
"Sean.. Perutku enggak nyaman"
"Kau kenapa Linny?"
Linny hanya menggelengkan kepalanya.
"Sudah kita ke rumah sakit dulu. Biar Jun dan Aston di sini saja untuk memastikan keterangan si pembawa mobil" Ucap William memerintah.
Mereka segera menuju rumah sakit terdekat. Erik juga mereka bawa karena mengalami lecet dan luka di keningnya.
Bukan hanya mereka. Korban yang lain yang tertabrak juga di larikan ke rumah sakit segera.
Linny, Sean dan Erik segera mendapatkan perawatan dari dokter.
Erik di jaga ketat karena yang lainnya curiga jika Erik mengintai dan ingin berbuat jahat pada Sean dan Linny.
Setelah mendapat penanganan dokter tampak William, Doni dan Danu berdiri memperhatikan Erik.
"Tidak usah curiga. Aku kebetulan ada urusan di sekitaran sana" Ucap Erik yang paham maksud tatapan William, Danu dan Doni.
"Kau pikir kami percaya?" Tanya William terdengar dingin dan tak bersahabat.
"Percaya atau tidak bukan urusan ku" Jawab Erik dengan cuek.
Terlihat seorang dokter masuk menemui Erik.
"Loh? Tuan Erik???" Sapa Dokter itu seperti mengenali Erik.
"Dokter kenal Erik?" Tanya Danu heran.
Lebih tepatnya mereka curiga apakah dokter itu kaki tangan Rain dan Erik seperti yang sebelumnya.
"Dia pasien saya dan baru melakukan medical semalam. Harusnya hari ini jadwal nya konsul untuk hasil medical" Ucap Dokter itu dengan senyum ramah.
"Bisa kalian tinggalkan aku untuk bicara dengan dokter? Aku bersumpah aku tidak berniat buruk!" Tegas Erik dengan sungguh-sungguh.
William, Danu dan Doni saling memandang lalu setuju untuk keluar dari ruangan itu. Lagi pula cepat atau lambat akan terbukti apakah Erik berniat mencelakakan Sean dan Linny atau tidak.
Se-peninggalan ketiga sahabat Sean. Erik tampak berusaha duduk dengan baik.
"Dari wajah mu sepertinya ada yang buruk, Bram" Ucap Erik sambil tersenyum pada Dokter itu.
"Kau harus menjalankan test lanjutan Erik" Ucap dokter bernama Bram yang terdengar bersahabat.
"Separah apa kondisi ku? Sepertinya sebelum-sebelumnya tidak terdeteksi apapun" Tanya Erik penasaran.
"Kau di diagnosa mengalami kanker rektum. Kondisi hati mu juga tidak bagus. Juga sepertinya kau terkena hepatitis B" Jelas dokter Bram perlahan.
Erik tampak tenang dan hanya menghela nafas berat.
"Kau tidak terkejut?" Tanya Dokter Bram heran dengan reaksi Erik yang tenang.
"Jika masalah kanker rektum aku sudah curiga dengan kondisiku yang memburuk sebelum ke Singapore. Jika Hepatitis apakah itu menular?" Tanya Erik penasaran.
Dia khawatir jika menular dan dia tidak tau kapan dia mulai menderita hepatitis maka itu bisa menular pada Sean. Ya secinta itu Erik pada Sean. Dia tidak ingin Sean tertular hal buruk darinya.
"Hepatitis menular. Apa kau sempat berhubungan dengan orang lain? Lebih baik minta mereka untuk mengeceknya" Ucap Dokter Bram.
"Aku paham. Jadi kapan test selanjutnya dan apa yang harus aku lakukan?" Tanya Erik.
"Akan aku atur jadwal untuk dua hari lagi. Biar aku periksa lebih menyeluruh. Jaga kondisi mu jangan sampai drop" Ucap dokter Bram yang ternyata teman dari Kakak kandung Erik.
Dokter Bram sangat mengenal Erik dan dunia Erik yang menyimpang. Namun tidak sedikit pun dia membenci Erik yang memang sejak kecil tersisihkan dari keluarganya dan di perlakukan seperti anak perempuan.
"Bisa tolong panggilkan temanku yang tadi?" Tanya Erik pada dokter Bram.
"Baiklah. Aku masih harus kontrol pasien lain. Nanti aku akan datang lagi sekalian membawakan makanan. Jangan pergi dari sini dulu ya" Ucap dokter Bram.
"Thanks Bram" Ucap Erik sambil menghela nafas.
.
.
.
"Pasien tengah hamil muda. Namun sayang janinnya tidak berkembang dengan baik. Jika di pertahankan bisa membahayakan Ibunya"
Ucapan dokter yang memeriksa Linny membuat Sean serasa di tusuk ribuan pedang.
Linny hamil dan dia tidak menyadarinya. Bukan, Sean bukan tidak menyadarinya. Sean juga merasa Linny berbeda tapi tidak seorang pun dari mereka berpikiran jika Linny hamil.
"Maaf tapi saya sarankan untuk di kuret. Ini demi keselamatan sang Ibu. Janinnya yang memang tidak berkembang dengan baik, bukan karena benturan yang terjadi tadi. Itu murni karena faktor asupan gizi juga kondisi mental si Ibu. Dan sepertinya Si ibu tidak sadar hamil dan mengonsumsi obat keras"
Sean yang awalnya ingin marah dan membuat perhitungan pada Erik pun tak mampu berkata-kata. Janin itu sejak awal tidak berkembang dengan baik. Dan itu karena Sean yang tidak memperhatikan serta membiarkan Linny sembarang mengonsumsi obat Gerd.
Di tambah banyaknya masalah dan kegiatan yang membuat Linny memang stress mengurusinya.
"Sean. Kau harus kuat. Jika kau lemah bagaimana dengan Linny" Ucap Sisilia mencoba menenangkan Sean.
"Entah lah Sil. Belum sempat aku menyapa anak itu. Dia pergi tanpa berpamitan. Semua salahku. Aku yang teledor dan tidak memperhatikan Linny yang memang berbeda belakangan ini" Ucap Sean menyalahkan dirinya sendiri.
"Hei. Tolong jangan begitu. Kalau kau seperti ini bagaimana dengan Linny saat dia tau kondisinya nanti. Ayolah kita harus kuat untuk bisa menguatkan Linny. Ini kedua kalinya dia harus kehilangan bayinya Sean' Ucap Sisilia berusaha menasihati Sean.
Sean tersentak. Benar, ini mungkin pertama kali Sean kehilangan bayi yang belum sempat dia sapa itu. Tapi untuk Linny ini adalah luka kedua kalinya kehilangan darah dagingnya.
"Apa yang harus aku katakan pada Linny saat dia sadar dari operasinya? Aku benar-benar buruk" Ucap sean yang menitikkan air matanya.
Sisilia hanya mampu terdiam menatap Sean yang kini begitu lemah. Bahkan lebih lemah terlihat di banding saat dia menghadapi kenyataan tentang aib-nya yang hampir terbuka itu.
Tak lama Andrean dan Angel menyusul ke rumah sakit. Begitu juga dengan kedua orang tua Andrean dan Angel yang memang mengenali Linny.
"Bagaimana kondisi Linny? Kenapa harus di operasi?" Tanya Andrean khawatir.
"Iya. Apa seburuk itu tabrakannya? Aku dengan ada korban jiwa juga" Tambah Angel yang tak kalah khawatir itu.
Sisilia dan Sean saling berpandangan sebelum menjawab pertanyaan dari Andrean dan Angel.
"Linny. Linny hamil tapi bayinya tidak selamat. Bayi nya tidak berkembang jadi harus di kuret" Ucap Sisilia terdengar lirih.
"Apa???"
Semua orang tersentak terkejut mendengar hal itu. Kenyataan yang menyakitkan. Mereka memandang Sean yang kini hanya mampu menangis dalam diam.
Semuanya merasakan kesedihan yang di alami Sean. Hingga Andrean dan Om Wisnu langsung mendekati Sean dan berusaha memberinya support.
.
.
.
Di ruangan Erik di rawat. Wajah William, Danu, dan Doni memucat syok mendengar perkataan Erik.
"Jadi coba kalian bujuk Sean untuk medical check up. Meskipun kami berhubungan dengan sehat dan selalu memakai pengaman tapi tidak tertutup kemungkinan hepatitis itu menular dari liur" Ucap Erik perlahan.
"Astaga Erik. Kau- Sejak kapan kau sakit? Kenapa kau tidak bilang?" Tanya Danu frustrasi mendengar pengakuan Erik.
"Jika masalah kanker aku sudah curiga saat di Singapura. Namun aku terlalu takut untuk mengeceknya. Tapi kalau hepatitis aku benar-benar tidak tau sejak kapan. Jadi tolong pastikan kondisi Sean baik-baik saja. Aku tidak ingin dia kenapa-kenapa" Ucap Erik terdengar jujur dan tulus.
"Baiklah. Akan aku bicarakan dengan Sean. Lalu kau sendiri bagaimana? apa kau yakin kau baik-baik saja?" Tanya William yang cukup kasihan melihat kondisi Erik.
Erik tampak berbeda di banding sebelumnya. Dia lebih diam dan terlihat dewasa menghadapi masalah.
"Mungkin ini hukumanku. Jadi akan aku jalani saja. Dan katakan pada Sean dan Linny agar berhati-hati dengan Rain. Dia monster berbahaya" Ucap Erik.
"Apa maksud mu??" Tanya Doni penasaran.
William dan Danu juga menatap heran pada Erik.