - Adik Linny, Om Wisnu, Tante Lisa, Andrean, Sisilia beserta Sean.


Semuanya di panggil untuk di minta keterangan dan di test kejujuran dari keseluruhan pengakuan Linny dan terbukti semua itu benar adanya. Salah satu bukti pendukung terkuat ada psikiater yang pernah merawat Linny dan Nicolas dulu.


Beruntung psikiater itu masih hidup dan dapat dimintai keterangannya. Psikiater itu memberi keterangan yang menguatkan Linny pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga juga pelecehan seksual hingga jiwanya saat itu sempat terguncang berat.


Bahkan menurut sang psikiater kemungkinan besar trauma itu tidak akan menghilang sepenuhnya dan berdampak dengan rasa percaya korban pada orang lain.


Akibat pernyataan tersebut, Sisca Natalie di nyatakan bersalah atas tindak kekerasan yang pernah dia lakukan, pencemaran nama baik, penipuan dan penyalahgunaan hak waris.


Sedangkan Hendra Abdi Wijaya yang sudah mendapat banyak tuntutan kini juga di tuntut terlibat dengan semua tindak tanduk Sisca Natalie. Selain itu dia di tuntut melakukan pelecehan seksual dan tindak kekerasan yang hampir membuat korbannya meninggal.


Jangan di tanya bagaimana kondisi keduanya karena mereka kini benar-benar kacau seperti mayat hidup. Hendra yang juga di pukuli dan di siksa oleh tahanan lain di dalam sel yang sama menjadi kurus tak terurus.


Wajahnya penuh memar karena secara tiba-tiba tanpa alasan para tahanan lain suka memukulinya.


Sebenarnya bukan tidak ada alasan. Lebih tepatnya para tahanan merasa kesal pada Hendra yang sudah melecehkan anak sambungnya sendiri dan hampir membunuhnya.


Selain itu mereka menganggap Hendra lebih rendah dari binatang mana pun yang memanfaatkan harta waris anak kecil dan merusak kehidupan mereka dengan menelantarkan dan menghasut ibu kandung dari anak-anak itu.


Sebejatnya manusia tentu mereka akan iba pada anak kecil dan tidak tega jika harus sampai menghancurkan masa depan anak polos.


Wajar jika seorang CEO Kim memberontak kini dan memilih menceritakan kejadian sebenarnya dari pada dia bungkam dan membuat situasi makin sulit. Padahal menceritakan rasa sakit dan aib itu merupakan hal yang sulit bagi korban.


Jika Hendra yang babak belur tak jauh beda dengan Sisca Natalie yang juga dalam kondisi berantakan. Bahkan rambutnya rontok parah akibat sering di tarik dan di tampar oleh tahanan lain.


"Seekor harimau saja tidak akan tega membunuh anaknya sendiri! Ibu macam apa kau ini!"


Salah satu tahanan memang sangat membenci fakta tentang perlakuan Sisca Natalie pada putrinya.


"Jika aku jadi anakmu. Bukan hanya memenjarakanmu. Akan aku bunuh saja orang seperti mu! Kau tak pantas di anggap seorang ibu! Ibu mana yang tega membiarkan anaknya sendiri di lecehkan suami barunya! Kau memang biadab!"


Tahanan lain ikut memaki bahkan meludahi wajah Sisca Natalie karena terlalu kesal saat mendengar penjelasan CEO Kim secara live mengenai kenapa dia tidak bisa mengakui Sisca Natalie sebagai ibunya.


Sisca Natalie hanya terisak di perlakukan rendah begitu. Dia terlalu lemah untuk melawan. Bahkan sipir penjaga tak peduli dia di pukuli dan di siksa oleh tahanan lain karena turut merasa jijik dan kesal pada Sisca Natalie.


.


.


Seminggu berlalu. Dengan cepat kuasa hukum dan Andrean menangkap orang-orang yang menghina Linny dengan kata-kata yang sudah sangat keterlaluan dan tak berdasar ataupun tak ada bukti itu di tangkap.


Rata-rata para pelaku jari kejam itu adalah anak-anak di bawah umur yang masih sekolah juga ibu-ibu yang kurang kerja-an alias suka meng-gibah.


Banyak yang menangis tidak terima di tangkap namun bukti jelas ada. Tidak dapat mereka elakkan hal itu.


Beberapa bahkan meminta maaf dan ingin bertemu Linny namun Linny tidak tertarik untuk bertemu dengan mereka.


"Tetap tuntut saja. Tapi usahakan hukuman yang ringan. Aku hanya mau membuat mereka jera dan berpikir sebelum menyuarakan apa pun"  Ucap Linny pada Andrean.


Maka dari itu tuntutan tetap di jalankan tak ada kata di lepaskan dan damai. Banyak yang membuat video permintaan maaf hingga menangis di depan kamera.


Orang tua dari para pelaku di bawah umur juga selalu berusaha datang ke perusahaan Linny untuk mencoba  meminta maaf agar anak mereka di bebaskan dari tuntutan. Tapi Linny tidak bergeming.


Dia tidak akan menarik apa yang sudah dia titahkan itu. Jika di lepas maka ke depannya tidak akan ada yang belajar dan menganggap meminta maaf akan menyelesaikan semuanya dan mereka bisa kembali menghakimi kehidupan orang lain dengan kasar.


Hingga muncullah hashtag #proudtobeCEOKimFans #JariMuMenghancurkanmu #SmartphoneSmartpeople #MulutmuHarimaumu #JanganGibah #Emakemakgibahkabur


Banyak yang setuju dengan tindakan Linny untuk membuat jera orang-orang yang tidak bisa menjaga lisan dan tata krama mereka dalam berpendapat. Namun ada juga yang merasa Linny berlebihan karena masih menuntut di saat orang-orang itu sudah berusaha meminta maaf.


-Berlebihan sekali nuntut segala-


-Gue setuju. Hajar aja. Emak-emak sekarang emang resek banget-


-Bener banget. Kerja sampai malam di bilang kerja gak bener. Kerja cepat pulang juga di bilang gak bener-


-Makanya Netizen tolong smart ya. Pakailah tata bahasa yang tidak seolah dirimu tau segalanya-


-Stop kepo hidup orang-


-Lebih seru baca komenan daripada isi berita-


-Jangan kelewatan makanya ngurusin hidup orang. Dapur sendiri juga belum tentu berasap-


-Kalau di kasihani terus kagak ada jera. Biar jadi pelajaran juga biar ke depannya gak semakin rusak penerus bangsa-


-Betul tuh. Di suruh belajar malah gibah gak bener. Miris anak bangsa sekarang-


-Gue salut sama CEO Kim. Semua emak-emak komplek gue pada ngumpet sekarang gak berani gibah. Kalau gak gue sering di gibah mau pake baju apa pun-


-Haha. Keren CEO. Lanjutkan-


-Gak punya hati. Anak-anak di tuntut besok mereka susah dapat kerja Loe mau kasih makan?-


-Bener kasihan. Bokap Nyokap susah kasih sekolah sama makan tapi masa depannya jadi gak punya kerjaan gara orang kaya sombong ini-


-Ya udah kalian gantiin aja mereka kalau gak biar masa depan mereka bagus-


-Fix yang komen keluarga si netizen tak berotak-


-Hahahahaha-


Se-penggalan komentar yang Linny baca di berita tentang Linny yang tetap akan menuntut dan tidak menerima hanya ucapan 'Maaf' itu semakin viral.


Tapi apa pun itu Linny tidak peduli. Dia perempuan yang selalu memiliki prinsip dan cara berpikir sendiri. Semua keputusan yang dia lakukan selalu memiliki dasar yang sudah dia pikirkan matang-matang untuk ke depannya.


Sean yang melihat Linny duduk merenung langsung mendekatinya dan menyodorkan segelas jus segar.


"Minum dulu" Ucap Sean dengan senyum manisnya.


Hari ini mereka tidak ke perusahaan karena Sisilia menyarankan Linny dan Sean melakukan perawatan menjelang pernikahan mereka.


Tinggal 2 minggu lagi acara pernikahan itu akan di adakan. Linny di minta tentang dan bersantai di rumah untuk hari ini. Karena semuanya akan di bantu urus oleh sahabat-sahabat mereka.


"Kau tidak minum?"  Tanya Linny pada Sean.


"Sudah tadi di dapur. Kau sedang baca apa?"  Tanya Sean sambil melihat iPad milik Linny.


Linny menyerahkan iPad-nya pada Sean. Terlihat jelas kolom komentar yang penuh dengan berbagai komentar netizen tentang Linny.


"Jangan di pikirkan. Semua sudah berakhir"  Ucap Sean sambil mengecup pelan kening Linny.


"Belum"  Ucap Linny.


Sean merasa heran dengan perkataan Linny.


"Apa? Kenapa belum?"  Tanya Sean heran.


"Rain belum aku urus"  Ucap Linny.


Sean menghela nafas berat lalu memeluk Linny.


"Sudahi. Jangan di kejar. Jika dia datang mengganggu baru kita bertindak. Ya?"  Ucap Sean.


Dia sangat takut Linny terluka lagi jika berurusan dengan Erik dan Rain.


Linny hanya tersenyum dan melepas pelukan Sean. Keduanya berciuman dengan lembut.


"Hei. Tahan dulu sampai menikah"  ucap Linny saat Sean mau menyentuhnya.


"Hah... Astaga... Maaf... Hampir kelepasan"  Ucap Sean menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.


Linny tertawa mendengar ucapan Sean. Meskipun mereka sudah sering melakukannya. Entah mengapa setelah pertunangan keduanya sepakat menahan hal itu hingga menikah.


Salah satunya untuk pemulihan kondisi Linny yang waktu itu mengalami operasi kecil dan juga memang keduanya terlalu sibuk dengan segala masalah yang timbul. Hingga tercetus ide keduanya untuk menahan hingga mereka resmi menikah nanti.


"Terima kasih sudah mau menikah dengan ku"  ucap Sean tiba-tiba.


Linny hanya tersenyum pada Sean.


"Aku janji. akan melindungi mu dengan nyawaku sekalipun. Terima kasih sudah mencabut sumpah mu untuk tidak akan pernah menikah"  Ucap Sean sambil mengecup punggung tangan Linny.


.


.


.