A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Perang Di Mulai...



Di sebuah apartemen mewah terlihat seorang pria tampan yang tampak berparas mirip artis papan atas negeri ginseng sedang duduk menyesap cerutunya.


Pria itu tampak hanya mengenakan boxer dan duduk dengan santai di temani beberapa Bodyguard miliknya.


Dia adalah Rain, sang pemilik Bar Madam Pelangi yang biasanya sering di panggil Madam R.


" Pagi Madamku tersayang. Kau sedang apa?"  Tanya seorang pemuda yang tampak berumur 20 tahunan pada Rain.


Rain hanya menatap dingin pada pria muda itu lalu berdiri menghampiri si pemuda.


"Sudah ku katakan pergi dari sini. Apa perlu kau di lempar keluar oleh bodyguard ku?"  Tanya Rain menyeringai.


"Apa aku tidak cukup memuaskan mu?"  Tanya pemuda itu sambil mengelus dada Rain.


"Pergi sekarang! Jangan memancingku untuk membunuhmu!"  Ucap Rain dengan tegas.


Pemuda itu tampak ketakutan, dia memilih segera pergi daripada membuat Rain semakin marah. Rain merupakan muncikarinya sekaligus juga orang yang sering memintanya untuk melayani serta memberinya beberapa fasilitas.


Tentu pemuda itu tidak bodoh untuk mati di tangan Rain jika dia bisa menikmati hidup mewah dan bahagia selama menjadi ****** bagi Rain juga bisnis haramnya itu.


Saat pemuda itu hendak keluar dari pintu, dia berpas-pasan dengan Erik yang baru tiba di apartemen Rain.


"Ah. Hai Kak Erik"  Sapa pemuda itu dengan sopan.


Siapa pun tahu kedekatan Erik dengan Madam Rain. Mereka sudah seperti saudara dan saling membantu serta menutupi satu sama lain.


"Hai. Udah mau balik?"  Tanya Erik dengan ramah.


"Iya Kak. Aku duluan ya. Kalau mau main jangan lupa contact aku ya"  Ucap pemuda yang ternyata vers itu. Alias bisa menusuk dan juga bisa di tusuk oleh sesama jenisnya.


"Iya. Hati-hati ya. Aku mau ketemu Madam dulu"  Ucap Erik.


Erik menemui Rain yang tampak masih bersantai menyesap cerutunya.


Melihat kedatangan Erik, Rain langsung mematikan cerutunya dan menyuruh para bodyguard nya meninggalkan mereka.


"Kemarilah sayang"  Ucap Rain sambil mengulurkan tangannya pada Erik.


Erik langsung mendekati Rain dan duduk di pangkuannya. Mereka terlihat sangat intim satu sama lain.


"Kau masih sedih?"  Tanya Erik pada Rain.


Erik tahu jika kekasih Rain sedang terluka parah dan di larikan ke sebuah laboratorium khusus milik Rain untuk mendapat pengobatan. Rain tidak bisa membawa kekasihnya itu ke rumah sakit umum biasanya.


Karena akan sangat mencolok dan membuat banyak orang bertanya termasuk polisi. Dia sangat malas berurusan dengan pihak polisi yang ujung-ujungnya hanya akan meminta uang darinya.


"Sedikit. Tapi aku yakin dia pasti akan pulih. Kau tahu hanya Kau dan Dia yang mampu memuaskanku selama ini"  Ucap Rain sambil mengecup pelan pipi Erik.


Ya, kekasih Rain adalah dokter yang sudah hampir di bunuh oleh Linny. Kondisinya sangat parah sehingga kemungkinan untuk selamat sangat kecil. Namun Rain sangat mencintai pria muda itu dan tidak akan menyerah menyembuhkannya.


"Kenapa dia ceroboh sekali. Lagi pula kenapa harus melukai keluarga Sean?"  Tanya Erik heran.


Erik memang tidak meminta melukai keluarga Sean hingga harus di rawat di rumah sakit. Dia hanya meminta agar Rain membuat gertakan pada Sean sehingga Sean tau jika dia tidak akan pernah bisa lepas dari Erik.


"Di dunia ini jika tidak membunuh maka kita yang akan di bunuh. Lagi pula jika kau tidak melukai keluarganya maka dia tidak akan pernah takut pada mu. Biarkan saja. Kita akan mulai berperang dengan Sean dan wanita sialan itu!" Ucap Rain dengan geram.


Rain yang sudah sangat membenci wanita sejak dia masih kecil itu kini semakin membenci kaum hawa. Apalagi Linny ternyata begitu kejam dan brutal melukai kekasih Rain.


"Hati-hati. Mereka bahkan bisa menghancurkan Bar milikmu. Kita jadi rugi besar bukan?"  Ucap Erik sambil membelai wajah tampan Rain.


Rain malah tersenyum dan kembali mengecup bibir Erik yang di poles dengan lip gloss tipis itu.


"Tenang saja. Dia hanya pengusaha biasa. Dia tidak mungkin mengalahkan mafia sepertiku meskipun dia memiliki 1000 pengawal. Aku akan pastikan membawa Sean kembali untuk mu dan menghancurkan wanita itu hingga merangkak meminta pengampunan"  Ucap Rain dengan senyum mengerikan.


Erik hanya tersenyum tipis. Sebagian sisi hatinya tidak tega melukai Sean dan keluarganya. Erik juga sadar jika Sean begitu mencintai wanita bernama Linny itu hingga rela melawan komunitas yang dia tau tidak akan mudah untuk di tinggalkan.


Meskipun Erik sangat ingin mendapatkan Sean kembali di sisinya, namun dia juga sedih dan takut Sean terluka. Dia sangat paham jika Sean sudah menaruh hatinya maka dia tidak akan pernah melepas orang itu dan bersedia mati bersama orang itu.


Apalagi melihat Linny begitu berani terluka untuk menolong Sean. Sedangkan Erik sendiri belum tentu seberani itu untuk terluka saat Sean di serang. Ya, Erik hanya refleks melakukan itu karena kesal dan marah. Dia tidak berniat melukai Sean, orang yang sangat dia cintai.


Hal yang membahagiakan pernah dia dan Sean lewati dan saling mencintai dengan tulus. Namun kini Sean berubah dan itu membuat Erik merasa tidak rela kehilangan sosok Sean yang memang sangat tulus padanya dulu.


"Aku merindukan goyangan mu. Bisa kita bersenang-senang sebentar?"  Tanya Rain sambil menyentuh bongkahan pantat Erik dengan gemas.


"Aku juga merindukan milikmu yang panjang ini"  Ucap Erik yang juga mengelus milik Rain dari luar boxer nya.


Hal itu membuat Rain mengerang tertahan. Dia langsung menciumi Erik dengan penuh nafsu dan melepaskan pakaian Erik.


Milik keduanya saling bergesekkan satu sama lain menciptakan sensasi nikmat bagi pasangan sejenis itu.


"Kau masih selalu sempit dan nikmat sayang. Kau benar-benar hebat"  Ucap Rain sambil mengecup punggung Erik.


Keduanya kemudian saling bertukar saliva dan kenikmatan bersama. Hingga Rain mengerang panjang saat miliknya berkedut keras di lubang belakang milik Erik. Keduanya rubuh dan terengah-engah menikmati surga yang mereka ciptakan.


.


.


"Ini sangat enak"  Ucap Sean sambil menikmati spaghetti buatan Linny.


Linny tersenyum melihat Sean yang begitu bahagia menikmati makanan buatannya.


"Benarkah?"  Tanya Linny memastikan.


"Sangat lezat. Kau bahkan bisa membuka restoran pasta"  Ucap Sean memuji.


"Aku ingin coba juga"  Ucap Linny.


Sean mencoba menyuapi Linny tapi Linny menolak. Sean menatap heran pada Linny yang menolak di suapi.


"Aku mau di suapi. Tapi pakai ini"  Ucap Linny sambil menyentuh bibir Sean.


Sean tertawa, kemesuman mereka sepertinya sudah sangat tinggi. Linny ingin disuapi melalui bibir Sean.


Namun bukan Linny namanya jika keinginannya tidak di penuhi.


Sean mengikuti permintaannya. Keduanya saling menarik spaghetti seolah sedang tarik tambang menggunakan bibir.


Hingga bibir keduanya bertemu dan Sean mengecup perlahan bibir Linny.


"Ah sepertinya sarapan ini akan semakin lama selesai"  Ucap Sean sambil menggelengkan kepalanya.


"Kau tidak suka?"  Tanya Linny dengan tatapan tajam.


"Aku sangat suka apalagi jika di atas kasur mu yang empuk dan kau di atas pangkuanku"  Ucap Sean sengaja menggoda Linny.


"Kalau begitu ayo lakukan"  Ucap Linny bersemangat.


Mata Sean membola terkejut. Sean kemudian menggelengkan kepalanya menolak permintaan Linny yang satu itu.


Sungguh bukan Sean tidak ingin atau tidak bernafsu lagi pada Linny. Dia sangat ingin dan menahan terus hasratnya sejak membantu Linny membersihkan lagi lukanya tadi.


Bahkan jika bisa dia ingin bercinta di dapur dan ruang makan itu sekarang juga. Namun Sean tahu Linny masih terluka. Dia tidak ingin nantinya malah semakin memperparah luka Linny.


Apalagi hasrat Dia dan Linny sangatlah besar, tidak mungkin mereka bermain hanya sekali dan lembut perlahan. Itu bukan style bercinta mereka.


"Kenapa?"  Tanya Linny heran.


"Kau masih terluka. Jangan menggodaku lagi kumohon. Aku tidak mau sampai kelepasan"  Ucap Sean mencegah tangan Linny yang mencoba mengelusnya.


"Ck!"


Linny tampak kesal. Sean langsung membawa Linny perlahan duduk di atas pangkuannya. Linny bisa merasakan si Pluto yang sedikit mengeras itu.


"Kau lihat. Begini saja si Pluto sudah kepanasan. Jangan menggoda ku untuk beberapa saat ini. Fokus lah dengan kesembuhan luka mu. Kau sudah berjanji akan menuruti ku untuk hal ini bukan?"  Tanya Sean serius.


Linny hanya menghela nafas. Padahal niatnya ingin bercinta agar bisa membujuk Sean membiarkannya bekerja di kantor karena dia sangat bosan jika di penthouse terus. Tapi rencana itu gagal.


"Baiklah"  Ucap Linny lesu.


Sean tersenyum gemas. Dia tahu Linny bukan hanya sedang bernafsu tapi juga mencoba bernegosiasi dengannya jika sudah berada di atas ranjang nanti.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Jangan memikirkan bekerja atau keluar dari penthouse. Kau harus sembuh dulu! Nanti Andrean dan Sisilia akan mengantarkan berkas ke sini sekaligus ada yang ingin mereka bahas"  Ucap Sean sambil membelai pipi Linny.


"Oke"  Jawab Linny singkat.


"Ayo selesaikan sarapan ini. Aku juga harus meeting virtual dengan manager lainnya"  Ucap Sean yang memang work from home untuk menjaga Linny.


Keduanya kembali menikmati sarapan mereka bersama.


.


.


Sebelum author lupa. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi teman-teman yang menjalankan puasa tahun ini. Semoga berkah dan bisa lancar sampai hari terakhir yah. Author sarankan bagi yang berpuasa untuk membaca series ini di saat sudah berbuka ^^