
Sean sedang menikmati mie instan yang baru selesai dia masak. Pintu apartemen terbuka.
"Loh? Sudah pulang Linny?" Tanya Sean heran melihat Linny masuk ke dalam apartemen.
Linny juga terkejut melihat Sean sudah berada di apartemen padahal pria itu sudah ijin akan pergi ke bar bersama Erik. Dan Linny mengira tentu Sean akan kembali tengah malam atau bisa saja menginap di tempat Erik jika pria itu khilaf lagi.
Waktu tampak baru menunjukkan pukul 10.30 malam.
"Kau? Kenapa sudah pulang?" Tanya Linny yang juga heran melihat Sean sudah berada di apartemen dan sedang menikmati mie instan sendirian.
"Aku lelah, jadi ingin pulang lebih cepat" Ucap Sean sambil menyuapkan mie kedalam mulutnya.
Linny duduk di hadapan Sean dengan pandangan heran padanya.
"Ada apa?" Tanya Sean heran.
"Sepertinya enak" Ucap Linny lalu mengambil garpu yang di pegang Sean.
"Hati-hati, masih panas" Ucap Sean sambil merapikan rambut Linny agar tidak terkena kuah dari mie nya.
Linny dengan santai menikmati mie itu sesuap demi sesuap.
"Kau belum menjawabku. Kenapa cepat sekali pulang? Gimana dengan RB??" Tanya Sean lagi.
"Di tempat ku ada karyawan baru lagi. Jadi bisa aku tinggalkan. Lagian aku mau packing" Ucap Linny dengan santai.
"Sejak kapan kau menerima karyawan baru?? Memang kau mau ke mana sampai harus packing segala??" Tanya Sean heran.
Linny tidak pernah mengatakan bahwa dia mencari karyawan baru untuk di Bar RB.
"Kau juga mengenalnya kok"
"Hah? Siapa?? "
"Besok kau lihat saja sendiri. Ya sudah aku mau packing"
"Bentar kau belum jawab. Kau mau pergi ke mana??"
"Pindah. Kita akan pindah Sean..." Ucap Linny lalu masuk ke kamarnya.
Sean masih terpaku. Pindah? Linny belum pernah membahas itu.
Di dalam kamar Linny hanya memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam dua koper miliknya.
"Kau akan pindah?" Tanya Sean heran.
"Kita akan pindah" Ucap Linny menatap Sean.
Kata kita begitu menyentuh Sean, dia merasa sangat di anggap oleh Linny.
"Kenapa mendadak?" Tanya Sean lagi.
"Sebenarnya sudah lama Andrean dan Sisilia menyuruhku pindah, tapi aku terlanjur nyaman di sini. Tapi karena sekarang aku sudah aktif di perusahaan, maka mau tidak mau aku harus pindah ke tempat lain. Pergerakan ku, pakaian bahkan tempat tinggal akan segera menjadi sorotan publik" Jelas Linny sambil melipat beberapa baju untuk di masukkan ke dalam koper.
Memang benar ada nya tentang hal itu. Sean kemudian membantu Linny merapikan pakaiannya. Bahkan lipatan Sean jauh lebih rapi dari pada lipatan Linny.
"Wah, sepertinya kita bisa buka laundry" Ucap Linny mengejek.
Sean menatap Linny sambil menaikan alisnya.
"Lihat lipatan mu sudah seperti di setrika laundry mahal" Ucap Linny sambil menunjuk semua baju yang di susun Sean.
"Oh. Hanya kebiasaan. Memangnya itu rapi ya?" Tanya Sean.
"Sangat rapi. Lihat perbedaaannya dengan lipatan ku"
"Kalau begitu kau duduk saja. Biar aku yang bereskan semua ini"
Linny pun duduk di atas ranjang memperhatikan Sean yang membereskan pakaian Linny juga pakaiannya sendiri.
"Kapan pindah?" Tanya Sean yang baru sadar sudah memasukkan semua pakaian. Apa yang akan mereka pakai besok kalau begitu.
"Sekarang" Ucap Linny.
"What????"
Linny memang tidak tertebak, apapun itu selalu mendadak tanpa di perkirakan.
"Sudah, ayo turun. Naik mobil mu saja. Mobilku akan di bawakan anggota" Ucap Linny.
Sean hanya patuh mengikuti kemauan Linny. Linny mengarahkan Sean ke salah satu gedung apartemen termewah di kota itu.
Mereka menaiki lift khusus yang langsung mengarah ke penthouse.
Sean cukup terkejut saat tiba di penthouse yang mewah itu. Memang untuk seukuran Linny hal itu wajar bisa dia tempati, namun sangat berbanding kontras dengan kehidupan Linny sebelumnya.
"Ada apa?" Tanya Linny yang melihat keterkejutan di wajah Sean.
"Enggak, cuman ngerasa agak aneh aja" Ucap Sean jujur.
"Aneh? Kenapa??"
"Ya apa boleh buat. Menurut Sisil tempat ini paling pantas. Meskipun menurut ku luas banget sih penthouse ini"
Linny menatap seluruh ruangan di penthouse itu.
"Oh ya, mulai sekarang akan ada bodyguard yang berjaga di sini. Kau tidak masalah bukan??" Tanya Linny.
"Tidak masalah. Itu memang untuk keamanan mu bukan" Jawab Sean sambil tersenyum.
"Ya mana tahu, kau malah tergoda dan bergairah lihat otot-otot mereka" Ucap Linny meledek.
"Emang mau lihat aku enak-enak sama bodyguard mu ya boleh juga sih" Ucap Sean sengaja membuat Linny kesal.
Mata Linny melotot geram menatap Sean yang malah tertawa.
"Coba saja kalau kau berani! Aku potong milikmu hingga tidak bersisa!" Ucap Linny mengancam.
Sean tersenyum senang, dia tahu Linny sebenarnya memedulikan dirinya, namun Linny memiliki harga diri dan ego yang tinggi, belum lagi trauma dan luka lama membuatnya masih tidak ingin jujur dengan perasaannya itu.
Sean memeluk Linny dengan lembut.
"Aku akan pastikan seluruh tubuh dan jiwaku sekarang sudah milik mu. Aku tidak akan membiarkan yang lain menyentuh ku lagi" Ucap Sean bersungguh-sungguh.
"Jangan kegeeran! Aku hanya tidak mau kena penyakit karena kau!" Tegas Linny melepas pelukan Sean.
Linny merapikan pakaiannya di walk in closet. Dia menyisakan bagian untuk ruangan pakaian Sean.
Lain di mulut lain di hati, begitulah sikap Linny terhadap Sean. Meskipun suka tegas memerintah dan bermulut tajam namun dirinya masih peduli dengan mantan gay itu.
Ah, mantan gay bukan? Semoga saja sudah benar-benar berubah.
Empat orang bodyguard Linny sudah menunggu di ruang tamu penthousenya.
"Kenalkan ini teman ku. Namanya Winsen, panggilannya Sean. Dia akan tinggal bersamaku di sini selama yang dia mau. Jadi kalian juga harus menjaga keamanan untuknya selama dia di sini" Jelas Linny kepada para bodyguard-nya.
"Siap Nona Kim!" Ucap mereka serentak.
"Ya sudah kalian bekerjalah sesuatu aturan dari Andrean dan Sisilia. Aku akan masuk ke dalam." Ucap Linny yang di barengi anggukan hormat dari para bodyguard-nya.
Penthouse Linny terpisah dengan sebuah pintu otomatis lagi dari ruang tamunya. Ruang tamu penthouse menghadap ke sebuah lift khusus untuknya. Sehingga privasi penghuni penthouse tidak terganggu jika ada tamu yang datang juga tidak akan menjadi tontonan gratis bagi bodyguard-nya melihat kegiatan Tuan dan Nona yang mereka jaga itu.
Linny tidak menginginkan pelayan yang tinggal di sana. Dia hanya meminta seorang tukang bersih-bersih untuk datang membersihkan ruangan di penthouse setiap hari dan itu juga akan di awasi oleh para bodyguard agar tidak ada tindakan mencurigakan maupun yang bisa membahayakan privasi Linny.
"Kau lapar?" Tanya Sean mengingat tadi mereka hanya memakan mie instan, itu juga sebungkus berbagi berdua.
"Lumayan. Aku ingin makan nasi goreng" Ucap Linny.
Sean langsung menuju dapur dan memasakkan nasi goreng untuk Linny. Meski tidak terlalu jago memasak namun untuk makanan simple masih sanggup di buat oleh Sean.
Selesai makan, Sean membersihkan piring kotor dan dapur sebelum tidur.
Keduanya terlelap dalam tidur mereka hingga matahari mengintip melalui celah-celah gorden.
Sean terlebih dahulu bangun dan menyiapkan roti serta susu untuk sarapan mereka.
Melihat Linny masih terlelap membuat Sean mencoba menggoda wanita itu.
Sean sengaja menciumi wajah Linny berkali-kali hingga Linny bangun dengan kesal.
"Argh!! Sean!!!" Pekik Linny kesal.
"Lihat matahari sudah muncul, ayo bangun" Ucap Sean membangunkan Linny.
"Iya aku tahu!" Ucap Linny bangun dengan malas.
Dirinya segera membersihkan diri dan berpakaian rapi.
"Makan roti ini dulu, nanti kalau masih belum kenyang kasih tahu aku. Akan aku belikan makanan saat di kantor" Ucap Sean menyodorkan roti untuk Linny.
Linny hanya mengangguk dan menghabiskan sarapannya.
Keduanya berangkat bersama lagi ke kantor namun kali ini berbeda. Linny meminta Sean ikut naik mobil mewahnya dan terdapat seorang supir serta satu bodyguard yang mengikuti mereka.
Tiba di kantor, seluruh karyawan tampak menghormat kepada Linny dan Sean yang berjalan di belakang.
Semua karyawan perusahaan semakin yakin kalau Sean adalah suami Linny , melihat kedekatan mereka yang berbeda dengan dekatnya Linny dengan Andrean serta Sisilia.
"Ah ya Sean, aku hari ini akan mencari pakaian untuk acara pertunangan Sisil. Kau mau ikut?" Tanya Linny mengingat acara pertunangan mewah Sisil maka dia harus memesan baju khusus. Apalagi waktu acaranya sudah kurang dari sebulan.
"Baiklah. Aku ikut" Ucap Sean yang memikirkan harus memberi hadiah apa untuk pertunangan sahabatnya itu.
"Ya sudah. Siapkan bahan meeting kau. Sebentar lagi semua akan aku panggil untuk melaporkan kemajuan proses" Ucap Linny yang berubah menjadi tegas dan formal saat membahas pekerjaan.
"Baik Nona Kim" Sean paham lalu segera menuju ruangan kerjanya.
.
.
.