
"Tempat ini kurang luas"
Linny menelisik seluruh sudut ruko kosong yang terbengkalai itu. Salah satu lokasi yang menjadi pilihan yang bisa di beli sebagai aset oleh Linny.
"Tapi ini dekat dengan kota dan keramaian. Sekeliling juga banyak cafe. Jika kau mau membuka cafe sepertinya ini pilihan yang cocok Linny"
Sean tampak cukup menyukai tempat itu, untuk berbisnis tentunya. Memang tidak salah perkataan Sean yang melihat sekeliling rumah dan toko di sekitaran ruko terbengkalai itu.
Banyak cafe dan toko bertebaran di sepanjang jalanan. Daerah itu memang lokasi kesukaan para kaula muda menghabiskan waktu.
Jika Linny ingin membangun Bar tentunya tempat itu sangat strategis menurut Sean.
Namun lain Sean lain pula pemikiran Linny. Menurutnya malah tempat itu tidak cukup bagus untuknya membuat suatu bisnis.
"Ayo kita lihat tempat lain dulu" Ajak Linny.
Pemilik bangunan itu tampak mengerti Linny masih mau mempertimbangkannya.
"Makasih Pak. Nanti jika saya cocok akan saya hubungi lagi" Ucap Linny sambil berpamitan pada pemilik bangunan itu.
"Sama-sama mbak. Terima kasih sudah berkenan mengunjungi" Ucap pria seusia Mahaprana itu dengan sopan, ciri khas orang Bali yang ramah.
Linny hanya tersenyum membalas ucapan pria itu. Segera Linny dan Sean masuk ke dalam mobil untuk menuju ke lokasi berikutnya.
"Ayo jalan" Ucap Linny pada Jun yang mengemudi.
"Baik Nona" Ucap Jun lalu menjalankan mobil menuju tempat berikutnya.
Lokasi itu cukup jauh dari pusat kota bahkan berada di sisi timur Bali. Pantai Bias Tugel. Tempat yang indah dan jarang di ketahui oleh wisatawan.
Namun tempat itu memiliki pemandangan yang indah. Pasir putih yang memanjakan mata dan air laut yang begitu jernih dan biru bisa menjadi tempat snorkling maupun berselancar bagi para turis asing.
Bahkan jika para pengunjung bosan bisa menikmati fenomena "Air mancur" di sisi kanan pantai. Sedangkan di sisi kiri pantai terdapat laguna kecil yang dikelilingi oleh batuan karang yang bisa menjadi tempat berenang dan berendam.
Linny merasa sangat takjub dengan tempat itu. Dia mencoba mencari tahu tanah di dekat pantai itu yang bisa dijadikan tempat membangun Bar. Tentu dia tidak bisa sembarang membangun Bar di daerah itu.
Dan Linny juga tidak bisa membangun Bar di pesisir pantai. Dia hanya memilik daerah sekitaran pantai yang bisa dia bangun Bar karena untuk sampai di pantai Bias Tugel orang-orang harus melewati tangga yang cukup curam.
Namun jika dari atas pun masih bisa melihat keindahan Pantai itu. Linny merasa tempat itu sangat cocok di bangun Bar kecil untuk turis yang menyukai pemandangan alam yang indah dan bersantai sore.
Sebenarnya masih ada satu pantai yaitu pantai Atuh di sisi Timur Bali juga. Pantai Atuh bahkan sering di sebut raja ampatnya Bali karena menawarkan pemandangan seindah raja ampat di pulau Papua itu.
Namun entah mengapa Linny lebih tertarik dengan Pantai Bias Tugel seolah dia tersihir dengan keindahan alamnya.
"Cari orang yang bisa membantuku membeli tanah dan membangun bar yang mengarah ke pantai itu. Ini spot terbaik" Ucap Linny yang masih takjub melihat keindahan pantai itu.
Jun dan Alfa paham atas perintah sang Nona yang terlihat tersenyum senang memandang lautan luas.
Pemandangan yang indah itu sungguh memanjakan mata Linny dan yang lainnya. Bukan pertama kali Linny datang ke Bali.
Sudah berkali-kali dan sangat mudah untuknya datang ke pulau Bali. Bahkan dia sudah bosan dengan suasana di Kuta. Tidak ada tempat di daerah itu yang belum di jamahinya.
Namun berbeda dengan Pantai ini. Pantai yang memang sangat jarak di datangi orang-orang dari luar pulau. Tidak banyak turis yang tahu tempat ini. Padahal tempat ini memiliki daya tarik yang luar biasa bagi Linny.
Hal itu lumrah menurut Linny karena jarak tempuh yang lebih dari 50 KM dari Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai di mana akan memakan waktu satu setengah jam untuk bisa tiba di pantai ini.
Tapi bagi Linny justru ini akan menjadi tempat yang cocok jika di bangun Bar di dekat pantai itu. Dia yakin bisa membuat tempat itu jauh lebih hidup tanpa merusak alam sekitarnya.
Tentu Linny memiliki banyak pertimbangan dalam membangun Bar di daerah itu karena dia tidak ingin tempat itu malah tercemar dan jelek setelah dia bangun Bar. Dia akan menetapkan beberapa aturan agar alam di sekitar sana tetap terjaga keasriannya.
Sean menemani Linny berjalan di pinggir Pantai. Keduanya bergandengan tangan sambil menikmati suasana yang hari itu cukup bersahabat.
"Kau yakin mau bangun Bar di dekat sini? Ini jauh dari pusat kota dan tak banyak yang tahu tempat ini Linny" Ucap Sean menjelaskan.
Linny menatap Sean lalu tersenyum. Sean mungkin berpikir Linny membangun Bar tanpa pertimbangan matang untuk keuntungan ke depannya.
"Aku membangun Bar hanya untuk bersenang-senang. Lagi pula yang ingin aku jual adalah pemandangan alamnya nanti. Jika bisa membangun Bar di dekat daerah ini apalagi menghadap pantai tentunya sangat menyenangkan" Jelas Linny sambil menunjuk lautan luas yang memang sangat indah sejauh mata memandang.
Laut yang tenang, deburan ombak terseret angin di tengah samudera. Bibir pantai yang bersih dan berkilau. Mengundang sehamparan gunung samudera dari penjuru segala arah.
Matahari seakan lelah, sedikit demi sedikit kian tenggelam di pulau barat. Luasnya cakrawala menjelma menjadi kanvas senja. Yang dilukis Tuhan sebagai tangan keindahannya.
Selaksa langit memerah, mengores dari nafas sang alam, detak angin laut berhembus. Membelai nyiur yang melambaikan suaranya.
Begitulah yang dirasakan Linny saat ini. Keindahan alam yang tak terlukiskan. Entah mengapa dia begitu menikmati hari ini.
Linny menatap wajah Sean dalam-dalam. Dia merasakan ketenangan saat mata Sean menatap lembut padanya. Seolah lautan luas tergambar pada kedua bola mata Sean yang indah itu.
"Ada apa?" Tanya Sean heran karena Linny menatapnya begitu dalam.
"Terima kasih" Ucap Linny singkat.
Sean tersikap mendengar ucapan terima kasih dari Linny. Mungkin bagi sebagian orang, kata itu hanya kata tak bermakna dan biasa saja. Namun bagi Sean dia paham maksud Linny berterima kasih padanya.
"Justru aku yang berterima kasih. Kau selalu ada untukku dan menemaniku selalu" Ucap Sean sambil merengkuh tubuh Linny dalam pelukannya.
Linny membalas pelukan Sean dan menepuk perlahan punggung Sean dengan lembut.
"Mungkin setelah ini akan ada yang lebih buruk lagi. Kau harus bersiap. Dan ingat ada aku selamanya di sampingmu" Ucap Linny yang kini berpikir jika Rain dan Erik pasti akan menyiapkan lebih banyak lagi masalah.
Tentu Sean harus bersiap sedia dengan segala kemungkinan terburuk yang akan di lakukan oleh Rain dan Erik itu.
"Seburuk itukah?" Tanya Sean penasaran.
"Bisa jadi. Awal video mu itu masih di blur tandanya mereka masih mengertak kau. Bisa jadi masalah nanti akan bocor video aslinya. Kau harus bersiap karena kami belum bisa menemukan master video itu"
Linny tampak menghela nafas berat. Entah mengapa begitu sulit menemukan master video yang di simpan Erik. Dia sudah menyuruh orang menyelinap masuk ke Ruko Erik tanpa di ketahui. Juga menyelinap ke beberapa apartemen milik Rain namun hasilnya nihil.
Ya semuanya mempertaruhkan keselamatan masing-masing demi menemukan master video itu. Begitu besar perjuangan yang Linny lakukan hanya untuk menyelamatkan nama baik Sean.
"Aku paham. Jika sampai benar tersebar sepertinya Aku tidak punya muka untuk keluar rumah lagi" Ucap Sean terdengar lirih.
"Ya sudah kau di penthouse saja kalau begitu. Lagi pula aku masih sanggup menafkahi mu" Ucap Linny yang sengaja agar membuat Sean tertawa dan tidak terlalu berpikir buruk lagi.
"Kau menafkahiku? Hei aku pria, masa aku di nafkahi wanita" Ucap Sean merasa tidak bisa menerima perkataan Linny.
"Buktinya kau juga tinggal di penthouse ku" Jawab Linny dengan santai.
Sean mulai merasa Linny memang mengajaknya berbicara seperti itu agar Sean paham jika apa pun yang terjadi tetaplah Sean milik Linny.
"Kalau begitu aku akan jadi Bapak rumah tangga yang baik. Lagi pula aku yang lebih sering memasak untukmu bukan?" Ucap Sean sambil memeluk Linny dari belakang.
"Terserah kau saja. Intinya tidak akan ada yang bisa melukai mu. Percayalah padaku" Ucap Linny terdengar ketus.
Sean hanya tersenyum dan memeluk Linny. Mata keduanya kembali memandang lautan luas yang indah.
.
.
.